Tampilkan postingan dengan label parenthood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenthood. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Oktober 2017

Kids Jaman Now yang selalu disalahkan.


Kids jaman now.
Penasaran juga siapa yang awalnya bikin istilah kekinian ini. Karena dari dulu kan orang tua kalo lagi marah-marah bilangnya “anak jaman sekarang” Hehehehe. Eh ternyata ada yang nulis tentang asal muasal siapa yang mempopulerkan istilah ini loh. By the way, kata mendikbud yang benar pakai "zaman" ya, kalo jaman enggak ada di KBBI (Kamur Besar Bahasa Indonesia), itu merupakan bentuk tidak bakunya.

Kids jaman now atau generasi Z lagi sering banget dibahas dan sebagian besar tentang kejelekannya. Setuju ga sih kalo yang masuk kategori anak jaman now itu ya anak-anak setelah generasi 90an. Iyes, kalo saya mah generasi 90an, jd ga mau disamain sama anak jaman now. Anak jaman now yang tumbuh saat jaman komputerisasi sudah semakin pesat. Kalo generasi 90an kan masih ngerasain jaman transisi sebelum internet. Ehhh teteup ya saya mah belain generasi sendiri. Tapi saya sendiri sih, ngga usah jauh-jauh buat liat anak jaman now kaya gimana, lah wong adek kandung saya ada 8 (paling muda kelahiran 2004).

Setelah renovasi rumah selesai, adek saya pada rebutan mau di kamar yang lebih kecil. Alasannya ternyata karena router wifi paling dekat dengan kamar itu. Gedubrak... 😏😏😏 Kalau mereka kehabisan paket data dan wifi mati, langsung lah megap-megap gelisah persis kaya ikan mas diangkat dari air. Nah ga pernah kan liat orang tua kita (yang di atas 50 tahunan) sampai kaya gitu. 

Sumber: http://weknowmemes.com/wp-content/uploads/2014/04/basic-human-needs-wifi.jpg

Alhamdulillah, saya rasa adik-adik saya mah masih dalam batas normal (bahkan saya ngerasa lebih nakal dari mereka saat seusianya 😜), tidak seperti yang artikel-artikel tentang kelakuan kids jaman now yang bikin miris. Duh, jaman now aja kaya gitu, gimana 10 tahun lagi yaa.. Langsung lah saya sebagai orang tua (walaupun anaknya masih piyik, baru 15 bulan) khawatir bagaimana nanti jadinya anak saya kelak dan dunia di sekitarnya cukup jadi pikiran. Dan seperti parents jaman now, saya ikut beberapa grup di line, facebook, sampai whatsapp, rajin join kulwap (kuliah via whatsapp) terutama yang bahas masalah parenting. Ada saatnya saya merasa sangat overwhelming dengan segala informasi yang saya terima. Namun ada beberapa hal yang saya coba terapkan kepada Anak saya sekarang dan kelak:

1.     Menjadi contoh yang baik
Di usia awal kehidupannya, anak sangat cepat menyerap dan mencontoh dari apa yang ada di sekitarnya terutama siapa lagi kalau bukan keluarganya. Walaupun anak saya masih 1 tahun, pernah sekali ketika saya marah di depan dia, dia nampak mengerti dan ikut terdiam. Beberapa kali dia juga menunjukkan kalau dia sama galaknya dengan saya di depan tantenya. Waduh, saya harus belajar lebih menahan diri dan menjadi lebih baik nih, karena ada mahluk kecil yang suka mencontoh saya.

2.     Menjaga keharmonisan keluarga
Saya percaya bahwa salah satu faktor yang menentukan bagaimana anak kita kelak adalah latar belakang keluarga. Walaupun tidak serta merta bahwa anak yang berasal dari keluarga broken home pasti lebih buruk dari keluarga normal biasa. Saya pernah membaca suatu tulisan (sayang saya lupa sumber tulisannya) tentang anak-anak yang berpacaran di bawah umur, salah satunya adalah hilangnya sosok peran orang tua (tidak secara harfiah, tapi bisa berarti secara emosional) di rumahnya, sehingga sang anak mencari “sosok pengganti” lewat pacaran. Oleh karena itu, peran ibu dan ayah adalah sangat penting dan tidak dapat ditiadakan salah satunya.


