Tampilkan postingan dengan label reallife. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reallife. Tampilkan semua postingan

Senin, 31 Desember 2018

Ammar dan Speech Delay



Long read, karena rada curcol yaaa 😃

Salah satu kekhawatiran mommy-mommy saat anaknya berusia di bawah 1 tahun adalah kalau anaknya belum bisa jalan.

Sedangkan kalau anaknya berusia di bawah 2 tahun, yaitu kemampuan bicaranya.

Ya nggak? Padahal red line sih belum tapi kok jadi cemas ya liat anak teman udah bisa ini itu.

Begitupun dengan saya. Saat itu Ammar berusia 15 bulan ketika saya mulai resah kenapa kemampuan berbicara Ammar menghilang. Dari yang sebelumnya babbling, sempat manggil ayah sampai akhirnya cuma seperti menggumam dan enggan berbicara. Ammar mengerti dan paham apa yang kami ucapkan namun orang di sekitarnya tidak mengerti apa yang dia maksud sehingga hal ini membuatnya mudah ngambek dan marah. 

Saya teringat dengan denver developmental chart yang sering dijadikan acuan tumbuh kembang anak, dan memang kemampuan berbicara Ammar menghilang dan sama seperti anak 9 bulan. Dari hasil googling sana sini dan baca blog orang (lupa blognya yang mana) lebih baik segera periksakan anak ke klinik tumbuh kembang, karena jika ternyata ada masalah dan anak belum berusia 2 tahun akan lebih mudah terapi dan penyembuhannya.

Akhirnya mendaftarlah saya pada bulan Desember 2017 di Klinik Tumbuh Kembang salah satu Rumah Sakit swasta di Depok. Bukan main, untuk pemeriksaan awal saja harus waiting list selama 3 bulan. Klinik sangat penuh karena mereka juga menerima pasien BPJS dan tidak ada pengkhususan untuk yang umum. Oh iya perlu diingat untuk pengguna asuransi swasta yang biasanya disediakan kantor, sebagian besar tidak menanggung biaya untuk tumbuh kembang, jadi pastikan dengan kantor atau provider asuransi anda.

Yang ditunggu pun tiba, 3 bulan sudah dan akhirnya giliran janji temu Ammar dengan dokter di klinik tumbuh kembang. Saat itu saya sedang hamil besar kira-kira week 35 atau 36 dan tentunya cukup stres seakan inilah drama si kakak saat hamil si adek.

Di ruang tunggu klink tersebut, kamu mengamati anak-anak lain. Rata-rata memang hiperaktif, kesulitan konsentrasi, dan lain sebagainya usianya rata-rata sudah 3 tahun ke atas atau sudah umur playgroup. Ada juga yang memang diterapi karena kelainan bawaan seperti down syndrome, microcephaly, autisme.

Keputusan saya membawa Ammar ke klinik tumbuh kembang (tumbang) dinilai lebay oleh orang tua saya. Ketika saya melihat kondisi anak-anak di tumbang pun ada perasaan "duh lebay ga yaa.. Jangan-jangan dah capek-capek waiting list 3 bulan, dokternya pun bilang ga kenapa napa"

Khusus untuk ke tumbang ini, suami saya yang bekerja di luar kota, pulang dan mengambil cuti. Masuklah kami ke ruangan dokter. Ada 2 dokter yang menganalisa ditemani 1 perawat. Di dalam ruangan, Ammar diajak bermain, dites apakah bisa menyusun (stacking), jika dipanggil menoleh atau tidak, bagaimana konsentrasinya, bisa memenuhi perintah atau tidak, dan lain sebagainya. Sedangkan kami sebagai orang tua harus menjawab banyak pertanyaan tentang perilaku dan tumbuh kembang Ammar sehari-hari.

Diagnosanya: Ammar memiliki gangguan sensori integrasi dengan kecenderungan yang bisa mengarah ke ADHD (Attention Deficit/Hyperactive Disorder). Waktu itu Ammar berumur 18 bulan. Untuk checklist periksa sendiri apakah anak gangguan sensori integrasi atau tidak, bisa lihat di sini ya. Kami pun diberi list stimulasi yang bisa dilakukan sendiri di rumah dan disarankan untuk mengambil terapi Sistem Integrasi terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan Okupasi Terapi. Tapi untuk diagnosa saja kami menunggu 3 bulan, untuk terapi jadwalnya penuh berbulan-bulan. Susternya sendiri pun tidak bisa memberikan jadwal dan lebih menyarankan untuk mencari ke klinik di luar.


Agar diagnosa lebih menyeluruh, Ammar juga dirujuk ke dokter kejiwaan yang ada di Rumah Sakit yang sama. 

Sepanjang jalan pulang dari dokter tumbuh kembang, pikiran saya hanya memutar balik percakapan yang terjadi di ruang dokter tadi. Jujur saya tidak terima karena rasanya ada yang mengganjal, seperti:
  • Di rumah, Ammar dengan mudah melaksanakan perintah yang kami berikan. Namun di Rumah Sakit kan tidak semudah itu, apalagi yang menyuruh bukan orang yang dikenal.
  • Dokter menanyakan pertanyaan seperti "sudah bisa naik tangga". Kami jawab "sudah, tapi masih pegangan pinggir tangga". Dokter "oh berarti belum bisa ya". 😐😐😐😐 (Belakangan saya malah nemu di poster kesehatan, naik tangga tanpa pegangan itu ada di milestone anak 3 tahun, lagian coba bayangin kalau tangganya 1/3 tinggi badan kita, emangnya ga pegangan?)
  • Saya juga bilang bahwa Ammar anaknya sangat hati-hati bisa menilai bahaya. Jika kita taruh di pinggir tempat dengan elevasi maka dia akan diam tidak bergerak atau memanggil orang. Tanggapan dokternya: "itu kan menurut Ibu, orang tuanya"
  • Selama wawancara kami mencoba menjawab sedetail dan sejujur mungkin namun terkadang dokter seperti tidak percaya.
Sedangkan di dokter jiwa (horor bener kann kayanya anak saya gila 😣) saya tak ingat betul selain saya memahami kesalahan saya yaitu anak terpapar screentime terlalu lama dan anak suka tidur terlalu malam sehingga hormon pertumbuhannya tidak optimal. Ditambah lagi dokter jiwa merasa bahwa ukuran kepala Ammar "unusually big" jadi disarankan untuk diperiksa. Atas saran dokter anak langganan, saya disarankan untuk memeriksakan Ammar ke dokter syaraf anak di Cinere (daerah Depok tidak ada, Cinere walaupun Depok tapi bukan Depok karena jauh.. halahhh apa sihh).

