Selasa, 18 Februari 2020

Manfaat Lebih Banyak Membaca untuk Para Ibu


Saya suka membaca. Dulu. Saat SD saya suka sekali melahap buku cerita rakyat, komik, dan majalah. Saat SMP saya mulai suka membaca Chicklit, setiap ada judul baru di toko buku pasti saya baca walau meminjam teman (waktu itu chicklit tidak sebanyak sekarang). Saat SMA, saya membaca novel-novel remaja islami. Dan tambahannya adalah, sedari SD saya suka membuat cerita pendek walau tidak saya bagikan ke siapapun.

Saat KULIAH, jeng jeng, kesibukan membuat saya hampir tidak lagi membaca. Di waktu senggang, saya habiskan dengan menonton DVD Bajakan serial TV atau film Hollywood. Semenjak itu, sedikit sekali waktu saya membaca. Bisa dikatakan dalam setahun, sepertinya tidak sampai 3 buku yang saya baca sampai selesai. Umumnya pun buku tentang traveling ala backpacker. Yang saya ingat dengan pasti, saya adalah penggemar dan selalu mengikuti semua serial buku Naked Travelernya mbak Trinity.

Baru setahunan belakangan ini, saya mulai mencoba mengembalikan lagi hobi lama yang sudah terpendam itu. Dimulai dari sebuah akun instagram tentang Buibu Baca Buku Book Club di akun Instagram @bbbbookclub, saya mulai terbakar semangatnya untuk MENOLAK BEGO dan kembali membaca. Entah mitos atau fakta, terkadang orang menyebutnya Mommy's Brain, yaitu saat dimana kemampuan konsentrasi seseorang mulai menurun setelah menjadi Ibu aka LEMOT.

Pada tahun 2019 kemarin saya mulai memasang target berapa jumlah buku yang harus saya selesaikan. Dimulai dengan 18 buku yang berarti 1.5 buku per bulan. Alhamdulillah bisa tercapai 28 buku, 10 buku lebih banyak daripada target. Untuk tahun ini saya memasang target 24 buku. Sedikit demi sedikit, apalagi akan ada member baru di keluarga kami tahun ini.

BACA JUGA: Secrets I Only Share to Stranger

Ok, ok, saya tahu apa yang terlintas di pikiran ibu-ibu lain tentang ibu yang bisa membaca banyak buku.
"Gimana bisaaa?"
Karena pikiran itu juga yang terlintas di pikiran saya. Sambil nyinyir netijen, "wah pasti dia mah support systemnya banyak, jadi sempet baca buku".

Ternyata BISA. Caranya?

  1. Kurangi Waktu Berselancar di Media Sosial
  2. Kurangi Waktu Berselancar di Marketplace

Ternyata dengan menyisihkan waktu sedikit saja, 1 jam sehari, kita bisa membaca banyak buku loh.  Dan 1 jam itu sangat mungkin karena jika mau jujur waktu yang dihabiskan dengan melihat instastory atau scroll feed/explorer di Instagram bisa menghabiskan waktu lebih dari itu. Hayooo jujurrr.. Saya pernah menonton video di youtube (lupa video pastinya) yang mengatakan bahwa para Top CEO meluangkan waktu 45 menit-1 jam sehari untuk membaca loh.

Satu lagi gangguan untuk para emak adalah, marketplace, online shopping, dan lain-lain. Iyaa, itu saya banget juga. Ada saja yang saya masukkan ke keranjang padahal saya tidak terlalu perlu. Saya masukkan ke kerangjang, karena kemungkinan saya membelinya lebih besar. Kalau hanya difavoritkan, kemungkinan tenggelam, karena sudah lebih dari 2300 produk yang saya favoritkan. Hahahaha... Dan keranjang saya pun tulisannya 99+. Banyaknya pilihan dan harga bersaing yang ditawarkan oleh penjual terkadang malah membuat waktu kita memilih lebih lama. Mana yang lebih murah, mana yang reviewnya paling bagus, mana yang penjualannya paling tinggi, mana yang penjualnya lebih dekat agar ongkirnya murah, sampai penjual mana yang berstatus khusus agar kita bisa mendapatkan cashback. Panjang deh proses pemilihannya.

