Sabtu, 31 Oktober 2020

Alhamdulillah, Shopeepay Sudah Lebih Berfaedah

Okay, jadi aku sudah hampir ditendang lagi nih dari komunitas 1m1c (1 minggu 1 cerita) dimana para anggotanya harus minimal menulis submit tulisan sekali dalam 6 minggu. Tulisan ini bukan submission lomba atau berbayar, tapi memang murni ingin berbagi terutama bagi sobat marketplace oren yang satu ini.



Iya, sudah hampir setahun rasanya jika anda mau mendapatkan manfaat ongkos kirim gratis, Shopee termasuk agak memaksakan penggunaan Shopeepay untuk metode pembayarannya (mungkin mau memanfaatkan dana yang mengendap terlebih dahulu yaa :| ). Belum lagi segala sesuatu harus diklaim dulu vouchernya. Ribet! Apalagi kalau ada customer yang mau dapat ongkos kirim gratis tapi tidak paham pakai Shopee. Ngajarinnya agak berbelit. Jujur saja, ini membuat saya mulai lebih menyukai Tokopedia yang subsidi ongkos kirimnya bisa didapatkan tanpa harus mengklaim voucher, hanya perlu belanja minimal 50 ribu di power merchant dan official store dengan pembayaran apapun.

Kenapa saya tidak suka Shopeepay?

1. Nyangkut

Pembayaran di Shopee harus dilakukan penuh dengan shopeepay. Misalnya saldo shopeepay kita 16ribu lalu belanjaan kita 50 ribu, ya kita harus top up shopeepay 34 ribu lagi. Tidak seperti OVO di Tokopedia, kekurangan tidak harus dengan top up OVO, tapi bisa dikombinasikan dengan pembayaran lain seperti virtual account transfer bank. Sebenanrnya sisa shopeepay bisa ditarik kembali ke rekening kita, namun ribet ahhh...

2. Pemakaian Terbatas

Sebenarnya shopeepay sudah mulai banyak diterima di berbagai merchant di mall maupun toko biasa. Promosinya mirip dengan OVO jaman dulu. Namun karena selama pandemi ini saya di rumah terus, promo-promo tersebut tidak terpakai. Salah satu kelemahan shopeepay adalah bukan afiliasi Gojek dan Grab yang masing-masing sudah punya bentuk uang digitalnya sendiri dan bisa digunakan di banyak platform.


Salah satu poin positifnya, Top Up Shopeepay Masih Gratis

Setidaknya untuk BCA dan Mandiri, jika lewat BNI dikenakan biaya admin 1000 rupiah (sama seperti OVO). Untuk bank lain saya belum mencoba.


Berikut adalah beberapa ide menghabiskan shopeepay yang "nyangkut" selain jajan ke counter

1. Sudah Bisa Digunakan untuk Pembayaran Ekspedisi Favorit

Sebagai ibu-ibu yang suka jualan online shop, sudah seharusnya tahu bagaimana caranya mengakali agar ongkir lebih murah. Salah dua nya adalah menggunakan Help dan Anteraja. Help adalah applikasi delivery perantara yang menyambungkan kita dengan Gosend serta Alfatrex (untuk pengiriman luar kota). Sedangkan Anteraja adalah salah satu ekspedisi baru yang aktif menjemput bola, pick up  berapapun jumlah paket dan masih memberikan banyak potongan ongkos kirim lewat applikasinya. Kedua applikasi ini merupakan favorit saya. Dan mereka menerima pembayaran dengan Shopeepay. Yeayyyy





2. Bisa Digunakan di KitaBisa

Sekarang kita bisa bersedekah via kitabisa menggunakan Shopeepay. Nominalnya mulai dari 1000 rupiah dan kelipatannya. Enak kan untuk memanfaatkan dana yang tersisa di Shopeepay.



Sejauh ini sih yang saya temukan itu, semoga bisa saya perbaharui lagi listnya. Ya jadi intinya, shopeepay bisa dipakai di Help, Anteraja, dan Kitabisa, 3 applikasi yang saya gunakan setiap harinya. Hehehehe

Sabtu, 19 September 2020

Kujaga Anak Bungsuku dari 'Ain




Pernah dengan penyakit 'ain tidak? Itu loh, penyakit yang timbul dikarenakan pandangan mata. Dilansir dari muslim.or.id, “‘Ain dari kata ‘aana – ya’iinu yang artinya: terkena sesuatu hal dari mata. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti oleh respon jiwa yang negatif, lalu jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut” (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 1/271).


Seperti tidak ilmiah ya? Bagaimana mungkin hanya dengan pandangan bisa membuat sesuatu sakit? Pada Hadits Riwayat Muslim no. 2188, Rasulullah bersabda 




Terus saya gimana?

Seperti layaknya orang tua lain, saya juga termasuk yang "gatal" ingin post tentang anak di sosial media kok. Waktu anak pertama dulu, setiap tingkah lakunya yang menggemaskan saya bagikan ke dunia maya. 

Kalau tidak salah saat Ammar menginjak umur 4 bulan Instagram mulai memiliki fitur stories seperti snapchat yang hilang dalam 24 jam. Sangat cocok untuk saya yang memang jarang post di IG feed. IG stories itu lebih simpel dan tidak perlu terlalu estetika. Seiring dengan populernya fitur stories, Instagram pun menambahkan fitur Highlight. Tentu tidak perlu waktu yang lama untuk saya mengumpulkan stories tentang anak saya dalam satu highlight yang panjang.

Jujur sebenarnya bukan bermaksud ingin pamer, namun highlight tersebut berguna di saat anak saya sedang bosan dan menangis. Terkadang saya berikan dia tontonan kumpulan video dirinya sendiri di highlight. (Gotcha, Screen Time 🤪)

Alhamdulillah, bulan pertama anak kedua, saya tidak memiliki banyak masalah dengan sang bayi, melainkan lebih dengan kakaknya yang masih beradaptasi berbagi perhatian.

Kebetulan tante saya yang seorang fotografer, menawarkan untuk memfoto anak saya. Newborn photoshoot gitu lah... Berhubung gratisan, jadwalnya molor ngikut yang foto, jadi 2 minggu pertama sejak kelahiran sudah terlewat. Itulah waktu terbaik untuk foto newborn karena bayi masih lebih sering tidur dan cukup lentur untuk diatur gayanya. Jadilah pada umur 4 minggu lebih, Caca (panggilan anak kedua kami) difoto ala-ala oleh tante saya. Tak lama dipost di Instagramnya (beliau selebgram). 


Credit: Pixabay (Canva Premium)


Masuk bulan ke-2, rasanya seperti diserang negara api. Anak saya rewel bukan kepalang di malam hari. Tidak berhenti menangis. Disusukan, lalu muntah. Menangis sejadi-jadinya. Biasanya ia mulai menangis dari jam 9 malam sampai shubuh. Kalaupun tidak menangis, saya harus menggendongnya berdiri. Benar-benar melelahkan. Saya pun saat itu nampaknya terkena baby blues. Berat badan Caca hanya naik seupil 200 gram, padahal di bulan pertama 1.5 kg. Stress sekali rasanya, sudah lah lahir kecil (memang bawaan rahim saya tidak bisa punya anak yang besar), eh sekarang ada cobaan begini.