Semoga ayah dan bunda langgeng terus sampai tua ya, Mar…

3.     Menumbuhkan rasa percaya bukan takut

Sumber: https://www.slideshare.net/NavjyotSinghChoudhary/parents-child-relationship

Saya ingat sekali waktu SMA(kebetulan sekolah Islam) ada 2 teman saya yang dibesarkan dari 2 keluarga berbeda (yaiyalahhh…) Keduanya memiliki pacar. Sebut saja si A, orang tua si A tidak serta marah dengan anaknya yang pacaran, tapi malah mencoba mengenal pasangan sang anak dan akhirnya malah jadi dekat juga. Akhirnya jika pergi berdua mereka tidak pernah berbohong bahkan lebih sering bertemu di rumah si A dengan pengawasan orang tua. Berbanding terbalik dengan si B, orang tua si B sangat religious, segala gerak gerik anaknya dipantau, sampai akhirnya si B sering berbohong setiap pergi dengan pacarnya dan meminta bantuan teman-temannya untuk dijadikan alibinya saat berbohong. Mereka juga suka melakukan hal-hal yang seperti ada di film remaja Hollywood lah pokoknya (walaupun sepertinya di Indonesia pun banyak dan mulai umum yang seperti ini).

Dari contoh yang saya lihat, maka penting sekali bahwa anak menaruh rasa percayanya pada kita, karena ketika mereka sudah mulai berbohong, itulah pintu bahaya mulai terbuka. Saya sendiri setelah menikah, merasa, ahhh buat apa pacaran buang-buang waktu banget ternyata kalau dipikir-pikir. Tetapi kelak saat anak saya menginjak usia puber dan mengalami ketertarikan terhadap lawan jenis, enggak mungkin saya langsung marah-marah dan melarangnya kan. Kita harus bijak memilih mana yang akan menimbulkan “less damage”.  

Daripada selalu menyalahkan anak zaman now, yuk mari belajar dan berusaha agar anak-anak dan keturunan kita tidak menjadi anak zaman now yang bikin miris tapi bikin bangga dan lebih baik. Merugilah kita jika hari ini sama atau lebih buruk dari kemarin bukan? Masih ada harapan untuk kids zaman now, dan harapan itu ditentukan oleh kita, parents zaman now :)

Tulisan merupakan respon dari tulisan Anindita Ayu di website Kumpulan Emak Blogger yang merupakan collablogging dari Kelompok Najwa Shihab


Kamis, 20 Juli 2017

I am now a Stay At Home Mom :)

Heuuuu... Saya ga ngepost bulan juni kemarin, utang dehhhh.... Banyak banget draft tapi ngga selesai-selesai.

23 Juni 2017 adalah hari terakhir saya bekerja sebagai pegawai kantoran untuk menjadi ibu rumah tangga, atau sekarang kerennya disebut SAHM (Stay At Home Mom). Keputusan yang sebenarnya saya sudah rencanakan setelah melahirkan 11 bulan yang lalu. 

Ada link bagus yang saya baca tentang stay at home mom masa kini. First paragraphnya seperti ini:

In my pre-kid life, I never imagined that someday I'd be a stay-at-home mom—hey, I didn't go to grad school to spend my days changing diapers. But when I held my first baby, Mathilda, I had a complete change of heart. As soon as we locked eyes, all those career and financial worries faded. They didn't disappear, but they certainly became secondary.

