Sabtu, 26 Juni 2021

Cukuplah Kematian Sebagai Pengingat

Sebenarnya sudah lama saya merenungkan hal ini. Terlebih setelah Ayah saya meninggal tepat 2 tahun lalu, 26 Juni 2019. Kematian pertama yang memiliki banyak dampak pada saya, bisa dibilang first loss. Ditambah dengan keadaan pandemi di Indonesia yang sepertinya sedang mengalami tsunami Covid sekarang ini, membuat saya semakin merenung artinya kematian. 






Akhir Maret lalu saya sempat mengalami demam dan meriang disertai pusing. Karena sedang pandemi, saya sampai memeriksakan diri dengan uji PCR walau saya tidak ada kontak erat dengan kasus positif dan saya di rumah saja. Alhamdulillah, hasilnya negatif. Sudah lama saya tidak sakit. Ah sungguh tidak enak ya ternyata rasanya. Pantas saja sakit itu penghilang dosa.

Ada 2 cara manusia meninggal, mendadak dan sakit. Mendadak bisa saja ada kecelakaan atau (mungkin) pembunuhan. Yang dianggap lebih "alami" tentu saja sakit, apalagi jika sudah lanjut usia. Namun, mana yang lebih mudah?

Jika mendadak, apakah kita cukup waktu untuk menyiapkan mereka yang kita tinggalkan. Betapa banyaknya rencana yang tidak dapat diwujudkan. 

Jika sakit, apakah kita mampu untuk melewatinya? Mengingat sariawan saja sudah tidak enak. Sedikit saja nikmat darinya dicabut, cukup untuk membuat kita sangat tidak nyaman.  

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. (QS Luqman: 27)

Ada sebuah cerita yang mungkin sudah banyak didengar. Namun tidak ada salahnya saya tulis lagi sebagai pengingat. Seperti yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah bercerita bahwa Djibril menceritakan padanya tentang seorang hamba Allah yang hanya beribadah selama 500 tahun. Saat hari perhitungan tiba, hamba tersebut meminta dimasukkan ke surga atas ibadahnya. Namun Allah memasukkannya ke surga atas rahmatNya. Setelah berkali-kali kukuh bahwa ibadahnya dapat membawanya ke surga, dilakukan lah pengukuran. Singkat cerita, ibadah tanpa henti selama 500 tahun tidak dapat membalas kenikmatan penglihatan yang ia miliki. 

Subhanallah. Bagaimana dengan diriku yang pas-pasan ini. 


Wahai Tuhan, ku tak layak ke surgaMu. Namun tak pula aku sanggup ke nerakaMu


Bagaimana pun caraMu memanggilku kelak, semoga aku dalam keadaan husnul khotimah. Walaupun kadang tak sanggup aku membayangkannya. Betapa lemah dan kecutnya diri ini. Cukuplah kematian sebagai pengingat.

Depok, 26 Juni 2021



Sabtu, 15 Mei 2021

Review Film: Oxygen

Akhirnya nulis review film perdana di blog ini setelah bingung mau nulis apa dan hampir (lagi-lagi) di depak dari 1minggu1cerita karena sudah 5 minggu tidak setor. Hehehehe.


Kebetulan filmnya baru rilis di netflix tanggal 12 Mei 2021 yang lalu, sehari sebelum lebaran. Berhubung sudah syawal, jadi saya mulai nonton lagi :p Merasa bersalah aja gitu kalo netflix-an pas bulan Ramadhan. Hadeuhhhh, padahal harusnya ibadah mah minimal konstan ya setelah Ramadhan (jangan dicontoh ya gaes).

Jujur pas awal memasukkan film ini ke 'my list', saya hanya membaca sinopsis pendek di halaman netflix dan trailer singkatnya. Pemainnya nampak familiar, aktris cantik Perancis Melanie Laurent, yang juga bermain di Inglorious Basterds

Cerita bermula saat seorang wanita terbangun dalam sebuah tabung cryogenic dengan kadar oksigen terbatas dan lokasi yang tidak diketahui. Tanpa ingat identitas ataupun alasan mengapa ia berada dalam tabung tersebut, wanita ini mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit petunjuk melalui serpihan ingatannya dan bantuan asisten komputer pintar yang terhubung dengan cryogenic tersebut. Dr Elizabeth Hansen adalah seorang peneliti terkenal yang memenangkan banyak penghargaan di bidang sains dan ironisnya sekarang dia terjebak di dalam cryogenic yang tak lain adalah hasil kerjanya sendiri. 



Film ini sebenarnya sudah mulai digarap dari sebelum pandemi dan mulai shooting pada Juli 2020 setelah status pandemi resmi pada Maret 2020. Ada beberapa elemen terkait seperti wabah dan virus dimasukkan ke dalam film ini. 