Credit: Pixabay (Canva Premium)


Dari tanda-tanda yang ada, sepertinya Caca mengalami kolik. Kolik ini umum dialami oleh bayi pada usia 4-8 minggu, beberapa berlanjut sampai usia 6 bulan. Berdasarkan statistik biasanya anak perempuan dan berberat badan lahir rendah (bblr) memiliki resiko kolik lebih tinggi. Kolik pada bayi tidak dapat dijelaskan oleh medis, karena bayi tidak bisa menjelaskan (hehehehe). Tapi kondisi ini bisa terjadi di orang dewasa, sering disebut juga dengan Upset Stomach. Kata tante saya, ini memang sakit sekali dan bikin pucat serta kaki dingin. Jadi wajar jika bayi sampai menangis.


Credit: childinsider.com


Selain itu, Caca juga memikiki gangguan pada pencernaannya, GER, Gastroenteritis Reflux. Hal ini menyebabkan setiap perutnya penuh dengan ASI, dikeluarkan kembali. Bukan sekedar gumoh ya. Tapi projectile vomit, muntah kaya air mancur di film-film gitu, keluar dari mulut dan terkadang lubang hidungnya. Baju Caca dan saya serta sprei harus ganti setiap kali dia muntah saking hebohnya.

Saya akhirnya pun diberikan banyak pantangan makanan seperti susu dan turunannya serta makanan lain pemicu kolik.


Alhamdulillah, kondisi kolik ini hanya berlangsung di bulan ke-2, dan GER nya hanya sampai usia 4-5 bulan. Setelah itu kondisinya lebih baik dan saya bisa bercengkrama kembali dengan boba-boba kekinian... 😜

Saat mengetahui janin anak ketiga saya berkelamin perempuan dan ada kecenderungan bayi kecil (lagi), saya mulai cemas. Berbagai upaya yang saya lakukan mulai dari makan daging merah setiap hari, minum susu protein tinggi yang biasa dikonsumsi orang sakit, infus venofer dan lain sebagainya agar anak saya tidak BBLR lagi. Saya tidak mau anak ketiga ini kolik lagi. Trauma sekali rasanya.


Sebenarnya, saat kejadian kolik pada Caca dulu, ada rasa denial, apa jangan-jangan karena habis difoto super gemes dan cantik waktu itu ya, Caca jadi kolik. Soalnya fotonya emang cakep bangetttt... Jangan-jangan dia kena ain. Walau setelah itu saya masih suka post anak di sosial media. Yah namanya juga denial

Nah balik lagi ke anak ketiga yang ternyata BBLR lagi. Saya dan suami memutuskan untuk tidak membagikan foto Wawa (panggilan anak ketiga kami) ke media sosial. Setidaknya sampai usia rentan kolik terlewati. Usia 3 bulan.

Alhamdulillah. Wawa sehat, tidak kolik, berat badan cepat bertambah. Dia jadi anak saya yang paling gendut. Dan, tidak pernah semalam pun saya begadang karenanya. Walau setelah vaksin pentabio sekalipun yang membuat badannya panas, paling banyak hanya 3x terbangun.

Anak ini seperti mengerti bahwa saya sudah sibuk dengan kedua kakaknya, urusan rumah dan online shop. Apalagi saya tidak memiliki Asisten Rumah tangga.






Allah tahu batas kemampuan hambanya. Kalau dikasih yang macam sebelumnya, fix 10000% pasti saya bakal PPD (Post Partum Depression) berat.

Saya tidak tahu ada hubungannya atau tidak dengan kami sebagai orangtua yang tidak pernah posting foto Wawa di sosial media, Wawa ini bagaikan angel untuk saya. Saya dan suami pun merasa mungkin ada benarnya penyakit 'ain itu ada. Akhirnya kami memutuskan untuk tidak pernah post Wawa secara eksplisit. Teman-teman saya terkadang lupa kalau anak saya ada tiga.

Saya sendiri masih sesekali post kegiatan Aa dan Caca namun lebih sering di close friend saja. Post yang ada di feed pun tidak saya . Tapi memang jarang sekali yang close up di mukanya. Sedangkan suami saya mengarsipkan semua postingan di feed Instagramnya yang mengandung foto anak-anak.

Sadar sebenarnya apa yang membuat postingan di media sosial itu lebih berkesan adalah time stampnya. Rasanya berbeda jika lihat di galeri HP biasa. Itupun suka tertimbun di galeri dengan foto-foto whatsapp group dan lain sebagainya. Di media sosial, semuanya lebih tertata rapih, mudah diakses kapan saja menjadi jejak digital yang selama Instagram tidak bangkrut akan bisa dilihat oleh anak saya kelak.

Akhirnya kami pun membuat akun khusus anak-anak kami yang terkunci dan hanya untuk keluarga. Tujuannya adalah menghindarkan 'ain bagi anak, menjaga privasinya (ya mirip-miriplah sama anaknya Raisa Hamish), namun tetap mempunyai media untuk menampung kenangan yang tidak terjadi dua kali.

Saya benar-benar merasakan perbedaan membesarkan anak bungsu saya dibandingkan kedua kakak sebelumnya. Mungkin ini salah satu sebabnya kenapa rasanya anak jaman dulu lebih mudah diurusnya dibanding anak sekarang (komentar Gen X kalau lihat Gen Y kerempongan sama anak sendiri).

Wallahu a'lam bishawab

Minggu, 09 Agustus 2020

Terpaksa, Pecut Si Procrastinator

Dur undur undur... Kalo bisa nanti, ya nanti aja... 

Mungkin itu moto hidup procrastinator. 

Contohnya Saya. 

Saya harus dihadapkan dengan keadaan terpaksa dulu baru termotivasi untuk mengerjakan sesuatu.

Sudah tidak ada pilihan lain contohnya seperti saya yang menulis di hari terakhir Minggu ke 32 #1minggu1cerita dengan tema terpaksa. Minggu depan sudah 6 minggu saya absen setor tulisan, kalau tidak saya didepak. Hehehehe.

Bisa juga karena iklim kompetisi. Walaupun saya bukan orang ambisius yang mau terbaik, tapi saya tidak mau jadi yang terburuk... Contohnya, saya pastinya akan menghindari geng sosialita daripada iri hati. Wkkwkw... Ih apaan sih ni tulisan ga nyambung ama tema. 

Balik lagi, contohnya seminggu belakangan ini saya join komunitas sehat ibu-ibu muda. Isinya adalah ibu-ibu yang baru/akan memulai olah raga. Hasilnya? Dalam seminggu saja, yang biasanya #timrebahan, jadi terpacu untuk jalan kaki lebih banyak saat ditargetkan minimal 5000 langkah sehari. Eh benar saja, ternyata manusia kalau dibanding-bandingkan jadi lebih terpacu. 

Mungkin kita memang perlu keadaan terpaksa agar yang kita inginkan tercapai. Kita perlu deadline, kita perlu target, kita perlu dorongan. Ada kalanya kita yang membuat sendiri keadaan terpaksa itu, ada kalanya lingkungan sekitar. Apapun keadaan terpaksa yang kita alami, saya harap menghasilkan outcome positif dan mendatangkan banyak ibrah. 

Senin, 22 Juni 2020

My Reading List : May 2020


Review chicklit



Hampir jadinya review satu buku, bukan reading list lagi... Akhirnya saya berhasil menyelesaikan dua buku pada tanggal 31 Mei 2020. Saya menargetkan 24 buku untuk dibaca pada tahun 2020, sejauh ini saya sudah berhasil menyelesaikan 22 buku per bulan Mei. Yeayy.. Agar tetap termotivasi dan bisa konsisten untuk membaca buku, maka saya menuliskan daftar bacaan saya setiap bulan di blog.

