Tampilkan postingan dengan label real life talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label real life talk. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Januari 2021

Ketagihan Tantangan

Adakah yang ketagihan tantangan juga seperti saya?

Tantangan bagi saya menjadi sebuah dorongan untuk mencapai suatu target. Tantangan atau challenge biasanya ramai ditetapkan sebagai bagian dari resolusi tahun baru kita. 

Berikut beberapa tantangan yang saya ikuti:

1. Reading Challenge Good Reads
2021 adalah tahun ketiga saya menetapkan target minimal buku yang dibaca. Alhamdulillah setiap tahun bisa tercapai. 2019 saya menargetkan 18, pada 2020 naik menjadi 24. Di tahun 2021 ini saya tidak menaikkan target karena saya harus berbagi waktu dengan kesukaan saya yang lain di bawah ini. 


2. Running Challenge and Other Digital Badge Strava
Baru join di bulan September, saya menjadi lebih termotivasi untuk aktif setelah bergabung Strava. Kok bisa? Alasannya sepele, trophy digital yang mejeng di profil kita setiap kita menyelesaikan sebuah tantangan. Awal bergabung bisa menyelesaikan 5km dalam satu kali lari sudah Alhamdulillah. Lama-lama menjadi easy run dan naik ke 10 km. Lalu mulai mencoba menargetkan lari 100 km dalam waktu 1 bulan. Wah senang rasanya. 


3. Mental Health and Wellness di Grup Mengaji
Nah kalo yang ini motivasinya adalah stiker whatsapp. Kok cetek banget sih sum 🤣 Sebagai sarana pengingat amalan sunnah dan hidup aktif, kami sepakat untuk saling mengingatkan. Ditambah stiker eksklusif yang bisa digunakan jika ceklis kegiatan sudah dilakukan. Seperti ini
Challenge berkaitan anak sih, saya ga ada. Pasrah sajaaa... No pressure. Namun untuk diri saya sendiri, saya ikuti banyak challenge agar bisa mendapatkan manfaat dan endorfinnya. Ingat ingat, ibu yang bahagia kunci kebahagiaan di rumah. 

Hmmm apakah ada usul saya harus ikutan challenge apa? 

Senin, 31 Desember 2018

Ammar dan Speech Delay



Long read, karena rada curcol yaaa 😃

Salah satu kekhawatiran mommy-mommy saat anaknya berusia di bawah 1 tahun adalah kalau anaknya belum bisa jalan.

Sedangkan kalau anaknya berusia di bawah 2 tahun, yaitu kemampuan bicaranya.

Ya nggak? Padahal red line sih belum tapi kok jadi cemas ya liat anak teman udah bisa ini itu.

Begitupun dengan saya. Saat itu Ammar berusia 15 bulan ketika saya mulai resah kenapa kemampuan berbicara Ammar menghilang. Dari yang sebelumnya babbling, sempat manggil ayah sampai akhirnya cuma seperti menggumam dan enggan berbicara. Ammar mengerti dan paham apa yang kami ucapkan namun orang di sekitarnya tidak mengerti apa yang dia maksud sehingga hal ini membuatnya mudah ngambek dan marah. 

Saya teringat dengan denver developmental chart yang sering dijadikan acuan tumbuh kembang anak, dan memang kemampuan berbicara Ammar menghilang dan sama seperti anak 9 bulan. Dari hasil googling sana sini dan baca blog orang (lupa blognya yang mana) lebih baik segera periksakan anak ke klinik tumbuh kembang, karena jika ternyata ada masalah dan anak belum berusia 2 tahun akan lebih mudah terapi dan penyembuhannya.

Akhirnya mendaftarlah saya pada bulan Desember 2017 di Klinik Tumbuh Kembang salah satu Rumah Sakit swasta di Depok. Bukan main, untuk pemeriksaan awal saja harus waiting list selama 3 bulan. Klinik sangat penuh karena mereka juga menerima pasien BPJS dan tidak ada pengkhususan untuk yang umum. Oh iya perlu diingat untuk pengguna asuransi swasta yang biasanya disediakan kantor, sebagian besar tidak menanggung biaya untuk tumbuh kembang, jadi pastikan dengan kantor atau provider asuransi anda.

Yang ditunggu pun tiba, 3 bulan sudah dan akhirnya giliran janji temu Ammar dengan dokter di klinik tumbuh kembang. Saat itu saya sedang hamil besar kira-kira week 35 atau 36 dan tentunya cukup stres seakan inilah drama si kakak saat hamil si adek.

Di ruang tunggu klink tersebut, kamu mengamati anak-anak lain. Rata-rata memang hiperaktif, kesulitan konsentrasi, dan lain sebagainya usianya rata-rata sudah 3 tahun ke atas atau sudah umur playgroup. Ada juga yang memang diterapi karena kelainan bawaan seperti down syndrome, microcephaly, autisme.

Keputusan saya membawa Ammar ke klinik tumbuh kembang (tumbang) dinilai lebay oleh orang tua saya. Ketika saya melihat kondisi anak-anak di tumbang pun ada perasaan "duh lebay ga yaa.. Jangan-jangan dah capek-capek waiting list 3 bulan, dokternya pun bilang ga kenapa napa"

Khusus untuk ke tumbang ini, suami saya yang bekerja di luar kota, pulang dan mengambil cuti. Masuklah kami ke ruangan dokter. Ada 2 dokter yang menganalisa ditemani 1 perawat. Di dalam ruangan, Ammar diajak bermain, dites apakah bisa menyusun (stacking), jika dipanggil menoleh atau tidak, bagaimana konsentrasinya, bisa memenuhi perintah atau tidak, dan lain sebagainya. Sedangkan kami sebagai orang tua harus menjawab banyak pertanyaan tentang perilaku dan tumbuh kembang Ammar sehari-hari.

Diagnosanya: Ammar memiliki gangguan sensori integrasi dengan kecenderungan yang bisa mengarah ke ADHD (Attention Deficit/Hyperactive Disorder). Waktu itu Ammar berumur 18 bulan. Untuk checklist periksa sendiri apakah anak gangguan sensori integrasi atau tidak, bisa lihat di sini ya. Kami pun diberi list stimulasi yang bisa dilakukan sendiri di rumah dan disarankan untuk mengambil terapi Sistem Integrasi terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan Okupasi Terapi. Tapi untuk diagnosa saja kami menunggu 3 bulan, untuk terapi jadwalnya penuh berbulan-bulan. Susternya sendiri pun tidak bisa memberikan jadwal dan lebih menyarankan untuk mencari ke klinik di luar.


Agar diagnosa lebih menyeluruh, Ammar juga dirujuk ke dokter kejiwaan yang ada di Rumah Sakit yang sama. 

Sepanjang jalan pulang dari dokter tumbuh kembang, pikiran saya hanya memutar balik percakapan yang terjadi di ruang dokter tadi. Jujur saya tidak terima karena rasanya ada yang mengganjal, seperti:
  • Di rumah, Ammar dengan mudah melaksanakan perintah yang kami berikan. Namun di Rumah Sakit kan tidak semudah itu, apalagi yang menyuruh bukan orang yang dikenal.
  • Dokter menanyakan pertanyaan seperti "sudah bisa naik tangga". Kami jawab "sudah, tapi masih pegangan pinggir tangga". Dokter "oh berarti belum bisa ya". 😐😐😐😐 (Belakangan saya malah nemu di poster kesehatan, naik tangga tanpa pegangan itu ada di milestone anak 3 tahun, lagian coba bayangin kalau tangganya 1/3 tinggi badan kita, emangnya ga pegangan?)
  • Saya juga bilang bahwa Ammar anaknya sangat hati-hati bisa menilai bahaya. Jika kita taruh di pinggir tempat dengan elevasi maka dia akan diam tidak bergerak atau memanggil orang. Tanggapan dokternya: "itu kan menurut Ibu, orang tuanya"
  • Selama wawancara kami mencoba menjawab sedetail dan sejujur mungkin namun terkadang dokter seperti tidak percaya.
Sedangkan di dokter jiwa (horor bener kann kayanya anak saya gila 😣) saya tak ingat betul selain saya memahami kesalahan saya yaitu anak terpapar screentime terlalu lama dan anak suka tidur terlalu malam sehingga hormon pertumbuhannya tidak optimal. Ditambah lagi dokter jiwa merasa bahwa ukuran kepala Ammar "unusually big" jadi disarankan untuk diperiksa. Atas saran dokter anak langganan, saya disarankan untuk memeriksakan Ammar ke dokter syaraf anak di Cinere (daerah Depok tidak ada, Cinere walaupun Depok tapi bukan Depok karena jauh.. halahhh apa sihh).