Setengah perjalanan film, sedikit sekali petunjuk yang kita peroleh tentang mengapa Liz, nama panggilan Dr Elizabeth Hansen, bisa terperangkap, siapa dalang di balik semua ini. Baru lah setengah terakhir, mulai terungkap. Namun penulis skenario film ini cukup pintar memutar balik ending film ini. Saya sendiri sih tidak menyangka bahwa ternyata bip bip bip... Supaya tidak spoiler. Apakah Liz bisa mengungkap penyebab dirinya berada pada kondisi tersebut sebelim kadar oksigen habis? 


Film science fiction berdurasi 100 menit dan bergenre thriller ini cukup menarik dan menghibur. Cukup twisted setelah 5/6 film dan ending yang diserahkan kembali kepada penonton bagaimana menginterpretasikannya.

Ini salah satu film yang patut dimasukkan daftar moviedate bersama pasangan. Bisa dinikmati oleh pria dan wanita.

Rating Pribadi: 4 dari 5




Sabtu, 03 April 2021

Berebut Vaksin Mempertanyakan Nurani




Suntikan dosis vaksin Covid19 Sinovac pertama kepada Presiden Jokowi pada 13 Januari lalu menandai dimulainya program vaksinasi Covid19 di Indonesia. Pilihan pertama pada Sinovac disebabkan penggunaan teknologi vaksin yang relatif lebih kuno tapi cenderung aman dan dapat diproduksi oleh Biofarma. Walaupun begitu, pemerintah dengan segala upaya berjuang untuk mengamankan lebih banyak dosis vaksin dari produsen lain. Semua negara di dunia sedang memperebutkan vaksin, negara-negara kaya dengan mudahnya mengamankan dan menimbun vaksin sehingga tidak aneh kalau rate vaksinasi mereka sangat cepat, apalagi penduduknya tidak sebanyak Indonesia. 

Pada Tahap Pertama, Vaksin diberikan kepada para tenaga kesehatan yang memiliki resiko paparan cukup besar. Sedangkan pada Tahap Kedua yang dimulai dari Februari dan ditargetkan selesai Mei 2021 ini mencakup

▪️Golongan Rentan - Lansia
▪️Pedagang pasar
▪️Pendidik, termasuk guru dan dosen
▪️Tokoh agama dan penyuluh agama
▪️Wakil rakyat, pejabat pemerintah, ASN
▪️Petugas keamanan termasuk TNI dan Polri
▪️Petugas pariwisata, hotel, dan restoran
▪️Pelayanan publik, termasuk petugas Damkar, BPBD, BUMN, BPJS, dan Kepala Perangkat Desa
▪️Atlet
▪️Wartawan dan pekerja media
▪️Pekerja dan transportasi publik* 

Sedangkan untuk Tahap 3, sasaran vaksinasinya adalah masyarakat rentan dari aspek geospasial, sosial, dan ekonomi. Yang terakhir Tahap 4, mencakup masyarakat dan pelaku perekonomian lainnya dengan pendekatan kluster sesuai dengan ketersediaan vaksin.** 

BUMN tentu saja beli vaksin gotong royong ya. Apa itu vaksin gotong royong, vaksin yang boleh dibeli perusahaan untuk karyawan dan keluarganya. Baru saja beberapa hari yang lalu, suami saya mengatakan perusahaan tempat dia bekerja tidak akan membeli vaksin gotong royong. Padahal perusahaan tempat dia bekerja cukup besar. 

Sebenarnya jiwa nyinyir saya ingin bilang "ahhh itu mah perusahaan kamu aja yang pelit". Tapi saya ga bisa komplain begitu, nyatanya dari awal pandemi Maret 2020 yang lalu, suami saya full WFH. Tidak pernah masuk kantor, hanya 2x ketika harus menginspeksi keamanan hotel yang digunakan kru lapangannya menginap. Beberapa perusahaan yang saya tahu membeli vaksin (termasuk ex kantor saya yang cukup uhukkk koret) memang menerapkan WFO terus sampai banyak terjadi cluster kantor dan keluarga. 

Balik lagi ke vaksin pemerintah yang menyasar lansia dengan pengertian lanjut usia di atas 60 tahun, cukup membuat panik beberapa teman yang sangat menginginkan orangtuanya di vaksin. Saat ini saya berusia 30 tahun, rata-rata ibu dari teman-teman seusia saya belum menginjak 60 tahun. Semua sibuk daftar vaksin sana sini, ada yang berhasil belum 60 tahun sudah dapat karena pasangannya sudah 60 tahun. Ada yang berhasil belum 60 tahun dengan cara go show ke GBK. Dan lain sebagainya. 