1. The Hating Game


Penulis: Sally Thorne
Genre: Chick Lit
Rating Pribadi: 6.5/10
Review Singkat: 
Sejujurnya saya tidak paham kenapa pengguna Goodreads memberikan rating tinggi untuk buku ini. Ceritanya cukup tipikal untuk chicklit, dari benci jadi cinta. Bermula dari dua orang rekan kerja bernama Lucy dan Joshua yang saling bersaing dan bermusuhan yang akhirnya berujung saling suka. Ada twist tipis pada cerita ini namun tidak sampai membuat saya wow. Novel ini lebih cocok untuk dewasa karena termasuk cukup deskriptif ketika menceritakan keintiman antara dua tokoh utama. 


2. The First Phone Call From Heaven




Penulis: Mitch Albom
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Ini adalah buku ke-6 dari Mitch Albom yang saya baca. Penulis yang populer dengan karyanya "Tuesdays with Morrie" ini memang cukup sering menulis tentang nilai hidup dan afterlife. Buku ini bercerita tentang sebuah kota kecil bernama Coldwater yang dihebohkan dengan panggilan telpon dari surga. Beberapa penduduk menerima telpon dari keluarga mereka yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Keajaiban ini membuat heboh satu Amerika dan membuat Coldwater didatangi oleh banyak "pilgrimage" yang mengharapkan keajaiban yang sama. Terkecuali seorang bernama Sully yang baru saja ditinggalkan istrinya setahun lepas. Sully kembali ke kampung halamannya di Coldwater untuk memulai hidup baru setelah dipecat dari Angkatan Udara. Ia muak dengan euforia panggilan dari surga ini dan berusaha membuktikan kebenaran di baliknya.

Buku ini bagi saya cukup menarik. Saya bisa relate bahwa kita sebagai yang ditinggalkan pastinya ada keinginan untuk berkomunikasi kembali dengan kerabat atau keluarga yang meninggalkan kita, meskipun hanya untuk satu kali. Saya pun juga sangat merindukan ayah saya. Alhamdulillah, di agama saya dijelaskan bagaimana kehidupan dan perjalanan manusia setelah kematian sehingga setidaknya saya punya gambaran. Saya melihat bahwa topik afterlife ini mungkin semacam kegelisahan dan keingintahuan yang dimiliki penulis, sehingga bukunya sering sekali bersinggungan dengan hal ini.

Sampai jumpa di reading list bulan depan, atau jangan-jangan resensi satu buku, atau tidak ada sama sekali. Hiksss... Saya baru baca 20% dari satu buku saja per 22 juni ini. 



This entry was posted in

Senin, 15 Juni 2020

My Reading List: April 2020


Di Bulan April ini, saya berhasil membaca 3 buku. Sudah mulai terseok-seok nih karena mulai lebih asyik menonton. Hihihihi... Bulan ini rasanya saya teracuni menonton "Hi Bye Mama", sebuah kdrama tentang seorang wanita yang meninggal sesaat setelah kecelakaan dan melahirkan lalu diberi kesempatan untuk hidup lagi. Eitsss, jadi melenceng gini. Langsung ajaaa

1. Bare Minimum Parenting




Penulis: James Breakwell
Genre: Parenting
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Sebelumnya saya adalah follower dari James Breakwell yang cukup populer di twitter dengan username @XplodingUnicorn. Ia adalah ayah dari 4 anak perempuan dengan usia putri tertua 10 tahun dan termuda 4 tahun. Rasa-rasanya saya sudah follow dari anaknya masih tiga. Isi tweetnya kebanyakan cuplikan percakapan dengan anak-anaknya yang cukup kocak khas anak-anak tentunya.

Karena saya masih dalam "pledge" saya untuk tidak membaca buku parenting, buku ini termasuk pengecualian. Karena kalau membahas parenting dengan cara nyinyir dan humor saya sukaaa... Jadi pada buku ini, James memberikan tips bagaimana untuk membesarkan anak agar dia tidak menjadi manusia yang gagal dengan usaha seminimal mungkin. 

Salah satu chapter yang cukup menarik menurut saya adalah "Substraction by Multification". Di bagian ini, James menjelaskan keuntungan memiliki anak lebih dari satu yang menurutnya bukan berarti kerepotannya dikali jumlah anak, malah tak jarang, mengurus anak satu itu lebih repot. Kenapa? Karena dengan memiliki satu anak saja, berarti kita adalah sumber hiburan satu-satunya. Sedangkan dengan adanya saudara, mereka bisa bermain bersama, atau bahkan saling bertengkar, namun mereka memiliki objek lain selain kita orang tuanya kan. Belum lagi kalau anaknya hanya satu, besar kemungkinan dia membawa temannya (anak orang lain), yang sudah pasti memiliki diplomatic immunity. 

Pokoknya buku ini kocak banget deh untuk dibaca. Seperti membaca stand up comedy yang ditulis.  

2. Norwegian Wood




Penulis: Haruki Murakami
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat: 
Kebetulan suami saya adalah penggemar Haruki Murakami. Banyak bukunya terpampang di lemari buku kami. Saya pun penasaran dan akhirnya mencoba membaca buku yang ketika diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 1987 mengundang banyak kontroversi. Buku ini bercerita tentang cinta segitiga antara Toru, Kizuki, dan Naoko. Pada suatu hari, Kizuki memutuskan untuk mengakhiri hidupnya secara mendadak tanpa alasan yang jelas bagi semua orang. Hal ini membawa dampak psikologis terhadap Toru sahabatnya, dan Naoko kekasihnya. Luka yang sama ini lah akhirnya membawa Toru dan Naoko menjadi lebih dekat walaupun hal ini ternyata tidak mampu untuk benar-benar menyembuhkan. 

Sejujurnya saya bingung kenapa semua orang suka buku ini, karena bagi saya buku ini cukup depressing dan butuh perjuangan untuk saya menyelesaikan buku ini. Karena saya perlu mencari tahu kenapa buku ini memiliki rating yang tinggi. Saya hampir saja memberinya rating 7 atau bahkan kurang, namun karena saya agak bingung dengan endingnya (dan saya suka kalau saya jadi bingung dan penasaran) maka saya berikan nilai 7.5

3. Confession of Scary Mommy




Penulis: Jill Smokler
Genre: Memoir
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Ada yang pernah nyasar ke websitenya scarymommy? Kalau saya cukup sering, misalnya mencari tips atau bacaan tentang parenting. Tulisan berisi curhatan istri kepada suami atau anak-anaknya pun juga ada dengan gaya bahasa yang lucu. Scary Mommy ini awalnya bermula dari seorang wanita bernama Jill Smokler yang menceritakan keseharian dan pemikirannya terkait perannya menjadi Ibu. Dan seperti hampir semua wanita, ternyata banyak yang berubah ketika kita memiliki anak. Tak disangka, blognya mendapatkan banyak traffic dan populer dikarenakan banyak yang bisa relate dengan apa yang Jill tulis. Akhirnya scarrymommy pun menjadi media tersendiri dengan fokus pada hal seputar kehamilan dan parenting.

Di buku ini, Jill menuliskan "The Scary Mommy Manifesto" yang berisi hal-hal seperti tidak boleh menilai dan menghakimi ibu lain berdasarkan tindakan yang terlihat, tidak boleh sok tau apalagi tentang bayi orang lain, atau merendahkan pilihan ibu lain hanya karena pilihannya berbeda dengan kita, dan harus mengingat bahwa TIDAK ADA IBU YANG SEMPURNA.