Dokter syaraf anak di Cinere ini termasuk yang terkenal sepertinya karena dari hasil googling banyak yang menyebutkan nama beliau (inisial nama depannya I). Waktu itu pun cukup antri, walaupun dokternya juga agak telat, praktek jam setengah 7 datangnya jam 8, dan Ammar baru dipanggil jam 10 (saat itu Salsa sudah lahir dan berumur 2 minggu). Dan salah satu yang bikin kecewa adalah, selama di ruangan, dokternya tidak pernah sama sekali melakukan kontak mata atau menengok ke arah anak kamu. Untuk mengetes respon Ammar, sang dokter menyuruh susternya untuk memanggil anak saya, dan tentu saja Ammar tidak langsung menengok karena sedang sibuk main pelosotan yang memang disediakan di dalam ruangan dokter tersebut. :| Jujur ilfeel berat sama dokternya.

Hasil dari dokter syaraf anak ini adalah rujukan untuk melakukan CT Scan yang sampai sekarang tidak berhasil karena anaknya selalu terbangun dan menangis ketika ditaruh di alatnya walaupun sudah diberikan obat tidur. Selain itu Ammar juga diberikan resep obat racikan untuk membantu konsentrasinya yang ternyata obat cukup keras sehingga saya hanya menebusnya tapi tidak pernah saya berikan ke anak saya.

Karena mendapatkan jadwal terapi tidak mudah ditambah saran dari beberapa teman, kami memutuskan untuk dimaksimalkan saja di rumah dulu dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Strict no gadget dan ini berlaku juga kepada yang sedang mendampingi
  • Lebih aktif mengajak Ammar main bersama dan mengobrol
  • Mengusahakan Ammar tidur siang tidak kesorean, dan tidur tidak lebih dari jam 9 
  • Beralih dari buku anak tipe spotting ke yang ada jalur ceritanya

Sungguh saya bukannya anti gadget, dan saya tau banget gimana rasanya hopeless anak susah makan. Sebelumnya ada perasaan denial akan pengaruh youtube kepada kemampuan berbicara. Masih ada sedikit perasaan "ahh semoga anakku seperti anak si X yang walaupun kena screen time banyak tapi tetap bisa ngomong". "ahh enak ya jadi orang luar negeri yang mother languagenya bahasa Inggris, jadi resiko gagap bahasa berkurang, kan video anak yang lucu-lucu banyaknya dalam bahasa Inggris", dan lain sebagainya. 

Kenyataannya, memang secara statistik 40% anak dengan screen time tinggi mengalami keterlambatan berbicara apalagi jika terpapar pada usia di bawah 2 tahun. Dampak yang ditimbulkan biasanya:
  • Bingung bahasa - bisa dilihat bahwa sebagian besar konten youtube anak yang menarik adalah berbahasa Inggris. Sedangkan orang di sekitar anak berbahasa Indonesia.
  • Berkurangnya konsentrasi dan cepat bosan
  • Lebih mudah marah
Pada usia 21 bulan, Ammar ditawari menjadi volunteer di kelas anak FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI yang sedang membahas tentang tumbuh kembang oleh tantenya (adik saya). Tentu saya bersedia apalagi ini gratis dan saya perlu second opinion tentang kondisi Ammar. Di kelas tersebut, Ammar diajak bermain dan saya sebagai orang tua ditanyai beberapa pertanyaan mengenai Ammar yang tidak bisa dijawab hanya dengan melihat Ammar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan KPSP IDAI (Kuesioner Pra Screening Perkembangan Ikatan Dokter Anak Indonesia).


Contoh Pertanyaan Untuk Ammar saat itu

Hasilnya?

Alhamdulillah tahap perkembangan Ammar masih sesuai dan tidak mengkhawatirkan. Setidaknya saat itu Ammar mempunyai lebih dari 3 kata yang memiliki arti. KPSP yang saya sebutkan di atas dapat digunakan sampai anak berusia 72 bulan atau 6 tahun loh sehingga bisa dipakai dan dievaluasi sendiri sebelum memutuskan untuk membawa anak ke klinik tumbuh kembang.

Jujur, rasanya berbeda sekali saat diperiksa dokter dengan saat diperiksa perawat. Pendekatannya itu loh... lebih intim dan bersahabat dengan perawat. Tanpa bermaksud mengeneralisir, tapi dokter yang saya temui seakan waktunya sangat berharga dan ingin secepatnya mengakhiri sesi dengan pasien dengan memberikan diagnosa yang terlalu terburu-buru.

UPDATE Ammar Sekarang?

Sesungguhnya draft blogpost ini sudah ngejogrok dari Bulan Agustus saat Ammar berusia 2 tahun (24 bulan). Sekarang Ammar sudah 28 bulan. Ammar sendiri mengalami ledakan bahasa pada usia kurang lebih 22-23 bulan. Setelah ini tahapannya sangat cepat, mulai dari kalimat lengkap terdiri dari S-P-O (Subjek, Predikat, Objek), sampai penggunaan pada konteks yang tepat dari sih, kok, oh, dong, dan kata-kata lain yang tidak memiliki arti tapi biasa kita ucapkan sehari-hari. Ammar pun sekarang sudah gemar menceritakan kembali cerita yang dibacakan atau kejadian yang dia alami sehari-hari. Yup, sudah memasuki tahap "ember" dan suka ngadu.

Kesimpulannya?

Dari pengalaman saya di atas, ada beberapa poin yang perlu dievaluasi orang tua apabila anaknya mengalami keterlambatan bahasa sebelum memutuskan memeriksakan anak ke klinik Tumbuh Kembang.


1. Cek Screen timenya

Menurut saya ini adalah yang perlu dicek pertama kali saat anak mulai terlihat "lambat berbicara". Saatnya jujur dengan diri sendiri. Mungkin ibu pekerja yang menitipkan anaknya dan tidak bisa berbuat banyak saat yang dititipkan memberikan screen time, atau ibu rumah tangga yang cukup desperate untuk bisa mengatur dan membereskan hal lain, atau bahkan taktik agar anak bisa makan? Percayalah, I've been there, done that! Berdasarkan saran batasan screen time dari American Academy of Pediatrics, untuk anak di bawah 18 bulan sebenarnya belum boleh kecuali untuk video call. Di atas 18 bulan perlu pendampingan dan seleksi akan program yang disungguhkan, sedangkan 2 tahun ke atas tetap perlu pendampingan dengan batas maksimal screen time selama 1 jam per hari.