Dokter syaraf anak di Cinere ini termasuk yang terkenal sepertinya karena dari hasil googling banyak yang menyebutkan nama beliau (inisial nama depannya I). Waktu itu pun cukup antri, walaupun dokternya juga agak telat, praktek jam setengah 7 datangnya jam 8, dan Ammar baru dipanggil jam 10 (saat itu Salsa sudah lahir dan berumur 2 minggu). Dan salah satu yang bikin kecewa adalah, selama di ruangan, dokternya tidak pernah sama sekali melakukan kontak mata atau menengok ke arah anak kamu. Untuk mengetes respon Ammar, sang dokter menyuruh susternya untuk memanggil anak saya, dan tentu saja Ammar tidak langsung menengok karena sedang sibuk main pelosotan yang memang disediakan di dalam ruangan dokter tersebut. :| Jujur ilfeel berat sama dokternya.

Hasil dari dokter syaraf anak ini adalah rujukan untuk melakukan CT Scan yang sampai sekarang tidak berhasil karena anaknya selalu terbangun dan menangis ketika ditaruh di alatnya walaupun sudah diberikan obat tidur. Selain itu Ammar juga diberikan resep obat racikan untuk membantu konsentrasinya yang ternyata obat cukup keras sehingga saya hanya menebusnya tapi tidak pernah saya berikan ke anak saya.

Karena mendapatkan jadwal terapi tidak mudah ditambah saran dari beberapa teman, kami memutuskan untuk dimaksimalkan saja di rumah dulu dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Strict no gadget dan ini berlaku juga kepada yang sedang mendampingi
  • Lebih aktif mengajak Ammar main bersama dan mengobrol
  • Mengusahakan Ammar tidur siang tidak kesorean, dan tidur tidak lebih dari jam 9 
  • Beralih dari buku anak tipe spotting ke yang ada jalur ceritanya

Sungguh saya bukannya anti gadget, dan saya tau banget gimana rasanya hopeless anak susah makan. Sebelumnya ada perasaan denial akan pengaruh youtube kepada kemampuan berbicara. Masih ada sedikit perasaan "ahh semoga anakku seperti anak si X yang walaupun kena screen time banyak tapi tetap bisa ngomong". "ahh enak ya jadi orang luar negeri yang mother languagenya bahasa Inggris, jadi resiko gagap bahasa berkurang, kan video anak yang lucu-lucu banyaknya dalam bahasa Inggris", dan lain sebagainya. 

Kenyataannya, memang secara statistik 40% anak dengan screen time tinggi mengalami keterlambatan berbicara apalagi jika terpapar pada usia di bawah 2 tahun. Dampak yang ditimbulkan biasanya:
  • Bingung bahasa - bisa dilihat bahwa sebagian besar konten youtube anak yang menarik adalah berbahasa Inggris. Sedangkan orang di sekitar anak berbahasa Indonesia.
  • Berkurangnya konsentrasi dan cepat bosan
  • Lebih mudah marah
Pada usia 21 bulan, Ammar ditawari menjadi volunteer di kelas anak FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI yang sedang membahas tentang tumbuh kembang oleh tantenya (adik saya). Tentu saya bersedia apalagi ini gratis dan saya perlu second opinion tentang kondisi Ammar. Di kelas tersebut, Ammar diajak bermain dan saya sebagai orang tua ditanyai beberapa pertanyaan mengenai Ammar yang tidak bisa dijawab hanya dengan melihat Ammar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan KPSP IDAI (Kuesioner Pra Screening Perkembangan Ikatan Dokter Anak Indonesia).


Contoh Pertanyaan Untuk Ammar saat itu

Hasilnya?

Alhamdulillah tahap perkembangan Ammar masih sesuai dan tidak mengkhawatirkan. Setidaknya saat itu Ammar mempunyai lebih dari 3 kata yang memiliki arti. KPSP yang saya sebutkan di atas dapat digunakan sampai anak berusia 72 bulan atau 6 tahun loh sehingga bisa dipakai dan dievaluasi sendiri sebelum memutuskan untuk membawa anak ke klinik tumbuh kembang.

Jujur, rasanya berbeda sekali saat diperiksa dokter dengan saat diperiksa perawat. Pendekatannya itu loh... lebih intim dan bersahabat dengan perawat. Tanpa bermaksud mengeneralisir, tapi dokter yang saya temui seakan waktunya sangat berharga dan ingin secepatnya mengakhiri sesi dengan pasien dengan memberikan diagnosa yang terlalu terburu-buru.

UPDATE Ammar Sekarang?

Sesungguhnya draft blogpost ini sudah ngejogrok dari Bulan Agustus saat Ammar berusia 2 tahun (24 bulan). Sekarang Ammar sudah 28 bulan. Ammar sendiri mengalami ledakan bahasa pada usia kurang lebih 22-23 bulan. Setelah ini tahapannya sangat cepat, mulai dari kalimat lengkap terdiri dari S-P-O (Subjek, Predikat, Objek), sampai penggunaan pada konteks yang tepat dari sih, kok, oh, dong, dan kata-kata lain yang tidak memiliki arti tapi biasa kita ucapkan sehari-hari. Ammar pun sekarang sudah gemar menceritakan kembali cerita yang dibacakan atau kejadian yang dia alami sehari-hari. Yup, sudah memasuki tahap "ember" dan suka ngadu.

Kesimpulannya?

Dari pengalaman saya di atas, ada beberapa poin yang perlu dievaluasi orang tua apabila anaknya mengalami keterlambatan bahasa sebelum memutuskan memeriksakan anak ke klinik Tumbuh Kembang.


1. Cek Screen timenya

Menurut saya ini adalah yang perlu dicek pertama kali saat anak mulai terlihat "lambat berbicara". Saatnya jujur dengan diri sendiri. Mungkin ibu pekerja yang menitipkan anaknya dan tidak bisa berbuat banyak saat yang dititipkan memberikan screen time, atau ibu rumah tangga yang cukup desperate untuk bisa mengatur dan membereskan hal lain, atau bahkan taktik agar anak bisa makan? Percayalah, I've been there, done that! Berdasarkan saran batasan screen time dari American Academy of Pediatrics, untuk anak di bawah 18 bulan sebenarnya belum boleh kecuali untuk video call. Di atas 18 bulan perlu pendampingan dan seleksi akan program yang disungguhkan, sedangkan 2 tahun ke atas tetap perlu pendampingan dengan batas maksimal screen time selama 1 jam per hari.

Untuk anak saya yang ke-2, caca, sudah saya terapkan hanya video call saja. Dulu beberapa teman saya pernah post tentang anaknya yang sedang bermain di dekat TV tapi tidak menunjukkan ketertarikan/terhipnotis TV, ya usianya sekitar 2 tahunan memang tapi mereka memang tidak terpapar semenjak kecil. Saya sempat skeptis, MANA MUNGKIN. Ternyata mungkin, karena caca sekarang pun masih lebih memilih asyik dengan mainannya dibanding melihat ke layar TV.

Kalaupun memang sangat terpaksa, menurut pengalaman saya TV dengan tontonan berbahasa Indonesia memiliki dampak buruk yang lebih ringan dibandingkan youtube bahasa Inggris di Gadget/HP saat anak masih belum bisa berbicara. Layar gadget yang lebih kecil, cenderung membuat anak menjadi lebih terpaku dan fokus kepada layar.

2. Interaksi dan Dialog?

Siapa yang suka main HP di saat menyusui? CUNG, SAYA! Tanpa sadar hal itu membuat saya kurang melakukan interaksi dan mengajak anak saya berbicara. Rajin-rajinlah mengajak bayi anda berbicara, mulai dari mendeskripsikan apa yang sedang anda lakukan, mengajaknya bercanda, sampai memberikan pertanyaan retorika. Stimulasi seperti ini membantu anak dalam merespon, mulai dari sederhana lama kelamaan menjadi lebih kompleks seperti berbicara :)

Jadi tunggu lah sampai anaknya tertidur yaa.. Walaupun kadang saya suka senewen sendiri, anak ngga tidur-tidur padahal saya ada perlu di HP. But then I came with a conclusion, it's not only their addiction we want to avoid, it's our addiction we have to overcome!