Buku ini terdiri dari banyak chapter pendek yang disertai dengan "pengakuan ibu-ibu" terkait dengan bahasan di chapter tersebut. Semacam dirty little secret gitu. Mulai dari masa transisi setelah mempunyai anak, ekspektasi yang tidak sesuai, the biggest baby of all (baca: suami), serta kelakuan-kelakuan aneh (namun sebenarnya normal) yang dituliskan dengan gaya humor pada buku ini. Jadi ini segenre lah ya dengan buku The Bare Minimum Parenting. Yang pasti ini adalah tipe buku bacaan yang menghibur bukan menggurui. No hard feeling.

Ada yang punya rekomendasi buku serupa? Saya sih penasaran banget sama buku "Hold On But Don't Hold Still" nya Kristina Kuzmic tapi masih di wishlist.


Rabu, 13 Mei 2020

My Reading List : March 2020



Sekarang sudah bulan Mei tapi baru mau post bacaan bulan Maret. Alhamdulillah, pada bulan Maret ini keluarga kami kedatangan anggota baru, anak ketiga yang kami panggil Wawa. Bulan Maret saya hanya menyelesaikan 2 buah buku. Sebenarnya bukan karena sekarang ada newborn baru, akhir-akhir ini mulai lebih sering nonton (lagi) dibanding membaca. Huhhuhuhu. Netflix and Chill. 

Berikut adalah daftar buku yang saya baca di bulan Maret yang lalu. Semuanya masih seputar Autobiography dan Memoir.

1.  Voices from Chernobyl


review buku chernobyl



Penulis: Svetlana Alexievich
Genre: Memoir
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Karena nonton HBO Miniseries "Chernobyl" tahun lalu, saya jadi agak obsesi dengan Chernobyl dan bahkan memasukkannya sebagai bucket list saya. Tak lama setelah menonton series tersebut, saya pun membaca buku Midnight in Chernobyl karya Adam Higginbottom yang cukup tebal tapi sangat asik dan detail dan kabarnya dijadikan referensi dalam pembuatan miniseries HBO tersebut. Walaupun saya telah membaca buku Midnight in Chernobyl, membaca buku Voices of Chernobyl tidak membuatnya kehilangan informasi baru. Buku ini menyajikan kejadian tentang Chernobyl dengan gaya yang berbeda yaitu melalui sudut pandang berbagai tokoh dan peran. Di dalamnya terdapat cerita mulai dari orang-orang yang berada di Chernobyl saat itu seperti pemadam kebakaran/keluarganya, karyawan chernobyl, tentara yang ditugaskan, sampai dengan pihak-pihak yang tidak ada di lokasi namun melihat/merasakan sendiri dampaknya seperti penduduk Kiev. Chapter dalam buku ini pun tidak panjang, masing-masing menceritakan cerita dari seseorang. Saya pribadi suka dengan buku yang tidak memiliki chapter panjang, seperti checkpoint jika setelah itu mau berhenti membaca terlebih dahulu dan mengerjakan hal lain. Saya suka dan memang agak terobsesi tentang Chernobyl. 



2. Scrappy Little Nobody





Penulis: Anna Kendrick
Genre: Autobiography
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Seperti umumnya autobiography aktris/aktor pada umumnya, buku ini menceritakan tentang perjuangan seorang Anna Kendrick mulai dari masa kecilnya sampai dia menjadi dirinya sekarang. Tentu saja memoir yang menarik adalah yang berisi tantangan dan kesulitan apa saja yang pernah ia hadapi dan lewati sampai akhirnya menjadi sukses seperti sekarang. (Hmmm, sepertinya kalo dari awal tidak pernah susah, tidak menarik untuk dibuat memoir, bukan begitu?). Saya sendiri baru mengenal Anna Kendrick dari perannya di Up in The Air yang dibintangi oleh George Clooney. Ternyata Anna Kendrick sudah melanglang buana di dunia seni peran sedari kecil. Mengapa saya suka baca memoir orang terkenal, karena pastinya ada inside story yang selama ini kita tidak tahu dan biasanya menarik (bisa jadi lucu, bisa jadi mengagetkan). Gaya bercerita yang digunakan dalam buku ini ringan dan lucu namun tidak sejenaka buku komika tentunya (coba baca memoirnya Trevor Noah dan Tiffany Haddish deh).




Semoga bisa lebih rajin lagi bikin review bukunya. Oh yang terpenting, semoga kembali lagi mood rajin baca bukunya. Hehehehe.

Minggu, 12 April 2020

My Reading List: February 2020



Kalau bulan lalu saya berhasil membaca 7 buku, bulan Februari ini hanya 4 saja saudara-saudara. Dan penyebabnya adalah CRASH LANDING ON YOU! Setelah berusaha bertahan menonton pilotnya, saya akhirnya jadi tertarik untuk menontonnya. Tau kan, kalo K-Drama itu satu episodenya bisa 1.5 jam dan tidak bisa disambi dengar saja karena saya ga ngerti bahasa korea.

Berikut adalah daftar buku yang saya baca di bulan Februari yang lalu. 

1.  Attachments




Penulis: Rainbow Rowell
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat: 
Meskipun ditulis pada tahun 2011, cerita ini memiliki latar belakang pada akhir tahun 99, menjelang milenium 2000 (y2k). Lincoln O'Neil bekerja di sebuah kantor media dan bertugas untuk menyaring email karyawan di kantor tersebut. Ya, Ia harus menyaringnya dengan manual, membaca email satu per satu, dan menandai atau meberi peringatan jika isi email mereka tidak sesuai atau terkena red flag. Tapi Lincoln melanggarnya dengan membiarkan Beth dan Jennifer berceloteh sesuka mereka dalam email. Bahkan Lincoln pun mulai mempunyai perasaan pada Beth hanya dengan membaca email kedua sahabat itu. 

2. Inside Out 





Penulis: Demi Moore
Genre: Autobiography
Rating Pribadi: 9/10
Review Singkat:
Buku memoir ini mengungkapkan banyak rahasia dan klarifikasi tentang berbagai kejadian di masa lalu seorang Demi Moore. Mulai dari masa kecil dan hubungan dengan ibu kandungnya yang cukup kompleks (dan bikin saya emosiii.. huhhh). Demi Moore juga berbagi cerita mengenai percintaannya mulai dari suami pertamanya yang memberikannya nama belakang panggungnya sampai sekarang, Freddy Moore, pernikahannya dengan Bruce Willis, sampai dengan pernikahan terakhirnya dengan Ashton Kutcher yang bertahan lima tahun. Banyak detail mengejutkan yang diceritakan oleh Demi Moore dalam memoir ini. Banyak yang bisa diambil sebagai pelajaran dari kisah hidup aktris senior ini. Yang pasti setelah baca buku ini, saya jadi ga suka sama Ashton Kutcher, hehehe. Demi Moore dibantu seorang co-author Ariel Levy dalam menulis buku ini.

3. I Heart My Little A-Holes





Penulis: Karen Alpert
Genre: Parenting
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Buku tentang parenting ini ditulis dengan gaya sarkas dan realistis sesuai dengan judul bukunya. Saya pun melanggar "janji" saya untuk tidak membaca buku parenting. Sepertinya setiap orang tua pasti bisa relate dengan salah satu hal yang dibahas oleh Karen. This is my favorite excerpt.

OB: So what are you using for birth control?
ME: Our Baby
OB: (blank stare)
ME: Seriously, he's like constantly laying between us and cockblocking my husband.