Jujur saya sendiri karena Ayah saya sudah tiada (kalau masih beliau 63 tahun ini) dan Ibu saya masih 55 tahun, ya woles aja. Sabar aja tunggu giliran. Yang penting 2 adik saya yang tenaga kesehatan sudah divaksin. Rumah saya dan rumah Ibu berdekatan hanya terpisah 3 rumah, jadi interaksi kami setiap hari dan intens. Keamanan dua rumah ini layaknya satu rumah jika terjadi apa-apa. 

Kalau orang-orang di sekitar kita sudah divaksin tapi kita belum bukannya malah secara tidak langsung kita ikut terlindungi? Sudah divaksin pun tetap harus menjaga protokol kesehatan bukan. Kenapa malah jadi panik sendiri ingin cepat-cepat dapat vaksin mengakali segala cara? 

Masa iya demi dapat vaksin lebih cepat dan masuk ke tahap 3, kita nanti mengaku-ngaku orang rentan ekonomi dan geospasial. Hati-hati diamini malaikat, dikabulkan Yang Di Atas.  

Ingat bagaimana 2020 berlalu begitu saja dengan cepat? Dan bahkan 2021 sudah menginjak April dan kita akan segera bertemu Ramadhan dalam waktu kurang dari 2 minggu lagi. Jadi ya sabar, akan ada waktunya dan jangan lupa berbaik sangka dengan pemerintah, pasti mereka ingin rakyatnya cepat divaksin kok demi percepatan ekonomi. 

Bagi yang beruntung sudah mendapat vaksin duluan bukan berarti bisa longgar protokol, anda "berhutang" kepada yang blm vaksin agar mereka juga ikut terlindungi. Apalagi yang belum, harus tetap taat dengan protokol karena resiko kita terkena covid dengan gejala lebih besar dibanding yang sudah vaksin.

Selama masih memungkinkan menjalani dan bertahan hidup dari rumah saja, consider yourself lucky karena tidak semua orang bisa seperti itu. Jadi tidak perlu iri jika belum mendapat vaksin terutama jika kita termasuk golongan yang beruntung tersebut. 

Jika anda termasuk yang harus berkegiatan di luar rumah setiap harinya, WFO setiap hari, namun belum jelas hilal vaksinnya. Mari berdoa bos anda mendapat hidayah agar membelikan vaksin untuk karyawannya 😜

Tulisan ini adalah sebuah self reminder. 



*  sumber: health.detik.com https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5375196/dimulai-17-februari-ini-urutan-prioritas-vaksinasi-covid-19-tahap-2 

** sumber: kompas.com https://www.kompas.com/tren/read/2021/01/09/200200965/4-tahapan-vaksinasi-covid-19-dan-jadwal-pelaksanaannya?page=3

Kamis, 18 Februari 2021

Jaminan Keluarga Langgeng?


Belum lama ini, seorang selebgram terkenal mengumumkan bahwa dirinya telah resmi bercerai dengan pasangannya. Mereka telah dikaruniai sepasang buah hati yang lucu dan menggemaskan. Hal ini tentunya banyak disayangkan oleh para netizen pengikut mereka. Tak jarang juga yang berkomentar bahwa kebahagiaan yang selama ini ditampakkan melalui foto yang mereka bagikan adalah semu semata. 

Saya tidak akan membahas panjang tentang selebgram tersebut. Karena toh saya bukan followernya dan hanya mendengar sekilas ceritanya dari percakapan grup whatsapp. Dan saya yakin setiap cerita punya dua sisi. Namun saya jadi merenung tentang pernikahan. 

Apa sih yang menjadi jaminan sebuah pernikahan bisa awet dan langgeng? 

Fisik yang rupawan
Ohh jika ini saja, tentu tidak ada artis yang bercerai. 

Harta
Walaupun masalah finansial termasuk penyebab utama perceraian di Indonesia (berdasarkan statistik), namun balik lagi ke kasus di awal. Tetap bukan jaminan 

Ada tidaknya keturunan
Memang banyak pasangan yang bercerai karena salah satunya tidak bisa memiliki anak. Tapi banyak juga yang bercerai walaupun sudah memiliki anak, bahkan terkadang justru setelah memiliki anak hubungan merenggang. Ada ataupun tidak, keduanya adalah ujian. Jumlah anak apa lagi. 

Jadi apa dong?
Balik lagi ke ucapan yang sering kita ucapkan ke pasangan pengantin yang baru menikah. 

Semoga sakinah, mawaddah, warrahmah 

Apa sih artinya? 

Sakinah secara istilah berarti kedamaian. Jika dimaknai konteksnya dalam keluarga berarti keadaaan yang tetap tenang meski menghadapi banyak rintangan dan ujian hidup. Dengan disertai fondasi mawaddah (rasa dan sikap cinta) dan rahmah (kasih). 

