Membuat Paspor Untuk Bayi

7:12 PM

Minggu lalu, kami bertiga (Saya, Ammar, dan Azi) pergi ke Imigrasi, mau bikin paspor baru buat Ammar dan perpanjang paspor untuk Azi. Kami berniat untuk membuat e-paspor biar free visa gitu kemana-mana. Epaspor hanya bisa dibuat di kantor imigrasi kelas I, yaitu di Jakarta dan Surabaya. Sedangkan di kota tempat tinggal kami (Depok) belum bisa karena masih kelas II.

Pergilah kami dari jam 6 kurang menuju kator imigrasi kelas I Jakarta Pusat. Yah memang sih kurang pagi, mengingat hari kerja arus menuju jakarta dari pinggiran kota itu padat. Alhasil kita baru sampai jam 7.40. Sesampainya di Jalan Merpati, jeng jeng, antrian sudah habis. Padahal biasanya kan kalau datang sampai jam 10, masih dapat nomor antrian. Ternyata hari itu sistem offline sehingga nomor antrian dibatasi.

"Yah, pak, bukannya biasanya jam 10 masih dapat nomor antrian?"
"Sistem offline bu, nih liat bu, ada beritanya *menunjuk ke artikel berita yang di print*"
"Kita udah jauh-jauh nih pak dari Depok"
"Loh kan di Depok juga ada bu"
"Iya tapi kita maunya Epaspor"
"Oh untung ibu bilang, epaspor juga sedang tidak bisa bu, jadi ini pun yang dapat antrian hanya untuk bikin paspor biasa"

Wahhhh... akhirnya kami pun keluar dari kantor imigrasi jakarta pusat.

Ammar si ganteng dan Ayah
Memutuskan untuk mengisi perut dengan bubur ayam di dekat situ. Pas lagi sarapan, tukang parkirnya ada yang nawarin pembuatan epaspor via calo 1,5 juta padahal harga asli epaspor cuma 600ribuan. Huekk, keselek biji salak, mahal amat... Ngambil jatah pospak si Ammar itu. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Imigrasi Kota Depok (yang aslinya deket banget sama rumah saya).Tujuannya sih survey dulu, jadi nanti bisa jaga-jaga dan persiapan buat besok mau apply lagi.

Informasi di Depan Pos Satpam Kantor Imigrasi Kelas II Kota Depok
Kami sampai di kantor Imigrasi depok jam 9.45. Eh ternyata antrian masih dibuka. Yasudah akhirnya kami ambil antrian aja. Oh iya sebagai warga depok yang suka mengutuk kotanya karena macet. Saya mau apresiasi Kantor Imigrasi nya yang rapih dan lebih sistematis walaupun cuma kelas II. Jadi alurnya seperti ini:
  • Masuk, ambil antrian cek berkas (depannya F-XXX), difoto kitanya di pos satpam, jadi nanti pas nomor antiran dipanggil, di layar yang muncul nomor antrian dan foto siapa yang antri --- di jakpus kemaren sih ga kaya gitu
  • Di pos satpam ini pula, kita dikasih form isian, kalau bayi kan ada form surat keterangan dari orang tua, form ini diberikan gratis tis tis (kalau di jaksel kan katanya harus fotokopi atau bawa sendiri). Oh yaa, jangan lupa bawa Materai dan Pulpen yaa..
  • Bayi dan pengantarnya bisa masuk ke antiran prioritas. Tapi pas awal tetap antri normal di antrian cek berkas. Sesudah dari cek berkas, baru deh antrian dibagi dari yang biasa (kalo ga salah depannya A-XXX, yang prioritas depannya C-XXX)
  • Masuk ke ruang foto dan wawancara, petugas input data, kita verifikasi, bayi difoto. Tunggu print kertas pembayaran. Bayar di bank BNI. 
  • Selesai dehh...

Ihhhh.. saya apresiasi banget deh Kanim Depok. Petugasnya juga ramah banget. Pas antrian berkas, saya dapat nomor F-280, ngantrinya sih kira-kira 1.5 jam. Pas dateng itu yang dipanggil masih nomor F-100an kalau ga salah. Tapi cepat kok. Pas sudah cek berkas, De' Ammar dapat nomor C-037, sedangkan sudah dilayani sampai C-036, jadinya sama aja kaya ga ngantri kan.

Dengan datang jam 09.45 dan selesai jam 12 sebelum makan siang. Saya rasa sih ini cepat banget. Thumbs Up.

Oh iya, berikut adalah dokumen persyaratan untuk mengurus paspor.

Saya sih sekarang sudah merelakan tidak membuat epaspor untuk ammar dan azi, karena toh sampai saat ini manfaatnya masih belum begitu banyak selain free visa ke Jepang dan Korea. Dan saya perlu cepat untuk perjalanan kami berikutnya.

Oh iya, untuk harga paspor biasa 48 halaman harganya 300 ribuan, sedangkan yang 24 halaman harganya 200 ribu kurang. Agak lupa harga pastinya. Tidak ada kegiatan transaksi di Kantor Imigrasi, semuanya dilakukan di BNI ya.

Happy Traveling, Mommies!


You Might Also Like

0 comments

Subscribe