4. A Man Called Ove



Penulis: Fredrick Backman
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 8/10
Review Singkat:
Ove adalah seorang laki-laki tua yang cenderung sangat tidak ramah dan individualistis. Bahasa Indonesianya, Ove ini orangnya jutek banget dan blak-blakan, ga basa-basi banget deh. Tidak banyak orang yang akan mengatakan bahwa Ove adalah pribadi yang menyenangkan. Namun Ove memiliki istri bernama Sonja yang menerima dirinya apa adanya serta memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan Ove. Saat Sonja meninggal, Ove merasa sudah tidak ada alasan lagi untuk hidup, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun setiap kali ia mencoba untuk bunuh diri, ada saja yang dilakukan tetangga barunya sehingga niatnya tertunda. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, lucu dan penuh nilai kehidupan.

BACA JUGA: My January Reading List

Heu, I should've post my March reading list since this is April already.

Sabtu, 28 Maret 2020

My Reading List: January 2020




Tahun 2020 ini saya menargetkan untuk membaca 24 buku. Naik 8 buku dari tahun sebelumnya. Ini berarti minimal saya harus membaca 2 buku setiap bulannya.Dan seperti layaknya target tahun baru dibuat, bulan Januari adalah masanya sangat bersemangat untuk memenuhi target.

Bulan Januari yang lalu saya berhasil menyelesaikan 7 buku dengan genre yang berbeda-beda. Ini daftarnya.

1.  The Year of Less: How I Stopped Shopping, Gave Away My Belongings, and Discovered Life Is Worth More Than Anything You Can Buy in a Store



Penulis: Cait Flanders
Genre: Self Improvement
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Buku ini bercerita tentang pengalaman penulis menerapkan gaya hidup minimalis sebelum Marie Kondo booming. Flanders bercerita bagaimana memiliki atau membeli banyak barang tidak menjadikan kita lebih bahagia, melainkan sebaliknya. Dalam buku ini, flanders menantang dirinya sendiri untuk tidak berbelanja selama setahun dan dampak terhadap dirinya. Dia juga bercerita bagaimana dulu ia memiliki banyak hutang kartu kredit dan akhirnya bisa melunasi serta memiliki banyak tabungan. Cukup inspiratif untuk ikut dicoba.

2. #Dear Tomorrow: Notes to My Future Self




Penulis: Maudy Ayunda
Genre: Nonfiction
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Buku ini jelas menggambarkan bahwa Maudy Ayunda is way more than just a pretty face. Dia juga pintar, giat dan pekerja keras, serta punya insecurity seperti kita layaknya manusia biasa. Buku ini berisi tentang pemikiran dan renungannya tentang hidup. Tidak berat ataupun baru, namun untuk merangkaikan kata-kata tentang apa yang kita rasakan biasanya tidak mudah dan Maudy berhasil. Tentu saja buku ini membawa pesan positif bagi pembacanya. Konsep buku ini banyak tulisan renungan dan puisi serta foto yang instagrammable dengan layout yang menarik, jadi dalam satu halaman tidak penuh dengan tulisan. Bahkan ada playlist yang berisikan lagu-lagu sesuai suasana hati.

3. Every Night I'm Yours (The Spinster Club, #1)




Penulis: Christie Kelley
Genre: Adult Fiction
Rating Pribadi: 7/10
Review Singkat:
Ini adalah buku stensilan pertama yang saya baca selesai. Hahahaha. Iya saya bahkan ga baca triloginya 50 Shades. Iseng baca karena liat ebook ini didiskon murah banget di play book. Buku ini adalah buku pertama dari series Spinster Club yang berjumlah 5 buku. Masing-masing buku bercerita tentang tokoh yang berbeda dari Spinster Club. Latar belakang ceritanya adalah awal abad 19 atau tahun 1800an, dimana sebenarnya budaya Barat lebih konservatif dan mirip dengan budaya timur pada abad selanjutnya. Apa itu spinster? Spinster adalah perempuan yang tidak menikah/umurnya sudah jauh melewati masa menikah umumnya pada zaman itu.

Pada buku pertama ini, sang tokoh utama perempuan bernama Avis terjebak dalam deal khusus dengan seorang pria dari kaum bangsawan juga bernama Banning. Avis yang seorang penulis ingin memiliki pengalaman seksual yang biasanya hanya dimiliki oleh orang yang menikah saja dan ingin menjadikannya bahan tulisan. Alur cerita yang bisa diduga, Avis dan Banning akhirnya memiliki ikatan dan ketertarikan yang lebih dari sekedar urusan fisik.

Bagi saya, yang menarik justru karena saya baru sadar bahwa barat pun dulu sebenarnya konservatif, dimana premarital sex itu dilarang dan tidak terpuji. Para perempuan juga memiliki pressure yang berat untuk menikah dan lain sebagainya. Persis seperti budaya timur sekarang (atau setidaknya beberapa dekade lalu). Tapi cukup buku pertama ini saja yang saya baca. Alurnya yang mudah ditebak tidak membuat saya ingin melanjutkan ke cerita selanjutnya.

4. The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry (Harold Fry, #1)




Penulis: Rachel Joyce
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 9.5/10
Review Singkat:
Buku ini adalah buku fiksi favorit saya setelah One More Day nya Mitch Albom. Berawal dari seorang laki-laki yang telah menginjak usia pensiun bernama Harold Fry menerima sebuah surat dari seorang perempuan teman kerjanya 20 tahun yang lalu bernama Queenie Hennessy. Surat tersebut memberitakan bahwa Queenie sedang sakit. Secara impulsif setelah menerima surat itu, Harold memutuskan untuk berjalan kaki untuk menjenguk Queenie dan meninggalkan istrinya di rumah sendirian. Keputusan Harold itu sangatlah aneh, mengingat dia tidak membawa apa-apa, dompet dan telepon genggamnya sekalipun. Apalagi Harold sudah tidak muda dan memiliki masalah pada sendinya. Jarak yang ditempuh pun seperti dari ujung ke ujung negara Inggris, namun perjalanan itu mengubah banyak hal dan aspek kehidupan Harold dan istrinya.

Awalnya perlu komitmen untuk terus melanjutkan membaca buku ini. Rasa penasaran dan ketakutan saya tentang menjadi empty nester kelak membuat saya ingin tahu apa yang salah dengan Harold dan istrinya serta mengapa ia melakukan pilgrimage ini. Ceritanya tidak bisa ditebak dan sangat menarik. Twisted but not a psycho one. Really worth to read.

5. The Last Black Unicorn




Penulis: Tiffany Hadish
Genre: Autobiography, Humor
Rating Pribadi: 8/10
Review Singkat:
Ceritanya saya lagi kerajingan baca buku autobiography setelah sebelumnya baca buku Trevor Noah dan Ali Wong, kali ini saya membaca buku komika lainnya, Tiffany Hadish. Membaca memoir seorang imigran biasanya lebih menarik dan berliku karena umumnya mereka memulai segala sesuatu dari bawah dan melalui banyak rintangan. (Hmmm, ya mungkin kalau hidupnya lancar-lancar dan terlalu glamour saja jadi tidak menarik. Coba kepoin bukunya Paris Hilton, ratingnya tidak ada yang bagus). Buku yang memenangkan Goodreads Choice 2018 untuk kategori Humor ini saya rasa sangat mengalir dan lucu. Tidak jarang saya tertawa terbahak-bahak saat membacanya. Cara Tiffany Hadish bercerita sangatlah lucu dan kocak walaupun yang dia ceritakan tentang kemalangan. Saya sendiri sebelum membaca buku ini belum pernah menonton Stand Up Comedynya, lalu ketika saya mencoba menonton Netflix Specialnya berjudul Black Mitzvah, saya tidak menyelesaikannya dan jauh lebih suka bukunya.

