Sabtu, 18 September 2021

Pengalaman 3 Bulan Pertama PAUD A di Sekolah Murid Merdeka (SMM)



DISCLAIMER: Tulisan ini murni opini dan kesan pribadi saya serta terbebas dari spomsor apapun. 

Tanpa terasa Ammar sudah menyelesaikan triwulan I PAUD A di Sekolah Murid Merdeka (SMM). Empat hari ke belakang sebelumnya, saya sibuk berkutat minimal 3 jam sehari untuk mengawalnya menyelesaikan tugas dan PR dari SMM. 

Alasan memilih SMM

1. Tidak ada biaya uang pangkal

Jujur price point adalah salah satu pertimbangan utama saya memilih SMM. Tidak ada uang pangkal membuat harga SMM sangat bersaing. Dengan keadaan pandemi yang penuh dengan ketidakpastian, kok rasanya berat jika harus mengeluarkan uang pangkal yang mahal "hanya" untuk sekolah online. Lagipula ini kan jenjang TK yang lebih pendek, tidak seperti SD yang durasinya 6 tahun.

2. Tidak bisa menunda tahun ajar lagi

Sebenarnya Ammar sudah sekolah Kelompok Bermain saat berumur 3 tahun, lalu naik ke kelas PAUD A tahun selanjutnya. Di semester pertama PAUD A, saya hampir tidak bisa menyesuaikan diri dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) apalagi sekolah anak tidak menggunakan zoom sama sekali namun hanya via whatsapp dan terasa sangat tidak efektif. Akhirnya saya tidak melanjutkan dan memutuskan untuk cuti selama sesemester lagipula waktu itu Ammar tergolong terlalu cepat setahun jadi masih ada cadangan waktu dengan harapan tahun 2021 sudah tidak pandemi. Dan saya salah.

Cara Mendaftar

SMM cukup gencar melakukan iklan di media sosial. Beberapa kali saya terkana iklan di Instagram Story. Anda bisa mengintip sosial media SMM di tautan ini. Sebelum mendaftar ada baiknya trial class terlebih dahulu yang disediakan gratis dan dapat dipilih sesuai waktu yang memungkinkan untuk kita.

Kelas Trial class yang diikuti oleh Ammar dipandu oleh Bu Anggi. Ada beberapa peralatan yang perlu disiapkan seperti tisu, kertas, alat mewarnai dan lem. Pada kelas trial, Ammar membuat buah Rambutan. Seingat saya, saat itu yang mengikuti trial ada sebanyak 17 orang. Trial berlangsung selama 1 jam.


Ammar memang tidak pernah mengikuti kelas via zoom apapun baik yang sekolah ataupun kelas lepasan yang cukup banyak dan tren saat pandemi, oleh karena itu reaksinya cukup positif setelah mengikuti kelas trial ini.

Tanpa pikir panjang, suami pun langsung mendaftar dan membayar untuk 3 bulan kelas PAUD A yang refundable seharga 600.000 rupiah. Dana bisa direfund jika sebelum sebulan memutuskan untuk berhenti karena tidak cocok. Harga yang dibayarkan sudah termasuk dengan playkit basic yang berisi worksheet dan peralatan yang dapat digunakan untuk mengerjakan tugas yang diberikan selama masa ajar. 

Selain playkit basic, kita juga disarankan untuk membeli playkit add on, berisi alat-alat pelengkap untuk kegiatan dan tugas ajar, seperti pasir kinetik, lilin, stik es krim, karton dan lain-lain. Playkit add on ini bs dibeli melalui Tokopedia SMM. Saya pribadi menyarankan untuk membeli agar tidak repot cari bahan untuk tugas. Jangan lupa simpan playkit dengan baik agar tidak hilang-hilangan sebelim digunakan seperti yang saya alami. Alhasil harus membeli ulang barang yg dibutuhkan. Playkit add on ini hanya diskon 70% (35ribuan) saat awal masa ajar, setelah itu di set tidak diskon, jd jatuh harganya mahal. Mungkin ini agar yang mencheckout hanya orang tua murid yg memang sedang membutuhkan bukan pembeli lain. 

Untuk proses pendaftaran dan pembuatan akun di platform sekolahmu, anda bisa meminta bantuan via whatsapp/email SMM. Anda akan beberapa kali disambungkan dengan Customer Service yang sesuai dengan kelas yang dipilih.