Heuuuu.. Bener bangett... Mana pernah kepikiran sih kalau suatu saat akan jadi ibu rumah tangga. Kayanya kok kurang bonafit gitu, lebih keren kalau kerja di kantor yang gedungnya bagus pakai baju rapih. Sekarang mah semenjak tau rasanya jadi ibu, boro-boroo... (Sumpah, inget banget, dulu semua orang ngetawain adik saya (shofiyya) waktu pas masih kecil dia bilang cita-citanya jadi Ibu Rumah Tangga). Berat banget melangkah kerja, meninggalkan si anak dengan orang lain (kalau saya masih Alhamdulillah, dipegang neneknya sendiri), melewatkan momen-momen lucunya si kecil, tidak menjadi saksi milestone-milestone yang berhasil anak kita lewati dan masih banyak lagi.

Tentunya setiap ibu memiliki pertimbangannya masing-masing saat memutuskan ingin menjadi Stay-At-Home-Mom atau Working Mom. Semua adalah pilihan hidup setiap individu dimana tidak bijak tampaknya jika harus dinilai mana yang benar dan mana yang salah karena toh segala konsekuensi ditanggung sendiri bukan oleh yang berkomentar. Di samping itu kondisi dan lingkungan setiap orang berbeda. Kalau boleh saya menjabarkan alasan saya memutuskan menjadi SAHM adalah sebagai berikut:

  1. Agar tidak long distance. Sesungguhnya yang tau kejelasan pekerjaan suami saya hanyalah Allah. Soalnya kadang doi ditanya rencananya dalam sebulan ke depan gimana aja, dia juga ga bisa jawab. Bisa aja besok disuruh ke field, bisa aja meeting disini, harus troubleshooting disana, ngatur ini, ngatur itu, bla bla bla. Jadwal suami yang bertugas 2 minggu di Cirebon 2 minggu di Balikpapan, membuat kita cuma ketemu di weekend pada saat suami mau ke Balikpapan. Walaupun kadang ada surprise visit karena tau-tau dia mesti meeting di Jakarta. Dengan kondisi saya yang masih bekerja, mengharuskan saya untuk tetap tinggal di Depok dan tidak dapat menemani suami di tempatnya bekerja. Supaya si kecil bisa ketemu ayahnya lebih sering sepertinya solusinya sudah jelas.
  2. Saya tidak menanggung beban ekonomi siapapun kecuali lipstik-lipstikku sayang :p Alhamdulillah. Sebenarnya ini bukan berarti saya mau berpangku tangan, ongkang-ongkang kaki aja gituu... Saya mulai memikirkan untuk freelance (kerja yang tidak mengikat dan bs dikerjakan dari rumah) dan usaha kecil-kecilan (saya jual barang beraneka ragam di tokopedia, shopee, dan instagram, dan sudah saya lakukan dari saya masih bekerja). Memiliki usaha sendiri itu "tidak aman", penghasilan tidak pasti dan tetap, tetapi dijalaninya lebih menyenangkan plus saya punya waktu lebih banyak bersama si kecil. Tanggungan pribadi saya tidak ada yang bersifat wajib dan naik-turunnya belum memberikan dampak yang signifikan terhadap yang lain. Di saat terakhir saya bekerja, usaha sampingan saya sudah mencapai omset lebih banyak dari gaji saya (omset sama keuntungan beda yaaa). Yaudah, Bismillah dehhh
  3. My mom has done enough. Semenjak memiliki anak, saya kembali melipir ke rumah orang tua mengingat kondisi suami saya yang selalu dinas dan saya yang bekerja. Ibu saya sebenarnya juga working from home woman, malah dia lebih sibuk dari saya karena beliau merangkap jadi asistennya ayah saya tetapi si nenek tidak tega kalau cucunya diurus oleh orang lain. Alhasil selama 8 bulan saya kembali bekerja, anak saya diurus oleh keluarga, sebagian besar sama Ibu saya, di back up sama adik saya yang sedang tidak lagi ada kelas, atau ada yang lagi libur. Alhamdulillah dari 8 bulan itu hanya 3x saya benar-benar tidak punya pilihan lain, sehingga akhirnya si kecil dijaga sama bibi yang suka gosok di rumah. Seiring waktu Ammar semakin besar (yaiyalah kalo ngga, gagal tumbuh dong), semakin lincah dan gerak kesana kemari, yang jagain pun makin capek dan jompo. Dan kalau dipikir-pikir ibu saya punya 9 anak, terus sekarang kena jaga cucu juga (walaupun, believe me, grandparents do it happily).
  4. I worked in a hostile environment. Well, not really the environment that I hate, but I had some conflicts with my superior in a point wherel he limit my horizon and stop me from expanding my knowledge. Akhirnya jadi mikir: gw ninggalin anak gw di rumah cuman untuk ke kerjaan yang gw ga enjoy jalaninnya karena bosnya nyebelin :( ini kaya lose-lose ga sih, masih mending deh ibu-ibu karir yang emang suka dan passion sama kerjaannya... Nah ini.. Hmmm..
  5. SAHM yang dulu beda dengan sekarang. Beruntungnya kita yang hidup di zaman internet dimana semua bisa dilakukan dengan mudah dan dari rumah. Malah banyak banget deh mompreneur sukses jaman sekarang who wins best of both worlds, career and family
  6. Golden Age won't happen twice. Seribu hari pertama kehidupan seorang anak (mulai dari dalam kandungan sampai dengan umur 2 tahun) adalah masa yang sangat penting. Bahkan menurut Sigmund Freud, golden age terjadi sampai anak berusia 5 tahun. Apa yang terjadi dan didapat anak saya pada masa-masa ini akan banyak berpengaruh ke masa depannya kelak. Anggaplah ini adalah investasi penting. 
  7. Biarkan ayah melakukan kewajibannya. dan saya sebagai istri senantiasa memberi dukungan. Sedih kalau sosok kedua orang tua absen at most of the time. 
  8. Ada buku menarik berjudul "Fitrah Based Education" dengan penulis Ust. Harry Santosa. Saya waktu itu hanya datang ke diskusi singkat buku tersebut dan rangkumannya (belum baca sendiri bukunya). Materi di dalamnya cukup eye-opener, dan membuat saya makin mantap untuk menjadi SAHM. Untuk yang mau rangkumannya, nanti bisa saya share via personal karena ini tulisan orang di fb bukan tulisan saya sendiri.
Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah baca tentang "5 second rule" bukan tentang boleh atau ngganya makanan di makan setelah jatuh ke lantai ya. Tetapi bagaimana kita harus memutuskan sesuatu dalam 5 detik pertama, atau otak akan menggagalkan rencana kita dan mengisinya dengan keraguan-keraguan. Hehehehe