Mawaddah sering diartikan sebagai cinta. Cinta dalam pernikahan harus selalu dipupuk agar tumbuh, karena jika tidak pasti lah akan kalah oleh godaan setan. Sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Rasa kasih sayang ini lah yang membuat seseorang melakukan hal yang membuat orang yang disayanginya bahagia. 

Jadi sakinah, mawaddah, warrahmah adalah satu kesatuan yang saling menopang satu sama lain. Tanpanya walaupun pasangan kita setampan dan sekaya Ryan Reynolds, kalau bikin empet mah empet aja. 

Pernikahan itu (ternyata) tidak mudah. Namun hidup ini lebih sulit dan alangkah senangnya berbagi kesulitan itu bersama sehingga akan terasa lebih ringan. 

Jadi apa jaminan keluarga langgeng? Jika kita mengukuhkan tujuan berkeluarga agar menjadi sakinah dengan upaya mawaddah dan warrahmah. Hal ini yang mungkin membuat sepasang kakek nenek sederhana tetap langgeng hingga masa tua mereka. Jadi teringat pasangan tua yang pernah kami temui di Colmar beberapa tahun silam. Sederhana, tidak memiliki anak, dan istrinya buta. Tapi mungkin mereka lah definisi sakinah, mawaddah, warrahmah. 


Semoga keluarga kita bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah.

Sekian, racauan pendek dari yang hampir didepan dari 1minggu1cerita. 😛

Minggu, 10 Januari 2021

Ketagihan Tantangan

Adakah yang ketagihan tantangan juga seperti saya?

Tantangan bagi saya menjadi sebuah dorongan untuk mencapai suatu target. Tantangan atau challenge biasanya ramai ditetapkan sebagai bagian dari resolusi tahun baru kita. 

Berikut beberapa tantangan yang saya ikuti:

1. Reading Challenge Good Reads
2021 adalah tahun ketiga saya menetapkan target minimal buku yang dibaca. Alhamdulillah setiap tahun bisa tercapai. 2019 saya menargetkan 18, pada 2020 naik menjadi 24. Di tahun 2021 ini saya tidak menaikkan target karena saya harus berbagi waktu dengan kesukaan saya yang lain di bawah ini. 


2. Running Challenge and Other Digital Badge Strava
Baru join di bulan September, saya menjadi lebih termotivasi untuk aktif setelah bergabung Strava. Kok bisa? Alasannya sepele, trophy digital yang mejeng di profil kita setiap kita menyelesaikan sebuah tantangan. Awal bergabung bisa menyelesaikan 5km dalam satu kali lari sudah Alhamdulillah. Lama-lama menjadi easy run dan naik ke 10 km. Lalu mulai mencoba menargetkan lari 100 km dalam waktu 1 bulan. Wah senang rasanya. 


3. Mental Health and Wellness di Grup Mengaji
Nah kalo yang ini motivasinya adalah stiker whatsapp. Kok cetek banget sih sum ðŸĪĢ Sebagai sarana pengingat amalan sunnah dan hidup aktif, kami sepakat untuk saling mengingatkan. Ditambah stiker eksklusif yang bisa digunakan jika ceklis kegiatan sudah dilakukan. Seperti ini
Challenge berkaitan anak sih, saya ga ada. Pasrah sajaaa... No pressure. Namun untuk diri saya sendiri, saya ikuti banyak challenge agar bisa mendapatkan manfaat dan endorfinnya. Ingat ingat, ibu yang bahagia kunci kebahagiaan di rumah. 

Hmmm apakah ada usul saya harus ikutan challenge apa? 

Minggu, 13 Desember 2020

Hidup Sehat, Pilihan Bertahan Saat Pandemi

Banyak hal yang diajarkan oleh pandemi pada tahun 2020 ini. Kondisi pandemi yang sangat tidak terkendali di Indonesia, dimana yang terkena Corona lingkupnya semakin dekat dengan kita, membuat salah satu pilihan yang kita miliki adalah membenahi diri, HIDUP SEHAT. Jadi jika kemungkinan buruk terjadi, setidaknya dampaknya diminimalisasi.

Teman-teman di circle saya mulai mengajak untuk berolahraga bareng via online. Setiap minggu ada 2 sesi olahraga online via zoom serta kita harus setor apa yang kita makan setiap harinya di grup whatsapp yang dipandu seorang coach. Awalnya tentu tidak mudah, terutama bagian makanan. Beberapa syaratnya adalah
- Tidak boleh goreng-gorengan
- Tidak boleh tepung-tepungan dan makanan bersantan
- Protein yang disarankan adalah dada ayam. Hindari sea food. 
- Karbohidrat dan buah-buahan tidak boleh dimakan saat malam hari. 
Program yang saya ikuti ini dimulai saat saya sedang hobi-hobinya mengikuti resep cemilan di youtube. Jadi perubahannya cukup drastis. 