Untuk anak saya yang ke-2, caca, sudah saya terapkan hanya video call saja. Dulu beberapa teman saya pernah post tentang anaknya yang sedang bermain di dekat TV tapi tidak menunjukkan ketertarikan/terhipnotis TV, ya usianya sekitar 2 tahunan memang tapi mereka memang tidak terpapar semenjak kecil. Saya sempat skeptis, MANA MUNGKIN. Ternyata mungkin, karena caca sekarang pun masih lebih memilih asyik dengan mainannya dibanding melihat ke layar TV.

Kalaupun memang sangat terpaksa, menurut pengalaman saya TV dengan tontonan berbahasa Indonesia memiliki dampak buruk yang lebih ringan dibandingkan youtube bahasa Inggris di Gadget/HP saat anak masih belum bisa berbicara. Layar gadget yang lebih kecil, cenderung membuat anak menjadi lebih terpaku dan fokus kepada layar.

2. Interaksi dan Dialog?

Siapa yang suka main HP di saat menyusui? CUNG, SAYA! Tanpa sadar hal itu membuat saya kurang melakukan interaksi dan mengajak anak saya berbicara. Rajin-rajinlah mengajak bayi anda berbicara, mulai dari mendeskripsikan apa yang sedang anda lakukan, mengajaknya bercanda, sampai memberikan pertanyaan retorika. Stimulasi seperti ini membantu anak dalam merespon, mulai dari sederhana lama kelamaan menjadi lebih kompleks seperti berbicara :)

Jadi tunggu lah sampai anaknya tertidur yaa.. Walaupun kadang saya suka senewen sendiri, anak ngga tidur-tidur padahal saya ada perlu di HP. But then I came with a conclusion, it's not only their addiction we want to avoid, it's our addiction we have to overcome!

Oh iya, dengan sering melakukan interaksi dengan anak, kita juga bisa mengetahui dan lebih peka, kalau-kalau anak memiliki tanda-tanda autisme. Karena tanda-tandanya bisa dilihat dari usia 6-12 bulan, dan diagnosanya bisa tegak pada umur 18 bulan.

3. Bagaimana tekstur makanannya?

Pada beberapa kasus, oromotor (oral motor) menjadi penyebab keterlambatan anak berbicara. Kepiawaian ibu dalam menentukan kapan anak bisa naik tekstur makanan sangatlah penting. Salah-salah, jika telat, anak akan terbiasa memakan makanan dengan tekstur yang lembut padahal umurnya sudah cukup sehingga oromotornya tidak terlatih dan menghambat kemampuannya berbicara.


Sekian pengalaman saya dan tanpa niat untuk menggurui. Semoga bisa diambil hikmahnya dan terhindar dari kestressan yang saya alami.




Rabu, 02 Mei 2018

Sebulan Resmi Jadi Mamak Anak 2



Alhamdulillah, sebulan sudah keluarga kecil saya kedatangan anggota baru. Namanya Salsabila Tanisha Nugraha, seorang anak perempuan yang dilahirkan pada tanggal 23 Maret 2018 yang lalu. Sebulan bersama dengan newborn yang pertama sebelumnya pernah saya tulis di sini. Kali ini saya mau berbagi cerita tentang yang kedua. Iya, semuanya berbeda. Kondisi sekitar dan psikis saya pun juga berbeda. Sebenarnya udah nangkring lama itu draft yang isinya beda hamil pertama dan kedua. Tapi apa daya lah, saya si ibu wacana.

Hi, salsa mungil!

Proses Persalinan

Hari itu, tanggal 22 Maret 2018, saya merasakan kontraksi yang tidak biasanya, hilang timbul. Kontraksi seperti apa saat pembukaan awal, saya tidak tahu, karena saat Ammar saya mengalami ketuban pecah dini (KPD) dengan kondisi sudah pembukaan 3. Sehabis sholat maghrib, saya dan suami berniat iseng mengecek "jangan-jangan sudah bukaan". Benar saja, ketika sampai dan diperiksa oleh Bidan di Ruang VK, ternyata saya sudah pembukaan 2. Tetapi bidan tersebut menyarankan untuk pulang saja, karena kontraksi saya belum intens. Akhirnya sekitar pukul 20.30 kami keluar dari Rumah Sakit, had last dinner before labour, Ayam Bakar Mas Mono.

Persalinan kedua ini terasa lebih panjang dan melelahkan, karena sebelumnya seharian saya belum istirahat sama sekali dan sibuk beres-beres. Belum lagi saya baru pulang dari Rumah Sakit tanggal 21 karena Ammar sempat dirawat 3 hari karena dehidrasi. Sekitar jam 10 malam, saya minta masuk lagi ke ruang VK, karena kontraksinya semakin sering dan intens. Benar saja, pembukaan saya sudah masuk pembukaan 3. Jam 12 malam baru masuk pembukaan 4. Ya Allah, kok lama banget sih rasanya, gimana ibu-ibu yang ngalamin belasan jam yaa. Alhamdulillah, setelah itu pembukaan naik dengan cepat. Ketuban pecah secara naturan dan akhirnya...

.. Salsabila Tanisha Nugraha dilahirkan pada tanggal 23 Maret 2018 pada pukul 02.30 pagi melalui persalinan normal dengan berat 2,3 kg (sahajaaaa). Padahal saya naik 17 kg saat hamil Salsa sedangkan saat hamil Ammar (lahir 2,4 kg) naiknya 9 kg. Setelah melahirkan berat badan turun 3 kg saja, sampai sebulan melahirkan masih nyisa 10 kg dan stretchmark (see it as a sexy battle scar, babe) di beberapa tempat :(

Breastfeeding

Alhamdulillah, drama menyusui saya di bulan pertama ini minim. De' Salsa reflek menyusuinya sudah bagus dari hari pertama. Isapannya sangat kuat sampai saya lecet saat masih di rumah sakit dibandingkan saat Ammar. Sempat panik, takutnya terlalu gragas dan pelekatannya akan susah benar seperti Ammar dulu tapi nyatanya setelah itu langsung benar dan sampai saat ini saya tidak mengalami lecet.

