Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2020

My Reading List : May 2020


Review chicklit



Hampir jadinya review satu buku, bukan reading list lagi... Akhirnya saya berhasil menyelesaikan dua buku pada tanggal 31 Mei 2020. Saya menargetkan 24 buku untuk dibaca pada tahun 2020, sejauh ini saya sudah berhasil menyelesaikan 22 buku per bulan Mei. Yeayy.. Agar tetap termotivasi dan bisa konsisten untuk membaca buku, maka saya menuliskan daftar bacaan saya setiap bulan di blog.

1. The Hating Game


Penulis: Sally Thorne
Genre: Chick Lit
Rating Pribadi: 6.5/10
Review Singkat: 
Sejujurnya saya tidak paham kenapa pengguna Goodreads memberikan rating tinggi untuk buku ini. Ceritanya cukup tipikal untuk chicklit, dari benci jadi cinta. Bermula dari dua orang rekan kerja bernama Lucy dan Joshua yang saling bersaing dan bermusuhan yang akhirnya berujung saling suka. Ada twist tipis pada cerita ini namun tidak sampai membuat saya wow. Novel ini lebih cocok untuk dewasa karena termasuk cukup deskriptif ketika menceritakan keintiman antara dua tokoh utama. 


2. The First Phone Call From Heaven




Penulis: Mitch Albom
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Ini adalah buku ke-6 dari Mitch Albom yang saya baca. Penulis yang populer dengan karyanya "Tuesdays with Morrie" ini memang cukup sering menulis tentang nilai hidup dan afterlife. Buku ini bercerita tentang sebuah kota kecil bernama Coldwater yang dihebohkan dengan panggilan telpon dari surga. Beberapa penduduk menerima telpon dari keluarga mereka yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Keajaiban ini membuat heboh satu Amerika dan membuat Coldwater didatangi oleh banyak "pilgrimage" yang mengharapkan keajaiban yang sama. Terkecuali seorang bernama Sully yang baru saja ditinggalkan istrinya setahun lepas. Sully kembali ke kampung halamannya di Coldwater untuk memulai hidup baru setelah dipecat dari Angkatan Udara. Ia muak dengan euforia panggilan dari surga ini dan berusaha membuktikan kebenaran di baliknya.

Buku ini bagi saya cukup menarik. Saya bisa relate bahwa kita sebagai yang ditinggalkan pastinya ada keinginan untuk berkomunikasi kembali dengan kerabat atau keluarga yang meninggalkan kita, meskipun hanya untuk satu kali. Saya pun juga sangat merindukan ayah saya. Alhamdulillah, di agama saya dijelaskan bagaimana kehidupan dan perjalanan manusia setelah kematian sehingga setidaknya saya punya gambaran. Saya melihat bahwa topik afterlife ini mungkin semacam kegelisahan dan keingintahuan yang dimiliki penulis, sehingga bukunya sering sekali bersinggungan dengan hal ini.

Sampai jumpa di reading list bulan depan, atau jangan-jangan resensi satu buku, atau tidak ada sama sekali. Hiksss... Saya baru baca 20% dari satu buku saja per 22 juni ini. 



This entry was posted in

Senin, 15 Juni 2020

My Reading List: April 2020


Di Bulan April ini, saya berhasil membaca 3 buku. Sudah mulai terseok-seok nih karena mulai lebih asyik menonton. Hihihihi... Bulan ini rasanya saya teracuni menonton "Hi Bye Mama", sebuah kdrama tentang seorang wanita yang meninggal sesaat setelah kecelakaan dan melahirkan lalu diberi kesempatan untuk hidup lagi. Eitsss, jadi melenceng gini. Langsung ajaaa

1. Bare Minimum Parenting




Penulis: James Breakwell
Genre: Parenting
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Sebelumnya saya adalah follower dari James Breakwell yang cukup populer di twitter dengan username @XplodingUnicorn. Ia adalah ayah dari 4 anak perempuan dengan usia putri tertua 10 tahun dan termuda 4 tahun. Rasa-rasanya saya sudah follow dari anaknya masih tiga. Isi tweetnya kebanyakan cuplikan percakapan dengan anak-anaknya yang cukup kocak khas anak-anak tentunya.

Karena saya masih dalam "pledge" saya untuk tidak membaca buku parenting, buku ini termasuk pengecualian. Karena kalau membahas parenting dengan cara nyinyir dan humor saya sukaaa... Jadi pada buku ini, James memberikan tips bagaimana untuk membesarkan anak agar dia tidak menjadi manusia yang gagal dengan usaha seminimal mungkin. 

Salah satu chapter yang cukup menarik menurut saya adalah "Substraction by Multification". Di bagian ini, James menjelaskan keuntungan memiliki anak lebih dari satu yang menurutnya bukan berarti kerepotannya dikali jumlah anak, malah tak jarang, mengurus anak satu itu lebih repot. Kenapa? Karena dengan memiliki satu anak saja, berarti kita adalah sumber hiburan satu-satunya. Sedangkan dengan adanya saudara, mereka bisa bermain bersama, atau bahkan saling bertengkar, namun mereka memiliki objek lain selain kita orang tuanya kan. Belum lagi kalau anaknya hanya satu, besar kemungkinan dia membawa temannya (anak orang lain), yang sudah pasti memiliki diplomatic immunity. 

Pokoknya buku ini kocak banget deh untuk dibaca. Seperti membaca stand up comedy yang ditulis.  

2. Norwegian Wood




Penulis: Haruki Murakami
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat: 
Kebetulan suami saya adalah penggemar Haruki Murakami. Banyak bukunya terpampang di lemari buku kami. Saya pun penasaran dan akhirnya mencoba membaca buku yang ketika diterbitkan pertama kali di Jepang pada tahun 1987 mengundang banyak kontroversi. Buku ini bercerita tentang cinta segitiga antara Toru, Kizuki, dan Naoko. Pada suatu hari, Kizuki memutuskan untuk mengakhiri hidupnya secara mendadak tanpa alasan yang jelas bagi semua orang. Hal ini membawa dampak psikologis terhadap Toru sahabatnya, dan Naoko kekasihnya. Luka yang sama ini lah akhirnya membawa Toru dan Naoko menjadi lebih dekat walaupun hal ini ternyata tidak mampu untuk benar-benar menyembuhkan. 