Media Membaca Buku

Untuk media membaca buku saya paling suka menggunakan handphone, alasannya tidak berat, bisa dibawa kemana-mana, dan paling penting, bisa dibaca saat gelap-gelapan karena umumnya saya membaca buku saat anak-anak sudah tertidur. Namun ini ada kekurangannya sendiri yaitu banyak distraksi seperti notifikasi whatsapp dan media sosial. Awalnya saya masih suka terdistraksi karena masih belum "hanyut" membaca, tapi lama kelamaan saya mulai tak terpengaruh (kecuali anak nangis karena rewel, minta susu atau minta dipeluk. Kalo bapaknya yang minta peluk, masih belum ngaruh :p). Sampai akhirnya saya sampai pada poin dimana, saya justru merasa jenuh menonton video, saya lebih suka dan nyaman membaca buku.

Source: pixabay

Beberapa teman masih tetap lebih suka buku fisik, ada juga yang memakai kindle. Semua tergantung preferensi anda, nyamannya yang mana. Saya sendiri memiliki Amazon Fire limpahan dari suami, saudaranya Kindle tapi berwarna jadi seperti tab biasa namun kapasitasnya kecil. Namun tetap saya lebih suka menggunakan handphone saya, dengan applikasi Moon+ Reader Pro (berbayar sekali seumur hidup namun sering diskon 50%). 

Genre Buku Favorit

Awalnya buku yang saya baca tidak jauh-jauh dari masalah parenting. Contohnya The Danish Way of Parenting, Bringing Up Bebe, How Eskimos Keep Their Babies Warm, dan sebagainya. Sampai akhirnya saya mulai muak karena beberapa yang ada di buku parenting rasanya sulit dan tidak applicable untuk anak saya. Lagipula hampir seluruh waktu saya gunakan untuk mengurus anak, masa waktu membaca alias me time saya pakai buat mereka lagi (Emak mau egois ahhh). Saya mulai beralih ke genre lain seperti fiction, young adult, biography, anything but parenting!

BACA JUGAReview The Danish Way of Parenting

Tidak semua buku membuat saya cukup tertarik untuk membacanya sampai habis. Namun setelah mencoba berbagai macam genre, ternyata saya baru menemukan bahwa saya sangat menyukai buku-buku nonfiksi mulai dari biografi orang terkenal (Coba: Trevor Noah!) sampai peristiwa yang pernah terjadi (Coba: The Billion Dollar Whale dan Midnight in Chernobyl). Belum lama ini atas rekomendasi adik, saya mulai mencoba buku-buku genre misteri. Seru jugaaa...

Source: pixabay

Semua orang tentunya memiliki ketertarikan yang berbeda-beda, jadi ketika kita sudah menemukan apa yang kita suka, biasanya akan lebih nyaman untuk membaca.

Manfaat yang Sejauh ini Saya Rasakan

Sudah jelas dari 2 cara di atas yang saya lakukan dalam meluangkan waktu untuk membaca.


1. I Envy, Worry, and Ghibah Less

Ini sebenarnya efek dari mengurangi sosial media bagi kesehatan jiwa. Bagaimana pun sebagian besar orang hanya membagikan momen-momen baik atau kesuksesan (dan terkadang jatuhnya pamer) yang mereka miliki. Kok si itu jalan-jalan mulu, kok dia makannya enak-enak ya, kok dia uangnya kaya ga abis-abis, dan lain-lain. Terkadang kalau baperan, jadinya bisa mudah iri dan khawatir sendiri apakah kita sudah "berhasil"? Jangankan postingan selebgram dan kehidupan glamour (tapi gratisan dan dibayar pulak), sesimpel postingan anak orang yang gemuk di atas timbangan aja kadang bisa bikin baper ya kann...

Selain yang bagus-bagus, biasanya postingan yang ramai pengunjung adalah jika ada skandal. Saya sih bukan netizen yang berani julid langsung di kolom komen, tapi salah satu guilty pleasure saya adalah baca bagian komen postingan skandal atau problematik. Semenjak saya asyik sendiri dengan buku dan kegiatan lainnya di luar sosial media, saya tidak peduli dengan pertengkaran antara selebgram ini dengan selebgram lainnya. I don't even know them. They're famous just because of having these scandals nowadays. Why make stupid people more famous, right?