Ada satu hal yang mungkin tidak dialami oleh semua ibu-ibu dan cukup membuat saya menderita di hari-hari awal (sama seperti saat Ammar dulu). Saya memiliki mammae aberans yang merupakan kelainan bawaan lahir dimana saya memiliki jaringan payudara tambahan di tempat lain, yaitu ketiak. Tentang mammae aberans ini akan saya buatkan postnya tersendiri (Insya Allah, karena memang sedikit sekali yang membahas). Pada hari-hari awal biasanya dr OBGYN akan meresepkan suplemen pelancar ASI seperti molocco dan sejenisnya. Lagi-lagi Alhamdulillah, saya memang tipe yang ASInya langsung keluar setelah melahirkan. Saya trauma sebenarnya minum suplemen penambah ASI karena biasanya payudara akan terasa bengkak, dan bonusnya ya benjolan sebesar telur di kedua ketiak saya yang rasanya sangat nyut-nyutan. Tidur sakit, posisi tangan biasa aja juga sakit. Tetapi yang sekarang saya sudah memahami esensi dari memompa, jadi saya rajin memompa dan mandi air panas, Alhamdulillah, dalam tiga hari, benjolan di sekitar ketiak mengempes dan tidak sakit lagi.

Kegiatan pumping sekarang saya rutin lakukan sehari sekali atau paling sedikit dua hari sekali jika tidak sempat. Waktu Ammar dulu saya merasa pumping merepotkan dan saya tidak punya waktu untuk itu. Tapi pumping benar-benar membuat sebulan pertama saya lebih indah, karena sungguh berjalan dengan Breast Engorgement ataupun payudara dengan penuh saluran mampet dan grinjelan sangat tidak enak. Kali kedua ini, saya sudah tidak punya tuntutan untuk menabung ASI karena saya sudah tidak kerja kantoran, tetapi menurut saya pumping ini penting dan perlu dilakukan baik untuk ibu bekerja ataupun tidak. Yang membedakan mungkin hanya frekuensinya saja. Plus saya rada ngarep jadi cepat kurus gituuuu...

Oh iya, saya masih pakai double pump yang sebelumnya saya pakai, Malish Ilaria. Ini berguna banget untuk menghemat waktu mompa. Sekarang rata-rata saya hanya menghabiskan waktu 20 menit untuk persiapan dan kegiatan memompa. Waktu dulu jaman sebulan pertama Ammar, saya pakai yang single pump dan itu juga untuk memompa sehari sekali rasanya tidak ada waktu, totalnya bisa 1 jam sendiri!

Masih setia sama Malish Ilaria

Hi, Aa' Ammar ini Adek Salsa

Yang ada di pikiran saya setelah melahirkan adalah reaksi Ammar ketika nanti melihat adiknya untuk pertama kali. Bakalan sayang adik ngga yaaa... Pas pertama kali melihat adiknya, Ammar terlihat bingung, ini siapa yaaa... Walaupun sudah sering dikenalkan bahwa di dalam perut bunda ada adik, sekarang adiknya sudah keluar. Karena Ammar juga kadang suka poker face, ya begitu deh, datar aja mukanya. Tapi dia hanya ngebolehin bundanya yang gendong adik. 

Foto pertama berempat di rumah sakit - lebih fokus sama sepatu, baiklahh


Saat saya masih di rumah sakit, Ammar tidak ikut menginap. Sesampainya di rumah, malam pertama kami berempat tidur sekamar cukup challenging. Ammar bukanlah anak yang harus menempel terus dengan saya, namun ritual tidur adalah salah satu yang paling sakral dimana saya harus memeluk erat dia dengan satu tangan dia tibani (memastikan bahwa saya tidak pergi) dan tangan satu lagi melingkari tubuhnya. Setiap kali adiknya menangis dan saya ingin beranjak, Ammar memegangi tangan saya erat agar tidak bisa kemana-mana, lalu biasanya saya coba beri pengertian "Ammar, sebentar ya, De'Salsa mau mimik bunda, dia ngga bisa minum yang lain kecuali susu bunda". Lama-kelamaan Ammar mulai kompromi, sembari saya menyusui adiknya di samping dengan posisi duduk, di sebelah dia tiduran sambil mengelus-ngelus siku saya. Sekarang, terkadang yang penting hanya bersentuhan anggota tubuh. Hehehe, makasih Aa' Ammar 😊😍😄

Aa' Ammar sayang banget sama de' Salsa. Setiap saat kalau dekat de' salsa harus banget nyium. Awalnya nyiumnya terlalu lama dan keras (jadi dia seperti menaruh kepalanya di atas kepala Salsa) diikuti dengan bunyi "mmuuuuachhh". Biasanya setelah itu Salsa menangis, dan Ammar malah makin mencium dan mencoba memeluknya karena selama ini kalau dia menangis atau tantrum, kami akan memeluknya. He got pure intention tapi kadang bikin adiknya ngga nyaman. Hehehhe

Sayang adik, paling semangat disuruh mangku adiknya

Terus begadang ngga? 

Alhamdulillah sebulan pertama saya minim begadang, hanya bangun maksimal 2-3 kali. Tapi belakangan ini setelah lewat satu bulan, si adek malah mulai suka nangis-nangis kenceng, engga mau mimik kecuali saya mompa dulu, harus ditimang-timang. Jadi bikin begadang, plus karena sambil nangis kenceng, engga bisa disambi emaknya nonton youtube atau main HP (boro-borooo). Untungnya Ammar sudah ngga bertingkah lagi dan tetap nyenyak bobo saat adiknya nangis jejeritan, one less problem lahhhh...

Penampilan Sebulan Pertama

Alhamdulillah lagiiii, yang kali ini saya hampir engga bergo-an (jilbab kaos instan) sama sekali. Kemana-mana saya masih sempat pakai kerudung penitian. Setiap hari pasti sempet mandi minimal banget sekali, kalau lagi beruntung bisa 2x. Beda banget lah pokoknya sama yang pertama walaupun sekarang anaknya dua. Somehow I managed to be more efficient and effective.


Ada beberapa point yang harus diperhatikan/dipersiapkan untuk dihadapi jika anda masih:
  1. Menyusui kakaknya: Ammar sudah tidak menyusui, tapi melihat pengalaman kakak sepupu dimana terkadang kakaknya suka ngegeplak adiknya dan rebutan minum susu, ada baiknya dicari penyelesaiannya jika kakak masih menyusu saat adik akan lahir. 
  2. Co-Sleeping: Banyak yang akhirnya memisahkan kakaknya untuk tidur di tempat lain bersama neneknya atau siapapun terpisah dari adiknya. Tetapi selama hampir 40 hari bersama, hanya 2x Ammar tidak tidur bersama saya. Awal-awalnya waktu tidur terasa berat karena kecemburuan abangnya, namun lama kelamaan akhirnya dia belajar untuk lebih toleransi terhadap adiknya, jadi mungkin dengan tidak memisahkan abangnya justru berdampak baik, karena dia tidak merasa di-excluded-kan. Walaupun sebenarnya tidur beramai-ramai dalam satu bed terutama dengan newborn meningkatkan resiko SIDS (Sudden Infant Death Syndrome) tetapi ada kalanya kita tidak punya pilihan lain selain itu menurut statistik (yang saya dapat dari nonton serial Netflix 'The Let Down') 93% Asian co-sleeps. 