Memperbesar cakupan bisnis sampingan saya, karena setelah resign tentunya ini menjadi pengganti penghasilan utama saya.Karena saya ngga pakai sih 5 second rule dan terlalu banyak pertimbangan, alhasil it took me 8 months to finally resign (initial plan was right after the maternity leave :p). Sebelum resign pun bukannya tidak ada persiapan sama sekali, beberapa hal yang saya persiapkan sebelum resign:
  1. List kegiatan yang ingin saya lakukan. Salah satunya sih saya mau lebih rajin ngeblog gituuu... Karena biasanya masalah umum jadi SAHM itu adalah bosen. Ciyus bosen kalau ga ada kegiatan dan rutinitasnya cuma sama anak dan beberes rumah doang.
  2. Oh iya, selama bekerja, setiap akhir pekan, saya membiasakan diri untuk fully handle si kecil. Iyah capekk... Suwerr capekan jaga anak dibanding kerja, wkwkwkwk.... Betapa enaknya hidup saya yang punya adik perempuan banyak dan masih pada antusias bantu momong anak saya. Hehehehe... Tapi karena setelah resign saya akan lebih sering ikut suami saya tinggal di luar kota, mau tidak mau, saya harus strong dong...
  3. Mulai googling dan list kegiatan untuk bayi mengingat si kecil hampir menginjak usia 1 tahun dan lebih aktif. Saya mulai belajar apa itu sensory play, dan play play lainnya. 
Bagi yang lagi galau resign, selamat galau semoga segera diberi petunjuk terbaik olehNya. Satu yang pasti, jangan sampai nantinya menyalahkan pihak lain atas keputusan resign yang telah diambil.