Kelas PAUD A 

Sosialisasi orang tua murid sebelum masa ajar (ternyata) diikuti lebih dari 500 orang tua, jika zom penuh maka bisa diakses dari youtube. Sosialisasi dilakukan pada beberapa jadwal dan rekamannya bisa ditonton ulang. Durasinya lebih dari 1 jam karena banyak pertanyaan dari orang tua, saya ingat saat itu saya akhirnya menyambi dengan beberes rumah dan menyiapkan makan malam. 

Jenjang PAUD ini memang tampaknya paling banyak peminatnya mengingat tidak sedikit yang alasannya seperti saya: tidak mau rugi bayar mahal kalau hanya sekolah online. Walau sekolah konvensional lainnya juga tidak bisa disalahkan jika mematok tarif tidak jauh seperti masa normal sebelum pandemi, karena mereka kan tetap memiliki sarana dan prasarana fisik yang tetap ada walau tidak digunakan. 

Saya memilih jadwal hari Senin dan Kamis pukul 10 pagi. Setiap hari ada 2 jadwal yang berbeda, jam 10 dan jam 16. Jika terlewat sesi pagi, kita bisa mengikuti kelas sore dengan wali kelas yang sama. Jika masih tidak dapat mengikuti, maka bisa melihat rekamannya. Ini adalah salah satu poin plus SMM, jadwalnya sangat mengakomodir semua. Jika anda orangtua yang bekerja, bisa juga memilih jadwal di hari Sabtu dan Minggu.

Di perjumpaan pertama, saya cukup kaget sebenarnya bahwa ternyata satu kelas di PAUD A SMM bisa diisi oleh 70 orang anak (ya sebelumnya saat trial kan hanya belasan jadi semua bs dipanggil bu guru). Dari 70 orang itu, biasanya sebagian besar memilih mengikuti kelas di pagi hari. Di sore hari cenderung lebih sepi. 


Saya sendiri tetap memilih kelas di pagi hari. Pernah sekali waktu mencoba untuk ikut kelas sore agar jumlah murid lebih sedikit dan lebih diperhatikan, tapi jadinya kejar-kejaran dengan waktu menyiapkan dinner dan lain sebagainya. Biarlah sore hari, saatnya saya olahraga. Ammar bersekolah pagi hari saja.

Untuk materi ajar di SMM sebenarnya cukup rapih. SMM memiliki maskot bernama Meri dan Deka yang sering dijadikan tokoh dalam cerita dan narasi yang dibawakan. Walaupun animasinya masih terbatas, tapi bolehlah dihargai usahanya. Terkadang ada beberapa materi yang diambil dari YouTube, biasanya lagu anak. Salah satu lagu original SMM yang paling stuck di kepala saya adalah lagu beres-beres. Lagu ini selalu disetel oleh wali kelas setiap kali kelas akan berakhir, agar anak membereskan sampah hasil kerjanya. Me Likey

Untuk tugas yang diberikan sangat menarik dan bisa menjadi ide kegiatan anak di rumah. Sejauh ini, anak saya suka semuanya. Dalam seminggu kurang lebih ada 3-4 kegiatan yang bs dikerjakan. Semua kegiatan ini wajib dikerjakan jika kita ingin mendapatkan sertifikat. Namun jika tidak perlu sertifikat, cukup mengerjakan 5 asesmen wajib setiap 3 bulannya. Asesmen wajib ini lah yang memiliki bobot penilaian. 


Di minggu terakhir deadline PR, saya mengejar menyelesaikan semua PR selama 4 hari. Anak saya baru merasa bosan ketika hari itu memang sudah mengerjakan 4 PR. Salah satu kendala yang saya alami dan menjadi penyebab tertundanya PR adalah karena playkit saya hilang-hilangan, jadi saya harus beli lagi sendiri tambahannya karena terkadang tidak ada di rumah contohnya magnet untuk membuat pancingan ikan. 

Fasilitas Tambahan

Jika anda menginginkan interaksi lebih antara guru dan murid, tidak perlu khawatir. Ada solusinya yaitu, jeng jeng, kelas add on. Kelas add on dikenakan biaya 30ribu per pertemuan dengan jumlah anak tidak lebih dari 20. Pembelajaran menggunakan google meet bukan zoom. 