Oh iya, dengan sering melakukan interaksi dengan anak, kita juga bisa mengetahui dan lebih peka, kalau-kalau anak memiliki tanda-tanda autisme. Karena tanda-tandanya bisa dilihat dari usia 6-12 bulan, dan diagnosanya bisa tegak pada umur 18 bulan.

3. Bagaimana tekstur makanannya?

Pada beberapa kasus, oromotor (oral motor) menjadi penyebab keterlambatan anak berbicara. Kepiawaian ibu dalam menentukan kapan anak bisa naik tekstur makanan sangatlah penting. Salah-salah, jika telat, anak akan terbiasa memakan makanan dengan tekstur yang lembut padahal umurnya sudah cukup sehingga oromotornya tidak terlatih dan menghambat kemampuannya berbicara.


Sekian pengalaman saya dan tanpa niat untuk menggurui. Semoga bisa diambil hikmahnya dan terhindar dari kestressan yang saya alami.




Selasa, 18 Desember 2018

5 Hal yang Belum Kesampaian



Kyaaa, utang post ku membludakk nih... Selain ada godaan harbolnas, topiknya makin susah euy.. Perlu renungan khusus soalnya.

1. Pergi Umrah/Haji

Yang ini sih udah jelas ya, pengen banget. Sudah pernah saya sampaikan di post hari ke 13 tentang kota wisata impian bahwa saya pengen banget bisa umrah untuk pertama kalinya tapi masih terhalang oleh beberapa hal seperti dana dan anak-anak, hahaha... Semoga diberi kesempatan untuk berkunjung ke sana suatu hari nanti.

BACA JUGA: Sudah ke New York Tapi Belum ke Mekkah!

2. Memulai Usaha dengan Produk dan Brand Sendiri

Nah ini diaaa... sudah lama saya sangat ingin membuat produk dengan brand sendiri. Ide sih udah banyak, bahkan sempet corat coret Business Model Canvas, tapi realisasinya sampai sekarang masih belum. Duh lagi-lagi, excuse saya apalagi kalau bukan, anak. Cupu banget saya, padahal di luar sana banyak mompreneur, tapi kok saya masih belum bisa membagi waktu ya. Kadang buat mau pup dengan tuntas dan tenang saja susah, apalagi memulai bisnis baru. 

Source

Saat ini sebenarnya saya sudah mulai jualan kecil-kecilan. Biasanya yang saya jual adalah produk-produk yang saya suka atau produk-produk yang bisa saya jual di bawah harga pasar. Jadi value proposition di toko saya adalah kalau beli, ngga rugi karena lebih murah. Tapi era persaingan online lewat marketplace macam shopee itu benar-benar melelahkan. Kadang hanya ambil untung seribu rupiah agar produk kita menarik orang. Bedanya, saya toko kecil yang sudah tidak star seller lagi semenjak lahir anak kedua, dan saya harus bersaing dengan toko besar. Misalnya saya ambil untung seribu saja, toko besar mungkin tidak berbeda jauh namun volume penjualannya besar. Oleh karena itu, saya ingin punya produk sendiri yang beda dengan orang lain sehingga lebih fleksibel untuk saya menentukan harga. 

3. Membuat bangga orang tua

Saya sadar banget bahwa sebagai anak pertama dari sembilan bersaudara yang sudah hidup selama 28 tahun, saya belum bisa buat bangga orang tua. Kata-kata yang paling sering saya dengar dari orang tua saya: 

"Sebenarnya kakak pintar... "
"Sebenarnya kakak mampu..."
"...Sayang potensinya"

Iya, saya anak yang gagal. Karir tidak, keluarga pun masih engap-engapan mengurusnya. Selama ini saya terbiasa "beruntung". Saya bisa masuk perguruan tinggi negeri yang memanggil mahasiswanya dengan sebutan "putra-putri terbaik bangsa" pun sepertinya saya beruntung karena saya tidak bersusah payah. Namun karena terbiasa tidak bersusah payah membuat daya juang saya mungkin tidak terlalu tinggi sehingga apa yang saya lakukan dan jalani tidak ada yang istimewa, mediocre

My precious

Sampai saat ini, saya masih "memerangi" diri saya sendiri untuk berdamai dengan peran yang harus saya jalani sekarang: menjadi seorang Ibu. Saya ingin suatu saat nanti saya bisa mulai "terbang" kembali dan membuat orang tua saya bangga. 

4. Anak-anak menjadi anak yang sehat dan sukses

Ada banyak waktu dimana saya merasa gagal seperti yang saya sampaikan pada poin di atas, saya merasa terkekang. Saya ga mau kalah dua kali, biarlah pengorbanan saya saat ini akan berbuah manis bagi anak-anak saya kelak. Semoga mereka menjadi anak yang baik hati dan budi pekertinya, pintar, serta sukses dunia dan akhirat. Untuk jangka pendek ini saya harap mereka bisa makan dengan lancar serta sehat dan bagus tumbuh kembangnya. :p


5. Menjadi Istri Sholehah

Saya tahu saya jauh sekali dari kriteria istri ideal apalagi trophy wife. Berkali-kali entah hanya candaan atau tidak, tapi suami saya seperti menyesal dan apes dapet saya. Huhuhu... Ya mungkin ada benarnya juga sih, karena setiap saya kesal apapun penyebabnya, yang kena ya suami. Belum lagi, saya tidak pintar memasak dan juga tidak bisa memijit. Duh sebagai istri kayanya saya ga ada bagus-bagusnya. 

BACA JUGAEat, Read, Pray, Love, and Learn

Beberapa waktu yang lalu saya baca artikel tentang banyaknya perceraian di usia tua ketika anak sudah dewasa. Salah satu penyebabnya adalah karena terlalu mengutamakan anak-anak sehingga mengesampingkan pasangan, padahal anak-anak akan membangun keluarganya sendiri, tapi pasangan (Insya Allah) seumur hidup.  Saya akan mencoba untuk mengendalikan emosi saya dan menjadi istri yang lemah lembut terhadap suami. Taat juga tentunya, ga marah-marah kalau suami minta bikinin mie goreng di tengah malam. Saya akan mencobanya. Doakan saya berhasil ya. Aamiin...

My little family

Minggu, 09 Desember 2018

Libur? Apaan Tuh

Libur? Apaan Tuh... Apalagi buat yang stay-at-home mom kaya saya yang kadang ini hari apa aja suka skip. Yang lebih diingat, ini tanggal muda atau tanggal tua. Hehehehe... Tapi plis, jangan anggap kita kaya liburan tiap hari ya. Repotnya sampai-sampai post power syndrome pasca resign kadang muncul sampai pengen banget balik kerja lagi.

Ok, to be fair, akhir pekan dalam hidup saya berbeda dari hari kerja. Karena sehari-hari saya mengurus semuanya sendirian, di akhir pekan setidaknya ada "bantuan" dari suami saya. Apa saja perbedaan hari kerja dan akhir pekan saya:

1. Bisa Mandi Sendirian

Ini termasuk mewah banget loh buat saya. Kalau di hari-hari biasa, cara yang paling memungkinkan untuk saya mandi adalah jika saya mandi bareng anak-anak. Mandi bukanlah prioritas utama, tapi yang namanya panggilan alam kan desakan hidup ya. Tidak jarang saya memenuhinya sambil gendong anak saya pakai SSC (soft structure carrier). Tetapi kalau suami sedang libur, ya lumayan lah ada kesempatan satu kali untuk mandi sendirian. Itupun biasanya tetap diintipin anak dari bawah pintu atau ditungguin suami sambil gendong anak. 

2. Penyaluran Energi Anak

Di akhir pekan, biasanya kami mengajak Ammar berenang untuk buang energinya yang terpendam. Maklum, saya harus megangin Caca jadi di hari biasa saya tidak bisa mengajak Ammar berenang sendirian dan harus menunggu suami libur. Tujuan utamanya sih ya supaya Ammar makan lahap. 

3. Waktunya Belanja Kebutuhan

Ibu-ibu pasti paham kalau promo supermarket itu biasanya ada di hari Jumat-Minggu. Biasanya mendekati hari Jumat saya mengecek katalog promosi beberapa supermarket (kalau di Cirebon: Yogya dan Superindo) dan membandingkan mana yang paling menarik dan memang diperlukan untuk dibeli. Promo popok juga biasanya ada di promo akhir pekan.