Selain itu grup kami juga menentukan target langkah harian, awalnya 5000 steps, lalu naik jadi 8000 steps. Saat 5000 steps, saya masih bisa mengejarnya 1-2 video Walk at Home nya Budhe Leslie Sansone di Youtube. Namun saat sudah 8000, mulai kewalahan. Karena bisa punya waktu 15 menit sendiri tanpa diganggu atau terdistraksi kerjaan rumah lainnya itu sangat sulit. Dari sini lah saya mulai memilih, lari, olahraga tertua di dunia. 

Sebenarnya lari bukanlah hal baru bagi saya. Saat masih S2 di Malaysia sekitar 7 tahun lalu, saya sudah mulai berlari rutin 2-5 km setiap hari. Manfaat yang saya rasakan adalah stress saya berkurang di tengah mengerjakan riset dan kegalauan hati saat itu. Lalu saya malah berhenti ketika seorang pria melamar saya 6 tahun yang lalu. Mungkin sudah tidak begitu stress 😝

*will be updated later*

Sabtu, 31 Oktober 2020

Alhamdulillah, Shopeepay Sudah Lebih Berfaedah

Okay, jadi aku sudah hampir ditendang lagi nih dari komunitas 1m1c (1 minggu 1 cerita) dimana para anggotanya harus minimal menulis submit tulisan sekali dalam 6 minggu. Tulisan ini bukan submission lomba atau berbayar, tapi memang murni ingin berbagi terutama bagi sobat marketplace oren yang satu ini.



Iya, sudah hampir setahun rasanya jika anda mau mendapatkan manfaat ongkos kirim gratis, Shopee termasuk agak memaksakan penggunaan Shopeepay untuk metode pembayarannya (mungkin mau memanfaatkan dana yang mengendap terlebih dahulu yaa :| ). Belum lagi segala sesuatu harus diklaim dulu vouchernya. Ribet! Apalagi kalau ada customer yang mau dapat ongkos kirim gratis tapi tidak paham pakai Shopee. Ngajarinnya agak berbelit. Jujur saja, ini membuat saya mulai lebih menyukai Tokopedia yang subsidi ongkos kirimnya bisa didapatkan tanpa harus mengklaim voucher, hanya perlu belanja minimal 50 ribu di power merchant dan official store dengan pembayaran apapun.

Kenapa saya tidak suka Shopeepay?

1. Nyangkut

Pembayaran di Shopee harus dilakukan penuh dengan shopeepay. Misalnya saldo shopeepay kita 16ribu lalu belanjaan kita 50 ribu, ya kita harus top up shopeepay 34 ribu lagi. Tidak seperti OVO di Tokopedia, kekurangan tidak harus dengan top up OVO, tapi bisa dikombinasikan dengan pembayaran lain seperti virtual account transfer bank. Sebenanrnya sisa shopeepay bisa ditarik kembali ke rekening kita, namun ribet ahhh...

2. Pemakaian Terbatas

Sebenarnya shopeepay sudah mulai banyak diterima di berbagai merchant di mall maupun toko biasa. Promosinya mirip dengan OVO jaman dulu. Namun karena selama pandemi ini saya di rumah terus, promo-promo tersebut tidak terpakai. Salah satu kelemahan shopeepay adalah bukan afiliasi Gojek dan Grab yang masing-masing sudah punya bentuk uang digitalnya sendiri dan bisa digunakan di banyak platform.


Salah satu poin positifnya, Top Up Shopeepay Masih Gratis

Setidaknya untuk BCA dan Mandiri, jika lewat BNI dikenakan biaya admin 1000 rupiah (sama seperti OVO). Untuk bank lain saya belum mencoba.


Berikut adalah beberapa ide menghabiskan shopeepay yang "nyangkut" selain jajan ke counter

1. Sudah Bisa Digunakan untuk Pembayaran Ekspedisi Favorit

Sebagai ibu-ibu yang suka jualan online shop, sudah seharusnya tahu bagaimana caranya mengakali agar ongkir lebih murah. Salah dua nya adalah menggunakan Help dan Anteraja. Help adalah applikasi delivery perantara yang menyambungkan kita dengan Gosend serta Alfatrex (untuk pengiriman luar kota). Sedangkan Anteraja adalah salah satu ekspedisi baru yang aktif menjemput bola, pick up  berapapun jumlah paket dan masih memberikan banyak potongan ongkos kirim lewat applikasinya. Kedua applikasi ini merupakan favorit saya. Dan mereka menerima pembayaran dengan Shopeepay. Yeayyyy





2. Bisa Digunakan di KitaBisa

Sekarang kita bisa bersedekah via kitabisa menggunakan Shopeepay. Nominalnya mulai dari 1000 rupiah dan kelipatannya. Enak kan untuk memanfaatkan dana yang tersisa di Shopeepay.