Belum lagi overfloading information yang ada, seperti contohnya harga masuk sekolah Internasional yang sangat mahal sekali. Lalu jadi pusing sendiri. Lah emang situ mau masukin ke sekolah itu, masih banyak kok sekolah lain yang bagus dan lebih sesuai untuk keluarga kita dengan harga yang lebih terjangkau.


2. I Spend Less

Dengan kemajuan teknologi, cuci mata sekarang bisa dilakukan tanpa pergi kemana-mana cukup dengan ujung jari kita. Baik di marketplace, maupun sosial media. Intinya semua beriklan dan berjualan. Walaupun dengan berbelanja kita ikut berpartisipasi dalam kemajuan ekonomi, tapi kalo kebanyakan dan ga perlu akan berdampak pada kekeringan kantong. Akhirnya saya hanya berbelanja ketika saya merasa memang hal itu saya perlukan.


3. Brain More

Membaca memperkaya kosa kata kita terlepas dari genre yang kita baca. Beberapa genre bisa memperkaya ilmu pengetahuan kita dan melatih critical thinking. Saya tidak bilang saya tambah pintar sih, namun setidaknya degradasi otak karena mommy's brain agak terhambat dikit. Kalau diajak berdiskusi tidak lemot-lemot banget dan masih nyambung gitu.



Semoga sharing dari seorang yang awalnya tidak membaca buku ini berguna yaa. Yuk kepoin buku-buku yang kubaca dan berteman di Goodreads!

Jumat, 07 Februari 2020

Pengalaman Rawat Inap di Rumah Sakit Universitas Indonesia


Jadi ceritanya beberapa waktu lalu anak saya yang kedua, Caca, demam sampai 39 derajat. Hari pertama demam, doi masih terlihat normal saja, bermain dengan kakaknya, susu dan makanan masih lancar. Hari kedua, nafsu makan berkurang dan mulai rewel. Akhirnya saya berikan paracetamol, namun panasnya tak kunjung turun walaupun sudah diberikan sampai 4x dengan jeda waktu 4 jam setiap pemberian. Sementara batas maksimal pemberian paracetamol hanya 5x dalam 24 jam. Kebetulan, caca juga tidak pilek ataupun batuk. Seingat saya kalau tidak disertai gejala lain, justru harus tambah waspada. 

Akhirnya walaupun belum 3 hari demam, saya dan suami memutuskan untuk membawa Caca ke Rumah Sakit. Pergilah kami ke Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), walaupun biasanya kami memeriksakan anak ke RS Hermina Depok yang letaknya lebih dekat rumah. Alasan simpelnya sih karena apapun itu memang kami sudah niatkan Caca harus kena infus biar tidak dehidrasi biarpun harus menginap satu malam saja dan harga di kelas kamar Deluxe/VIP di RSUI lebih murah daripada Hermina sehingga masih bisa dicover penuh oleh asuransi yang saya miliki.

tarif rawat inap
Perbandingan tarif rawat inap RSUI (kiri) dan RSH Depok (kanan)

Walaupun kita bisa melihat gedung RSUI di balik Depok Town Square, namun RSUI hanya dapat diakses jika kita masuk ke kawasan Universitas Indonesia. RSUI belum memiliki akses langsung dari Margonda atau jalan yang lebih dekat dengan jalan arteri Depok tersebut. Keuntungannya, biaya parkirnya pun ikut tarif UI, Rp 5.000,- saja per hari.

Kami tiba di IGD sekitar jam 6 sore sebelum maghrib. Karena sepi, jadi langsung dilayani. (Beberapa hari kemudian, ada kecelakaan bus di subang dan korbannya, yang kebanyakan domisilinya di Depok, dilarikan ke RSUI. Pastilah kalau bersamaan, kami mendapat prioritas terakhir sesuai kegawatdaruratan). Di sana, Caca diperiksa oleh dokter jaga yang ada dan diambil darah serta urinnya untuk tes lab. 

IGD RSUI
Diinfus dan nunggu sampel urin di IGD

Hasil tes darah keluar sejam kemudian, hasilnya bagus. Hasil tes urin lebih lama, karena nunggu Caca akhirnya pipis cukup memakan waktu. Karena masih demam dan Caca tidak mau minum, akhirnya dia diinfus. Dan kami sebagai orang tua juga lebih memilih untuk rawat inap saja. Proses berpindah ke ruang rawat inap sebenarnya cukup lama. Jam 10 baru kami masuk kamar karena proses administrasinya cukup lama (walau tidak mengantri, heuu). 