Yeay, akhirnya nulis jugaaa... Nanti kalau ada yang diinget, ditambah atau diupdate lagi...

Salam Emak-Emak

Selasa, 27 Maret 2018

Cihuynya Ikutan KEB Collablogging


Duhh ini post udah super telat banget sebenernya, lebih dari 2 bulan. Maafkan ya teman-teman grup collabloggingku tersayang.

Awal kenal Kumpulan Emak Blogger (KEB)
Bukan dari temen, atau karena pernah blog walking dan nemu si empunya blogger memasang banner bahwa dia anggota KEB, tapi karena saya dengan isengnya nyari di google: kumpulan emak blogger. Suwerrr dan ketemunya pas banget sama.

Saya sendiri sebenarnya sudah punya blog lama tapi yaa taulah suka ngga ditengok dan mati suri. Saya sendiri sering sekali membaca tulisan blog orang tentang review berbagai macam produk. Pokoknya kalau saya mau beli sesuatu biasanya saya googling dan ditambahkan kata “honest review” atau “review Indonesia”. Mulai dari produk make up sampai produk bayi dan anak-anak. Saya pribadi lebih menyukai review yang ada di blog dibandingkan artikel pada sebuah web tertentu (contoh review make up di web yang emang jualan make up, kayanya kurang objektif gituu). Karena saya merasa tertolong dengan review yang saya dapatkan, maka saya jadi terinspirasi juga untuk menuliskan review dari barang yang saya gunakan terutama jika barang tersebut tidak banyak yang mereview (uhukkk, walaupun sampai sekarang masih dikit tulisannya). Saya pun akhirnya iseng mencari siapa tau ada komunitas blogger untuk emak-emak.

Dari grup facebook KEB, barulah saya tau bahwa blog yang mungkin berawal dari hobi bisa menjadi sampingan atau bahkan mata pencaharian. Berbagai macam cara memoneytize blog, blog SEO, dll yang belum pernah saya dengar saya ketahui dari KEB. Yah lupakan hal-hal tersebut terlebih dahulu karena motivasi saya sekarang cuma satu, supaya lebih rutin nulis blog untuk pelampiasan segala uneg-uneg biar ga budeg dan otak tetap berkembang, hehehhee...

Pada suatu hari, KEB mengadakan collablogging challenge, siapapun asal anggota boleh mendaftar. Dari yang mendaftar akan dibuatkan grup khusus yang isinya akan dipilih secara acak. Aturan mainnya dalam 2-3 minggu sekali setiap 1 orang dari kelompok mendapat giliran untuk menulis sebuah artikel di web KEB dengan tema yang sudah disepakati kelompoknya. Setelah artikel tersebut (dengan kata lain trigger post) dipublish, anggota lain dalam kelompok itu harus menanggapi trigger post tersebut di blognya masing-masing. Cukup menarik dan menantang bukan.

Setelah mendaftar, tergabunglah saya dalam suatu grup whatsapp bernama “Najwa Shihab”, dan dengan dodolnya saya kira kita harus nulis tentang “Najwa Shihab”, kalo ga salah waktu itu doi baru fresh-freshnya keluar dari Metro TV. Hehehehehe

Manfaat dari Collablogging KEB yang saya rasakan adalah:
·   Memotivasi (memaksa) saya untuk menulis – iyes, karena saya masih ngga disiplin nulisnya, dengan adanya deadline membuat saya harus menulis.
·    Keluar dari comfort zone. Karena tema tulisan adalah tema yang disepakati bersama oleh anggota grup dengan latar belakang niche blog yang berbeda-beda, maka akan ada saat dimana kita harus menulis tentang tema yang kemungkinannya sangat kecil ditulis dengan inisiatif sendiri. Contohnya buat saya: DIY (Do It Yourself). Wkwkwkw, mana pernah kepikiran mau buat DIY. Tapi ternyata asyik juga lohhh…
·  Menambah teman baru. Kalo engga ikutan collablogging ini, mungkin temen saya mah jadebotabek-bandung aja kali yaa… Kalo sekarang, ada mak alfu dan mak awie di Makassar (lumayan bisa mampir kalau kesana) atau ada juga Mbak Anin di Palembang, Mak Julia di Paiton, Mak Aya di Jogja, dan Mak Idah Ceris di Banjarnegara. Belum lagi latar belakang dan “bagasi” yang berbeda-beda dengan satu kecintaan yang sama: Dunia Blogging.
·   Meningkatnya traffic blog. Jujur saya dulu ngga ngerti loh kalo ternyata blogger perlu blogwalking, meninggalkan komen dan saling kunjung-mengunjungi blog. Baru semenjak saya ikut collablogging, saya mulai meninggalkan komentar pada blogpost orang, sebelumnya silent reader aja. Lumayan senang juga loh ternyata kalo post kita ada yang menanggapi. Ya setidaknya teman-teman saya di grup najwa shihab yang setia menanggapi. Hehehe, makasih yaaa… Saya memperhatikan beberapa post lain yang bukan collablogging pun statistic view nya pun jadi meningkat

Nostalgia topik-topik yang selama ini sudah ditulis:
1.      Kemerdekaan 
2.      Poligami 
3.      Tentang Traveling 
4.      Kids Zaman Now 
5.      DIY 
6.      Resolusi 
7.      Manfaat Collablogging 



Yuk, kepoin anggota collablogging najwa shihab yang lain:
1.      Mak Julia dan blognya yang sangat produktif di www.sepradik.com
2.      Mak Aya sang mompreneur di www.kartikanugmalia.com
3.      Mak Awie yang fashionable di www.fillyawie.com
4.      Mbak Anin yang paling bungsu di www.aninditaayu.com
5.      Mak Alfu, mak kece yang anti rempong di www.alfulaila.com
6.      Mak Idah, PNS super bisa di www.cerisfamily.com
                                                          
                                                          


Kamis, 26 Oktober 2017

Kids Jaman Now yang selalu disalahkan.


