Sabtu, 19 September 2020

Kujaga Anak Bungsuku dari 'Ain




Pernah dengan penyakit 'ain tidak? Itu loh, penyakit yang timbul dikarenakan pandangan mata. Dilansir dari muslim.or.id, “‘Ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).


Seperti tidak ilmiah ya? Bagaimana mungkin hanya dengan pandangan bisa membuat sesuatu sakit? Pada Hadits Riwayat Muslim no. 2188, Rasulullah bersabda 




Terus saya gimana?

Seperti layaknya orang tua lain, saya juga termasuk yang "gatal" ingin post tentang anak di sosial media kok. Waktu anak pertama dulu, setiap tingkah lakunya yang menggemaskan saya bagikan ke dunia maya. 

Kalau tidak salah saat Ammar menginjak umur 4 bulan Instagram mulai memiliki fitur stories seperti snapchat yang hilang dalam 24 jam. Sangat cocok untuk saya yang memang jarang post di IG feed. IG stories itu lebih simpel dan tidak perlu terlalu estetika. Seiring dengan populernya fitur stories, Instagram pun menambahkan fitur Highlight. Tentu tidak perlu waktu yang lama untuk saya mengumpulkan stories tentang anak saya dalam satu highlight yang panjang.

Jujur sebenarnya bukan bermaksud ingin pamer, namun highlight tersebut berguna di saat anak saya sedang bosan dan menangis. Terkadang saya berikan dia tontonan kumpulan video dirinya sendiri di highlight. (Gotcha, Screen Time 🤪)

Alhamdulillah, bulan pertama anak kedua, saya tidak memiliki banyak masalah dengan sang bayi, melainkan lebih dengan kakaknya yang masih beradaptasi berbagi perhatian.

Kebetulan tante saya yang seorang fotografer, menawarkan untuk memfoto anak saya. Newborn photoshoot gitu lah... Berhubung gratisan, jadwalnya molor ngikut yang foto, jadi 2 minggu pertama sejak kelahiran sudah terlewat. Itulah waktu terbaik untuk foto newborn karena bayi masih lebih sering tidur dan cukup lentur untuk diatur gayanya. Jadilah pada umur 4 minggu lebih, Caca (panggilan anak kedua kami) difoto ala-ala oleh tante saya. Tak lama dipost di Instagramnya (beliau selebgram). 


Credit: Pixabay (Canva Premium)


Masuk bulan ke-2, rasanya seperti diserang negara api. Anak saya rewel bukan kepalang di malam hari. Tidak berhenti menangis. Disusukan, lalu muntah. Menangis sejadi-jadinya. Biasanya ia mulai menangis dari jam 9 malam sampai shubuh. Kalaupun tidak menangis, saya harus menggendongnya berdiri. Benar-benar melelahkan. Saya pun saat itu nampaknya terkena baby blues. Berat badan Caca hanya naik seupil 200 gram, padahal di bulan pertama 1.5 kg. Stress sekali rasanya, sudah lah lahir kecil (memang bawaan rahim saya tidak bisa punya anak yang besar), eh sekarang ada cobaan begini.


Credit: Pixabay (Canva Premium)


Dari tanda-tanda yang ada, sepertinya Caca mengalami kolik. Kolik ini umum dialami oleh bayi pada usia 4-8 minggu, beberapa berlanjut sampai usia 6 bulan. Berdasarkan statistik biasanya anak perempuan dan berberat badan lahir rendah (bblr) memiliki resiko kolik lebih tinggi. Kolik pada bayi tidak dapat dijelaskan oleh medis, karena bayi tidak bisa menjelaskan (hehehehe). Tapi kondisi ini bisa terjadi di orang dewasa, sering disebut juga dengan Upset Stomach. Kata tante saya, ini memang sakit sekali dan bikin pucat serta kaki dingin. Jadi wajar jika bayi sampai menangis.


Credit: childinsider.com


Selain itu, Caca juga memikiki gangguan pada pencernaannya, GER, Gastroenteritis Reflux. Hal ini menyebabkan setiap perutnya penuh dengan ASI, dikeluarkan kembali. Bukan sekedar gumoh ya. Tapi projectile vomit, muntah kaya air mancur di film-film gitu, keluar dari mulut dan terkadang lubang hidungnya. Baju Caca dan saya serta sprei harus ganti setiap kali dia muntah saking hebohnya.