Ya disinilah saya mulai merasa, apa apa nambah, apa apa nambah. Jika kita mau mengambil kelas tambahan dan elektif lainnya, bukannya tidak mungkin ujung-ujungnya berbiaya sama seperti sekolah pada umumnya yang memiliki jadwal tatap muka 5 x seminggu dengan jumlah murid yang lebih sedikit. 

Oh iya, kelas SMM bersifat umum, jadi sapaan dan doa di dalam kelas akan menggunakan kata "tuhan" dan nilai-nilai yang ditanamkan universal. Ada kelas agama terpisah, biayanya 300ribu/bulan 🤣 lebih mahal dari kelas induknya yang hanya 200 ribu. Tentu saya tidak ambil. Namun ternyata SMM tetap menyediakan kelas agama sebulan sekali di luar jadwal kelas. Lumayan lah, 2 kali kelas yang diputar video milik Nussa Rara yang sudah tidak asing lagi. Lalu dilanjutkan dengan pembahasan nilai yang ingin ditanamkan dari video yg ditunjukkan serta membuat kreasi kerajinan seni.

Selain itu ada juga kelas PJOK setiap 2 minggu sekali. Kelas ini kelas besar digabung semua kelas PAUD A, tersedia di zoom dan youtube jika sudah penuh. 

Platform Sekolahmu
Untuk mempermudah pengumpulan tugas dan komunikasi dengan guru, maka kita harus menginstall applikasi sekolahmu di gawai. Menurut saya applikasinya cukuo baik walau terkadang ada glitch, tapi applikasi ini sering diupdate untuk memperbaiki bugs dan error yang ada. Sekolahmu juga dapat diakses menggunakan web browser di laptop. 

- link zoom kelas dapat dilihat di applikasi ini
- bisa mentrack progress tugas anak, mana yang sudah dan belum
- bisa memperkirakan berapa nilai sementara dan sebagainya
- bisa berkomunikasi dengan guru ataupun orangtua murid lainnya melalui tanya.mu
- pembelian kelas tambahan lainnya 

Kelas Offline SMM

Seiring dengan turunnya level ppkm di Jadebotabek dan kota besar lainnya, kegiatan pembelajaran tatap muka mulai dibolehkan, begitupun juga dengan SMM. Walaupun sebagian besar kegiatannya online namun SMM memiliki beberapa hub di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Depok. Untuk mengikuti kelas offline pertama kali tidak dipungut biaya, namun selanjutnya (seperti biasa) ada biaya add on. 

Saya sendiri memilih untuk tidak mengikuti kelas offline walaupun SMM memiliki hub di Depok tempat saya tinggal. Alasannya bukan karena takut corona dan protokolnya, tapi lebih karena lokasinya jauh dari tempat tinggal saya, perlu waktu lebih dari 1.5 jam untuk bolak balik. Sedangkan sesi sekolahnya hanya 1.5 jam, kok lamaan di jalannya 🤣. 

Oleh karena itu, jika kelak keadaan berangsur-angsur normal dan kegiatan pembelajaran akan lebih banyak tatap muka, maka saya akan mengembalikan Ammar ke sekolah sebelumnya. Lebih dekat rumah dan tidak perlu bayar uang pangkal (lagi). 

Overall

Saya tidak memiliki target yang muluk-muluk untuk anak. Lebih ke aliran santai. Anak saya tidak dipanggil oleh guru pun bukan masalah bagi saya, jadinya saya tidak pernah membeli kelas add on agar masuk ke kelas lebih kecil. Penilaian yang tergenerate di applikasi pun tidak memiliki banyak arti untuk saya karena saya lah yang bersama dan melihat anak saya melakukan proses pembelajaran, bukan gurunya, bukan sistem SMM. 

Saya juga bukan ibu yang kreatif dan rajin yang bisa membuat kegiatan belajar khusus di rumah. Jadi dengan adanya SMM, saya merasa terbantu untuk ide belajar sambil main. 

Sehingga Insya Allah kami akan melanjutkan ke triwulan ke 2. 

Nanti saya update dengan gambar dan contoh platform dan kegiatan SMM yaaa.. Sementara seperti ini dulu karena saya tulis dari gawai saja. Applikasi Blogger sangat terbatas. 