Sejauh ini sih yang saya temukan itu, semoga bisa saya perbaharui lagi listnya. Ya jadi intinya, shopeepay bisa dipakai di Help, Anteraja, dan Kitabisa, 3 applikasi yang saya gunakan setiap harinya. Hehehehe

Sabtu, 19 September 2020

Kujaga Anak Bungsuku dari 'Ain




Pernah dengan penyakit 'ain tidak? Itu loh, penyakit yang timbul dikarenakan pandangan mata. Dilansir dari muslim.or.id, “‘Ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).


Seperti tidak ilmiah ya? Bagaimana mungkin hanya dengan pandangan bisa membuat sesuatu sakit? Pada Hadits Riwayat Muslim no. 2188, Rasulullah bersabda 




Terus saya gimana?

Seperti layaknya orang tua lain, saya juga termasuk yang "gatal" ingin post tentang anak di sosial media kok. Waktu anak pertama dulu, setiap tingkah lakunya yang menggemaskan saya bagikan ke dunia maya. 

Kalau tidak salah saat Ammar menginjak umur 4 bulan Instagram mulai memiliki fitur stories seperti snapchat yang hilang dalam 24 jam. Sangat cocok untuk saya yang memang jarang post di IG feed. IG stories itu lebih simpel dan tidak perlu terlalu estetika. Seiring dengan populernya fitur stories, Instagram pun menambahkan fitur Highlight. Tentu tidak perlu waktu yang lama untuk saya mengumpulkan stories tentang anak saya dalam satu highlight yang panjang.

Jujur sebenarnya bukan bermaksud ingin pamer, namun highlight tersebut berguna di saat anak saya sedang bosan dan menangis. Terkadang saya berikan dia tontonan kumpulan video dirinya sendiri di highlight. (Gotcha, Screen Time ðŸĪŠ)

Alhamdulillah, bulan pertama anak kedua, saya tidak memiliki banyak masalah dengan sang bayi, melainkan lebih dengan kakaknya yang masih beradaptasi berbagi perhatian.

Kebetulan tante saya yang seorang fotografer, menawarkan untuk memfoto anak saya. Newborn photoshoot gitu lah... Berhubung gratisan, jadwalnya molor ngikut yang foto, jadi 2 minggu pertama sejak kelahiran sudah terlewat. Itulah waktu terbaik untuk foto newborn karena bayi masih lebih sering tidur dan cukup lentur untuk diatur gayanya. Jadilah pada umur 4 minggu lebih, Caca (panggilan anak kedua kami) difoto ala-ala oleh tante saya. Tak lama dipost di Instagramnya (beliau selebgram). 


Credit: Pixabay (Canva Premium)


Masuk bulan ke-2, rasanya seperti diserang negara api. Anak saya rewel bukan kepalang di malam hari. Tidak berhenti menangis. Disusukan, lalu muntah. Menangis sejadi-jadinya. Biasanya ia mulai menangis dari jam 9 malam sampai shubuh. Kalaupun tidak menangis, saya harus menggendongnya berdiri. Benar-benar melelahkan. Saya pun saat itu nampaknya terkena baby blues. Berat badan Caca hanya naik seupil 200 gram, padahal di bulan pertama 1.5 kg. Stress sekali rasanya, sudah lah lahir kecil (memang bawaan rahim saya tidak bisa punya anak yang besar), eh sekarang ada cobaan begini.


Credit: Pixabay (Canva Premium)


Dari tanda-tanda yang ada, sepertinya Caca mengalami kolik. Kolik ini umum dialami oleh bayi pada usia 4-8 minggu, beberapa berlanjut sampai usia 6 bulan. Berdasarkan statistik biasanya anak perempuan dan berberat badan lahir rendah (bblr) memiliki resiko kolik lebih tinggi. Kolik pada bayi tidak dapat dijelaskan oleh medis, karena bayi tidak bisa menjelaskan (hehehehe). Tapi kondisi ini bisa terjadi di orang dewasa, sering disebut juga dengan Upset Stomach. Kata tante saya, ini memang sakit sekali dan bikin pucat serta kaki dingin. Jadi wajar jika bayi sampai menangis.