First lunch date just the two of us :)

Senin, 08 Mei 2017

Bulan Pertama Menjadi Ibu

Tidah pernah terpikir sebelumnya, bahwa setelah melahirkan akan jauh lebih berat...


Beberapa hari sebelum melahirkan, saya sempat bilang seperti ini: "Duh, cepet dong kamu lahir..." (kebetulan lagi ngeluh sama badan yang tambah berat dan susah gerak) yang kemudian dibalas sama Ibu saya "nanti kalau udah lahir, pengennya masuk lagi.."

Saya itu, orangnya kurang baca detail tentang kehidupan setelah punya anak. Walaupun saya fully aware kalau teman-teman yang udah punya anak itu susah banget diajak ngumpul dengan alasan segambreng yang most of the time karena anak. Jadi saya tidak pernah terpikirkan bahwa hidup saya akan sejungkir balik itu.

Kelahiran Ammar maju 10 hari tapi sudah cukup bulan, mungkin Ammar mau ketemu Auntie Ilina dulu sebelum pergi sekolah S2 di Norwegia. Azi masih di lapangan, jadi tidak bisa menemani saya selama persalinan. Ayah dan Ibu saya pun sebenarnya sudah "request" untuk lahiran minggu depan saja, soalnya jadwal pekerjaan mereka padat sekali, bahkan sampai terlintas mau mengajak saya ikut menginap di hotel saja biar bisa dekat kalau ada apa-apa. 

Akhirnya walaupun pada saat lahiran Azi tidak mendampingi dan baru sampai rumah sakit sekitar 4 jam setelah saya melahirkan (Alhamdulillah masih di hari yang sama dan kebetulan lagi dinasnya ke Cirebon), Azi cuti 2 minggu penuh untuk membantu dan menemani saya merawat Ammar.

Selama 3 hari di Rumah Sakit sih enak, bayi sudah dimandikan, kita tau beres, baru hari kedua saya mulai ikut gantiin pospaknya juga (sesekali). Di Hermina, setiap Ibu yang baru melahirkan akan dibekali kursus singkat bagaimana cara memandikan dan mengurus bayi, pijat ASI, dan segala pengetahuan basic yang perlu diketahui. Saya memperhatikan dengan seksama. Sesampainya di rumah

Jeng jeng...

Semua yang dipelajari di kursus singkat sebelumnya buyar. Ibu saya pergi membantu pekerjaan Ayah saya selama 4 hari. Praktis tidak bisa membantu, adik-adik saya semua belum libur sekolah/kuliah. Jadi walaupun setelah melahirkan saya tinggal di rumah samping orang tua saya di Depok, tapi dari A-Z masa-masa awal itu saya tempuh bersama Azi saja berdua.

Pengalaman pertama memandikan bayi kamu pelajari dari video di youtube. Itupun masih super salah dan epic banget praktekinnya (pengen share video tapi sayanya ngga pakai kerudung). Tali pusar ikutan basah, anak direndem di bak bayi masih pakai pospak. Malu-maluin banget yaa.. Hehhehee

image source

Bye Proper Sleeping Time

Forget lazy weekend when you can wake up at 11 am or even 2 pm in the afternoon. Not gonna happen. Ohhh masa-masa indah dulu saat hanya berdua sama suami adalah ngulet-ngulet mager di tempat tidur pas weekend.

Pada bulan pertama, rasanya restless banget. Bayi harus diberi ASI setiap 2-3 jam sekali, walaupun bayinya tertidur pun harus dibangunkan, karena memang mereka lebih banyak tidur. Kalau dibiarkan bisa-bisa berat badannya tidak terkejar. Jam tidur bayi masih terbalik, malam jadi pagi, pagi jadi malam. Saat kita ingin dia terbangun untuk menyusu, dia malah tidur. Saat malam hari kita ingin tidur eh dia bangun.