6. Find It in Everything




Penulis: Drew Barrymore
Genre: Art/Photography, Nonfiction
Rating Pribadi: 7/10
Review Singkat:
Ini adalah salah satu cheating book saya bulan ini karena isinya hanya foto-foto saja dan bisa diselesaikan kurang dari sejam. Hehehehe. Drew Barrymore mengumpulkan banyak foto dari berbagai macam tempat dan keseharian yang tidak sengaja menunjukkan tanda cinta/love. Misalnya saja pada bentuk potongan/panggangan makanan sampai dengan awan di langit. Adorable filled with positive attitude or she's simply hopeless romantic.

7. The Girl on the Train




Penulis: Paula Hawkins
Genre: Mystery
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat:
Ini termasuk buku genre misteri pertama saya setelah sebelumnya hiatus membaca bertahun-tahun. Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Rachel yang commute setiap hari menggunakan kereta dari daerah pinggiran ke pusar kota London. Selama perjalanannya dia memperhatikan lingkungan tempat tinggal yang dulu ia tinggali bersama suaminya sebelum bercerai. Sampai suatu hari, seorang wanita yang biasa ia amati dari kereta dilaporkan hilang, Rachel tergelitik untuk memberi kesaksian dan mencari tahu apa yang terjadi dengan wanita tersebut. Film ini memiliki alur cerita yang tidak tertebak, bagi yang suka twisted ending, buku ini menarik untuk dibaca. Buku ini diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2016 dan dimainkan oleh Emily Blunt. Saya sendiri belum menonton filmnya, namun yang malas membaca, sepertinya bisa menonton filmnya. Namun seperti biasa, books always better than the movie (iyalah, karena memvisualisasikan tulisan tidak segampang itu).


Okay, sekian review dari buku-buku yang saya tulis bulan Januari lalu. Semoga habis ini bisa konsisten menulis review buku pada bulan-bulan selanjutnya.

Selasa, 18 Februari 2020

Manfaat Lebih Banyak Membaca untuk Para Ibu


Saya suka membaca. Dulu. Saat SD saya suka sekali melahap buku cerita rakyat, komik, dan majalah. Saat SMP saya mulai suka membaca Chicklit, setiap ada judul baru di toko buku pasti saya baca walau meminjam teman (waktu itu chicklit tidak sebanyak sekarang). Saat SMA, saya membaca novel-novel remaja islami. Dan tambahannya adalah, sedari SD saya suka membuat cerita pendek walau tidak saya bagikan ke siapapun.

Saat KULIAH, jeng jeng, kesibukan membuat saya hampir tidak lagi membaca. Di waktu senggang, saya habiskan dengan menonton DVD Bajakan serial TV atau film Hollywood. Semenjak itu, sedikit sekali waktu saya membaca. Bisa dikatakan dalam setahun, sepertinya tidak sampai 3 buku yang saya baca sampai selesai. Umumnya pun buku tentang traveling ala backpacker. Yang saya ingat dengan pasti, saya adalah penggemar dan selalu mengikuti semua serial buku Naked Travelernya mbak Trinity.

Baru setahunan belakangan ini, saya mulai mencoba mengembalikan lagi hobi lama yang sudah terpendam itu. Dimulai dari sebuah akun instagram tentang Buibu Baca Buku Book Club di akun Instagram @bbbbookclub, saya mulai terbakar semangatnya untuk MENOLAK BEGO dan kembali membaca. Entah mitos atau fakta, terkadang orang menyebutnya Mommy's Brain, yaitu saat dimana kemampuan konsentrasi seseorang mulai menurun setelah menjadi Ibu aka LEMOT.

Pada tahun 2019 kemarin saya mulai memasang target berapa jumlah buku yang harus saya selesaikan. Dimulai dengan 18 buku yang berarti 1.5 buku per bulan. Alhamdulillah bisa tercapai 28 buku, 10 buku lebih banyak daripada target. Untuk tahun ini saya memasang target 24 buku. Sedikit demi sedikit, apalagi akan ada member baru di keluarga kami tahun ini.

BACA JUGA: Secrets I Only Share to Stranger

Ok, ok, saya tahu apa yang terlintas di pikiran ibu-ibu lain tentang ibu yang bisa membaca banyak buku.
"Gimana bisaaa?"
Karena pikiran itu juga yang terlintas di pikiran saya. Sambil nyinyir netijen, "wah pasti dia mah support systemnya banyak, jadi sempet baca buku".

Ternyata BISA. Caranya?

  1. Kurangi Waktu Berselancar di Media Sosial
  2. Kurangi Waktu Berselancar di Marketplace

Ternyata dengan menyisihkan waktu sedikit saja, 1 jam sehari, kita bisa membaca banyak buku loh.  Dan 1 jam itu sangat mungkin karena jika mau jujur waktu yang dihabiskan dengan melihat instastory atau scroll feed/explorer di Instagram bisa menghabiskan waktu lebih dari itu. Hayooo jujurrr.. Saya pernah menonton video di youtube (lupa video pastinya) yang mengatakan bahwa para Top CEO meluangkan waktu 45 menit-1 jam sehari untuk membaca loh.

Satu lagi gangguan untuk para emak adalah, marketplace, online shopping, dan lain-lain. Iyaa, itu saya banget juga. Ada saja yang saya masukkan ke keranjang padahal saya tidak terlalu perlu. Saya masukkan ke kerangjang, karena kemungkinan saya membelinya lebih besar. Kalau hanya difavoritkan, kemungkinan tenggelam, karena sudah lebih dari 2300 produk yang saya favoritkan. Hahahaha... Dan keranjang saya pun tulisannya 99+. Banyaknya pilihan dan harga bersaing yang ditawarkan oleh penjual terkadang malah membuat waktu kita memilih lebih lama. Mana yang lebih murah, mana yang reviewnya paling bagus, mana yang penjualannya paling tinggi, mana yang penjualnya lebih dekat agar ongkirnya murah, sampai penjual mana yang berstatus khusus agar kita bisa mendapatkan cashback. Panjang deh proses pemilihannya.

Media Membaca Buku

Untuk media membaca buku saya paling suka menggunakan handphone, alasannya tidak berat, bisa dibawa kemana-mana, dan paling penting, bisa dibaca saat gelap-gelapan karena umumnya saya membaca buku saat anak-anak sudah tertidur. Namun ini ada kekurangannya sendiri yaitu banyak distraksi seperti notifikasi whatsapp dan media sosial. Awalnya saya masih suka terdistraksi karena masih belum "hanyut" membaca, tapi lama kelamaan saya mulai tak terpengaruh (kecuali anak nangis karena rewel, minta susu atau minta dipeluk. Kalo bapaknya yang minta peluk, masih belum ngaruh :p). Sampai akhirnya saya sampai pada poin dimana, saya justru merasa jenuh menonton video, saya lebih suka dan nyaman membaca buku.

Source: pixabay

Beberapa teman masih tetap lebih suka buku fisik, ada juga yang memakai kindle. Semua tergantung preferensi anda, nyamannya yang mana. Saya sendiri memiliki Amazon Fire limpahan dari suami, saudaranya Kindle tapi berwarna jadi seperti tab biasa namun kapasitasnya kecil. Namun tetap saya lebih suka menggunakan handphone saya, dengan applikasi Moon+ Reader Pro (berbayar sekali seumur hidup namun sering diskon 50%). 

Genre Buku Favorit

Awalnya buku yang saya baca tidak jauh-jauh dari masalah parenting. Contohnya The Danish Way of Parenting, Bringing Up Bebe, How Eskimos Keep Their Babies Warm, dan sebagainya. Sampai akhirnya saya mulai muak karena beberapa yang ada di buku parenting rasanya sulit dan tidak applicable untuk anak saya. Lagipula hampir seluruh waktu saya gunakan untuk mengurus anak, masa waktu membaca alias me time saya pakai buat mereka lagi (Emak mau egois ahhh). Saya mulai beralih ke genre lain seperti fiction, young adult, biography, anything but parenting!