Kids jaman now.
Penasaran juga siapa yang awalnya bikin istilah kekinian ini. Karena dari dulu kan orang tua kalo lagi marah-marah bilangnya “anak jaman sekarang” Hehehehe. Eh ternyata ada yang nulis tentang asal muasal siapa yang mempopulerkan istilah ini loh. By the way, kata mendikbud yang benar pakai "zaman" ya, kalo jaman enggak ada di KBBI (Kamur Besar Bahasa Indonesia), itu merupakan bentuk tidak bakunya.

Kids jaman now atau generasi Z lagi sering banget dibahas dan sebagian besar tentang kejelekannya. Setuju ga sih kalo yang masuk kategori anak jaman now itu ya anak-anak setelah generasi 90an. Iyes, kalo saya mah generasi 90an, jd ga mau disamain sama anak jaman now. Anak jaman now yang tumbuh saat jaman komputerisasi sudah semakin pesat. Kalo generasi 90an kan masih ngerasain jaman transisi sebelum internet. Ehhh teteup ya saya mah belain generasi sendiri. Tapi saya sendiri sih, ngga usah jauh-jauh buat liat anak jaman now kaya gimana, lah wong adek kandung saya ada 8 (paling muda kelahiran 2004).

Setelah renovasi rumah selesai, adek saya pada rebutan mau di kamar yang lebih kecil. Alasannya ternyata karena router wifi paling dekat dengan kamar itu. Gedubrak... 😏😏😏 Kalau mereka kehabisan paket data dan wifi mati, langsung lah megap-megap gelisah persis kaya ikan mas diangkat dari air. Nah ga pernah kan liat orang tua kita (yang di atas 50 tahunan) sampai kaya gitu. 

Sumber: http://weknowmemes.com/wp-content/uploads/2014/04/basic-human-needs-wifi.jpg

Alhamdulillah, saya rasa adik-adik saya mah masih dalam batas normal (bahkan saya ngerasa lebih nakal dari mereka saat seusianya 😜), tidak seperti yang artikel-artikel tentang kelakuan kids jaman now yang bikin miris. Duh, jaman now aja kaya gitu, gimana 10 tahun lagi yaa.. Langsung lah saya sebagai orang tua (walaupun anaknya masih piyik, baru 15 bulan) khawatir bagaimana nanti jadinya anak saya kelak dan dunia di sekitarnya cukup jadi pikiran. Dan seperti parents jaman now, saya ikut beberapa grup di line, facebook, sampai whatsapp, rajin join kulwap (kuliah via whatsapp) terutama yang bahas masalah parenting. Ada saatnya saya merasa sangat overwhelming dengan segala informasi yang saya terima. Namun ada beberapa hal yang saya coba terapkan kepada Anak saya sekarang dan kelak:

1.     Menjadi contoh yang baik
Di usia awal kehidupannya, anak sangat cepat menyerap dan mencontoh dari apa yang ada di sekitarnya terutama siapa lagi kalau bukan keluarganya. Walaupun anak saya masih 1 tahun, pernah sekali ketika saya marah di depan dia, dia nampak mengerti dan ikut terdiam. Beberapa kali dia juga menunjukkan kalau dia sama galaknya dengan saya di depan tantenya. Waduh, saya harus belajar lebih menahan diri dan menjadi lebih baik nih, karena ada mahluk kecil yang suka mencontoh saya.

2.     Menjaga keharmonisan keluarga
Saya percaya bahwa salah satu faktor yang menentukan bagaimana anak kita kelak adalah latar belakang keluarga. Walaupun tidak serta merta bahwa anak yang berasal dari keluarga broken home pasti lebih buruk dari keluarga normal biasa. Saya pernah membaca suatu tulisan (sayang saya lupa sumber tulisannya) tentang anak-anak yang berpacaran di bawah umur, salah satunya adalah hilangnya sosok peran orang tua (tidak secara harfiah, tapi bisa berarti secara emosional) di rumahnya, sehingga sang anak mencari “sosok pengganti” lewat pacaran. Oleh karena itu, peran ibu dan ayah adalah sangat penting dan tidak dapat ditiadakan salah satunya.


Semoga ayah dan bunda langgeng terus sampai tua ya, Mar…

3.     Menumbuhkan rasa percaya bukan takut

Sumber: https://www.slideshare.net/NavjyotSinghChoudhary/parents-child-relationship

Saya ingat sekali waktu SMA(kebetulan sekolah Islam) ada 2 teman saya yang dibesarkan dari 2 keluarga berbeda (yaiyalahhh…) Keduanya memiliki pacar. Sebut saja si A, orang tua si A tidak serta marah dengan anaknya yang pacaran, tapi malah mencoba mengenal pasangan sang anak dan akhirnya malah jadi dekat juga. Akhirnya jika pergi berdua mereka tidak pernah berbohong bahkan lebih sering bertemu di rumah si A dengan pengawasan orang tua. Berbanding terbalik dengan si B, orang tua si B sangat religious, segala gerak gerik anaknya dipantau, sampai akhirnya si B sering berbohong setiap pergi dengan pacarnya dan meminta bantuan teman-temannya untuk dijadikan alibinya saat berbohong. Mereka juga suka melakukan hal-hal yang seperti ada di film remaja Hollywood lah pokoknya (walaupun sepertinya di Indonesia pun banyak dan mulai umum yang seperti ini).

Dari contoh yang saya lihat, maka penting sekali bahwa anak menaruh rasa percayanya pada kita, karena ketika mereka sudah mulai berbohong, itulah pintu bahaya mulai terbuka. Saya sendiri setelah menikah, merasa, ahhh buat apa pacaran buang-buang waktu banget ternyata kalau dipikir-pikir. Tetapi kelak saat anak saya menginjak usia puber dan mengalami ketertarikan terhadap lawan jenis, enggak mungkin saya langsung marah-marah dan melarangnya kan. Kita harus bijak memilih mana yang akan menimbulkan “less damage”.  

Daripada selalu menyalahkan anak zaman now, yuk mari belajar dan berusaha agar anak-anak dan keturunan kita tidak menjadi anak zaman now yang bikin miris tapi bikin bangga dan lebih baik. Merugilah kita jika hari ini sama atau lebih buruk dari kemarin bukan? Masih ada harapan untuk kids zaman now, dan harapan itu ditentukan oleh kita, parents zaman now :)

Tulisan merupakan respon dari tulisan Anindita Ayu di website Kumpulan Emak Blogger yang merupakan collablogging dari Kelompok Najwa Shihab


Sabtu, 07 Oktober 2017

Jalan-jalan ke luar negeri, berarti kaya?