Sejujurnya saya bingung kenapa semua orang suka buku ini, karena bagi saya buku ini cukup depressing dan butuh perjuangan untuk saya menyelesaikan buku ini. Karena saya perlu mencari tahu kenapa buku ini memiliki rating yang tinggi. Saya hampir saja memberinya rating 7 atau bahkan kurang, namun karena saya agak bingung dengan endingnya (dan saya suka kalau saya jadi bingung dan penasaran) maka saya berikan nilai 7.5

3. Confession of Scary Mommy




Penulis: Jill Smokler
Genre: Memoir
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Ada yang pernah nyasar ke websitenya scarymommy? Kalau saya cukup sering, misalnya mencari tips atau bacaan tentang parenting. Tulisan berisi curhatan istri kepada suami atau anak-anaknya pun juga ada dengan gaya bahasa yang lucu. Scary Mommy ini awalnya bermula dari seorang wanita bernama Jill Smokler yang menceritakan keseharian dan pemikirannya terkait perannya menjadi Ibu. Dan seperti hampir semua wanita, ternyata banyak yang berubah ketika kita memiliki anak. Tak disangka, blognya mendapatkan banyak traffic dan populer dikarenakan banyak yang bisa relate dengan apa yang Jill tulis. Akhirnya scarrymommy pun menjadi media tersendiri dengan fokus pada hal seputar kehamilan dan parenting.

Di buku ini, Jill menuliskan "The Scary Mommy Manifesto" yang berisi hal-hal seperti tidak boleh menilai dan menghakimi ibu lain berdasarkan tindakan yang terlihat, tidak boleh sok tau apalagi tentang bayi orang lain, atau merendahkan pilihan ibu lain hanya karena pilihannya berbeda dengan kita, dan harus mengingat bahwa TIDAK ADA IBU YANG SEMPURNA.

Buku ini terdiri dari banyak chapter pendek yang disertai dengan "pengakuan ibu-ibu" terkait dengan bahasan di chapter tersebut. Semacam dirty little secret gitu. Mulai dari masa transisi setelah mempunyai anak, ekspektasi yang tidak sesuai, the biggest baby of all (baca: suami), serta kelakuan-kelakuan aneh (namun sebenarnya normal) yang dituliskan dengan gaya humor pada buku ini. Jadi ini segenre lah ya dengan buku The Bare Minimum Parenting. Yang pasti ini adalah tipe buku bacaan yang menghibur bukan menggurui. No hard feeling.

Ada yang punya rekomendasi buku serupa? Saya sih penasaran banget sama buku "Hold On But Don't Hold Still" nya Kristina Kuzmic tapi masih di wishlist.


Rabu, 13 Mei 2020

My Reading List : March 2020



Sekarang sudah bulan Mei tapi baru mau post bacaan bulan Maret. Alhamdulillah, pada bulan Maret ini keluarga kami kedatangan anggota baru, anak ketiga yang kami panggil Wawa. Bulan Maret saya hanya menyelesaikan 2 buah buku. Sebenarnya bukan karena sekarang ada newborn baru, akhir-akhir ini mulai lebih sering nonton (lagi) dibanding membaca. Huhhuhuhu. Netflix and Chill. 

Berikut adalah daftar buku yang saya baca di bulan Maret yang lalu. Semuanya masih seputar Autobiography dan Memoir.

1.  Voices from Chernobyl


review buku chernobyl



Penulis: Svetlana Alexievich
Genre: Memoir
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat: 
Karena nonton HBO Miniseries "Chernobyl" tahun lalu, saya jadi agak obsesi dengan Chernobyl dan bahkan memasukkannya sebagai bucket list saya. Tak lama setelah menonton series tersebut, saya pun membaca buku Midnight in Chernobyl karya Adam Higginbottom yang cukup tebal tapi sangat asik dan detail dan kabarnya dijadikan referensi dalam pembuatan miniseries HBO tersebut. Walaupun saya telah membaca buku Midnight in Chernobyl, membaca buku Voices of Chernobyl tidak membuatnya kehilangan informasi baru. Buku ini menyajikan kejadian tentang Chernobyl dengan gaya yang berbeda yaitu melalui sudut pandang berbagai tokoh dan peran. Di dalamnya terdapat cerita mulai dari orang-orang yang berada di Chernobyl saat itu seperti pemadam kebakaran/keluarganya, karyawan chernobyl, tentara yang ditugaskan, sampai dengan pihak-pihak yang tidak ada di lokasi namun melihat/merasakan sendiri dampaknya seperti penduduk Kiev. Chapter dalam buku ini pun tidak panjang, masing-masing menceritakan cerita dari seseorang. Saya pribadi suka dengan buku yang tidak memiliki chapter panjang, seperti checkpoint jika setelah itu mau berhenti membaca terlebih dahulu dan mengerjakan hal lain. Saya suka dan memang agak terobsesi tentang Chernobyl. 



2. Scrappy Little Nobody





Penulis: Anna Kendrick
Genre: Autobiography
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Seperti umumnya autobiography aktris/aktor pada umumnya, buku ini menceritakan tentang perjuangan seorang Anna Kendrick mulai dari masa kecilnya sampai dia menjadi dirinya sekarang. Tentu saja memoir yang menarik adalah yang berisi tantangan dan kesulitan apa saja yang pernah ia hadapi dan lewati sampai akhirnya menjadi sukses seperti sekarang. (Hmmm, sepertinya kalo dari awal tidak pernah susah, tidak menarik untuk dibuat memoir, bukan begitu?). Saya sendiri baru mengenal Anna Kendrick dari perannya di Up in The Air yang dibintangi oleh George Clooney. Ternyata Anna Kendrick sudah melanglang buana di dunia seni peran sedari kecil. Mengapa saya suka baca memoir orang terkenal, karena pastinya ada inside story yang selama ini kita tidak tahu dan biasanya menarik (bisa jadi lucu, bisa jadi mengagetkan). Gaya bercerita yang digunakan dalam buku ini ringan dan lucu namun tidak sejenaka buku komika tentunya (coba baca memoirnya Trevor Noah dan Tiffany Haddish deh).




Semoga bisa lebih rajin lagi bikin review bukunya. Oh yang terpenting, semoga kembali lagi mood rajin baca bukunya. Hehehehe.

Minggu, 12 April 2020

My Reading List: February 2020



Kalau bulan lalu saya berhasil membaca 7 buku, bulan Februari ini hanya 4 saja saudara-saudara. Dan penyebabnya adalah CRASH LANDING ON YOU! Setelah berusaha bertahan menonton pilotnya, saya akhirnya jadi tertarik untuk menontonnya. Tau kan, kalo K-Drama itu satu episodenya bisa 1.5 jam dan tidak bisa disambi dengar saja karena saya ga ngerti bahasa korea.

Berikut adalah daftar buku yang saya baca di bulan Februari yang lalu. 

1.  Attachments




Penulis: Rainbow Rowell
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat: 
Meskipun ditulis pada tahun 2011, cerita ini memiliki latar belakang pada akhir tahun 99, menjelang milenium 2000 (y2k). Lincoln O'Neil bekerja di sebuah kantor media dan bertugas untuk menyaring email karyawan di kantor tersebut. Ya, Ia harus menyaringnya dengan manual, membaca email satu per satu, dan menandai atau meberi peringatan jika isi email mereka tidak sesuai atau terkena red flag. Tapi Lincoln melanggarnya dengan membiarkan Beth dan Jennifer berceloteh sesuka mereka dalam email. Bahkan Lincoln pun mulai mempunyai perasaan pada Beth hanya dengan membaca email kedua sahabat itu. 