Cheers, 

Semoga bermanfaat





Sabtu, 26 Juni 2021

Cukuplah Kematian Sebagai Pengingat

Sebenarnya sudah lama saya merenungkan hal ini. Terlebih setelah Ayah saya meninggal tepat 2 tahun lalu, 26 Juni 2019. Kematian pertama yang memiliki banyak dampak pada saya, bisa dibilang first loss. Ditambah dengan keadaan pandemi di Indonesia yang sepertinya sedang mengalami tsunami Covid sekarang ini, membuat saya semakin merenung artinya kematian. 






Akhir Maret lalu saya sempat mengalami demam dan meriang disertai pusing. Karena sedang pandemi, saya sampai memeriksakan diri dengan uji PCR walau saya tidak ada kontak erat dengan kasus positif dan saya di rumah saja. Alhamdulillah, hasilnya negatif. Sudah lama saya tidak sakit. Ah sungguh tidak enak ya ternyata rasanya. Pantas saja sakit itu penghilang dosa.

Ada 2 cara manusia meninggal, mendadak dan sakit. Mendadak bisa saja ada kecelakaan atau (mungkin) pembunuhan. Yang dianggap lebih "alami" tentu saja sakit, apalagi jika sudah lanjut usia. Namun, mana yang lebih mudah?

Jika mendadak, apakah kita cukup waktu untuk menyiapkan mereka yang kita tinggalkan. Betapa banyaknya rencana yang tidak dapat diwujudkan. 

Jika sakit, apakah kita mampu untuk melewatinya? Mengingat sariawan saja sudah tidak enak. Sedikit saja nikmat darinya dicabut, cukup untuk membuat kita sangat tidak nyaman.  

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. (QS Luqman: 27)

Ada sebuah cerita yang mungkin sudah banyak didengar. Namun tidak ada salahnya saya tulis lagi sebagai pengingat. Seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah bercerita bahwa Djibril menceritakan padanya tentang seorang hamba Allah yang hanya beribadah selama 500 tahun. Saat hari perhitungan tiba, hamba tersebut meminta dimasukkan ke surga atas ibadahnya. Namun Allah memasukkannya ke surga atas rahmatNya. Setelah berkali-kali kukuh bahwa ibadahnya dapat membawanya ke surga, dilakukan lah pengukuran. Singkat cerita, ibadah tanpa henti selama 500 tahun tidak dapat membalas kenikmatan penglihatan yang ia miliki. 

Subhanallah. Bagaimana dengan diriku yang pas-pasan ini. 


Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu. Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu


Bagaimana pun caraMu memanggilku kelak, semoga aku dalam keadaan husnul khotimah. Walaupun kadang tak sanggup aku membayangkannya. Betapa lemah dan kecutnya diri ini. Cukuplah kematian sebagai pengingat.

Depok, 26 Juni 2021



Sabtu, 15 Mei 2021

Review Film: Oxygen

Akhirnya nulis review film perdana di blog ini setelah bingung mau nulis apa dan hampir (lagi-lagi) di depak dari 1minggu1cerita karena sudah 5 minggu tidak setor. Hehehehe.


Kebetulan filmnya baru rilis di netflix tanggal 12 Mei 2021 yang lalu, sehari sebelum lebaran. Berhubung sudah syawal, jadi saya mulai nonton lagi :p Merasa bersalah aja gitu kalo netflix-an pas bulan Ramadhan. Hadeuhhhh, padahal harusnya ibadah mah minimal konstan ya setelah Ramadhan (jangan dicontoh ya gaes).

Jujur pas awal memasukkan film ini ke 'my list', saya hanya membaca sinopsis pendek di halaman netflix dan trailer singkatnya. Pemainnya nampak familiar, aktris cantik Perancis Melanie Laurent, yang juga bermain di Inglorious Basterds

Cerita bermula saat seorang wanita terbangun dalam sebuah tabung cryogenic dengan kadar oksigen terbatas dan lokasi yang tidak diketahui. Tanpa ingat identitas ataupun alasan mengapa ia berada dalam tabung tersebut, wanita ini mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit petunjuk melalui serpihan ingatannya dan bantuan asisten komputer pintar yang terhubung dengan cryogenic tersebut. Dr Elizabeth Hansen adalah seorang peneliti terkenal yang memenangkan banyak penghargaan di bidang sains dan ironisnya sekarang dia terjebak di dalam cryogenic yang tak lain adalah hasil kerjanya sendiri. 