4. Bersilaturahmi ke Tempat Mertua 

Ini bagian favorit aku dong *pencitraan*. Karena sekarang kami tinggal di Cirebon dan mertua tinggal di Majalengka, maka beban moril untuk lebih sering berkunjung menjadi lebih besar. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu dekat, sekitar 60 km dan dapat ditempuh dalam waktu 1-1.5 jam. Di Majalengka biasanya Ammar jadi bisa main di sawah, liat kambing dan hewan ternak lainnya. Problema di kota besar seperti Depok contohnya, mau liat hewan ternak aja mesti lewat eksibisi di mall dan bayar pula. Hihihihi. 

Seiring waktu, kami menjadi pasangan yang mulai jompo. Jadi 2 hari di akhir pekan itu, hanya 1 saja yang digunakan untuk beraktifitas, yang 1 harinya lagi biasanya tidak dipakai untuk keluar rumah. Aslinya mah kangen gegoleran doang seharian ga ngapa-ngapain, just netflix and chill kaya jaman belum ada bocah dulu. 

Walaupun saya menghabiskan hari-hari saya di rumah, tapi ketika libur datang, sebenarnya setiap kali ditanya suami "saya mau kemana" sesungguhnya yang paling saya inginkan adalah: "Aku mau sendiri, Me Time, sebentar aja tanpa gangguan. Menjauh dulu dari kamu dan anak-anak. Ga perlu kemana-mana, mandi berendam tanpa diketok-ketok aja udah senang banget". Am I a bad mom for wanting that?



Senin, 03 Desember 2018

Uang Kaget 100 juta! Mau diapain?




Day 14 ini temanya tentang zodiak dan apakah cocok dengan kepribadian kamu. Namun, saya sudah lama sekali tidak pernah memperhatikan hal seperti ini, mungkin terakhir pas masih ingusan di SMP. Lagipula hukum percaya zodiak sama saja seperti datang ke tukang ramal yang merupakan amalan jahiliyah, dan hukumnya SYIRIK

Jadilah saya memilih topik, apa yang akan saya lakukan jika saya diberi uang sebanyak 100 juta. Berhubung akhir-akhir ini saya baru melek finansial semenjak baca buku "Make It Happen"nya Prita Ghozie (review baca disini), saya jadi follow Instagramnya ZAP Financial (@zapfin) konsultan keuangan milik Prita. 

Untuk mengalokasikan penghasilan, bisa dengan mudah mengingat singkatannya ZAPFIN:

  1. Zakat (Sumbangan)
  2. Assurance (Perlindungan Keluarga)
  3. Present Consumption (Kebutuhan Bulanan)
  4. Future Spending (Tabungan Rencana Masa Depan)
  5. INvestment (Investasi untuk Masa Depan)

Nah berdasarkan guideline di atas, maka saya akan coba jabarkan apa yang akan saya lakukan dengan uang 100 juta tersebut (asumsi sudah nett tidak dipotong pajak oleh negara, hehehe).

1. Zakat (dan Sumbangan lainnya)

Zakat penghasilan 2,5% harus dikeluarkan dari uang hadiah ini. Selanjutnya ditambah sumbangan lainnya ke keluarga sehingga total keseluruhan untuk poin ini adalah 10% atau 10 juta.

2. Daftar Haji

Untuk mendapatkan antrian haji, kita harus menyetorkan uang terlebih dahulu. Untuk haji reguler sebesar 25 juta dan untuk haji plus 4500 USD. Tentu saja saya pilih yang reguler. Daftar berdua barang suami berarti total yang dibutuhkan adalah 50 juta.

3. Tambahan Dana Darurat (Emergency Fund)

Jumlah dana darurat yang selama ini dianjurkan adalah sebanyak 6x pengeluaran bulanan dan 12x jika sudah memiliki anak. Bolehlah saya tambahkan 10% untuk poin yang ini. Alhamdulillah, present consumptionnya semua sudah terpenuhi, kami juga tidak mau terlena "kaya sesaat". Semua harus diperhitungkan dan direncanakan dengan baik.

4. Asuransi Jiwa Murni

Baru-baru ini kami menutup asuransi unit link yang setelah dipikir-pikir cukup merugikan dan hampir tidak ada pertambahan nilainya. Ya ada sih, tapi terlalu kecil sehingga hanya untuk menutup premi kepada perusahaan asuransi. Apa bedanya dengan menabung biasa? Sebagai gantinya adalah asuransi jiwa murni yang pertahunnya berkisar 5 juta rupiah. Boleh lah dipakai untuk membayar asuransi jiwa murni untuk suami di tahun pertama. Oh iya asuransi jiwa murni biasanya diperuntukkan oleh kepala keluarga atau pencari nafkah.

5. Nabung Saham Syariah

Yang ini sih sebelumnya memang sudah kami rencanakan. Applikasi untuk pendaftarannya pun sudah diisi. Jumlah dana yang ingin kami investasikan tentu saja sejumlah uang yang "direlakan". Oleh karena itu untuk tabungan saham dicoba dulu sebesar 10 juta rupiah.

6. Beli Surat Obligasi Pemerintah (lagi)

Bulan lalu kami baru saja pertama kali membeli surat obligasi pemerintah yang bernama ST-002 (Sukuk Tabungan). Imbal yang diterima cukup menarik 8.30% pertahun (dipotong pajak 15%, nett 7.05% pertahun) dan dibayarkan setiap bulannya. Investasi jenis ini menurut saya cocok untuk yang tidak ingin uang simpanannya bocor terpakai. Selain itu tingkat imbal lebih tinggi dari tabungan rencana ataupun deposito membuatnya memiliki nilai tambah. Investasi ini bersifat jangka pendek, hanya 2 tahun lalu dikembalikan semua. Lagipula, daripada negara ngutang ke pihak asing, mending ke dalam negeri toh. Kita pun jadi berkontribusi lebih dalam pembangunan negeri. 

Ilustrasi: pembelian 10 juta misalnya. Berarti setiap tahun akan mendapatkan 705 ribu yang dibayarkan kurang lebih 58ribu setiap bulannya. Engga berasa ya kalau cuma segitu, kayanya masih lebih maknyus uangnya dibuat jualan. Ya memang, tapi kan tidak semua orang bisa aktif memutar uangnya bukan? Dan inilah salah satu cara pasifnya.

Yang kali ini kalau adalagi maka saya akan menghabiskan sisa uang yang ada yaitu 15 juta.

Demikianlah sekiranya coretan rencana saya jika mendadak dapat 100 juta rupiah. Kayanya apa-apa investasi ya sekarang mikirnya (apapun lah yang ga bodong dan riba). Soalnya kalau engga gitu, nanti cita-cita beli rumah tanpa harus lewat KPR ga tercapai-capai, ya gakkk... 

Kamis, 29 November 2018

5 Lagu Untuk yang Sedang Menunggu


Sebenarnya semenjak menjadi Ibu Rumah Tangga, frekuensi saya mendengarkan lagu sudah sangat berkurang. Paling bantar saat perjalanan di mobil, itu pun yang menang playlist suami saya, karena dia yang menyetir. Peraturannya: yang nyetir, yang lagunya dipasang.

Sebenarnya lagu-lagu cinta yang dulu saya suka dengarkan sudah tidak 'relatable' lagi buat saya. Dulu hobi saya setiap dengerin lagu adalah sambil bayangin kalau saya lagi di video klip lagu itu. Please, I can't be the only one who did this. *orangnya selalu nyari temen dehhh...* Dulu saya pernah punya playlist judulnya: He's Somewhere Out There (hahahhaa naon sih sum, kaya desperate gitu). Pokoknya setiap kondisi saya punya playlistnya deh, habis putus, lagi ngerjain skripsi, jogging pagi (yes, this couch potato was once an avid runner). Intinya kadang saya suka ngayal jadi music director loh... Hahahaha

Nah ini dia beberapa lagu versi saya tentang menunggu seseorang yang kita bahkan ga tau orangnya. Jangan harap nemu lagu-lagu yang baru ya, bukannya anti tapi sayanya aja yang generasi 90an dan ngga update. Eh tapi kadang suka ngerasa, kenapa lagu jaman sekarang ajep ajep semua sihh...


1. Michael Buble - Haven't Met You Yet (2009)


Best Line: 
I might have to wait. I'll never give up. I guess it's half timing and the other half's luck. Wherever you are, Whenever it's right. You'll come out of nowhere and into my life

Lagu yang ini sih pastinya semua orang sudah pernah dengar dan tau yaaa... 

2. David Archuleta - Running (2008)


Best Line:
I don't know how far I've got. But I don't care, I'm not gonna stop running. 'Cause without you, I've got nothing. I know you're somewhere running straight to me. Don't stop running.