Kumpulan Emak Blogger - Blogging Collab
Kelompok Najwa Shihab
___
Sungguh sebenarnya agak bingung juga ketika topik blog kali ini adalah alasan kenapa jalan-jalan dalam kota atau luar kota. Karena sejujurnya, walaupun punya jiwa traveling sangat tinggi, tapi sebagian besar pengalaman jalan-jalan saya adalah ke luar negeri.
Dari kuliah saya suka backpacking ke daerah ASEAN sampai Asia Timur. Pokoknya kalau maskapai low cost milik negeri jiran lagi promo free seat pasti saya pantengin, entah buat jalan-jalan sendiri atau buat arrange jalan-jalan keluarga saya yang banyak dan besar (9 bersaudara, cinn… mau full team kudu pake tiket promo).
Makin kesini sih, skill tiket promo mulai beralih ke fullboard airlines, karena informasinya juga lebih mudah didapat melalui facebook group sesama traveler (saya sih join di Backpacker Dunianya mbak Elok). Alhasil pergi baby moon ke eropa ataupun jalan-jalan ke Amerika semuanya karena tiket promo yang emang murah, jarang, dan sayang untuk dilewatkan. Pernah sih saya tidak pakai tiket promo dan beli agak dadakan pas ke Australia, tapi disana ada kakak angkat dan akomodasi terjamin (lumayan banget karena di luar negeri porsi untuk akomodasi itu bisa lebih mahal daripada tiket pesawatnya apalagi kalau stay lama).


One windy day in DC
Trus kalau ada waktu seminggu kosong, kadang saya rencanakan untuk ke Malaysia. Selain tiketnya ga usah promo dan mendadak pun juga 1 juta rupiah dapet PP, saya juga lebih familiar dengan kuala lumpur dibandingkan dengan Jakarta, karena saya sempat berkuliah di Malaysia. Harga makanannya ga beda jauh dan murah, penginapan tidak mahal, transportasi mudah dan murah, kemungkinan digetok sedikit plus sekalian buka jastip siss… lumayannn (mampir yak ke IG @landkshop) 😛

Sombong amat sih makkk…

Ya bukan maksud, tapi jalan-jalan dalam Indonesia ke tujuan yang saya idam-idamkan, malah mahal bokkk…
Sehabis menikah, suami sempat ngajakin honeymoon ke ora. Ya ampun pantainya bagus banget, eco resort pula. Tapi paketnya 7 juta seorang dan kalau tidak salah belum termasuk tiket pesawat dari Jakarta. Hikss.. ya ampun, kalo mau backpackingan ke jepang atau korea juga segitu bisa lebih diirit bahkan.
Akhirnya kita pindah haluan ke sabang, dan itu juga demi kemurahan tiket pesawat, kita ambil yang ke Kuala Lumpur dulu baru ke Banda Aceh. Karena kalau langsung dari Jakarta, harganya lebih mahal. Hihihi, ironis ya, transportasi antar Indonesia.

Terus wishlist selanjutnya apa?

Ada wishlist, tujuan destinasi yang sudah saya idam-idamkan dari dulu dan Insya Allah akan terwujud bulan November ini.
Ke Malang… Tadaaaaa..


Udah kepengen banget ke Batu Malang sama melipir juga ke Gunung Bromo , apalagi si Ammar (14 mo) lagi senang-senangnya sama binatang, tambahlah kan yaa modus ke paksu minta ke Batu Secret Zoo. Hehehhee…
Uhhh super luv, bromo.. Mauuu

Kenapa ga dari kemarin-kemarin ke Malang? Ke luar negeri aja bisa

Makkkk, sejujurnya aku ngerasa tiket ke Malang mahal. Lebih mahal dari ke Kuala Lumpur, hiksss (dimana aku pun ada prospek bisnis disana). Jd tunggu ada rezeki dulu baru bisa ke Malang akhir taun ini. Sebelumnya habis bleeding dari jalan-jalan ke Amerika bulan Maret lalu yang tiketnya dibeli hanya 2 bulan sebelum keberangkatan. Impulsif banget yakk, coba bayangin kepanikannya saat kalian dapat tiket PP ke Amerika naik fullboard airline untuk 2 dewasa dan 1 bayi hanya 15 juta rupiah.
Dan perlu digarisbawahi juga bahwa kami bukannya hidup tanpa kompromi.
Ga terhitung berapa weekend dan long weekend kami bertiga cuma di rumah aja. Padahal semua orang pergi menghamburkan gaji ke mall, makan di restoran hits, gaul sana sini.
  • Saya fobia macet, uhhh bisa stres dan malah marah-marah di jalan. Depok itu pas weekend macet banget apalagi kalo abis gajian.
  • Suami cinta sepi, ga suka mall, dan sangat menikmati waktu di kamar saja me time. Baca novel online ataupun main PS mah lebih dari cukup. Untungnya doi suka traveling.
  • Waktu saya masih kerja kantoran senin-jumat jam 8-17, saya juga lebih suka di rumah aja istirahat dibanding ke luar rumah. Maksimal 1 hari aja antara sabtu atau minggu keluar rumah kalau perlu. Suka salut deh yang kerja senin sampai jumat dan masih kuat ngegaul sabtu dan minggunya.
  • Saya udah susah banget window shopping dan belanja di mall indonesia. Mahal, diskonnya boongan, duhh susah emang kalo otaknya price police banget. Lebih suka belanja online sekarang.
  • Udah punya krucil sekarang, jadinya kalau mau jalan-jalan pun dipikirin yang child friendly. Destinasi wisata anak itu terkenal penuh dan ramai, jadi saya dan suami memilih jalan-jalan di tanggal tua. Bulan lalu saya ke Taman Safari tapi tanggal 20, ga sesepi itu juga, tapi saya ga kebayang itu kalo weekend abis gajian gimana disana. Hehehehhee…
Jadi coba dipikir-pikir lagi, saya mah ga kaya. Tapi saya ada prioritas dan keluarga kecil kami suka jalan-jalan non mall. Dibanding makan hits minimal 500 ribu belum lagi jajan yang lainnya, bensin, tol, dll. Mending ditahan-tahan, alokasi seminggu 500ribu-1 juta, 2 bulan aja bisa jalan-jalan yang lebih jauhan. Ya kan… Ga usah kemakan social media demi hidup yang hits, hati-hati terjebak menjadi kaum urban miskin.