2. Inside Out 





Penulis: Demi Moore
Genre: Autobiography
Rating Pribadi: 9/10
Review Singkat:
Buku memoir ini mengungkapkan banyak rahasia dan klarifikasi tentang berbagai kejadian di masa lalu seorang Demi Moore. Mulai dari masa kecil dan hubungan dengan ibu kandungnya yang cukup kompleks (dan bikin saya emosiii.. huhhh). Demi Moore juga berbagi cerita mengenai percintaannya mulai dari suami pertamanya yang memberikannya nama belakang panggungnya sampai sekarang, Freddy Moore, pernikahannya dengan Bruce Willis, sampai dengan pernikahan terakhirnya dengan Ashton Kutcher yang bertahan lima tahun. Banyak detail mengejutkan yang diceritakan oleh Demi Moore dalam memoir ini. Banyak yang bisa diambil sebagai pelajaran dari kisah hidup aktris senior ini. Yang pasti setelah baca buku ini, saya jadi ga suka sama Ashton Kutcher, hehehe. Demi Moore dibantu seorang co-author Ariel Levy dalam menulis buku ini.

3. I Heart My Little A-Holes





Penulis: Karen Alpert
Genre: Parenting
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Buku tentang parenting ini ditulis dengan gaya sarkas dan realistis sesuai dengan judul bukunya. Saya pun melanggar "janji" saya untuk tidak membaca buku parenting. Sepertinya setiap orang tua pasti bisa relate dengan salah satu hal yang dibahas oleh Karen. This is my favorite excerpt.

OB: So what are you using for birth control?
ME: Our Baby
OB: (blank stare)
ME: Seriously, he's like constantly laying between us and cockblocking my husband.

4. A Man Called Ove



Penulis: Fredrick Backman
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 8/10
Review Singkat:
Ove adalah seorang laki-laki tua yang cenderung sangat tidak ramah dan individualistis. Bahasa Indonesianya, Ove ini orangnya jutek banget dan blak-blakan, ga basa-basi banget deh. Tidak banyak orang yang akan mengatakan bahwa Ove adalah pribadi yang menyenangkan. Namun Ove memiliki istri bernama Sonja yang menerima dirinya apa adanya serta memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan Ove. Saat Sonja meninggal, Ove merasa sudah tidak ada alasan lagi untuk hidup, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun setiap kali ia mencoba untuk bunuh diri, ada saja yang dilakukan tetangga barunya sehingga niatnya tertunda. Buku ini sangat menarik untuk dibaca, lucu dan penuh nilai kehidupan.

BACA JUGA: My January Reading List

Heu, I should've post my March reading list since this is April already.

Sabtu, 28 Maret 2020

My Reading List: January 2020




Tahun 2020 ini saya menargetkan untuk membaca 24 buku. Naik 8 buku dari tahun sebelumnya. Ini berarti minimal saya harus membaca 2 buku setiap bulannya.Dan seperti layaknya target tahun baru dibuat, bulan Januari adalah masanya sangat bersemangat untuk memenuhi target.

Bulan Januari yang lalu saya berhasil menyelesaikan 7 buku dengan genre yang berbeda-beda. Ini daftarnya.

1.  The Year of Less: How I Stopped Shopping, Gave Away My Belongings, and Discovered Life Is Worth More Than Anything You Can Buy in a Store



Penulis: Cait Flanders
Genre: Self Improvement
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Buku ini bercerita tentang pengalaman penulis menerapkan gaya hidup minimalis sebelum Marie Kondo booming. Flanders bercerita bagaimana memiliki atau membeli banyak barang tidak menjadikan kita lebih bahagia, melainkan sebaliknya. Dalam buku ini, flanders menantang dirinya sendiri untuk tidak berbelanja selama setahun dan dampak terhadap dirinya. Dia juga bercerita bagaimana dulu ia memiliki banyak hutang kartu kredit dan akhirnya bisa melunasi serta memiliki banyak tabungan. Cukup inspiratif untuk ikut dicoba.

2. #Dear Tomorrow: Notes to My Future Self




Penulis: Maudy Ayunda
Genre: Nonfiction
Rating Pribadi: 7.5/10
Review Singkat:
Buku ini jelas menggambarkan bahwa Maudy Ayunda is way more than just a pretty face. Dia juga pintar, giat dan pekerja keras, serta punya insecurity seperti kita layaknya manusia biasa. Buku ini berisi tentang pemikiran dan renungannya tentang hidup. Tidak berat ataupun baru, namun untuk merangkaikan kata-kata tentang apa yang kita rasakan biasanya tidak mudah dan Maudy berhasil. Tentu saja buku ini membawa pesan positif bagi pembacanya. Konsep buku ini banyak tulisan renungan dan puisi serta foto yang instagrammable dengan layout yang menarik, jadi dalam satu halaman tidak penuh dengan tulisan. Bahkan ada playlist yang berisikan lagu-lagu sesuai suasana hati.

3. Every Night I'm Yours (The Spinster Club, #1)




Penulis: Christie Kelley
Genre: Adult Fiction
Rating Pribadi: 7/10
Review Singkat:
Ini adalah buku stensilan pertama yang saya baca selesai. Hahahaha. Iya saya bahkan ga baca triloginya 50 Shades. Iseng baca karena liat ebook ini didiskon murah banget di play book. Buku ini adalah buku pertama dari series Spinster Club yang berjumlah 5 buku. Masing-masing buku bercerita tentang tokoh yang berbeda dari Spinster Club. Latar belakang ceritanya adalah awal abad 19 atau tahun 1800an, dimana sebenarnya budaya Barat lebih konservatif dan mirip dengan budaya timur pada abad selanjutnya. Apa itu spinster? Spinster adalah perempuan yang tidak menikah/umurnya sudah jauh melewati masa menikah umumnya pada zaman itu.

Pada buku pertama ini, sang tokoh utama perempuan bernama Avis terjebak dalam deal khusus dengan seorang pria dari kaum bangsawan juga bernama Banning. Avis yang seorang penulis ingin memiliki pengalaman seksual yang biasanya hanya dimiliki oleh orang yang menikah saja dan ingin menjadikannya bahan tulisan. Alur cerita yang bisa diduga, Avis dan Banning akhirnya memiliki ikatan dan ketertarikan yang lebih dari sekedar urusan fisik.

Bagi saya, yang menarik justru karena saya baru sadar bahwa barat pun dulu sebenarnya konservatif, dimana premarital sex itu dilarang dan tidak terpuji. Para perempuan juga memiliki pressure yang berat untuk menikah dan lain sebagainya. Persis seperti budaya timur sekarang (atau setidaknya beberapa dekade lalu). Tapi cukup buku pertama ini saja yang saya baca. Alurnya yang mudah ditebak tidak membuat saya ingin melanjutkan ke cerita selanjutnya.