Lagu ini sering saya jadiin soundtrack jaman pas masih suka lari. Literally running. 


3. Westlife - Pictures in My Head (2007)



Best Line: 
Thank you for the memories we haven't made yet. You've always been a part of me, even before we met. Thank you in advance for the love you give me. I've had a glance of the good life. You'll be there when nobody believes me I've gone through it all in my mind.

Kalo dengerin lagu ini, jadi suka senyum-senyum sendiri soalnya isi lagunya rasa terima kasih dan syukur (gratitudeness) untuk hal yang belum terjadi. 

4. Michelle Branch - Where Are You Now (2003)


Best Line: 
It's easier for me to be alone until a piece of me that feels so empty . I've been all over the world. I've seen a million different places. But through the crowds and all the faces. I'm still out there looking for you

Lagu ini cocok menggambarkan suasana "young and confused". Saya yakin semua orang pernah mengalami fase ini, atau bahkan masih?

5. Jennifer Paige - Questions (1998)


Best Line: 
Been disconnected, embraced, and rejected. Either way it doesn't bother me. But I keep moving doing what I'm doing. Guess that's the way, it's supposed to be.

Ada yang tau 90s pop star asal UK ini? Atau mungkin pernah dengar lagu hitnya yang berjudul "Crush"? Lagu ini juga isinya untuk tetap optimis dan menjalani hidup sebagaimana mestinya agar tidak hanya fokus menunggu meskipun bertanya-tanya bukan hal yang salah pula.

Ada yang mau nambahin lagu-lagu dengan tema yang sama?

Sabtu, 24 November 2018

Gengsi yang Instagrammable



Day 5 of BPN 30 Day Blog Challenge - Tentang Media Sosial

Dunia sosial media baru-baru ini dihebohkan dengan berita perceraian pasangan G-G yang sering digadang-gadang menjadi #relationshipgoals #couplegoals #itcouple, you name it lah. Berita tersebut menghebohkan karena selama ini tidak ada gosip miring dan mereka selalu terlihat harmonis. Foto ala-ala yang bikin para jomblo baper sih jangan ditanya, segudang. Suami-istri di kehidupan nyata, Instagram Wife and Husband pulakkk (Itu loh istilah untuk yang suami-istri sama-sama siap menangkap momen bagus dan bisa diabadikan di sosial media. Cung lah yang suaminya ga instagram husband :p).

Social Media is Fragmented Reality

Apa yang ada di sosial media tidak menunjukkan realita yang seutuhnya alias sepotong-potong saja. Setuju ga? Kita cenderung ingin menunjukkan kesuksesan apa yang kita raih, kebahagiaan apa yang kita rasakan, dan lain sebagainya...

Ya setuju sih, because good vibe is better than bad vibes kan. Lagian ya siapa sih yang kalau misalnya lagi berantem sama pasangan sempat foto-foto atau videoin. Atau misalnya pas anak lagi menguji kesabaran banget misalnya sampai buat kita (hampir ataupun kebablasan) marah. Ga ada kann... Kecuali kamu Vicky Prasetiyo yang sampai bawa media infotainment buat ngegrebek istri sendiri. Saya cukup yakin ini ada istilah psikologinya tersendiri untuk orang seperti ini.

Pada tulisan ini saya akan lebih fokus ke Instagram ya, yang menurut studi yang dilakukan oleh Royal Society of Public Health adalah platform media sosial terburuk untuk kesehatan jiwa. Lagipula kalau di facebook saya banyak isi postingannya ibu-ibu dan jualan. Hihihihi (termasuk saya yang suka jualan di closed group). Mommy millenial pun masih lebih banyak bermainnya di Instagram, kalau di facebook lebih banyak mommy-mommy seumur Ibu saya yang aktif alias nenek-nenek muda hehehe.

Anyway, balik lagi ke si fragmented reality yang menurut saya adalah akar penyebab utama dampak yang ditimbulkan oleh Sosial Media terhadap kehidupan pemakainya sehari-hari baik yang baik maupun buruk.

Pengaruh Buruk misalnya

  • Duh, nikahannya lucu dan bagus banget, Instagrammable. Aku juga pengin ah kaya gitu -- Lalu berujung ke "ga jadi nikah-nikah", karena ngumpulin biaya pernikahannya dulu. Padahal esensinya bukan di pesta pernikahannya, tapi di kehidupan setelah pernikahannya kan. Biasanya setelah resepsi berlangsung baru lah kerasa, kok sayang ya hambur-hamburin uang banyak begitu, mendingan buat DP Rumah, dll. Tabungan ludes sih masih mending, ga jarang orang sampai berhutang loh. Ada marketplace penyedia jasa pernikahan sampai menyediakan fasilitas cicilan 24x lohhh... Yah bayangin aja masa udah punya anak masih nyicil nikahan, ya gakk... Semua karenaaaaa eng ing engg... Instagrammable.
  • Duh mereka jalan-jalan mulu euy ke luar negeri, enak banget sih -- Berimbas ke boncossnya kembali tabungan akibat pembelian mendadak saat promo tiket demi bisa jalan-jalan dan bikin foto ga kalah hits. Ehemmm ya aku juga gitu sih, perlu banget jalan-jalan biar bisa refreshing. Tapi perlu perencanaan yang baik kalau mau terhindar dari jerat utang apalagi riba.. Hiiii
  • Duh, senang banget ya punya anak, kayanya bahagia banget gitu -- Pernyataan ini ga salah, tapi memiliki dan mengurus anak itu juga bukannya mudah. Berpikiran bahwa memiliki anak akan menyelesaikan masalah dan menambah keharmonisan keluarga disertai ekspektasi yang sangat tinggi dapat membuat kita kecewa dan stres saat akhirnya benar-benar memiliki anak. Dan nyatanya dengan adanya gambaran keluarga sempurna di sosial media terbukti telah meningkatkan angka kejadian Post partum depression (PPD) atau yang sering disebut juga baby blues (link beritanya disini).
  • Duh, kayanya enak ih makan di restoran itu, banyak spot fotonya, makanannya juga cantik -- Lalu muncul lah fenomena orang-orang bergaji 10 juta tapi ga punya aset dan tabungan karena hobi kongkow-kongkow dan makan siang di mall. Jangankan 10, yang diatas 20 pun banyak karena terjerat middle income trap.
  • Duh, baju ini banyak yang suka dan belinya rebutan. Duh, tas ini juga keren deh. Duh sepatu ini bagus nih bisa gantiin ulekan kalau ga ada, dll. -- Intinya apa, social media promotes consumptive lifestyle. 
  • Don't get me started on mompetition/mom war, etc... Bisa jadi satu post sendiri, bahkan bisa jadi buku sendiri. Iya, Kumpulan Emak Blogger bahkan udah menerbitkan buku tentang ini berjudul "Stop Mom War" yang ditulis dari beberapa belas blogger yang saya yakin juga termasuk anggota BPN.
  • Dan banyak duh duh yang lain... 

Sebenarnya kata Instagrammable lama-lama bisa diartikan menjadi Gengsi! Ya gak sihh. Maka gak heran kalau sebagian besar millenial tidak bisa beli rumah (selain emang harga properti yang gila-gilaan banget sih.. mulai bubble juga kayanya). 

Inti dari poin-poin yang saya sebutkan di atas apa? Potongan-potongan indah kehidupan di Sosial media membuat kita fokus pada apa yang tidak kita punya. Merasa kurang terus padahal kita sudah diberikan banyak hal yang patut disyukuri oleh yang di atas. 


 Baiknya?

  • Informasi sampai lebih cepat dan mudah contohnya undangan pernikahan. Kita pun juga lebih jarang untuk lupa ulang tahun seseorang. 
  • Berhubungan kembali dengan kawan lama. Oh tapi jangan mantan, itu berbahayaa... Don't play with fire 🔥
  • Munculnya pekerjaan baru yaitu Influencer. Yaaa, blogger pun salah satu yang kena imbas positifnya.
  • Untuk para pembisnis, biaya marketing sekarang cenderung lebih murah, iklan di televisi masih jauh lebih mahal dibanding beriklan di sosial media serta jauh lebih efektif. Banyak yang mengakui kekuatan instagram untuk bisnis. Saya sih berharap suatu saat bisa memanfaatkan ini juga (sekarang mah belum mulai serius). Perhatiin deh fenomena online shop baju yang suka sold out ribuan pcs hanya dalam waktu 0 menit dibuat dengan cara rebutan via whatsapp. Semakin rebutan semakin penasaran. Seminggu 2x buka order semacam itu, harga satuannya 150 ribu ke atas. Itung aja deh tuh omsetnya berapa untuk skala industri rumahan yang bahkan ga punya toko fisik. Wow banget kann..