Belum lagi, karena kapasitas pencernaannya yang masih kecil membuat frekuensi buang air dan besar si bayi jadi sangat sering. Terkadang saat lagi menyusu, langsung keluar jadi pup. Kita harus sigap segera mengganti popoknya karena jika dibiarkan lama-lama, kulit bayi yang masih sensitif, rentan akan ruam popok. Minimal 2-3x terbangun saat malam hari untuk menyusui. Saat itu saya masih belum bisa menyusui sambil tiduran, jadi otomatis saya duduk dan terjaga selama menyusui.

Di usia awal pula bayi sangat senang dipeluk, bagaimana tidak, dia terbiasa di dalam perut, hangat dan terlindungi. Suara jantung kita pun juga menenangkan dirinya. Tidak jarang Ammar tidur di dekapan saya. Ada saatnya saya benar-benar ingin buang air kecil tetapi Ammar masih nyenyak tertidur dalam dekapan dan tidak mau dilepas. Atau saya merasa sangat haus tapi tidak bisa bergerak karena sedang menyusui dan air minum jauh dari jangkauan dan masih banyak lagi. Belum lagi kalau anak sedang growth spurt (huff ini butuh post sendiri).

Sesungguhnya, sesungguhnya, walaupun anak sudah menangis dan kita perlu bantuan, pak suami masih bisa-bisanya tidur nyenyak. Doi baru bangun ketika saya bilang "tolongin dong". Kalau ngga mah... Zzzzzzzz


Ada beberapa link bagus tentang interpretasi tangisan bayi yang ternyata bersifat universal, namanya Dunstan Baby Talk. Bisa langsung ke websitenya ya kalau mau tau lebih lanjut. 

Me Time = Bath Time

Rasanya selama sebulan pertama semua yang kita lakukan pasti ada hubungannya dengan si bayi. Makan pun juga tujuannya untuk ngisi dada menghasilkan ASI untuk si anak. Kalaupun saya berseluncur di dunia maya biasanya saya lakukan saat sedang menyusui (jangan dicontoh ya ibu-ibu) itu juga yang dibaca seputar menyusui/bayi dan yang terkait, atau mencari barang-barang yang diperlukan untuk dibeli lewat online shop.

Kemana-mana saya pakai kerudung instan yang besar dan langsung masuk agar praktis dan bisa menutupi saat menyusui. Dandan, beuhhh ga sempat deh. Makanya ini jadi patokan saya untuk "tingkat kebaruan" seorang Ibu. Misalnya nih ada ibu-ibu berjejer, nah yang paling kucel itu pasti yang paling fresh melahirkan, hehehe.

Satu-satunya hal yang benar-benar saya lakukan untuk diri sendiri ya mandi. Wait, masa-masa awal dulu saya harus mandi dengan air hangat. Why? Soalnya sekalian ngompres dada supaya ngga ada grinjel-grinjelannya. Iyap, ujung-ujungnya ada hubungannya lagi sama si kecil. Sudah tidak ada kepemilikan lagi pada tubuh ini. 

Some shapes are changing

I think the meme described itself best.
Image source

and No, Breastfeeding ain't as easy as it look in the TV Commercial.

Bahasan tentang breastfeeding perlu post sendiri karena penuh dengan perjalanan paling abstrak dan menakjubkan selama hidup saya. Love and hate relationship gitu deh

Duh, padahal perasaan banyak yang mau ditulisin disini. Secara saya ngerasa punya anak itu bener-bener game changer, life changing experience, near death experience, etc hahahhaa rada lebay ya. Nanti diupdate lagi deh kapan-kapan kalau mood.

It's not easy, but worth every second of it!