Credit: childinsider.com


Selain itu, Caca juga memikiki gangguan pada pencernaannya, GER, Gastroenteritis Reflux. Hal ini menyebabkan setiap perutnya penuh dengan ASI, dikeluarkan kembali. Bukan sekedar gumoh ya. Tapi projectile vomit, muntah kaya air mancur di film-film gitu, keluar dari mulut dan terkadang lubang hidungnya. Baju Caca dan saya serta sprei harus ganti setiap kali dia muntah saking hebohnya.

Saya akhirnya pun diberikan banyak pantangan makanan seperti susu dan turunannya serta makanan lain pemicu kolik.


Alhamdulillah, kondisi kolik ini hanya berlangsung di bulan ke-2, dan GER nya hanya sampai usia 4-5 bulan. Setelah itu kondisinya lebih baik dan saya bisa bercengkrama kembali dengan boba-boba kekinian... 😜

Saat mengetahui janin anak ketiga saya berkelamin perempuan dan ada kecenderungan bayi kecil (lagi), saya mulai cemas. Berbagai upaya yang saya lakukan mulai dari makan daging merah setiap hari, minum susu protein tinggi yang biasa dikonsumsi orang sakit, infus venofer dan lain sebagainya agar anak saya tidak BBLR lagi. Saya tidak mau anak ketiga ini kolik lagi. Trauma sekali rasanya.


Sebenarnya, saat kejadian kolik pada Caca dulu, ada rasa denial, apa jangan-jangan karena habis difoto super gemes dan cantik waktu itu ya, Caca jadi kolik. Soalnya fotonya emang cakep bangetttt... Jangan-jangan dia kena ain. Walau setelah itu saya masih suka post anak di sosial media. Yah namanya juga denial

Nah balik lagi ke anak ketiga yang ternyata BBLR lagi. Saya dan suami memutuskan untuk tidak membagikan foto Wawa (panggilan anak ketiga kami) ke media sosial. Setidaknya sampai usia rentan kolik terlewati. Usia 3 bulan.

Alhamdulillah. Wawa sehat, tidak kolik, berat badan cepat bertambah. Dia jadi anak saya yang paling gendut. Dan, tidak pernah semalam pun saya begadang karenanya. Walau setelah vaksin pentabio sekalipun yang membuat badannya panas, paling banyak hanya 3x terbangun.

Anak ini seperti mengerti bahwa saya sudah sibuk dengan kedua kakaknya, urusan rumah dan online shop. Apalagi saya tidak memiliki Asisten Rumah tangga.






Allah tahu batas kemampuan hambanya. Kalau dikasih yang macam sebelumnya, fix 10000% pasti saya bakal PPD (Post Partum Depression) berat.

Saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak dengan kami sebagai orangtua yang tidak pernah posting foto Wawa di sosial media, Wawa ini bagaikan angel untuk saya. Saya dan suami pun merasa mungkin ada benarnya penyakit 'ain itu ada. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak pernah post Wawa secara eksplisit. Teman-teman saya terkadang lupa kalau anak saya ada tiga.

Saya sendiri masih sesekali post kegiatan Aa dan Caca namun lebih sering di close friend saja. Post yang ada di feed pun tidak saya . Tapi memang jarang sekali yang close up di mukanya. Sedangkan suami saya mengarsipkan semua postingan di feed Instagramnya yang mengandung foto anak-anak.

Sadar sebenarnya apa yang membuat postingan di media sosial itu lebih berkesan adalah time stampnya. Rasanya berbeda jika lihat di galeri HP biasa. Itupun suka tertimbun di galeri dengan foto-foto whatsapp group dan lain sebagainya. Di media sosial, semuanya lebih tertata rapih, mudah diakses kapan saja menjadi jejak digital yang selama Instagram tidak bangkrut akan bisa dilihat oleh anak saya kelak.

Akhirnya kami pun membuat akun khusus anak-anak kami yang terkunci dan hanya untuk keluarga. Tujuannya adalah menghindarkan 'ain bagi anak, menjaga privasinya (ya mirip-miriplah sama anaknya Raisa Hamish), namun tetap mempunyai media untuk menampung kenangan yang tidak terjadi dua kali.

Saya benar-benar merasakan perbedaan membesarkan anak bungsu saya dibandingkan kedua kakak sebelumnya. Mungkin ini salah satu sebabnya kenapa rasanya anak jaman dulu lebih mudah diurusnya dibanding anak sekarang (komentar Gen X kalau lihat Gen Y kerempongan sama anak sendiri).

Wallahu a'lam bishawab

Minggu, 09 Agustus 2020

Terpaksa, Pecut Si Procrastinator

Dur undur undur... Kalo bisa nanti, ya nanti aja... 

Mungkin itu moto hidup procrastinator. 

Contohnya Saya. 