Beberapa trik yang saya lakukan agar tetap waras main sosial media.

Tidak follow selebgram/influencer terutama yang sosialita. - Iya saya pernah baca sih, kalau mau menaikkan jumlah follower harus follow popular account. Tapiii, yaa ngapain kalo ujung-ujungnya isinya endorse non stop unfaedah (sebenernya ini ada rasa iri ga dapet barang gratisan juga, hihihi *sape luuu sum). Atau isinya hidup sepertinya gampang, jalan-jalan mulu. Lahhh dia mah gretongan, jangan disama-samain sampai bela-belain ngutang dong.

Jangankan selebgram, teman sendiri aja suka bikin baper postingannya. Ya gakk... Kalau tidak suka, ya unfollow. Kalau tidak enak mau unfollow, ada fitur mute loh. Dan mute ini bisa dipilih, mute story saja, atau post saja, atau keduanya. Amannnn.

Ini contoh menu yang bisa digunakan untuk me-mute seseorang. Btw, itu akun suami saya kok 😋

Follow akun yang memberikan informasi bermanfaat seperti akun agama, parenting, influencer positif, atau bahkan kartun yang menghibur. After all, social media is supposed to be fun, right? Apa saja akun instagram favorit saya yang recommended untuk difollow? Tungguin post hari ke-15 yakk 

Ingat-ingat, Selena Gomez punya 144 juta followers dan ketika masih 80 jutaan, biaya endorse jepret posting 1 foto di Instagramnya adalah 4 Miliar rupiah. And still, it doesn't make her the happiest person. Malah sekarang lagi masuk rehabilitasi karena stres. Perhaps, the happiest person on earth don't even own a social media


Gabung Komunitas Blogger? Penting Ga Sih?


Day 4 of BPN 30 Day Blog Challenge - Kenapa Bergabung di Blogger Perempuan Network (BPN)?

Kyaaaa tuh kan ketiduran, udah ngedraft lewat HP, terus rencana mau bangun malam setelah anak-anak tidur, eh malah bablas udah ganti hari. Gapapa lahh yaaa... Di Amerika masih tanggal 23 November kok, hehehhe.

Pertama kali tahu tentang Komunitas Blogger Perempuan adalah saat saya menyadari bahwa banyak blog yang saya kunjungi memasang banner Blogger Perempuan ini. Alasan awalnya simpel, perlu identitas hihihi. Saya anaknya suka "nge-gank", kalau ga gabung dimana kayanya kurang afdol. Fear of Missing Out Syndrome, hehehe. Dengan kata lain, perlu identitas!

Salah satu hal yang paling saya sukai dari Blogger Perempuan yang berbeda dibandingkan dengan komunitas lain adalah grup Facebooknya yang teratur. Setiap harinya admin grup, Mbak Alaika Fithria, biasanya akan mempost 1 foto sebagai pembuka postingan untuk tema blog yang sudah ditentukan setiap harinya. Para anggota boleh memberikan link blog yang sesuai dengan tema di dalam kolom komentar. Terkadang saya ikut meramaikan, terkadang hanya blogwalking saja judul-judul yang menarik. Tak jarang pula saya "menyangkut" pada blog yang sama tanpa sadar terlebih dahulu siapa yang menulisnya. Akhirnya saya jadi sering mengunjungi blog itu (Eitsss itu mah tema blog challenge buat hari ke-9 ya). Contohnya seperti di bawah ini


Jadi semacam ada katalog artikel blog untuk dibaca. Topik yang paling sering saya baca sih lumayan banyak seperti Fashion and Beauty di hari Senin (kalau yang ini saya lebih sering jadi pembaca daripada nitip link), Blogging dan Social Media di hari Rabu, serta Friendship, Family, Parenting, Health and Love di hari Kamis. 

BACA JUGA: Makeup Emak Rempong dalam 3 Menit (1-1nya Artikel Beauty saya, hihihi. Walaupun setiap nyobain skincare baru mah suka saya foto supaya siapa tau bakalan ada mood buat nulisinnya)


Dan ternyata dengan bergabung dengan komunitas blogger perempuan banyak manfaatnya loh.

  • Nambah teman - Biasanya kalau habis ngetag bloggerperempuan di media sosial terutama Instagram, bakal ada follower baru yang minta folback. Setelah itu lama kelamaan jadi sering liat kesehariannya dari Instastory dan juga tulisan-tulisannya dari post di Instagram feednya. Lama kelamaan akhirnya seperti menjadi teman saja. 
  • Belajar dan studi banding gaya tulisan orang lain - Lewat blogwalking, saya jadi tau bagaimana tulisan yang bagus dan berkualitas (kalau saya mah masih jauh yaa). Oh iya ga jarang saya menemukan Ibu Rumah Tangga yang blognya produktif banget padahal anaknya lebih banyak dari saya. Hal ini semacam bikin motivasi loh.
  • Memperkaya wawasan - BPN suka membahas topik-topik terkait blogging, mulai dari strategi SEO, software yang dapat digunakan dan membantu dalam menciptakan content, dan lain-lain. Hal-hal seperti ini juga sering saya dapatkan dari tulisan-tulisan blogger lain yang bergabung di BPN. Kadang jadi minder sendiri, pada keren-keren banget euy dan tak jarang yang sudah menjadi mata pencaharian lewat blogger.
  • Event Blogger Gathering pertama saya ya dari BPN ini loh. Biasanya saya kalau daftar untuk mengikuti suatu event untuk blogger sering ga kebagian salah satunya karena mungkin masih pemula banget serta DA/PA saya masih rendah. Ehhhh tapi kemarin saya masih dikasih kepercayaan untuk ikutan acara talkshow tentang parenting di dunia digital. Lumayan nambah pengetahuan secara gratis (dan dapet uang transport juga, hihihi... Ga nyangka sih, norce banget yaa saya)
  • BPN juga menyediakan program partnership dengan syarat mempunyai follower min. 500 di IG dan Twitter. Karena twitter saya kurang hidup dan yang aktif pun 4L (Lo Lagi Lo Lagi), jadi saya tidak memenuhi persyaratan ini. Usul dong BPN, syaratnya Instagram ajaa, hehehe.
BACA JUGA: Blogger Gathering Pertama Saya di SIS Bonavista
Terima kasih ya BPN untuk kesempatan belajarnya :)


Minggu, 14 Oktober 2018

Seks Selama Hamil dan Setelah Melahirkan


Mumpung masih lumayan segar dalam ingatan, mari kita tuangkan ke dalam tulisan!

Hari Sabtu tanggal 29 September 2018 yang lalu, saya mengikuti acara sextalk yang diadakan oleh COYM (Circle of Young Mom) dan WISH Dr Boyke dengan tajuk "Sex During Pregnancy and After Labour" di Mula Space Cilandak Town Square. Ini pertama kalinya saya datang ke acara yang bahasnya "beginian". Biasanya topik begini diobrolinnya lewat chat sama teman sambil sotoy-sotoyan, ngga ada ahlinya, hehehe... Yowis, biar ga sesat 🤔

Masih ingat ga sih sama kasus tata chubby PSK yang dibunuh oleh customernya di kostan yang terletak di bilangan Tebet (kronologis detail ada disini). Nah si pelaku pembunuhan ini adalah seorang bapak-bapak beranak satu yang istrinya lagi hamil anak kedua. Dulu saya tuh naif, belum berkeluarga, jadi mikirnya, jahat banget sih itu laki-laki, udah punya anak, istrinya hamil pula, kok sempat-sempatnya jajan. Bagi saya waktu itu seks ya untuk berreproduksi, memiliki keturunan, trus kalo istrinya subur ngapain selingkuh gituuu... Nah dengan sudut pandang yang berbeda, saya tetap menganggap laki-laki itu jahat tapi saya baru paham, bahwa setelah melahirkan dan punya anak, kehidupan seks dalam rumah tangga tidak lagi sama. Udah ada anak yang kerjanya patroli supaya emak bapaknya ga berduaan, combo ditambah aksi hormon sewaktu hamil. Ciat ciat... Suram memang 😨

Atau beberapa minggu lalu, video dari VICE Indonesia yang sempat trending dengan judul Polemik Poligami di Indonesia yang berisi tentang sekelompok orang yang membuat konferensi Poligami untuk mencari atau menjadi istri ke-2. Wheww... Walau tidak tahan, saya menonton sampai selesai video tersebut dan memang ada poin yang tidak dapat dipungkiri ketika istri pertama berkata pada pewawancara: "Saat wanita sudah melahirkan pertama kali, rasa kecenderungan seksual berkurang tidak seperti laki-laki yang tetap sama"... *nontonnya sambil ngangguk-ngangguk, tapi tetep ga setuju sama poligaminya, hehehe*

Sebagai istri yang (mencoba) bijak, kita ga bisa hanya menyalahkan pihak laki-laki aja, tapi harus berusaha dan instropeksi diri juga supaya kejadian kaya di atas tidak terjadi.