Film ini sebenarnya sudah mulai digarap dari sebelum pandemi dan mulai shooting pada Juli 2020 setelah status pandemi resmi pada Maret 2020. Ada beberapa elemen terkait seperti wabah dan virus dimasukkan ke dalam film ini. 

Setengah perjalanan film, sedikit sekali petunjuk yang kita peroleh tentang mengapa Liz, nama panggilan Dr Elizabeth Hansen, bisa terperangkap, siapa dalang di balik semua ini. Baru lah setengah terakhir, mulai terungkap. Namun penulis skenario film ini cukup pintar memutar balik ending film ini. Saya sendiri sih tidak menyangka bahwa ternyata bip bip bip... Supaya tidak spoiler. Apakah Liz bisa mengungkap penyebab dirinya berada pada kondisi tersebut sebelim kadar oksigen habis? 


Film science fiction berdurasi 100 menit dan bergenre thriller ini cukup menarik dan menghibur. Cukup twisted setelah 5/6 film dan ending yang diserahkan kembali kepada penonton bagaimana menginterpretasikannya.

Ini salah satu film yang patut dimasukkan daftar moviedate bersama pasangan. Bisa dinikmati oleh pria dan wanita.

Rating Pribadi: 4 dari 5




Sabtu, 03 April 2021

Berebut Vaksin Mempertanyakan Nurani




Suntikan dosis vaksin Covid19 Sinovac pertama kepada Presiden Jokowi pada 13 Januari lalu menandai dimulainya program vaksinasi Covid19 di Indonesia. Pilihan pertama pada Sinovac disebabkan penggunaan teknologi vaksin yang relatif lebih kuno tapi cenderung aman dan dapat diproduksi oleh Biofarma. Walaupun begitu, pemerintah dengan segala upaya berjuang untuk mengamankan lebih banyak dosis vaksin dari produsen lain. Semua negara di dunia sedang memperebutkan vaksin, negara-negara kaya dengan mudahnya mengamankan dan menimbun vaksin sehingga tidak aneh kalau rate vaksinasi mereka sangat cepat, apalagi penduduknya tidak sebanyak Indonesia. 

Pada Tahap Pertama, Vaksin diberikan kepada para tenaga kesehatan yang memiliki resiko paparan cukup besar. Sedangkan pada Tahap Kedua yang dimulai dari Februari dan ditargetkan selesai Mei 2021 ini mencakup

▪️Golongan Rentan - Lansia
▪️Pedagang pasar
▪️Pendidik, termasuk guru dan dosen
▪️Tokoh agama dan penyuluh agama
▪️Wakil rakyat, pejabat pemerintah, ASN
▪️Petugas keamanan termasuk TNI dan Polri
▪️Petugas pariwisata, hotel, dan restoran
▪️Pelayanan publik, termasuk petugas Damkar, BPBD, BUMN, BPJS, dan Kepala Perangkat Desa
▪️Atlet
▪️Wartawan dan pekerja media
▪️Pekerja dan transportasi publik* 

Sedangkan untuk Tahap 3, sasaran vaksinasinya adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi. Yang terakhir Tahap 4, mencakup masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin.** 

BUMN tentu saja beli vaksin gotong royong ya. Apa itu vaksin gotong royong, vaksin yang boleh dibeli perusahaan untuk karyawan dan keluarganya. Baru saja beberapa hari yang lalu, suami saya mengatakan perusahaan tempat dia bekerja tidak akan membeli vaksin gotong royong. Padahal perusahaan tempat dia bekerja cukup besar. 

Sebenarnya jiwa nyinyir saya ingin bilang "ahhh itu mah perusahaan kamu aja yang pelit". Tapi saya ga bisa komplain begitu, nyatanya dari awal pandemi Maret 2020 yang lalu, suami saya full WFH. Tidak pernah masuk kantor, hanya 2x ketika harus menginspeksi keamanan hotel yang digunakan kru lapangannya menginap. Beberapa perusahaan yang saya tahu membeli vaksin (termasuk ex kantor saya yang cukup uhukkk koret) memang menerapkan WFO terus sampai banyak terjadi cluster kantor dan keluarga. 