Senin, 16 Januari 2017

My Birth Story : Ammar Ghiffari Nugraha

I remember like yesterday ❤

Saya mulai mengambil cuti pada tanggal 1 Agustus memasuki minggu ke-38 kehamilan. HPL berdasarkan HPHT adalah 13 Agustus 2016 (sama kaya ulang tahun ayah saya) sedangkan berdasarkan USG adalah 17 Agustus 2016.

Sampai usia kehamilan tersebut saya belum pernah senam hamil di RS ataupun latihan ngeden. Hari kamis, 4 Agustus adalah hari pertama saya senam hamil. Dan tentu saja, ngeden saya masih ngaco banget. Langsung booking lagi untuk jadwal senam hamil selanjutnya (kebetulan hanya ada setiap kamis dan sabtu)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Hari sabtu, 6 Agustus pagi dimulai dengan saya yang ikutan Abi dan sofia lari pagi di UI. Saya sih tentu saja jalan kaki doang dari FKM UI, tau-tau udah sampe Perpustakaan, ngikutin arah yang banyak pokemonnya (waktu itu masih jaman main Pokemon Go). Jam 10, saya ambil senam hamil lagi. Tetep masih kurang bagus ngedennya :| 

Oh iya, saya biasanya kemana-mana naik mobil, tapi entah kenapa hari sabtu itu mau jalan aja ke depan komplek dan lanjut naik angkot, males cari parkir weekend di RS. Selepas senam hamil, saya menyempatkan diri beli es krim di Alfamart lalu pulang naik angkot lagi. Sesampainya di rumah ternyata si Ilina (adek pertama) dan Rino (suaminya) beserta sofia dan aliya (adek kandung juga, banyak yah) mau pergi ke rumah nenek di Rawamangun untuk silaturahmi. Kebetulan Ilina akan pergi melanjutkan S2 ke Norway keesokan hari 7 Agustus 2016, naik pesawat jam 7 malam. Karena males bosen di rumah, saya ikutan aja deh dan baru pulang sekitar jam 10 malam.

Minggu, 07 Agustus 2016

Capek rasanya badan, perut juga keras sama ada rasa seperti nyeri haid. Tapi saya pikir hanya kontraksi biasa. Malam itu saya langsung tidur, tidak ikut bantu ritual J alias Jemur Pakaian yang biasa adik-adik saya lakukan malam hari. Sekitar jam 1 malam saya terbangun karena kebelet pipis. Badan terasa masih pegal dan remuk seperti biasa. Trimester ketiga memang merupakan saat terberat karena memang badan rasanya jadi super berat.

02.30

Cuss.. Bless.. aduh gimana ya suaranya.. pokoknya kaya kantong air terus pecah gt. Saya langsung terbangun. Celana saya banjir.. Tapi perasaan tadi udah pipis deh, sambil cium-cium basahan. Baunya ngga pesing. Jangan-jangan ini ketuban aaaaaaaaa.. Saya langsung masuk ke kamar orang tua saya dan bilang "Mi, mi, kayanya ketuban kakak pecah deh"
"Apaa.. duh tenang tenang" jawab si Umi yang dari tidur langsung sadar.
"Yaudah sekarang siap-siap untuk ke RS ya" saran Abi

03.30

Di perjalanan menuju Hermina yang ngga sampai 2 km itu, Abi sama Ummi masih sempat-sempatnya berdebat soal mau lahiran dimana. Abi punya trust issue sama RS, takut anaknya nanti dibelek, jadi mau dibawa ke rumah Uwo (kakaknya Ummi) yang bidan saja. Tapi Ummi bilang takut tidak keburu, karena sudah pecah ketuban, dan Uwo belum siap-siap. Akhirnya saya tetap dibawa ke RS Hermina Depok.

Sesampainya di Hermina, saya langsung dibawa ke ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan dalam. Sudah bukaan tiga ternyata.