Salam sotoy,
Sumayyah, si #ibumalas

Tulisan merupakan respon atas blog post oleh fillyawie di https://emak2blogger.com/2017/10/01/liburan-impian-ke-mana/

Rabu, 20 September 2017

Poligami: Ikuti Sunnah Rasul jangan setengah-setengah


Jujur, ini adalah topik yang sangat sensitif dan bisa bikin esmosi tapi menantang untuk ditulis.

Masih teringat saat Aa Gym berpoligami dan mempunyai dampak sangat hebat padahal beliau saat itu sedang ngetop-ngetopnya ngisi ceramah dimana-mana baik on air maupun off air. Sampai-sampai beliau juga melebarkan sayap bisnis brand MQ (Manajemen Qalbu) mulai dari air minum, mie instan, pasta gigi, dan lain-lain. Agennya banyak, tokonya dimana-mana. Namun seketika itu juga mengalami penurunan drastis semenjak Aa Gym berpoligami. Pengajiannya sepi, penginapan miliknya di Geger Kalong yang biasanya full book juga kosong.

Source: http://www.boombastis.com/istri-cantik-ustadz/9587

Gimana tidak, saat itu istri madu Aa Gym adalah seseorang yang (maaf) lebih menarik dan dari kalangan berada. Aa Gym sendiri sudah diberikan banyak keturunan dari istri tuanya Teh Ninih yang sehat dan tidak memiliki cacat atau tidak mampu melayani Aa Gym lagi. Ya terang aja, bubar jalan ibu-ibu ‘emoh’ ke pengajian Aa Gym lagi. Dari pihak luar pastinya menilai kok sepertinya dilandasi nafsu saja karena sang istri madu sepertinya tidak masuk kategori yg perlu ditolong. Apa alasan sebenarnya kan yang tahu hanya Allah, Aa Gym, dan orang-orang dalam rumah tangga mereka. Pokoknya infotainment berminggu-minggu bahasnya hal ini terus.

Source: http://fajar-aryanto.blogspot.co.id/2010/03/h-puspo-wardoyo-pemilik-restoran-wong.html?m=1

Atau ada juga kisah pengusaha pemilik restoran “Ayam Bakar Wong Solo” yang sangat “bangga” atas poligami yang dilakukannya. Sampai-sampai beliau bikin poligami award, nama-nama jus di restorannya pun ada yang dinamakan ‘dimadu’, ‘jus poligami’, dll. Di dinding-dinding restoran ditempel artikel tentang pemilik dan istri-istrinya. Saya ingat waktu itu ayam bakar wong solo sempat booming, rasanya memang enak. Lokasi cabang depoknya premium dan sangat strategis. Tapi sayang semenjak berlebihan mengumbar poligami yang dilakukannya, restoran cabang depok ditutup, gedungnya kosong bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya terkena penggusuran untuk jalan tol. Usaha ayam bakar wong solo tidak serta nerta mati sih, masih ada di beberapa kota terutama di sumatera. Walaupun sempat mengalami kebangkrutan, ayam bakar wong solo akhirnya berhasil bertahan dan tentunya tidak menggembar-gemborkan lagi poligami yang dilakukan pemiliknya lewat dekorasi restoran.

Lalu bagaimana dengan nasib penyanyi opick setelah diam-diam melakukan poligami? Kabar terakhir menyebutkan sang istri menggugat cerai. Bagaimana dampak terhadap karir opick ke depannya? Hmmmm… Saya juga jadi kepikiran, kalau bapak proklamator kita hidup di jaman demokrasi seperti sekarang, akankah beliau terpilih menjadi presiden melalui pemilihan langsung mengingat cerita romansanya yang penuh dengan banyak wanita.

Sebelum saya menikah saya sempat berniat untuk membuat perjanjian pranikah. Perjanjian pranikah ini dibolehkan dalam islam dan umum loh dilakukan di negara arab sekalipun. Bukan masalah materil macam artis hollywood, tetapi saya memang ingin menekankan bahwa saya tidak mau dipoligami kecuali: jika saya tidak bisa memiliki anak setelah berbagai upaya, dan saya sakit keras atau cacat sehingga saya tidak dapat melaksanakan kewajiban saya terhadap suami.

Trus, jadi ga? Wacana doang, ga pernah tertulis. Semoga ga kejadian yaaa..

Di usia pernikahan menginjak 3 tahun saya menyadari bahwa menjalani pernikahan tidaklah mudah. Pacaran dan nikah sangatlah berbeda. Ada masa-masa dimana kita mulai merasa hambar atau kesal dengan kebiasaan buruk pasangan. Yes, perlu banyak kesabaran, niat, serta usaha untuk menjalani sebuah pernikahan. Pernikahan bukan akhir dari cerita seperti layaknya yang ada di pikiran sebelum menikah karena termakan kisah cinderella. Ada yang namanya perceraian dan ternyata banyak terjadi serta tentunya tidak kita inginkan saat awal kita menikah.

Menurut saya tidak mungkin ada pasangan yang ga pernah berantem kecuali mungkin Rasulullah. Hehehhee… kadang habis berantem dan maaf-maafan saya suka bilang gini ke suami: “Bebo (panggilan kesayangan suami), ingat ya kalau ada cewe lain yang godain kamu, ingattttt, cewe pas pacaran sama pas udah nikah galaknya dikali 10. Dan aku doain, kalau kamu macem-macem, kamu bakal dapet yang jauhhh lebih galak dari aku plus mertuanya lebih galak dari abi (ayah saya) wkwkwkwk. Dan semua yang ada campur tangan setannya pasti lebih enak” “Hiii serem” balas suami.

Dan ada satu yang suka saya ucapkan dan contoh dari perkataan Ibu saya ke Ayah saya: “Kalau mau poligami, tunggu sampai istri pertama meninggal ya. Rasulullah aja baru menikah lagi setelah Khadijah RA meninggal. Jadi kalau ikut sunnah nabi jangan setengah-setengah”.

Untuk para istri (ngomong ama diri sendiri juga), yuk perbaiki diri sendiri juga supaya pikiran ingin berpoligami jauh-jauh dari suami. Ingatlah bahwa sangat sedikit perempuan yang rela dipoligami tapi banyak perempuan yang mau jadi madunya. Sambutlah suami dengan senyuman saat ia pulang ke rumah.,

Tulisan merupakan respon atas post trigger dari Kartika Nurmaglia di http://emak2blogger.com/2017/09/12/ada-apa-dengan-poligami/.
Kelompok Najwa Shihab