BACA JUGAReview The Danish Way of Parenting

Tidak semua buku membuat saya cukup tertarik untuk membacanya sampai habis. Namun setelah mencoba berbagai macam genre, ternyata saya baru menemukan bahwa saya sangat menyukai buku-buku nonfiksi mulai dari biografi orang terkenal (Coba: Trevor Noah!) sampai peristiwa yang pernah terjadi (Coba: The Billion Dollar Whale dan Midnight in Chernobyl). Belum lama ini atas rekomendasi adik, saya mulai mencoba buku-buku genre misteri. Seru jugaaa...

Source: pixabay

Semua orang tentunya memiliki ketertarikan yang berbeda-beda, jadi ketika kita sudah menemukan apa yang kita suka, biasanya akan lebih nyaman untuk membaca.

Manfaat yang Sejauh ini Saya Rasakan

Sudah jelas dari 2 cara di atas yang saya lakukan dalam meluangkan waktu untuk membaca.


1. I Envy, Worry, and Ghibah Less

Ini sebenarnya efek dari mengurangi sosial media bagi kesehatan jiwa. Bagaimana pun sebagian besar orang hanya membagikan momen-momen baik atau kesuksesan (dan terkadang jatuhnya pamer) yang mereka miliki. Kok si itu jalan-jalan mulu, kok dia makannya enak-enak ya, kok dia uangnya kaya ga abis-abis, dan lain-lain. Terkadang kalau baperan, jadinya bisa mudah iri dan khawatir sendiri apakah kita sudah "berhasil"? Jangankan postingan selebgram dan kehidupan glamour (tapi gratisan dan dibayar pulak), sesimpel postingan anak orang yang gemuk di atas timbangan aja kadang bisa bikin baper ya kann...

Selain yang bagus-bagus, biasanya postingan yang ramai pengunjung adalah jika ada skandal. Saya sih bukan netizen yang berani julid langsung di kolom komen, tapi salah satu guilty pleasure saya adalah baca bagian komen postingan skandal atau problematik. Semenjak saya asyik sendiri dengan buku dan kegiatan lainnya di luar sosial media, saya tidak peduli dengan pertengkaran antara selebgram ini dengan selebgram lainnya. I don't even know them. They're famous just because of having these scandals nowadays. Why make stupid people more famous, right?

Belum lagi overfloading information yang ada, seperti contohnya harga masuk sekolah Internasional yang sangat mahal sekali. Lalu jadi pusing sendiri. Lah emang situ mau masukin ke sekolah itu, masih banyak kok sekolah lain yang bagus dan lebih sesuai untuk keluarga kita dengan harga yang lebih terjangkau.


2. I Spend Less

Dengan kemajuan teknologi, cuci mata sekarang bisa dilakukan tanpa pergi kemana-mana cukup dengan ujung jari kita. Baik di marketplace, maupun sosial media. Intinya semua beriklan dan berjualan. Walaupun dengan berbelanja kita ikut berpartisipasi dalam kemajuan ekonomi, tapi kalo kebanyakan dan ga perlu akan berdampak pada kekeringan kantong. Akhirnya saya hanya berbelanja ketika saya merasa memang hal itu saya perlukan.


3. Brain More

Membaca memperkaya kosa kata kita terlepas dari genre yang kita baca. Beberapa genre bisa memperkaya ilmu pengetahuan kita dan melatih critical thinking. Saya tidak bilang saya tambah pintar sih, namun setidaknya degradasi otak karena mommy's brain agak terhambat dikit. Kalau diajak berdiskusi tidak lemot-lemot banget dan masih nyambung gitu.



Semoga sharing dari seorang yang awalnya tidak membaca buku ini berguna yaa. Yuk kepoin buku-buku yang kubaca dan berteman di Goodreads!

Jumat, 07 Februari 2020

Pengalaman Rawat Inap di Rumah Sakit Universitas Indonesia


Jadi ceritanya beberapa waktu lalu anak saya yang kedua, Caca, demam sampai 39 derajat. Hari pertama demam, doi masih terlihat normal saja, bermain dengan kakaknya, susu dan makanan masih lancar. Hari kedua, nafsu makan berkurang dan mulai rewel. Akhirnya saya berikan paracetamol, namun panasnya tak kunjung turun walaupun sudah diberikan sampai 4x dengan jeda waktu 4 jam setiap pemberian. Sementara batas maksimal pemberian paracetamol hanya 5x dalam 24 jam. Kebetulan, caca juga tidak pilek ataupun batuk. Seingat saya kalau tidak disertai gejala lain, justru harus tambah waspada. 

Akhirnya walaupun belum 3 hari demam, saya dan suami memutuskan untuk membawa Caca ke Rumah Sakit. Pergilah kami ke Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), walaupun biasanya kami memeriksakan anak ke RS Hermina Depok yang letaknya lebih dekat rumah. Alasan simpelnya sih karena apapun itu memang kami sudah niatkan Caca harus kena infus biar tidak dehidrasi biarpun harus menginap satu malam saja dan harga di kelas kamar Deluxe/VIP di RSUI lebih murah daripada Hermina sehingga masih bisa dicover penuh oleh asuransi yang saya miliki.

tarif rawat inap
Perbandingan tarif rawat inap RSUI (kiri) dan RSH Depok (kanan)

Walaupun kita bisa melihat gedung RSUI di balik Depok Town Square, namun RSUI hanya dapat diakses jika kita masuk ke kawasan Universitas Indonesia. RSUI belum memiliki akses langsung dari Margonda atau jalan yang lebih dekat dengan jalan arteri Depok tersebut. Keuntungannya, biaya parkirnya pun ikut tarif UI, Rp 5.000,- saja per hari.

Kami tiba di IGD sekitar jam 6 sore sebelum maghrib. Karena sepi, jadi langsung dilayani. (Beberapa hari kemudian, ada kecelakaan bus di subang dan korbannya, yang kebanyakan domisilinya di Depok, dilarikan ke RSUI. Pastilah kalau bersamaan, kami mendapat prioritas terakhir sesuai kegawatdaruratan). Di sana, Caca diperiksa oleh dokter jaga yang ada dan diambil darah serta urinnya untuk tes lab. 

IGD RSUI
Diinfus dan nunggu sampel urin di IGD

Hasil tes darah keluar sejam kemudian, hasilnya bagus. Hasil tes urin lebih lama, karena nunggu Caca akhirnya pipis cukup memakan waktu. Karena masih demam dan Caca tidak mau minum, akhirnya dia diinfus. Dan kami sebagai orang tua juga lebih memilih untuk rawat inap saja. Proses berpindah ke ruang rawat inap sebenarnya cukup lama. Jam 10 baru kami masuk kamar karena proses administrasinya cukup lama (walau tidak mengantri, heuu). 

Fasilitas Kamar

Akhirnya kekepoan ku akan kamar VIP RSUI yang harganya lebih murah dari kamar kelas 1 RS Hermina terjawab sudah. Berikut beberapa gambar yang sempat saya ambil. 

kamar VIP RSUI
Rawat Inap Kelas VIP RSUI

Fasilitas yang ada di Kamar
Toilet dalam Kamar
Sebenarnya mereka masih memiliki satu tingkat kamar di atas VIP, namun unitnya terbatas, dan untuk yang anak tidak ada. Lagipula, kalau dilihat dari gambarnya, hanya besar di ruang tamu saja. Detail jenis kamar rawat inap di RSUI bisa lihat di sini ya.