Sextalk kali ini diisi oleh dr. Ulung Jati Sukmono yang merupakan tim dr. Boyke. Siapa sih yang engga kenal dr. Boyke, dari kecil aja saya tau, tapi kayanya tabu banget baca rubriknya beliau pas lagi pinjam baca-baca tabloid ibu atau tante, wkwkwk 🤣

Pemateri dr Ulung (kiri) dan moderator Mrs Citra Natasya (kanan)


Berikut beberapa yang kuingat dan catat dari sextalk tersebut yaa...

Kapan sih waktu yang tepat untuk berhubungan seks saat hamil?

Jawabannya, Kapan saja selama nyaman untuk ibu dan bukan kehamilan beresiko seperti: 
  • Plasenta Previa (kondisi ketika sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim)
  • Abortus (keguguran) berulang
  • Hamil Anggur
  • Hamil di luar kandungan
Kenapa? Karena ketika berhubungan penis hanya sampai dalam rongga vagina, masih jauh dari serviks atau mulut rahim sedangkan janin adanya di uterus. Ya kecuali kalau suaminya orang Ghana atau Gabon gituu (Fun Fact: Kata dr ulung, rumpun Indonesia itu peringkat ke-4 masalah ukuran, pertama afrika, kedua eropa, ketiga arab... Hmmm tapi 3 yang di atas itu kan kalo dijabarin, punya banyak negara ya.. hahahha.. yang masuk nomor 5 siapa? Korea... Jadi yang suka Kpop, mmm)

Skema organ reproduksi wanita


Posisi yang aman?
Posisi paling aman saat hamil muda:
Missionary, Women on Top, Doggy, Mom at the Edge of Bed, Sitting on Men. Setelah perut lebih besar (trimester ke-2 dan selanjutnya) adalah Spooning, Doggy, Downward Dog. Sedangkan Missionary dan Mom at the edge of bed sudah tidak disarankan lagi.

Benarkah seks membantu untuk percepatan persalinan?
Sperma sendiri tidak mempengaruhi untuk merangsang pembukaan, yang lebih berpengaruh adalah tegang dan gerakan otot serta tulang di sekitarnya karena aktivitas seks.

Berapa lama waktu untuk kembali berhubungan seks setelah melahirkan?
Waktu yang disarankan untuk kembali berhubungan setelah melahirkan adalah 6 minggu (tentu saja karena ada proses nifas) dan menunggu tubuh pulih kembali. Kalau kamu merasa belum siap dan kehilangan selera walau sudah lewat 6 minggu paska kelahiran tidak apa-apa, kamu tidak sendiri. Memang lebih banyak yang menunggu 2-3 bulan lamanya. Bahkan lebih lama jika proses persalinannya traumatis.

Tips and Trick?
Ada beberapa hal yang harus diingat mengenai seks pasca melahirkan:
  • Seks untuk tidur yang berkualitas - ya kan enaknya setelah berhubungan itu, cuddling dulu, bilang terima kasih, dll... Pasti tidur setelahnya juga jadi enak dan nyenyak.
  • Menerima perubahan bentuk tubuh - nah ini penting dan sering jadi faktor penghambat karena bikin wanita ga pede. Walaupun laki-laki itu mahluk visual, namun titik rangsangnya tidak banyak. Kalau yang pusatnya sudah ditaklukkan, mau ada gelambir atau stretchmark kaya macan sudah ga ngaruh. Hehehe...
  • Orgasme tidak berarti harus penetrasi - Nah berbeda dengan pria, wanita memiliki banyak titik rangsang... Hanya perlu kreatif dan ketekunan hehhehe
  • Gunakan pelumas jika perlu - Kenyamanan kedua pihak tetap yang utama.
  • Hayo bapaknya jangan males, foreplay itu perlu dan penting bagi wanita loh.
  • Ganti Suasana - iya misalnya di dapur, di mobil, di ruang makan, dll... Beda suasana dan tempat bisa membuat mood tersendiri loh
FYI Waktu optimal pria (you know what I mean) itu hanya 3-5 menit saja loh. Kalau ada yang bisa 10 menit sih kata dr Ulung, jago bangett.

Pantangan?
Oral sex atau yang sering dikenal juga sebagai blow job, kadang suka diartikan secara harfiah yaitu ditiup. Padahal ini salah dan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan air embolism. Pada masa-masa awal pemulihan paska melahirkan, arteri/saluran darah masih sangat terbuka sehingga meningkatkan resiko terjadinya air embolism. Air embolism ini disebabkan oleh udara yang masuk ke dalam tubuh dan bisa menyebabkan sumbatan di peredaran darah. 


Beberapa hal yang menyebabkan wanita tidak ingin berhubungan setelah melahirkan

Physical Issues
1. Sakit karena robek atau jahitan
2. Area sekitar vagina menjadi lebih sensitif
3. Sakit karena vagina lebih kering atau lebih rapat

Emotional Issues
1. Post natal depression - lelah, siklus hidup berubah, hormon
2. Persepsi terhadap bentuk tubuh dan perubahannya seperti:

Berat badan
Sebenarnya berat badan tidak termasuk masalah yang disebabkan oleh kehamilan karena ini relatif.

Stretchmark
Menurut dr Ulung yang juga spesialis kulit dan kelamin, tidak ada minyak yang bisa menghilangkan stretchmark. Menghambat terjadinya iya, menghilangkan tidak. Stretchmark bisa dihilangkan dengan cara seperti laser atau skin grafting. Hmmmm...

Cholasma gravidarum
Flek di muka yang biasanya timbul karena hormon saat hamil dan juga suka terjadi pada wanita yang mengkonsumsi pil KB.

Payudara Kendur
Ukuran payudara setelah menyusui akan kembali sama dengan sebelum menyusui, contohnya sebelumnya 100 ml, saat menyusui jadi total 300 ml, setelah menyusui akan kembali menjadi 100 ml. Masalahnya adalah ketika dia sempat membesar lalu mengecil lagi pasti akan mengakibatkan kendur (terjadi juga sama orang yang awalnya gendut jadi kurus) dan wajar terjadi. Cara mengatasinya adalah dengan ... (sejujurnya engga inget dr Ulung bilang apa, kalau ga salah sih WISH jual produk untuk perawatan payudara.

Upaya perbaikan versi BPJS

  • Senam Kegel - Ini termurah dan termudah yang bisa dilakukan setiap hari. Coba kalau lagi pipis, pas sudah keluar coba dihentiin, ditahan biar ga keluar... Saya nyoba, eh susah lohhh... Wkwkwkkw... Selama ini tau sih kalo senam kegel itu gerakan nahan pipis, tapi paling berasa kalo dipraktekin pas lagi pipis beneran. Selengkapnya bisa juga baca cara senam kegel disini.
  • Perawatan Spa Vagina - Tersedia di klinik perawatan dr boyke (pesan sponsor) ataupun tempat spa lainnya. Tujuannya biar yang keluar bunga-bunga, ngga horor dan ada kelelawarnya.. Wkwkwk, naon sih...

Upaya perbaikan versi Umum (khusus yang punya suami crazy rich asian)

  • Laser - Nah ini menggunakan laser probe yang dimasukkan ke dalam vagina untuk "melukai" jaringan di dalam agar merangsang regenerasi dan jadi lebih baru. Mungkin prosedurnya bisa dilihat dari video disini. Yang ini jadi inget, dulu pernah nonton infotaiment terus katanya Dewi Persik mau operasi jadi perawan lagi, hmmm

(Ki-Ka): Dr Ulung, Juwita, Santi, Elizabeth (pemenang kuis/post test), dan Dhila (perwakilan Wish)


Tanya Jawab (ngga inget semua tapinya)


Sudah lumayan lama dari melahirkan terakhir kalo tapi berasa sakit?
Coba diingat-ingat, apakah ketika buang air besar terasa sakit? Kalau tidak, kemungkinan rasa sakit itu lebih ke psikis.