Balik lagi ke vaksin pemerintah yang menyasar lansia dengan pengertian lanjut usia di atas 60 tahun, cukup membuat panik beberapa teman yang sangat menginginkan orangtuanya di vaksin. Saat ini saya berusia 30 tahun, rata-rata ibu dari teman-teman seusia saya belum menginjak 60 tahun. Semua sibuk daftar vaksin sana sini, ada yang berhasil belum 60 tahun sudah dapat karena pasangannya sudah 60 tahun. Ada yang berhasil belum 60 tahun dengan cara go show ke GBK. Dan lain sebagainya. 

Jujur saya sendiri karena Ayah saya sudah tiada (kalau masih beliau 63 tahun ini) dan Ibu saya masih 55 tahun, ya woles aja. Sabar aja tunggu giliran. Yang penting 2 adik saya yang tenaga kesehatan sudah divaksin. Rumah saya dan rumah Ibu berdekatan hanya terpisah 3 rumah, jadi interaksi kami setiap hari dan intens. Keamanan dua rumah ini layaknya satu rumah jika terjadi apa-apa. 

Kalau orang-orang di sekitar kita sudah divaksin tapi kita belum bukannya malah secara tidak langsung kita ikut terlindungi? Sudah divaksin pun tetap harus menjaga protokol kesehatan bukan. Kenapa malah jadi panik sendiri ingin cepat-cepat dapat vaksin mengakali segala cara? 

Masa iya demi dapat vaksin lebih cepat dan masuk ke tahap 3, kita nanti mengaku-ngaku orang rentan ekonomi dan geospasial. Hati-hati diamini malaikat, dikabulkan Yang Di Atas.  

Ingat bagaimana 2020 berlalu begitu saja dengan cepat? Dan bahkan 2021 sudah menginjak April dan kita akan segera bertemu Ramadhan dalam waktu kurang dari 2 minggu lagi. Jadi ya sabar, akan ada waktunya dan jangan lupa berbaik sangka dengan pemerintah, pasti mereka ingin rakyatnya cepat divaksin kok demi percepatan ekonomi. 

Bagi yang beruntung sudah mendapat vaksin duluan bukan berarti bisa longgar protokol, anda "berhutang" kepada yang blm vaksin agar mereka juga ikut terlindungi. Apalagi yang belum, harus tetap taat dengan protokol karena resiko kita terkena covid dengan gejala lebih besar dibanding yang sudah vaksin.

Selama masih memungkinkan menjalani dan bertahan hidup dari rumah saja, consider yourself lucky karena tidak semua orang bisa seperti itu. Jadi tidak perlu iri jika belum mendapat vaksin terutama jika kita termasuk golongan yang beruntung tersebut. 

Jika anda termasuk yang harus berkegiatan di luar rumah setiap harinya, WFO setiap hari, namun belum jelas hilal vaksinnya. Mari berdoa bos anda mendapat hidayah agar membelikan vaksin untuk karyawannya 😜

Tulisan ini adalah sebuah self reminder. 



*  sumber: health.detik.com https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5375196/dimulai-17-februari-ini-urutan-prioritas-vaksinasi-covid-19-tahap-2 

** sumber: kompas.com https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/09/200200965/4-tahapan-vaksinasi-covid-19-dan-jadwal-pelaksanaannya?page=3

Kamis, 18 Februari 2021

Jaminan Keluarga Langgeng?


Belum lama ini, seorang selebgram terkenal mengumumkan bahwa dirinya telah resmi bercerai dengan pasangannya. Mereka telah dikaruniai sepasang buah hati yang lucu dan menggemaskan. Hal ini tentunya banyak disayangkan oleh para netizen pengikut mereka. Tak jarang juga yang berkomentar bahwa kebahagiaan yang selama ini ditampakkan melalui foto yang mereka bagikan adalah semu semata. 

Saya tidak akan membahas panjang tentang selebgram tersebut. Karena toh saya bukan followernya dan hanya mendengar sekilas ceritanya dari percakapan grup whatsapp. Dan saya yakin setiap cerita punya dua sisi. Namun saya jadi merenung tentang pernikahan. 

Apa sih yang menjadi jaminan sebuah pernikahan bisa awet dan langgeng? 

Fisik yang rupawan
Ohh jika ini saja, tentu tidak ada artis yang bercerai. 

Harta
Walaupun masalah finansial termasuk penyebab utama perceraian di Indonesia (berdasarkan statistik), namun balik lagi ke kasus di awal. Tetap bukan jaminan 

Ada tidaknya keturunan
Memang banyak pasangan yang bercerai karena salah satunya tidak bisa memiliki anak. Tapi banyak juga yang bercerai walaupun sudah memiliki anak, bahkan terkadang justru setelah memiliki anak hubungan merenggang. Ada ataupun tidak, keduanya adalah ujian. Jumlah anak apa lagi. 

