My Birth Story : Ammar Ghiffari Nugraha

11:01 PM

I remember like yesterday ❤

Saya mulai mengambil cuti pada tanggal 1 Agustus memasuki minggu ke-38 kehamilan. HPL berdasarkan HPHT adalah 13 Agustus 2016 (sama kaya ulang tahun ayah saya) sedangkan berdasarkan USG adalah 17 Agustus 2016.

Sampai usia kehamilan tersebut saya belum pernah senam hamil di RS ataupun latihan ngeden. Hari kamis, 4 Agustus adalah hari pertama saya senam hamil. Dan tentu saja, ngeden saya masih ngaco banget. Langsung booking lagi untuk jadwal senam hamil selanjutnya (kebetulan hanya ada setiap kamis dan sabtu)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Hari sabtu, 6 Agustus pagi dimulai dengan saya yang ikutan Abi dan sofia lari pagi di UI. Saya sih tentu saja jalan kaki doang dari FKM UI, tau-tau udah sampe Perpustakaan, ngikutin arah yang banyak pokemonnya (waktu itu masih jaman main Pokemon Go). Jam 10, saya ambil senam hamil lagi. Tetep masih kurang bagus ngedennya :| 

Oh iya, saya biasanya kemana-mana naik mobil, tapi entah kenapa hari sabtu itu mau jalan aja ke depan komplek dan lanjut naik angkot, males cari parkir weekend di RS. Selepas senam hamil, saya menyempatkan diri beli es krim di Alfamart lalu pulang naik angkot lagi. Sesampainya di rumah ternyata si Ilina (adek pertama) dan Rino (suaminya) beserta sofia dan aliya (adek kandung juga, banyak yah) mau pergi ke rumah nenek di Rawamangun untuk silaturahmi. Kebetulan Ilina akan pergi melanjutkan S2 ke Norway keesokan hari 7 Agustus 2016, naik pesawat jam 7 malam. Karena males bosen di rumah, saya ikutan aja deh dan baru pulang sekitar jam 10 malam.

Minggu, 07 Agustus 2016

Capek rasanya badan, perut juga keras sama ada rasa seperti nyeri haid. Tapi saya pikir hanya kontraksi biasa. Malam itu saya langsung tidur, tidak ikut bantu ritual J alias Jemur Pakaian yang biasa adik-adik saya lakukan malam hari. Sekitar jam 1 malam saya terbangun karena kebelet pipis. Badan terasa masih pegal dan remuk seperti biasa. Trimester ketiga memang merupakan saat terberat karena memang badan rasanya jadi super berat.

02.30

Cuss.. Bless.. aduh gimana ya suaranya.. pokoknya kaya kantong air terus pecah gt. Saya langsung terbangun. Celana saya banjir.. Tapi perasaan tadi udah pipis deh, sambil cium-cium basahan. Baunya ngga pesing. Jangan-jangan ini ketuban aaaaaaaaa.. Saya langsung masuk ke kamar orang tua saya dan bilang "Mi, mi, kayanya ketuban kakak pecah deh"
"Apaa.. duh tenang tenang" jawab si Umi yang dari tidur langsung sadar.
"Yaudah sekarang siap-siap untuk ke RS ya" saran Abi

03.30

Di perjalanan menuju Hermina yang ngga sampai 2 km itu, Abi sama Ummi masih sempat-sempatnya berdebat soal mau lahiran dimana. Abi punya trust issue sama RS, takut anaknya nanti dibelek, jadi mau dibawa ke rumah Uwo (kakaknya Ummi) yang bidan saja. Tapi Ummi bilang takut tidak keburu, karena sudah pecah ketuban, dan Uwo belum siap-siap. Akhirnya saya tetap dibawa ke RS Hermina Depok.

Sesampainya di Hermina, saya langsung dibawa ke ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan dalam. Sudah bukaan tiga ternyata.