Melahirkan C-Section dan Normal mempengaruhi? 
Jelas berpengaruh, logikanya, jalan yang sering dipakai dengan jalan yang tidak pernah dipakai, mana yang masih bagus?

Kontrasepsi IUD dulu atau PapSmear?
Bisa dilakukan bersamaan, biar sekali dayung dua pulau terlampaui. Karena pengerjaannya sejalan.

Apakah jahitan/episiotomi setelah melahirkan mempengaruhi sempit tidaknya?
Yang terpengaruh hanya bagian luar, beberapa dokter menjahit jadi terlalu kecil justru akan membuat rasa sakit sangat berhubungan seks, sedangkan kemampuan mencengkram otot vagina tidak dipengaruhi oleh jahitan ini.



Mommy-mommy pencari ilmu

Sesungguhnya masih ada pertanyaan yang baru keingetan, berapa kali frekuensi yang sehat ya? You know lah anak 2 masih kecil-kecil cosleeping semua... Krik krik krik...

Maaf kalau rangkumannya kurang lengkap karena disambi gendong neng caca. Kalau misalnya ada acara kaya gini lagi, kudu banget deh ikutan soalnya isinya ketawa-tawa mulu dan lebih seru datang dan dengar sendiri. Thanks COYM dan WISH!

Rabu, 05 September 2018

Review Buku: Make It Happen! by Prita Hapsari Ghozie




Sebenarnya hal mengenai uang adalah sesuatu yang saya lebih sering hindari. Saya pun enggan mengatur keuangan keluarga, semuanya saya serahkan suami mulai dari bayar cicilan rumah sampai tagihan-tagihan lain.

Bagi saya yang penting semua cukup. 

Seberapa tidak nyamannya saya dengan masalah perduitan? Saya bahkan akhirnya baru tahu berapa penghasilan sebenarnya suami setelah 3 tahun lebih menikah. Ya terpaksa karena mulai merasa kurang dengan kondisi saya yang sudah tidak bekerja lagi dan titipan Allah yang bertambah. Setiap bulan rasanya uang hanya numpang lewat saja di rekening kami. Gajian tanggal 25, tanggal 1 sudah berasa tanggal "tua" lagi.

Seorang teman di salah satu grup Ibu Muda yang saya ikuti merekomendasikan sebuah buku tentang perencanaan keuangan yang ditulis oleh Mbak Prita Hapsari Ghozie. Make It Happen, namanya, buku pintar rencana keuangan untuk mewujudkan mimpi. 

Judul buku: Make It Happen

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, April 2013
Cetakan Kelima, Mei 2018
Jumlah Halaman: 244+
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: IDR 98,000


Mbak Prita sendiri adalah seorang perencana keuangan independen yang tersertifikasi Internasional dan merupakan co-founder dan CEO dari ZAP Finance sebuah penyedia jasa konsultan keuangan.
Membaca buku ini sungguh membuka mata saya tentang betapa pentingnya perencanaan keuangan. Rezeki memang asalnya dari Allah, leap of faith. Tapi kita juga harus pandai mengelolanya. 

Saya dulu pernah punya teori bahwa Wanita adalah penggerak utama ekonomi dunia. Bayangkan kalau semua orang hasrat belanjanya seperti suami saya, pasti ga gerak tuh roda ekonomi. Penentunya adalah wanita, walaupun yang paling banyak mencari uang adalah pria. Ya ga ya ga... Dan benar saja, menurut statistik: 70% pembelian dalan rumah tangga ditentukan oleh perempuan. Bahkan 84% uang rumah tangga dipegang (belum tentu dikelola oleh perempuan). Penting banget kan peranan wanita sehingga di bukunya ini Mbak Prita mencoba meningkatkan awareness dan pemahaman tentang keuangan (financial literacy) teruntuk wanita khususnya para Istri atau Ibu-ibu.





Pada bab awal buku ini ditekankan pentingnya komunikasi dengan pasangan untuk membicarakan masalah keuangan. Saya langsung tertohok di bab pertama karena sepertinya hampir tidak pernah benar-benar saya lakukan dengan suami, rasanya terakhir kali ngomingin perduitan ya pas mau ambil KPR 3 tahun yang lalu 🙈

Buku ini mengajarkan kita untuk mengevaluasi apakah keuangan kita sudah sehat apa belum? Berapa proporsi utang kita? Apakah kita sudah menyisihkan untuk dana darurat? Apakah kita sudah menerapkan Good Money Habit? Lalu bagaimana cara membuat rencana keuangan? Besarnya gaji ternyata tidak menjamin seseorang memiliki financial yang sehat dan perencanaan yang baik loh... Pernah baca kan tulisan tentang kaum urban yang miskin? Penghasilan besar tapi miskin bablas karena gaya hidup dan tidak adanya perencanaan,

Buku ini juga mengenalkan produk-produk keuangan yang ada untuk berinvestasi termasuk penjelasan tentang asuransi (yang mana sangat penting untuk dipahami terlebih dahulu sebelum menentukan asuransi yang tepat, jangan dengan otak kosong datang ke sales asuransi dan menelannya mentah-mentah, salah-salah kita bisa merugi sekali). 

Sebenernya ini bukan buku pertama tentang keuangan rumah tangga yang pernah saya baca. Tapi yang sebelumnya, saya baca masih tidak serius hanya di awal saja dan saat itu masih double income serta belum punya anak, kalau sekarang kan single income household dengan dua anak... Hmmm jadi kebayang lah yaa bedanya.

Penyampaian buku ini mudah dimengerti dengan ilustrasi yang mudah dibayangkan disertai persoalan yang memang banyak dihadapi. Mimpi-mimpi yang dibahas pun mimpi yang umumnya dimiliki orang, contohnya kebutuhan papan. Pertimbangan dalam membeli rumah sampai memilih KPR. Selain itu juga dibahas tentang mempersiapkan pendidikan anak (yang ternyata tingkat inflasinya paling besar tiap tahun) sampai bagaimana merencanakan dana pensiun untuk hari tua.
Karena ini juga judulnya Make It Happen, bukan ayo kita berhemat banget sampai jangan bersenang-senang, buku ini mengajarkan bagaimana merencanakan dan mengalokasikan dana untuk kebutuhan leisure seperti traveling, belanja, dan lain sebagainya.

Dari buku ini juga saya baru sadar "jahatnya" kartu kredit apalagi kalau kita terjebak dengan gaya hidup konsumtif dan pembelian impulsif (talking to myself!). Salah-salah kita bisa terkena bunga efektif kartu kredit yang dapat mencapa 60% pertahun. Dan ternyata, lebih dari 50% pemilik kartu kredit di Indonesia tidak membayar tagihan kartu kreditnya secara penuh saat jatuh tempo. Pantas saja kartu kredit promo dan salesnya sangat gencar, ternyata sangat menguntungkan bank.



Tapi buku yang saya baca ini ga bisa saya pinjamkan kayanya, soalnya banyak coretan-coretan "dapur" saya. Jadi di buku ini langsung ada exercise dan tabel yang bisa kita gunakan. Tidak lupa Mbak Prita menyelipkan booklet "12 Bulan Menuju Make It Happen!" yang berisi financial checklist langkah demi langkah untuk memiliki rencana keuangan.

Yaa, pokoknya habis baca buku ini saya jadi gemas pengen cepat-cepat ketemu suami (kebetulan lagi training selama sebulan penuh) untuk merapatkan semua ini.

Ada yang bilang "money is more taboo than sex". Nah itu dia kalo dihindari terus, padahal salah satu penyebab terbanyak kegagalan rumah tangga itu adalah masalah uang. Ketidakpedulian istri juga bisa menjadi penyebab korupsinya suami, gawat banget kannn... untung suami saya bukan anggota DPR atau abdi negara.

Saya merasa cukup terlambat membaca buku ini, kenapa ga dari dulu ya tau segitu pentingnya perencanaan keuangan. But better late than never right? Karena sekarang yang diatur masih recehan dan masalah belum komplek atau jadi kanker, Insya Allah sih buku ini cukup mencerahkan. 

Terima kasih Mbak Prita telah membuka mata saya. Semoga saya juga bisa me-make it happen-kan mimpi-mimpi saya.

Let's Start Planning Now and Make It Happen!