4. The Unlikely Pilgrimage of Harold Fry (Harold Fry, #1)




Penulis: Rachel Joyce
Genre: Fiction
Rating Pribadi: 9.5/10
Review Singkat:
Buku ini adalah buku fiksi favorit saya setelah One More Day nya Mitch Albom. Berawal dari seorang laki-laki yang telah menginjak usia pensiun bernama Harold Fry menerima sebuah surat dari seorang perempuan teman kerjanya 20 tahun yang lalu bernama Queenie Hennessy. Surat tersebut memberitakan bahwa Queenie sedang sakit. Secara impulsif setelah menerima surat itu, Harold memutuskan untuk berjalan kaki untuk menjenguk Queenie dan meninggalkan istrinya di rumah sendirian. Keputusan Harold itu sangatlah aneh, mengingat dia tidak membawa apa-apa, dompet dan telepon genggamnya sekalipun. Apalagi Harold sudah tidak muda dan memiliki masalah pada sendinya. Jarak yang ditempuh pun seperti dari ujung ke ujung negara Inggris, namun perjalanan itu mengubah banyak hal dan aspek kehidupan Harold dan istrinya.

Awalnya perlu komitmen untuk terus melanjutkan membaca buku ini. Rasa penasaran dan ketakutan saya tentang menjadi empty nester kelak membuat saya ingin tahu apa yang salah dengan Harold dan istrinya serta mengapa ia melakukan pilgrimage ini. Ceritanya tidak bisa ditebak dan sangat menarik. Twisted but not a psycho one. Really worth to read.

5. The Last Black Unicorn




Penulis: Tiffany Hadish
Genre: Autobiography, Humor
Rating Pribadi: 8/10
Review Singkat:
Ceritanya saya lagi kerajingan baca buku autobiography setelah sebelumnya baca buku Trevor Noah dan Ali Wong, kali ini saya membaca buku komika lainnya, Tiffany Hadish. Membaca memoir seorang imigran biasanya lebih menarik dan berliku karena umumnya mereka memulai segala sesuatu dari bawah dan melalui banyak rintangan. (Hmmm, ya mungkin kalau hidupnya lancar-lancar dan terlalu glamour saja jadi tidak menarik. Coba kepoin bukunya Paris Hilton, ratingnya tidak ada yang bagus). Buku yang memenangkan Goodreads Choice 2018 untuk kategori Humor ini saya rasa sangat mengalir dan lucu. Tidak jarang saya tertawa terbahak-bahak saat membacanya. Cara Tiffany Hadish bercerita sangatlah lucu dan kocak walaupun yang dia ceritakan tentang kemalangan. Saya sendiri sebelum membaca buku ini belum pernah menonton Stand Up Comedynya, lalu ketika saya mencoba menonton Netflix Specialnya berjudul Black Mitzvah, saya tidak menyelesaikannya dan jauh lebih suka bukunya.

6. Find It in Everything




Penulis: Drew Barrymore
Genre: Art/Photography, Nonfiction
Rating Pribadi: 7/10
Review Singkat:
Ini adalah salah satu cheating book saya bulan ini karena isinya hanya foto-foto saja dan bisa diselesaikan kurang dari sejam. Hehehehe. Drew Barrymore mengumpulkan banyak foto dari berbagai macam tempat dan keseharian yang tidak sengaja menunjukkan tanda cinta/love. Misalnya saja pada bentuk potongan/panggangan makanan sampai dengan awan di langit. Adorable filled with positive attitude or she's simply hopeless romantic.

7. The Girl on the Train




Penulis: Paula Hawkins
Genre: Mystery
Rating Pribadi: 8.5/10
Review Singkat:
Ini termasuk buku genre misteri pertama saya setelah sebelumnya hiatus membaca bertahun-tahun. Buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Rachel yang commute setiap hari menggunakan kereta dari daerah pinggiran ke pusar kota London. Selama perjalanannya dia memperhatikan lingkungan tempat tinggal yang dulu ia tinggali bersama suaminya sebelum bercerai. Sampai suatu hari, seorang wanita yang biasa ia amati dari kereta dilaporkan hilang, Rachel tergelitik untuk memberi kesaksian dan mencari tahu apa yang terjadi dengan wanita tersebut. Film ini memiliki alur cerita yang tidak tertebak, bagi yang suka twisted ending, buku ini menarik untuk dibaca. Buku ini diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama pada tahun 2016 dan dimainkan oleh Emily Blunt. Saya sendiri belum menonton filmnya, namun yang malas membaca, sepertinya bisa menonton filmnya. Namun seperti biasa, books always better than the movie (iyalah, karena memvisualisasikan tulisan tidak segampang itu).


Okay, sekian review dari buku-buku yang saya tulis bulan Januari lalu. Semoga habis ini bisa konsisten menulis review buku pada bulan-bulan selanjutnya.

Selasa, 22 Oktober 2019

Review Buku Anak: Where Willy Went

Ammar, anak saya yang pertama, sekarang sudah berumur 3 tahun. Sedang cerewet-cerewetnya dan mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Tak terasa telah sampailah ia pada rasa keingintahuan darimana manusia berasal.

Ammar: Mama, adek keluarnya darimana?
Saya: Dari sini (menunjuk bagian bawah). Aa juga dulu dari sini.
Ammar: Oh, kalo masuknya darimana mah?
Saya: *Gelagapan*, hmmm jadi kalo suami istri saling menyayangi, nanti lama-lama dikasih Allah adek di perut. (Kebetulan Ammar sudah mengerti konsep suami-istri, dia tahu bahwa yang boleh cium di bibir itu suami istri, selain itu di pipi saja)

Yah, sebenarnya sih masih bisa teratasi. Hanya saja saya tidak menyangka kalau dari sekecil ini sudah perlu sex education. Tapi memang pemahaman tentang tubuh sendiri dan perbedaan laki dan perempuan sih kalau baca-baca memang dari kecil. Bisa baca di sini ya.

Karena pertanyaan Ammar mulai mengarah ke sana, saya khawatir suatu saat dia akan bertanya lagi untuk penjelasan yang lebih jelas dan tidak abstrak. Lalu saya teringat tentang suatu buku yang pernah dijual di sebuah forum ibu-ibu yang saya ikuti. Judul buku anak itu "Where Willy Went". Iseng lah saya cari di marketplace oren, eh ternyata ada dan harganya tidak sampai 70 ribu rupiah.


review buku where willy went


Buku karya Nicholas Allan ini pertama kali diterbitkan oleh Red Fox pada tahun 2004. Buku yang saya punya sendiri tidak mencantumkan sudah edisi cetakan yang ke berapa, namun buku ini dicetak di Malaysia. 


where willy went


Karena buku untuk Ammar biasanya ikut dibaca adiknya yang masih belum lancar bicara (umur 1. 5 tahun), maka sampai saat ini saya masih membatasi pengenalan Bahasa Inggris kepada anak-anak. Terakhir kali saat mereka kecanduan youtube, campuran Masha and the Bear dalam bahasa Rusia dan Inggris membuat Ammar suka membuat bahasa sendiri 🤪. Jadi saat saya membacakan buku impor biasanya masih sering saya artikan ke dalam bahasa Indonesia. Agar bisa mendapat manfaat dari read aloud, saya berusaha menggunakan artian bahasa yang sama dan konsisten setiap membacakan. 