04.30

Uwo, Te' Ina, Te' Efa datang dari Rawamangun. Uwo mendampingi selama menunggu persalinan. Semakin lama, kontraksi datang semakin cepat. Rasanya super mules ngga enak gitu loh. Kalau lagi ga kontraksi, saya cuma bisa berdzikir sambil mikir "waduh durhaka amat gw sama emak..". Kalau lagi kontraksi, cuma bisa tarik napas panjang, buang, gitu aja terus. Salah satu tips dari Uwo, dan sepertinya cukup membantu mempercepat persalinan adalah tidur miring. Jadi saya menghadap ke kanan, uwo sambil pijit-pijit punggung.

06.00

Saat itu sedang ada konferensi dokter OBGYN se-Indonesia di Solo, jadi dokter saya, dr. Nel, sedang ikut acara tersebut. Dokter rujukan jika dr nel idak ada pun, juga ke acara yang sama. Padahal dari awal saya maunya dengan dokter perempuan, supaya ngga malu gitu. Eh apa daya, yang ada hanya dr. Maman, SpOG. Itu pun ada karena beliau baru akan pergi ke Solo pada siang hari, jadi masih sempat untuk menolong persalinan saya. 

Terus gimana rasanya: LET ME TELL YOU, pas udah persalinan mah engga peduli lagi dokternya cowo apa cewe, boro-boro risih, yang penting selamat.. Bahkan pas bidannya nanya "bapaknya sedang dimana?" saya jawab "engga peduli sus, saya ngga mau nungguin"

Jadi ya, persalinan ideal yang di pikiran saya itu sama dokter cewe plus ada suami mendampingi biar dia liat dan tambah cinta ituuuuu NGGA TERJADI di saya. Hehehe

07.10

Setelah gagal ngeden beberapa kali (yang bikin Abi semaput dan keluar ruangan, ngga sanggup kalau-kalau anaknya akhirnya dibelek) dan akhirnya dibantu push juga dari bidan. Lahirlah putra pertama kami bernama Ammar Ghiffari Nugraha melalui persalinan normal, berat 2.45 kg dengan panjang 46 cm.

Karena Azi masih di perjalanan, akhirnya yang mengadzani Ammar untuk pertama kali adalah Abi. Sepertinya ini cikal bakal alasan mengapa dari awal Ammar paling responsif sama suara Abi (pada bulan awal, bayi belum begitu responsif terhadap suara). Kalau kata te' efa, sewaktu abi mengadzani, kepala Ammar mengikuti sumber suara adzan, seperti mencari gitu.

Proses inisiasi menyusui dini (IMD) berlangsung 10-15 menit saja, tidak sampai berhasil menyusui tapi sungguh sangat efektif membuat saya lupa kalau dibawah sana dokter sedang sibuk menjahit. Karena Ammar termasuk BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah, 2.5 kg ke bawah), jadi Ammar harus diobservasi selama 6 jam, padahal cuma ngutang 0.05 kg doang. 


Ammar di observasi

13.00

Hari ini hari yang cukup abstrak untuk keluarga kami. Bahagia dan Sedih. Bahagia karena Ammar lahir dengan selamat ke dunia ini. Sedih karena Auntie Ilina akan pergi ke Norway untuk melanjutkan S2. Karena Ammar sedang diobservasi, Auntie Ilina ngga bisa gendong Ammar dulu. Hikss

Foto terakhir sebelum Ilina pergi

14.00

Akhirnya Ammar dibawa kembali ke kamar. Huuuu sini sayangku, mau peluk... Kecil banget sih kamu. Kecil aja susah ngeluarinnya ya. Sekarang kalau dengar bayi >3 kg udah klenger sendiri dengernya. Hehehehe

Azi pertama kali gendong bayi, dan bayi itu anaknya sendiri :')

Ammar Ghiffari Nugraha, Umur 1 hari

Pada saat itu, kami orang tua baru, masih belum sadar bahwa ini adalah permulaan, bukan akhir. Ke depannya tantangan yang ada jauh lebih sulit dari hamil dan melahirkan. 

Welcome to Parenthood!


You Might Also Like

0 comments

Subscribe