Fasilitas Kamar

Akhirnya kekepoan ku akan kamar VIP RSUI yang harganya lebih murah dari kamar kelas 1 RS Hermina terjawab sudah. Berikut beberapa gambar yang sempat saya ambil. 

kamar VIP RSUI
Rawat Inap Kelas VIP RSUI

Fasilitas yang ada di Kamar
Toilet dalam Kamar
Sebenarnya mereka masih memiliki satu tingkat kamar di atas VIP, namun unitnya terbatas, dan untuk yang anak tidak ada. Lagipula, kalau dilihat dari gambarnya, hanya besar di ruang tamu saja. Detail jenis kamar rawat inap di RSUI bisa lihat di sini ya.

Kamarnya sendiri cukup luas, tempat tidur dan furniturnya pun masih baru. Setiap kamar dilengkapi dengan dispenser besar dan lemari es 1 pintu berukuran sedang (lebih besar daripada kulkas kamar RS lain pada umumnya). TV disediakan untuk hiburan, namun isinya masih channel lokal semua, beberapa receptionnya kurang bagus. (kebetulan saya tidak ada TV di rumah, dan baru sadar segitu membosankannya TV lokal, pantesan netizen ngamuk kalau netflix diblock Telkom :p).

Untuk penunggu disediakan sofa 2 seater kecil, meja makan dan 2 kursi. Nah ini salah satu kurangnya ya kalau dibandingkan dengan kamar Deluxenya Hermina. Sofanya terlalu kecil, jadi yang tidur di sofa harus nekuk banget kakinya, kurang nyaman. Akhirnya pada malam ketiga, kami minta orang rumah untuk mengirimkan kasur lipat.

Kamar mandinya pas, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil dan dilengkapi dengan shower dan toilet duduk. Namun mungkin karena tekanan/headloss perpipaannya kurang (naon sih, ini ceritanya analisis lulusan teknik lingkungan yang udah rada lupa ilmunya), jadi kadang air menggenang, padahal tidak ada sampah atau rambut di gutternya.

Oh iya, walaupun ini di lantai 6, namun masih banyak nyamuk. Mungkin pihak RS bisa lebih meningkatkan pest controlnya. Dulu almarhum ayah saya sering berolahraga dan lari di depan jalan yang cikal bakalnya menjadi RSUI. Di daerah ini memang nyamuknya banyak dan luar biasa, kalau kita diam saja bisa diserbu dan pulang dengan banyak bentol.

Ruangan kamar dibersihkan oleh cleaning service 2-3x sehari (agak lupa, tapi seinget saya sering deh).

Makanan

Dari cerita teman sih, biasanya diberikan pilihan menu untuk makanan, namun saat Caca dirawat, kami tidak diberikan pilihan, biasanya sih karena mendapat diet khusus. Sarapan pagi biasanya paling simpel, biasanya bubur dan topping. Makan siang dan malam lebih lengkap dengan buah. Caca juga mendapat pediasure untuk selingan 3x sehari sebanyak 150 ml (yang pakai asuransi, biasanya susu formula tidak dicover ya), mungkin karena anaknya langsing banget yaa. Selama 4 malam dan 4 hari menginap, ahli gizi datang sebanyak 2x.

Contoh Sarapan
Contoh Makan Malam
Contoh Makan Siang

Tapi dasar, tante-tantenya Caca yang merupakan nakes, bisa aja nemu kurangnya. Katanya makanannya kok ga diwrap plastik lagi satu-satu biar aman. Hehehhee...

Oh iya, salah satu yang agak susah di RSUI adalah masih kurangnya restoran/kantin di kawasan Rumah Sakit. Ada kantin di area parkir namun saat akhir pekan tutup. Karena kebetulan saat Caca dirawat, kampus sedang libur, kantin fakultas pun banyaknya tutup. Jadi kita harus mengandalkan grabfood/gofood saja dan diambil di lobby.