Buku ini bercerita tentang perjalanan Willy si sperma kecil yang hidup di dalam tubuh Mr. Browne. Willy mempunyai kekurangan dan kelebihan tersendiri. Akankah ia dapat memenangkan Perlombaan Balap Renang yang akan diadakan dengan hadiah sebuah telur di dalam Mrs. Browne? Jawabannya ada di buku ini *atau di video YouTube yang saya embed di bawah*





Buku Where Willy Went ini sendiri tidaklah sulit untuk diceritakan kembali (terkadang ada kan buku anak yang jika kita baca/dongengkan kembali kurang enak/enjoy diartikannya). Penjelasan tentang bagaimana sperma dan ovum bertemu dibuat lucu dan menarik tapi tidak menyimpang dari ilmiahnya. Ide cerita yang sangat bagus menurut saya. Dan buku ini termasuk salah satu buku yang Ammar suka minta untuk dibacakan sebelum tidur atau di siang hari.

Sewaktu saya membeli buku ini, saya memang tidak mencari tahu terlebih dahulu isi detail buku ini. Namun jika anda ingin tahu bagaimana isi lengkapnya, di youtube ada versi read aloud oleh Greg Mitchell dalam bahasa aslinya tentu saja, Bahasa Inggris. 


Sebagai penikmat buku anak, menurut saya buku ini layak untuk dikoleksi. Kamu sudah punya?

Senin, 21 Oktober 2019

Review Buku: Uncensored #teronglyf by Olevelove


review buku teronglyf

Judul buku: Uncensored 18+ #teronglyf
Penulis: @olevelove/Citra Tiara Mustika
Penerbit: Kawan Pustaka
Cetakan Pertama: Agustus 2019
Jumlah Halaman: 250
Jenis Cover: Soft Cover
Harga Normal: IDR 99,000

Sudah lama sebenarnya ingin review buku ini. Buku ini saya baca sebulan yang lalu karena ada teman yang buka PO untuk buku ini di facebook. Jadi walaupun penulisnya adalah seorang selebgram yang lebih suka dipanggil tetegram, saya belum pernah sama sekali melihat post dan interaksinya di sosial media.

Kemarin tidak sengaja baca review pendek di google books dari seorang pembaca yang memang follower akun Instagram @olevelove. Katanya sih tidak begitu berbeda dengan apa yang selama ini dibahas di Instastory. Hanya saja jadi lebih terkumpul dengan rapih. Ada syukurnya juga saya karena memang belum pernah woro wiri di Instagramnya Mbak Citra, hehehehe.

Membaca buku ini apalagi jika di tempat umum mungkin akan membuat malu karena covernya 'terong' berembun. Ditambah judulnya, pasti dikira buku ini mirip-mirip kamasutra kali ya. Dicetak pertama kali pada bulan Agustus 2019, sampai saat tulisan ini dibuat sudah masuk ke cetakan enam. Yuhuuu, great job Mbak Citra! (sok ikrib)

Buku dengan tebal 250 halaman ini termasuk buku ringan yang sangat relatable dengan pasangan suami istri terutama yang sudah punya anak. Walaupun 250 halaman, tapi layout buku dibuat kekinian layaknya buku non fiksi jaman sekarang, tulisan besar, highlighted text, dan bahasa super ringan sehari-hari hampir mirip bahasa instastory. Untuk saya yang memiliki keterbatasan waktu untuk membaca (read: punya sedikit sekali waktu tenang tanpa gangguan krucil), buku ini bisa diselesaikan dalam 2 hari saja. Jadi saya rasa untuk yang kurang suka membaca pun mungkin masih bisa menikmati buku ini.

Jika anda mengira buku ini banyak mengulas tentang tips teknik berhubungan, maka anda salah. Satu-satunya tips secara eksplisit hanya ada di 5 halaman terakhir buku ini. Pada beberapa edisi PO disertai bonus sikat gigi. Yaa, tentu saja bukan buat menyikat gigi *wink

Buku ini perlu dibaca untuk pasangan suami istri, terutama yang sudah punya anak atau yang akan punya anak. Your life is about to change after kids, dude.


BACA JUGA: Pentingnya Babymoon

What a preface!

Kata pengantar dari penulis pun sungguh menarik dan benar adanya. Kita kaum wanita memang mendominasi sosial media. Kampanye untuk awareness kesehatan mental ibu itu banyak, tapi untuk ayah itu jarang, padahal mereka mengalami dampak juga loh setelah punya anak.

Di buku ini, penulis membahas banyak hal yang mempengaruhi kesehatan hubungan pasangan suami istri. Mulai dari hubungan suami-istrinya sendiri termasuk urusan finansial, hubungan dengan mertua, sampai dengan hubungan dengan Yang Maha Esa. Jadi gak langsung kesana ya, gaes. Porsi yang diambil penulis pun secukupnya dan tidak menggurui tapi ada benarnya.

review buku uncensored teronglyf
Couldn't agree more

Mbak Citra juga bercerita bagaimana kehamilan dan pasca lahiran mempengaruhi kehidupannya. Belum lagi baby blues dan drama perASIan yang saya rasa banyak Ibu yang mengalaminya juga. Walaupun rasa-rasanya buku ini mungkin lebih banyak dibaca wanita, tapi ada banyak insight yang sangat bagus untuk dibaca oleh para suami demi kehidupan rumah tangga yang lebih harmonis.

teronglyf
Salah satu yang bikin ngakak

Jadi apakah buku ini worth the hype? It is! Karena buku ini membahas hal yang sebenarnya tabu untuk dibahas dan bahkan mungkin tidak pernah kita diskusikan dengan pasangan halal kita selama ini. Selain itu, beberapa hal yang selama ini mungkin membuat kita kurang percaya diri, ternyata memang normal untuk dialami. Banyak yang bikin kita manggut-manggut, banyak juga yang bikin ngakak. Saya salut dengan penulis yang berani membuka sedikit dapurnya (dan menurut saya masih dalam batas).

Penulis buku ini menyarankan untuk membaca buku 5 love languagenya Gary Chapman. Belum selesai tapi isinya bagus deh dan ternyata rating di goodreadsnya 4.2... Bukunya membantu kita untuk memahami bahasa cinta yang kita gunakan/inginkan. Hal ini penting untuk diketahui dan dipahami dan tentu saja akan ada hubungannya dengan si #teronglyf tadi..  Kita bisa ikutan quiznya untuk mengetahui bahasa cinta kita, walaupun memang pembahasan detail ada di bukunya sih.