Saya harus dihadapkan dengan keadaan terpaksa dulu baru termotivasi untuk mengerjakan sesuatu.

Sudah tidak ada pilihan lain contohnya seperti saya yang menulis di hari terakhir Minggu ke 32 #1minggu1cerita dengan tema terpaksa. Minggu depan sudah 6 minggu saya absen setor tulisan, kalau tidak saya didepak. Hehehehe.

Bisa juga karena iklim kompetisi. Walaupun saya bukan orang ambisius yang mau terbaik, tapi saya tidak mau jadi yang terburuk... Contohnya, saya pastinya akan menghindari geng sosialita daripada iri hati. Wkkwkw... Ih apaan sih ni tulisan ga nyambung ama tema. 

Balik lagi, contohnya seminggu belakangan ini saya join komunitas sehat ibu-ibu muda. Isinya adalah ibu-ibu yang baru/akan memulai olah raga. Hasilnya? Dalam seminggu saja, yang biasanya #timrebahan, jadi terpacu untuk jalan kaki lebih banyak saat ditargetkan minimal 5000 langkah sehari. Eh benar saja, ternyata manusia kalau dibanding-bandingkan jadi lebih terpacu. 

Mungkin kita memang perlu keadaan terpaksa agar yang kita inginkan tercapai. Kita perlu deadline, kita perlu target, kita perlu dorongan. Ada kalanya kita yang membuat sendiri keadaan terpaksa itu, ada kalanya lingkungan sekitar. Apapun keadaan terpaksa yang kita alami, saya harap menghasilkan outcome positif dan mendatangkan banyak ibrah. 

Senin, 22 Juni 2020

My Reading List : May 2020


Review chicklit



Hampir jadinya review satu buku, bukan reading list lagi... Akhirnya saya berhasil menyelesaikan dua buku pada tanggal 31 Mei 2020. Saya menargetkan 24 buku untuk dibaca pada tahun 2020, sejauh ini saya sudah berhasil menyelesaikan 22 buku per bulan Mei. Yeayy.. Agar tetap termotivasi dan bisa konsisten untuk membaca buku, maka saya menuliskan daftar bacaan saya setiap bulan di blog.

1. The Hating Game


Penulis: Sally Thorne
Genre: Chick Lit
Rating Pribadi: 6.5/10
Review Singkat: 
Sejujurnya saya tidak paham kenapa pengguna Goodreads memberikan rating tinggi untuk buku ini. Ceritanya cukup tipikal untuk chicklit, dari benci jadi cinta. Bermula dari dua orang rekan kerja bernama Lucy dan Joshua yang saling bersaing dan bermusuhan yang akhirnya berujung saling suka. Ada twist tipis pada cerita ini namun tidak sampai membuat saya wow. Novel ini lebih cocok untuk dewasa karena termasuk cukup deskriptif ketika menceritakan keintiman antara dua tokoh utama. 


2. The First Phone Call From Heaven




Penulis: Mitch Albom
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Ini adalah buku ke-6 dari Mitch Albom yang saya baca. Penulis yang populer dengan karyanya "Tuesdays with Morrie" ini memang cukup sering menulis tentang nilai hidup dan afterlife. Buku ini bercerita tentang sebuah kota kecil bernama Coldwater yang dihebohkan dengan panggilan telpon dari surga. Beberapa penduduk menerima telpon dari keluarga mereka yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Keajaiban ini membuat heboh satu Amerika dan membuat Coldwater didatangi oleh banyak "pilgrimage" yang mengharapkan keajaiban yang sama. Terkecuali seorang bernama Sully yang baru saja ditinggalkan istrinya setahun lepas. Sully kembali ke kampung halamannya di Coldwater untuk memulai hidup baru setelah dipecat dari Angkatan Udara. Ia muak dengan euforia panggilan dari surga ini dan berusaha membuktikan kebenaran di baliknya.

Buku ini bagi saya cukup menarik. Saya bisa relate bahwa kita sebagai yang ditinggalkan pastinya ada keinginan untuk berkomunikasi kembali dengan kerabat atau keluarga yang meninggalkan kita, meskipun hanya untuk satu kali. Saya pun juga sangat merindukan ayah saya. Alhamdulillah, di agama saya dijelaskan bagaimana kehidupan dan perjalanan manusia setelah kematian sehingga setidaknya saya punya gambaran. Saya melihat bahwa topik afterlife ini mungkin semacam kegelisahan dan keingintahuan yang dimiliki penulis, sehingga bukunya sering sekali bersinggungan dengan hal ini.

Sampai jumpa di reading list bulan depan, atau jangan-jangan resensi satu buku, atau tidak ada sama sekali. Hiksss... Saya baru baca 20% dari satu buku saja per 22 juni ini. 



This entry was posted in