Fasilitas Penunjang Lainnya

Di RSUI, Mushola sangat mudah sekali ditemukan, karena hampir setiap lantai atau tempat yang ada ruang tunggunya pasti ada mushola. Walaupun besar mushola berbeda-beda. Contohnya di ruang tunggu IGD, mushola hanya muat untuk 3 orang. Namun di ruang tunggu rawat inap lantai 6 misalnya, musholanya lebih besar. Tujuannya supaya orang tidak perlu jauh-jauh dan bisa tetap standby di tempat yang diperlukan.

RSUI
Mushola Rawat Inap Lantai 6
Rumah Sakit Universitas Indonesia
Ruang Tunggu Keluarga/Pengunjung cukup luas dan nyaman.

Pelayanan

Selama dirawat, dokter spesialis anak melakukan kunjungan setiap hari, pada akhir pekan sekalipun. Dokter anak yang menangani Caca adalah dr Annisa, bukan dokter langganan kami, melainkan dokter yang diassign saat perpindahan dari IGD ke Rawat Inap. dr Annisa cukup baik dan sangat informatif. Beliau juga cukup RUM (Rational Use of Medicine) dan tidak berlebihan dalam memberikan obat. Selama dirawat, Caca hanya mendapat cairan infus dan paracetamol jika panas karena penyebab sakitnya jika dilihat dari hasil lab adalah virus. Kami harus menunggu anak bebas demam selama 24 jam sampai diperbolehkan pulang. 

Pada hari keempat, keluar bercak merah pada badan Caca, ternyata dia terkena Roseola. Gejalanya memang panas pada 3 hari pertama, lalu muncul bercak merah pada hari keempat. Ketika bercak merah muncul, ini justru menandakan gejala membaik. Oleh karena itu kami diperbolehkan pulang dan disarankan kontrol 3 hari setelah pulang.

Tidak boleh lupa ditulis, pelayanan Ners/Suster/Nurse/Perawat (sepertinya sekarang mereka lebih suka disebur Ners) di RSUI juga sangat baik. Semua ners sangat ramah, setiap pergantian shift, mereka selalu menyapa dan memperkenalkan diri. Nersnya juga rajin, suka menawarkan untuk memandikan anak (seinget saya di RSH, ya semua-semua orang tuanya sendiri). Secara berkala mereka mengecek suhu tubuh anak saya, dan setiap alarm infus menyala, mereka sigap datang tanpa harus dipencet belnya. Saya juga harus melaporkan dan memberikan pampers anak saya setiap pipis kepada suster, sebagai indikator hidrasi, pencernaan, serta ekskresi anak.

Peralatan kesehatan yang digunakan di RSUI juga masih baru dan modern. Cairan dan obat yang dimasukkan lewat infus semua diatur sesuai dosis dengan alat. Pengalaman 2x rawat inap anak, tidak pernah pakai yang semacam itu, pernah lihatnya saat ayah saya dirawat di ICU. (norak deh sum, mungkin kalau nakes yang liat ni tulisan).

Helpful dan detail sekali menurut saya semua prosedur kesehatan yang ada di RSUI ini. Walaupun kita sebelumnya bukan pasien di RSUI, namun kita akan diwawancarai tentang riwayat kesehatan sebelumnya.


Perkiraan Biaya

Sampai tulisan ini dibuat, RSUI masih belum bisa menerima BPJS karena belum mendapatkan akreditasi Rumah Sakit, oleh sebab itu jumlah pasien yang ada masih sedikit. 

Berapa kira-kira biaya yang dihabiskan untuk rawat inap? Sebenarnya sangat tergantung dengan tindakan medis yang dilakukan. Untuk Caca sendiri, sebenarnya tidak banyak karena hanya cairan infus dan paracetamol. Biaya yang dikeluarkan untuk kamar rupanya hanya setengah dari total tagihan. Jadi jika anda tidak menggunakan asuransi, mungkin estimasikan untuk kamar sekitar 1/3 dari biaya seluruhnya. 


Overall, saya cukup puas dengan pelayanan RSUI, kecuali yaaaaa itu, admin dan farmasinya yang sangat lama (apalagi kalo rawat jalan, hikssss). Harga kamar yang cukup murah menjadi daya tarik Rumah Sakit ini.

Next time, mungkin saya akan review pengalaman rawat jalannya. Kalau tidak malas... Hehehehhee...