Lalu ada efeknya ga ke saya? Sebenarnya sih sebelum baca buku ini, saya dan pasangan memang sedang berbenah diri dan buku ini hanya sebagai affirmasi saja bahwa memang perlu berbenah. Terasa sekali memang setelah hubungan suami-istri lebih harmonis, rumah jadi lebih hangat. Says yang sehari-hari berkutat dengan anak-anak pun lebih jarang marah dan kesal atas tingkah laku anak-anak. Anak-anak sendiri mungkin karena berkurang negative vibenya dari saya menjadi anak-anak yang lebih adorable dan menggemaskan. Hari-hari bersama mereka terasa lebih menyenangkan.

Kalo penasaran, buku ini banyak kok dijual di marketplace. Versi e-booknya juga tersedia di playstore (bisa ke link ini). Kalau kurang modal ya bisa cari pinjaman ke teman, saya rasa pasti ada deh temannya yang punya buku ini, hehehe...


Thanks for writing this, Mbak Citra :)

Selasa, 01 Oktober 2019

Buku Wajib Pegangan Orang Tua: Berteman Dengan Demam

Berawal dari festival buku online (yang memberikan harga diskon tentunya), akhirnya saya membeli sebuah buku kesehatan yang ditulis oleh Dr Arifianto Apin. Mamah muda jaman sekarang mana (terutama domisili jadebotabek) yang ga kenal dr. Apin, dokter spesialis anak tempat para ibu mencari ketenangan karena tidak mudah memvonis anak stunting dan pendekatan yang digunakannya RUM (Rational Use of Medicine). Pengikut Akun Instagram @dokterapin sendiri sudah lebih dari 200k, jadi bisa dibilang dokter selebgram. Hehehehehe




Judul buku: Berteman dengan Demam
Penulis: dr. Arifianto, Sp.A & dr. Nurul I. Hariadi, FAAP
Penerbit: Kata Depan
Cetakan Pertama: Oktober 2017
Jumlah Halaman: 250
Jenis Cover: Soft Cover
Harga Normal: IDR 78,000

berteman dengan demam
Cover depan

buku dr apin
Cover belakang

Awalnya buku in masih tertumpuk bersama buku-buku baru lain yang masih bersegel. Lalu suatu waktu, anak saya demam. Seringnya ketika demam, bapaknya anak-anak langsung menyuruh saya membawa anak ke UGD Rumah Sakit walaupun baru demam 1 hari saja. Akhirnya saya meminta suami untuk membuka dan membaca buku ini (sementara saya sibuk menenangkan anak saya yang sakit). Duh membayangkan antrian UGD yang lama saja sudah membuat saya tidak nyaman, belum lagi banyak potensi virus dan bakteri lainnya yang dapat tertular pada kita dari Rumah Sakit.

Berikut adalah daftar isi bukunya

Di dalam buku ini, penulis memudahkan kita untuk melakukan analisis pendahuluan sendiri terlebih dahulu sebelum pergi ke Rumah Sakit, seperti suhu badan anak (menggunakan termometer), apakah anak rewel, apakah ada gejala lain yang menyertai seperti flu atau diare, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk penanganan yang lebih tepat dan kalaupun harus dibawa ke dokter, hal ini dapat membantu diagnosis dokter lebih akurat.


Buku ini juga memiliki layout yang tidak membosankan dan menarik (yang saya perhatikan memang begitu tren buku non fiksi saat ini) dan cocok untuk kaum millenial. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami oleh orang yang awam dengan dunia kedokteran.

buku dokter apin

Buku ini sangat cocok untuk dimiliki oleh orang tua terutama yang memiliki anak kecil. Boleh juga jadi kado saat teman kita lahiran karena pastinya akan ada momen dimana kita panikan saat anak demam.

Sekian review singkat dari saya, semoga berguna ya :)


Kamis, 29 Agustus 2019

Review Buku: Inilah Jalan Hijrahku oleh Rene Suhardono

Sudah lama tidak mengulas buku, padahal wacana yang dibuat awal tahun adalah rutin review buku minimal sebulan sekali di #rabubuku. Dasar Sumayyah si Wacana.

Karena flash sale kemerdekaan yang lalu, saya jadi membeli sebuah buku yang dibanderol 17ribu sahajaaa... Buku tersebut adalah


rene suhardono


Judul buku: Inilah Jalan Hijrahku "From Hopelessness to Acceptance"
Penulis: Rene Suhardono dan Intan Yamuna
Penerbit: Mizania
Cetakan Pertama, September 2018
Jumlah Halaman: 179+
Jenis Cover: Soft Cover
Harga Normal: IDR 59,000

Buku ini ditulis oleh suami-istri Rene Suhardono dan Intan Yamuna. Jujur, saya tidak tahu siapa Rene Suhardono, walaupun seiring membaca buku, ternyata beliau termasuk influencer dan tim sukses Jokowi saat menyalonkan diri menjadi Presiden pertama kali, dan juga Anies Baswedan saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Cukup aktif di dunia politik rupanya. Maafkan kekudetanku ya Bang Rene, no offense. Hehehehe...

Buku ini sendiri menceritakan tentang perjalanan hijrah mereka berdua. Bagaimana hidup mereka sebelumnya dan turning point yang akhirnya membuat mereka hijrah, dan bagaimana perubahan yang dirasakan setelah hijrah.

intan yamuna


Walaupun saya tidak tahu bagaimana sosok Bang Rene dan Mbak Muna sebelumnya, namun Bang Rene dalam bukunya dapat mendeskripsikan bagaimana kehidupannya walaupun tidak sepenuhnya eksplisit. Di buku ini juga terlihat jelas bahwa mereka mencoba untuk rendah hati tanpa merasa paling benar namun sangat berkeinginan mengajak orang lain untuk ikut hijrah juga menjadi lebih baik.

buku rene suhardono

Okay, akhirnya saya googling juga Bang Rene yang ternyata sudah cukup dikenal sebagai life coach/career coach/ dan semua titel-titel pekerjaan yang keren dan panutan. Tapi siapa sangka, walau terlihat keren di sosial media dan sering woro wiri di stasiun televisi, ternyata Bang Rene dan Mbak Muna mengalami banyak cobaan yang menguji keutuhan rumah tangga mereka. Lagi-lagi, detailnya tidak disebutkan ya, (yeeee kepo aja lo sum, wkwkwk).

Terlepas dari apa masalah sesungguhnya (tetap ya, naluri lambe muncul), menurut saya apa yang dirasakan Bang Rene sangat relatable dengan masa sekarang seperti FOMO (Fear of Missing Out) dan lain-lain... Oh sosial media. Hayooo ngaku siapa yang suka pusing sama jumlah like dan engagement rate 😛. Tidak aneh sih karena Bang Rene kan kerjaannya banyak terkait dengan public relation.