Kamarnya sendiri cukup luas, tempat tidur dan furniturnya pun masih baru. Setiap kamar dilengkapi dengan dispenser besar dan lemari es 1 pintu berukuran sedang (lebih besar daripada kulkas kamar RS lain pada umumnya). TV disediakan untuk hiburan, namun isinya masih channel lokal semua, beberapa receptionnya kurang bagus. (kebetulan saya tidak ada TV di rumah, dan baru sadar segitu membosankannya TV lokal, pantesan netizen ngamuk kalau netflix diblock Telkom :p).

Untuk penunggu disediakan sofa 2 seater kecil, meja makan dan 2 kursi. Nah ini salah satu kurangnya ya kalau dibandingkan dengan kamar Deluxenya Hermina. Sofanya terlalu kecil, jadi yang tidur di sofa harus nekuk banget kakinya, kurang nyaman. Akhirnya pada malam ketiga, kami minta orang rumah untuk mengirimkan kasur lipat.

Kamar mandinya pas, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil dan dilengkapi dengan shower dan toilet duduk. Namun mungkin karena tekanan/headloss perpipaannya kurang (naon sih, ini ceritanya analisis lulusan teknik lingkungan yang udah rada lupa ilmunya), jadi kadang air menggenang, padahal tidak ada sampah atau rambut di gutternya.

Oh iya, walaupun ini di lantai 6, namun masih banyak nyamuk. Mungkin pihak RS bisa lebih meningkatkan pest controlnya. Dulu almarhum ayah saya sering berolahraga dan lari di depan jalan yang cikal bakalnya menjadi RSUI. Di daerah ini memang nyamuknya banyak dan luar biasa, kalau kita diam saja bisa diserbu dan pulang dengan banyak bentol.

Ruangan kamar dibersihkan oleh cleaning service 2-3x sehari (agak lupa, tapi seinget saya sering deh).

Makanan

Dari cerita teman sih, biasanya diberikan pilihan menu untuk makanan, namun saat Caca dirawat, kami tidak diberikan pilihan, biasanya sih karena mendapat diet khusus. Sarapan pagi biasanya paling simpel, biasanya bubur dan topping. Makan siang dan malam lebih lengkap dengan buah. Caca juga mendapat pediasure untuk selingan 3x sehari sebanyak 150 ml (yang pakai asuransi, biasanya susu formula tidak dicover ya), mungkin karena anaknya langsing banget yaa. Selama 4 malam dan 4 hari menginap, ahli gizi datang sebanyak 2x.

Contoh Sarapan
Contoh Makan Malam
Contoh Makan Siang

Tapi dasar, tante-tantenya Caca yang merupakan nakes, bisa aja nemu kurangnya. Katanya makanannya kok ga diwrap plastik lagi satu-satu biar aman. Hehehhee...

Oh iya, salah satu yang agak susah di RSUI adalah masih kurangnya restoran/kantin di kawasan Rumah Sakit. Ada kantin di area parkir namun saat akhir pekan tutup. Karena kebetulan saat Caca dirawat, kampus sedang libur, kantin fakultas pun banyaknya tutup. Jadi kita harus mengandalkan grabfood/gofood saja dan diambil di lobby.


Fasilitas Penunjang Lainnya

Di RSUI, Mushola sangat mudah sekali ditemukan, karena hampir setiap lantai atau tempat yang ada ruang tunggunya pasti ada mushola. Walaupun besar mushola berbeda-beda. Contohnya di ruang tunggu IGD, mushola hanya muat untuk 3 orang. Namun di ruang tunggu rawat inap lantai 6 misalnya, musholanya lebih besar. Tujuannya supaya orang tidak perlu jauh-jauh dan bisa tetap standby di tempat yang diperlukan.

RSUI
Mushola Rawat Inap Lantai 6
Rumah Sakit Universitas Indonesia
Ruang Tunggu Keluarga/Pengunjung cukup luas dan nyaman.

Pelayanan

Selama dirawat, dokter spesialis anak melakukan kunjungan setiap hari, pada akhir pekan sekalipun. Dokter anak yang menangani Caca adalah dr Annisa, bukan dokter langganan kami, melainkan dokter yang diassign saat perpindahan dari IGD ke Rawat Inap. dr Annisa cukup baik dan sangat informatif. Beliau juga cukup RUM (Rational Use of Medicine) dan tidak berlebihan dalam memberikan obat. Selama dirawat, Caca hanya mendapat cairan infus dan paracetamol jika panas karena penyebab sakitnya jika dilihat dari hasil lab adalah virus. Kami harus menunggu anak bebas demam selama 24 jam sampai diperbolehkan pulang. 

Pada hari keempat, keluar bercak merah pada badan Caca, ternyata dia terkena Roseola. Gejalanya memang panas pada 3 hari pertama, lalu muncul bercak merah pada hari keempat. Ketika bercak merah muncul, ini justru menandakan gejala membaik. Oleh karena itu kami diperbolehkan pulang dan disarankan kontrol 3 hari setelah pulang.

Tidak boleh lupa ditulis, pelayanan Ners/Suster/Nurse/Perawat (sepertinya sekarang mereka lebih suka disebur Ners) di RSUI juga sangat baik. Semua ners sangat ramah, setiap pergantian shift, mereka selalu menyapa dan memperkenalkan diri. Nersnya juga rajin, suka menawarkan untuk memandikan anak (seinget saya di RSH, ya semua-semua orang tuanya sendiri). Secara berkala mereka mengecek suhu tubuh anak saya, dan setiap alarm infus menyala, mereka sigap datang tanpa harus dipencet belnya. Saya juga harus melaporkan dan memberikan pampers anak saya setiap pipis kepada suster, sebagai indikator hidrasi, pencernaan, serta ekskresi anak.

Peralatan kesehatan yang digunakan di RSUI juga masih baru dan modern. Cairan dan obat yang dimasukkan lewat infus semua diatur sesuai dosis dengan alat. Pengalaman 2x rawat inap anak, tidak pernah pakai yang semacam itu, pernah lihatnya saat ayah saya dirawat di ICU. (norak deh sum, mungkin kalau nakes yang liat ni tulisan).

Helpful dan detail sekali menurut saya semua prosedur kesehatan yang ada di RSUI ini. Walaupun kita sebelumnya bukan pasien di RSUI, namun kita akan diwawancarai tentang riwayat kesehatan sebelumnya.


Perkiraan Biaya

Sampai tulisan ini dibuat, RSUI masih belum bisa menerima BPJS karena belum mendapatkan akreditasi Rumah Sakit, oleh sebab itu jumlah pasien yang ada masih sedikit. 

Berapa kira-kira biaya yang dihabiskan untuk rawat inap? Sebenarnya sangat tergantung dengan tindakan medis yang dilakukan. Untuk Caca sendiri, sebenarnya tidak banyak karena hanya cairan infus dan paracetamol. Biaya yang dikeluarkan untuk kamar rupanya hanya setengah dari total tagihan. Jadi jika anda tidak menggunakan asuransi, mungkin estimasikan untuk kamar sekitar 1/3 dari biaya seluruhnya. 


Overall, saya cukup puas dengan pelayanan RSUI, kecuali yaaaaa itu, admin dan farmasinya yang sangat lama (apalagi kalo rawat jalan, hikssss). Harga kamar yang cukup murah menjadi daya tarik Rumah Sakit ini.

Next time, mungkin saya akan review pengalaman rawat jalannya. Kalau tidak malas... Hehehehhee...