Jadi apa dong?
Balik lagi ke ucapan yang sering kita ucapkan ke pasangan pengantin yang baru menikah. 

Semoga sakinah, mawaddah, warrahmah 

Apa sih artinya? 

Sakinah secara istilah berarti kedamaian. Jika dimaknai konteksnya dalam keluarga berarti keadaaan yang tetap tenang meski menghadapi banyak rintangan dan ujian hidup. Dengan disertai fondasi mawaddah (rasa dan sikap cinta) dan rahmah (kasih). 

Mawaddah sering diartikan sebagai cinta. Cinta dalam pernikahan harus selalu dipupuk agar tumbuh, karena jika tidak pasti lah akan kalah oleh godaan setan. Sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Rasa kasih sayang ini lah yang membuat seseorang melakukan hal yang membuat orang yang disayanginya bahagia. 

Jadi sakinah, mawaddah, warrahmah adalah satu kesatuan yang saling menopang satu sama lain. Tanpanya walaupun pasangan kita setampan dan sekaya Ryan Reynolds, kalau bikin empet mah empet aja. 

Pernikahan itu (ternyata) tidak mudah. Namun hidup ini lebih sulit dan alangkah senangnya berbagi kesulitan itu bersama sehingga akan terasa lebih ringan. 

Jadi apa jaminan keluarga langgeng? Jika kita mengukuhkan tujuan berkeluarga agar menjadi sakinah dengan upaya mawaddah dan warrahmah. Hal ini yang mungkin membuat sepasang kakek nenek sederhana tetap langgeng hingga masa tua mereka. Jadi teringat pasangan tua yang pernah kami temui di Colmar beberapa tahun silam. Sederhana, tidak memiliki anak, dan istrinya buta. Tapi mungkin mereka lah definisi sakinah, mawaddah, warrahmah. 


Semoga keluarga kita bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.

Sekian, racauan pendek dari yang hampir didepan dari 1minggu1cerita. 😛

Minggu, 10 Januari 2021

Ketagihan Tantangan

Adakah yang ketagihan tantangan juga seperti saya?

Tantangan bagi saya menjadi sebuah dorongan untuk mencapai suatu target. Tantangan atau challenge biasanya ramai ditetapkan sebagai bagian dari resolusi tahun baru kita. 

Berikut beberapa tantangan yang saya ikuti:

1. Reading Challenge Good Reads
2021 adalah tahun ketiga saya menetapkan target minimal buku yang dibaca. Alhamdulillah setiap tahun bisa tercapai. 2019 saya menargetkan 18, pada 2020 naik menjadi 24. Di tahun 2021 ini saya tidak menaikkan target karena saya harus berbagi waktu dengan kesukaan saya yang lain di bawah ini. 


2. Running Challenge and Other Digital Badge Strava
Baru join di bulan September, saya menjadi lebih termotivasi untuk aktif setelah bergabung Strava. Kok bisa? Alasannya sepele, trophy digital yang mejeng di profil kita setiap kita menyelesaikan sebuah tantangan. Awal bergabung bisa menyelesaikan 5km dalam satu kali lari sudah Alhamdulillah. Lama-lama menjadi easy run dan naik ke 10 km. Lalu mulai mencoba menargetkan lari 100 km dalam waktu 1 bulan. Wah senang rasanya. 


3. Mental Health and Wellness di Grup Mengaji
Nah kalo yang ini motivasinya adalah stiker whatsapp. Kok cetek banget sih sum 🤣 Sebagai sarana pengingat amalan sunnah dan hidup aktif, kami sepakat untuk saling mengingatkan. Ditambah stiker eksklusif yang bisa digunakan jika ceklis kegiatan sudah dilakukan. Seperti ini
Challenge berkaitan anak sih, saya ga ada. Pasrah sajaaa... No pressure. Namun untuk diri saya sendiri, saya ikuti banyak challenge agar bisa mendapatkan manfaat dan endorfinnya. Ingat ingat, ibu yang bahagia kunci kebahagiaan di rumah. 

Hmmm apakah ada usul saya harus ikutan challenge apa?