Layout buku ini menyenangkan dan tidak membosankan, cocok untuk anak muda zaman sekarang. Fontnya berbeda ukuran, yang penting dihighlight, penggunaan bahasanya juga tidak kaku, campuran bahasa Indonesia dan Inggris (wah bang Ivan Lanin ga suka nih). Jadi walaupun buku ini ada 179 halaman, mungkin bisa dengan mudah dihabiskan dalam satu kali duduk, walaupun saya membacanya dalam 3 hari di sela-sela menyusui anak kalau tidak ketiduran.

Saya salut sekali dengan penulis yang mau berbagi proses hijrahnya melalui buku ini. Apalagi jika kita pernah di kutub berkebalikan, pasti akan terasa sekali bedanya dan betapa hidayah itu indah. Beda dengan saya yang memang sudah terkondisikan kondusif dari kecil, tapi ya begini-begini aja. Suka kagum sendiri sama orang yang misalnya dulu ajep-ajep sosialitas, berubah jadi berhijab dan sholehah... Duhhh mantappp...

Logikanya gini nih, kalau yang cerita pengalamannya mantan preman kan dia jadi bisa kasih insight betapa ga bagusnya jadi preman dan mengapa kita harus bertobat dan beriman. Karena fitrah manusia kan suka wondering what's on the other side. *mulai otoy deh sum*

Jadi, jika anda merasa ada yang kurang dalam hidup padahal semuanya terasa sudah sempurna, atau sedang dalam kesulitan yang rasanya tidak ada jalan keluarnya, atau simply ingin baca buku ringan namun berfaedah, This book is for you!

Happy Reading :)


Minggu, 17 Februari 2019

Review Buku: Buku Anak oleh Maurice Pledger

review buku maurice pledger

Semenjak punya anak, saya punya hobi baru yaitu beli buku anak-anak. Apalagi sekarang makin sering pameran buku impor (read: Big Bad Wolf dan semacamnya) di Indonesia, buku anak impor menjadi lebih murah dan terjangkau. Bukan berarti buku lokal tidak bagus ya.


Kali ini saya akan mengulas 3 judul buku anak yang ditulis oleh Maurice Pledger. Bagi ibu-ibu yang sering ikutan grup jastip (jasa titip) bbw pasti familiar dengan buku-buku seperti Sounds of the Wild (SOTW) dan Seashore yang sering jadi rebutan. SOTW dan Seashore ini cenderung seperti ensiklopedia, saya punya 1 buku sejenis ensiklopedia oleh Maurice Pledger juga judulnya Explore Bugs. 


bugs maurice pledger

Ketiga buku ini bentuknya boardbook dengan jumlah 16 halaman jadi cenderung aman dari robekan, kecuali di halaman terakhir ada halaman tambahan yang menggunakan art paper tebal serta bagian lift the flap. Di setiap cover terdapat touch and feel sedangkan pada bagian dalam terdapat lift the flap setiap 2-4 halaman.

1. Ping-Ping Panda's Bamboo Journey


ping ping panda's bamboo journey

Isi ceritanya adalah tentang Ping-Ping si bayi panda yang kelaparan dan mencari bambu untuk di makan. Ping-ping ditemani oleh teman-temannya yang ia temui di jalan dalam mencari pohon bambu. Dari buku ini saya belajar bahwa red panda itu tidak sama dengan racoon dan mengenal hummingbird dan kingfisher. Iyah, saya ikutan belajar sama anak saya. Dulu perbendaharaan burung, cuma tau elang, kakaktua, gagak, gereja, merpati, sekarang makin banyak.

ping ping panda's bamboo journey

 2. Daisy Duckling's Adventure


daisy duckling's adventure

Buku ini menceritakan tentang anak bebek yang baru saja menetas dan mencari saudara-saudaranya. Dia bertemu dengan binatang-binatang lain yang juga baru menetas dari telur. Dari buku ini saya baru tau kalo cygnet artinya anak angsa!

daisy duckling's adventure

 3. Billy Bunny and the Butterflies


billy bunny maurice pledger

Yang terakhir berisi tentang Billy si Kelinci yang penasaran seperti apa rupa kupu-kupu. Saya belajar berbagai macam hewan pengerat dan jenis bunga.


Sebenarnya ketiga buku ini pola ceritanya sama, mencari sesuatu dan bertemu dengan binatang yang lain. Hanya apa yang dicari dan binatangnya saja yang berbeda. Binatang yang ada di buku Ping-Ping Panda contohnya ada red panda, hummingbird, kingfisher, mole, dan lain-lain yang jujur kadang saya bingung bahasa Indonesianya apa yaaa... Jadi saya ikut belajar dan mencari tau agar bisa menerangkan binatang tersebut ke anak.

Selain ketiga buku ini, ada seri serupa oleh Maurice Pledger judulnya Bobby Bear and the Honeybees serta Dottie Dolphin Plays Hide and Seek. Saat post ini ditulis, bukunya baru saja saya pesan ke teman di Malaysia, hehehe. Saya sendiri memang suka mengkoleksi buku anak, jadi walaupun setipe tetap saya beli.

Setelah sering membaca buku anak, ada satu yang saya sadari pada buku anak luar negeri. Yaitu biasanya huruf depan nama tokoh binatang akan sama dengan binatang itu, contohnya: Ping Ping Panda, Daisy Duckling, Billy Bunny. Mungkin kalau saya bikin cerita binatang nanti namanya Bambang Badak, Jojon Jerapah, dan Gigin Gajah kali ya, hehehehe

Rekomendasi umur di belakang buku ini sendiri sebenarnya 3 tahun ke atas, tapi anak saya Caca (10 bulan) dan Ammar (2.5 tahun) sangat suka dibacakan buku ini. Jadi menurut saya sepertinya dari 1 tahun pun tidak apa asal dengan pendampingan.

Jadi tertarik untuk menambahkan karya Maurice Pledger ke wishlist BBW kamu? 


Rabu, 23 Januari 2019

Review Buku: The Danish Way of Parenting

Jiahh, belum apa-apa daku sudah utang hampir 3 post di bulan ini. Baru bulan Januari dan target blogging yang ditentukan oleh diri sendiri tidak dipenuhi. Hadeuhhhh.

Pada post pertama di tahun 2019 ini, saya akan mereview buku yang cukup populer di trimester akhir 2018 lalu. Saking lakunya, bahkan penerbit menaikkan harga buku tersebut dari 49.000 menjadi 59.000. Buku itu berjudul "The Danish Way of Parenting".


Apa yang membuat buku ini berbeda dengan buku parenting lainnya? Baca post ini sampai akhir yaa.

Judul: The Danish Way of Parenting (Rahasia Orang Denmark Membesarkan Anak) 
Penulis: Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl
Penerbit: Bentang Pustaka 
Tahun Terbit: 2016 (edisi asli) 
Cetakan I edisi Terjemahan: April 2018
Jumlah Halaman: 180


Semenjak menjadi orang tua, barulah saya sadar bahwa pengasuhan menjadi dasar penting hidup seorang anak. Bahkan hal ini akan mempengaruhi suatu generasi dan masa depan suatu negara. Kayanya lebay ya, tapi tidak. 