Saya akhirnya pun diberikan banyak pantangan makanan seperti susu dan turunannya serta makanan lain pemicu kolik.


Alhamdulillah, kondisi kolik ini hanya berlangsung di bulan ke-2, dan GER nya hanya sampai usia 4-5 bulan. Setelah itu kondisinya lebih baik dan saya bisa bercengkrama kembali dengan boba-boba kekinian... 😜

Saat mengetahui janin anak ketiga saya berkelamin perempuan dan ada kecenderungan bayi kecil (lagi), saya mulai cemas. Berbagai upaya yang saya lakukan mulai dari makan daging merah setiap hari, minum susu protein tinggi yang biasa dikonsumsi orang sakit, infus venofer dan lain sebagainya agar anak saya tidak BBLR lagi. Saya tidak mau anak ketiga ini kolik lagi. Trauma sekali rasanya.


Sebenarnya, saat kejadian kolik pada Caca dulu, ada rasa denial, apa jangan-jangan karena habis difoto super gemes dan cantik waktu itu ya, Caca jadi kolik. Soalnya fotonya emang cakep bangetttt... Jangan-jangan dia kena ain. Walau setelah itu saya masih suka post anak di sosial media. Yah namanya juga denial

Nah balik lagi ke anak ketiga yang ternyata BBLR lagi. Saya dan suami memutuskan untuk tidak membagikan foto Wawa (panggilan anak ketiga kami) ke media sosial. Setidaknya sampai usia rentan kolik terlewati. Usia 3 bulan.

Alhamdulillah. Wawa sehat, tidak kolik, berat badan cepat bertambah. Dia jadi anak saya yang paling gendut. Dan, tidak pernah semalam pun saya begadang karenanya. Walau setelah vaksin pentabio sekalipun yang membuat badannya panas, paling banyak hanya 3x terbangun.

Anak ini seperti mengerti bahwa saya sudah sibuk dengan kedua kakaknya, urusan rumah dan online shop. Apalagi saya tidak memiliki Asisten Rumah tangga.






Allah tahu batas kemampuan hambanya. Kalau dikasih yang macam sebelumnya, fix 10000% pasti saya bakal PPD (Post Partum Depression) berat.

Saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak dengan kami sebagai orangtua yang tidak pernah posting foto Wawa di sosial media, Wawa ini bagaikan angel untuk saya. Saya dan suami pun merasa mungkin ada benarnya penyakit 'ain itu ada. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak pernah post Wawa secara eksplisit. Teman-teman saya terkadang lupa kalau anak saya ada tiga.

Saya sendiri masih sesekali post kegiatan Aa dan Caca namun lebih sering di close friend saja. Post yang ada di feed pun tidak saya . Tapi memang jarang sekali yang close up di mukanya. Sedangkan suami saya mengarsipkan semua postingan di feed Instagramnya yang mengandung foto anak-anak.

Sadar sebenarnya apa yang membuat postingan di media sosial itu lebih berkesan adalah time stampnya. Rasanya berbeda jika lihat di galeri HP biasa. Itupun suka tertimbun di galeri dengan foto-foto whatsapp group dan lain sebagainya. Di media sosial, semuanya lebih tertata rapih, mudah diakses kapan saja menjadi jejak digital yang selama Instagram tidak bangkrut akan bisa dilihat oleh anak saya kelak.

Akhirnya kami pun membuat akun khusus anak-anak kami yang terkunci dan hanya untuk keluarga. Tujuannya adalah menghindarkan 'ain bagi anak, menjaga privasinya (ya mirip-miriplah sama anaknya Raisa Hamish), namun tetap mempunyai media untuk menampung kenangan yang tidak terjadi dua kali.

Saya benar-benar merasakan perbedaan membesarkan anak bungsu saya dibandingkan kedua kakak sebelumnya. Mungkin ini salah satu sebabnya kenapa rasanya anak jaman dulu lebih mudah diurusnya dibanding anak sekarang (komentar Gen X kalau lihat Gen Y kerempongan sama anak sendiri).

Wallahu a'lam bishawab