04.30

Uwo, Te' Ina, Te' Efa datang dari Rawamangun. Uwo mendampingi selama menunggu persalinan. Semakin lama, kontraksi datang semakin cepat. Rasanya super mules ngga enak gitu loh. Kalau lagi ga kontraksi, saya cuma bisa berdzikir sambil mikir "waduh durhaka amat gw sama emak..". Kalau lagi kontraksi, cuma bisa tarik napas panjang, buang, gitu aja terus. Salah satu tips dari Uwo, dan sepertinya cukup membantu mempercepat persalinan adalah tidur miring. Jadi saya menghadap ke kanan, uwo sambil pijit-pijit punggung.

06.00

Saat itu sedang ada konferensi dokter OBGYN se-Indonesia di Solo, jadi dokter saya, dr. Nel, sedang ikut acara tersebut. Dokter rujukan jika dr nel idak ada pun, juga ke acara yang sama. Padahal dari awal saya maunya dengan dokter perempuan, supaya ngga malu gitu. Eh apa daya, yang ada hanya dr. Maman, SpOG. Itu pun ada karena beliau baru akan pergi ke Solo pada siang hari, jadi masih sempat untuk menolong persalinan saya. 

Terus gimana rasanya: LET ME TELL YOU, pas udah persalinan mah engga peduli lagi dokternya cowo apa cewe, boro-boro risih, yang penting selamat.. Bahkan pas bidannya nanya "bapaknya sedang dimana?" saya jawab "engga peduli sus, saya ngga mau nungguin"

Jadi ya, persalinan ideal yang di pikiran saya itu sama dokter cewe plus ada suami mendampingi biar dia liat dan tambah cinta ituuuuu NGGA TERJADI di saya. Hehehe

07.10

Setelah gagal ngeden beberapa kali (yang bikin Abi semaput dan keluar ruangan, ngga sanggup kalau-kalau anaknya akhirnya dibelek) dan akhirnya dibantu push juga dari bidan. Lahirlah putra pertama kami bernama Ammar Ghiffari Nugraha melalui persalinan normal, berat 2.45 kg dengan panjang 46 cm.

Karena Azi masih di perjalanan, akhirnya yang mengadzani Ammar untuk pertama kali adalah Abi. Sepertinya ini cikal bakal alasan mengapa dari awal Ammar paling responsif sama suara Abi (pada bulan awal, bayi belum begitu responsif terhadap suara). Kalau kata te' efa, sewaktu abi mengadzani, kepala Ammar mengikuti sumber suara adzan, seperti mencari gitu.

Proses inisiasi menyusui dini (IMD) berlangsung 10-15 menit saja, tidak sampai berhasil menyusui tapi sungguh sangat efektif membuat saya lupa kalau dibawah sana dokter sedang sibuk menjahit. Karena Ammar termasuk BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah, 2.5 kg ke bawah), jadi Ammar harus diobservasi selama 6 jam, padahal cuma ngutang 0.05 kg doang. 


Ammar di observasi

13.00

Hari ini hari yang cukup abstrak untuk keluarga kami. Bahagia dan Sedih. Bahagia karena Ammar lahir dengan selamat ke dunia ini. Sedih karena Auntie Ilina akan pergi ke Norway untuk melanjutkan S2. Karena Ammar sedang diobservasi, Auntie Ilina ngga bisa gendong Ammar dulu. Hikss

Foto terakhir sebelum Ilina pergi

14.00

Akhirnya Ammar dibawa kembali ke kamar. Huuuu sini sayangku, mau peluk... Kecil banget sih kamu. Kecil aja susah ngeluarinnya ya. Sekarang kalau dengar bayi >3 kg udah klenger sendiri dengernya. Hehehehe

Azi pertama kali gendong bayi, dan bayi itu anaknya sendiri :')

Ammar Ghiffari Nugraha, Umur 1 hari

Pada saat itu, kami orang tua baru, masih belum sadar bahwa ini adalah permulaan, bukan akhir. Ke depannya tantangan yang ada jauh lebih sulit dari hamil dan melahirkan. 

Welcome to Parenthood!