Sudah lama saya ngefans sama negara-negara di Skandinavia yang selalu menduduki peringkat teratas dalam survey kebahagiaan. Selain itu kebijakan-kebijakan yang mereka miliki pun sangat family friendly, seperti maternity leave yang panjang, paternity leave untuk ayah agar bisa turut membantu Ibu, penitipan anak subsidi pemerintah yang berkualitas dan lain-lain.

Terwujudnya buku ini bermula dari penasarannya Jessica, seorang kewarganegaraan Amerika yang memiliki suami orang Denmark, tentang "Apa yang menjadikan anak-anak (dan orang tua) di Denmark, orang paling bahagia di bumi?" Bersama dengan Iben yang seorang psikoterapis dan Ibu di Denmark, mereka melakukan penelitian yang kemudian dituliskan dalam buku ini agar lebih banyak orang yang mendapatkan manfaat dan bisa belajar dari cara orang Denmark membesarkan anak-anaknya.

Buku ini sendiri terbagi menjadi 6 bagian yang bisa disingkat dengan kata PARENT ditambah dengan 1 bagian pendahuluan tentang fakta yang ada di belahan dunia lain (khususnya Amerika).


Pada bagian Play dijelaskan bagaimana pentingnya bermain untuk anak-anak sebagai proses belajar kita. Bahkan sebenarnya lebih baik lagi jika mereka dibiarkan main bebas di luar rumah dengan pengawasan kita daripada playdate atau kegiatan bermain yang sudah diatur. (Bagian ini nih, iri banget sama eropa yang dikit-dikit ada playground gratisan buat dimainin anak-anak, di Indonesia kita mesti ke Emol.. Hiks). Beberapa penelitian bahkan menyimpulkan bahwa bermain mempunyai dampak langsung pada semua kemampuan beradaptasi dalam kehidupan. (FUN FACT: Lego asalnya dari Denmark loh)

Pernah dengan Hans Christian Andersen? Penulis terkenal dari Denmark dengan karya terkenalnya seperti The Ugly Duckling dan The Little Mermaid. Tahukan anda sesungguhnya cerita dongen yang sampai dan sering dibacakan di kita atau difilmkan Hollywod memiliki akhir cerita yang berbeda dari aslinya. The little mermaid misalnya sebenarnya dia tidak mendapatkan pangeran dan berubah menjadi buih lautan karena kesedihan. Ya, orang Denmark percaya bahwa tragedi dan kesedihan bukanlah untuk ditutup-tutupi atau hindari, karena dengan adanya itulah membuat mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki.

Bab Authenticity membahas bagaimana membesarkan anak secara natural agar dia dapat mengenali dan menerima semua emosi sejak dini. Hal ini selaras dengan fitrah based parenting yang mengatakan bahwa pada usia 2-7 tahun yang harus diasah adalah otak emosi. Salah satu kesalahan yang saya suka lakukan adalah, overpraised. Terlalu memuji anak tidaklah disarankan karena bisa menyebabkan fixed mindset, contohnya biasanya terjadi pada anak yang selalu dipuji cerdas (secara effortless, alias pinter dari sononya), ini bisa membuat anak justru tidak mau mencoba terlalu keras karena seakan jadi tidak pintar. Heuuuu, jleppp ini kayanya aku banget si fixed mindset. Dari kecil dibilang pinter, sedangkan adikku selalu dibilang tidak sepintar kakak tapi rajin dan gigih, jadilah ia growth mindset. Jreng-jreng, Now I'm a broke and dull mother, and she holds master degree from abroad and allowed to be working online from Indonesia because they need her. Intinya, kalau mau memuji, pujilah prosesnya.

Pada bagian Reframing, kita diajarkan untuk optimis namun realistis. Kita juga diingatkan untuk tidak seenaknya memberikan label negatif pada anak karena ketika label itu diulang terus menerus mereka akan mulai mengasosiasikan dirinya dengan label tersebut dan mengambil kesimpulan identitas darinya. Semenjak saat itu, saya sabar dan tahan-tahan banget jangan sampai keluar perkataan dengan kata mengungkung seperti "Ammar Bandel" kalau dia lagi bertingkah tapi "Ammar Anak Sholeh mana yaaa".

Nilai Empati sudah ditanamkan pada anak-anak Denmark semenjak kecil. Mereka dikenalkan dengan berbagai emosi semenjak preschool, sampai dengan pengaturan halus sedemikian rupa agar anak-anak dengan kelebihan dan kekurangan berbeda bisa belajar dan mengatasi masalah bersama. Empati adalah salah satu faktor paling penting untuk menjadi pemimpin, pengusaha, manajer yang sukses, dan peran penting lainnya.

No-Ultimatums. Pada bagian ini banyak dijelaskan ketidakefektifan dari hukuman fisik pada parenting. Selain itu tipe pengasuhan di Denmark sangat demokratis. Peraturan ditetapkan, namun mereka responsif dan terbuka jika anak pertanyakan. Bahkan di sekolah, setiap tahun murid dan guru duduk bersama berdiskusi peraturan apa yang ingin diterapkan untuk menciptakan kelas yang baik. Di Denmark, lebih banyak waktu dihabiskan untuk bagaimana cara menghindari masalah,  bukan bagaimana menghukum. Ingat, yang salah itu perilakunya, bukan anaknya. Selain itu, orang tua Denmark juga tidak langsung turun tangan jika anaknya mengalami kesulitan, sang anak dibiarkan sendiri dulu untuk mencoba mengatasi masalahnya. 

Togetherness (Kebersamaan) dan Hygge (Kenyamanan) untuk bab terakhir ini saya yakin sebenarnya hal ini mirip dengan di Indonesia yang sejatinya tidak seindividualistis negara barat. Keluarga berkumpul, saling akrab dan menikmati kegiatan bersama seperti main game, makan, bercengkrama dan lain-lain. Remember when you replace I with We, even Illness become Wellness. 

Dan seperti layaknya buku parenting pada umumnya, semua hal dikembalikan lagi ke orang tua. Ingin anaknya baik ya contohkan yang baik. Tidak ingin anak mudah meledak dan marah-marah, ya jangan lakukan hal yang sama. Saya jadi suka ingat-ingat ini kalau sudah mau marah dan teriak sama Ammar, anak saya yang pertama, karena saya ga mau dia melakukan hal yang sama.

Di bagian akhir buku ini mencantumkan sekitar 30 halaman daftar sumber rujukan dan penelitian yang penulis gunakan sebagai referensi. Ahhhh, saya suka sekali karena jadi ilmiah dan bukan "sekedar pengalaman". Salah satu yang jarang ditemukan di buku parenting Indonesia.

Dan sudah tentunya review dan resensi singkat dari saya ini masih kurang dan lebih afdol lagi kalo beli bukunya. Saya jual loh di IG @sabooks.id isinya kumpulan buku yang saya rekomendasikan dan jual dengan harga diskon selalu.

Semoga bermanfaat 😁😚