Review Buku: Make It Happen! by Prita Hapsari Ghozie

5:22 AM




Sebenarnya hal mengenai uang adalah sesuatu yang saya lebih sering hindari. Saya pun enggan mengatur keuangan keluarga, semuanya saya serahkan suami mulai dari bayar cicilan rumah sampai tagihan-tagihan lain.

Bagi saya yang penting semua cukup. 

Seberapa tidak nyamannya saya dengan masalah perduitan? Saya bahkan akhirnya baru tahu berapa penghasilan sebenarnya suami setelah 3 tahun lebih menikah. Ya terpaksa karena mulai merasa kurang dengan kondisi saya yang sudah tidak bekerja lagi dan titipan Allah yang bertambah. Setiap bulan rasanya uang hanya numpang lewat saja di rekening kami. Gajian tanggal 25, tanggal 1 sudah berasa tanggal "tua" lagi.

Seorang teman di salah satu grup Ibu Muda yang saya ikuti merekomendasikan sebuah buku tentang perencanaan keuangan yang ditulis oleh Mbak Prita Hapsari Ghozie. Make It Happen, namanya, buku pintar rencana keuangan untuk mewujudkan mimpi. 

Judul buku: Make It Happen
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama, April 2013
Cetakan Kelima, Mei 2018
Jumlah Halaman: 244+
Jenis Cover: Soft Cover
Harga: IDR 98,000

Mbak Prita sendiri adalah seorang perencana keuangan independen yang tersertifikasi Internasional dan merupakan co-founder dan CEO dari ZAP Finance sebuah penyedia jasa konsultan keuangan.
Membaca buku ini sungguh membuka mata saya tentang betapa pentingnya perencanaan keuangan. Rezeki memang asalnya dari Allah, leap of faith. Tapi kita juga harus pandai mengelolanya. 

Saya dulu pernah punya teori bahwa Wanita adalah penggerak utama ekonomi dunia. Bayangkan kalau semua orang hasrat belanjanya seperti suami saya, pasti ga gerak tuh roda ekonomi. Penentunya adalah wanita, walaupun yang paling banyak mencari uang adalah pria. Ya ga ya ga... Dan benar saja, menurut statistik: 70% pembelian dalan rumah tangga ditentukan oleh perempuan. Bahkan 84% uang rumah tangga dipegang (belum tentu dikelola oleh perempuan). Penting banget kan peranan wanita sehingga di bukunya ini Mbak Prita mencoba meningkatkan awareness dan pemahaman tentang keuangan (financial literacy) teruntuk wanita khususnya para Istri atau Ibu-ibu.





Pada bab awal buku ini ditekankan pentingnya komunikasi dengan pasangan untuk membicarakan masalah keuangan. Saya langsung tertohok di bab pertama karena sepertinya hampir tidak pernah benar-benar saya lakukan dengan suami, rasanya terakhir kali ngomingin perduitan ya pas mau ambil KPR 3 tahun yang lalu 🙈

Buku ini mengajarkan kita untuk mengevaluasi apakah keuangan kita sudah sehat apa belum? Berapa proporsi utang kita? Apakah kita sudah menyisihkan untuk dana darurat? Apakah kita sudah menerapkan Good Money Habit? Lalu bagaimana cara membuat rencana keuangan? Besarnya gaji ternyata tidak menjamin seseorang memiliki financial yang sehat dan perencanaan yang baik loh... Pernah baca kan tulisan tentang kaum urban yang miskin? Penghasilan besar tapi miskin bablas karena gaya hidup dan tidak adanya perencanaan,

Buku ini juga mengenalkan produk-produk keuangan yang ada untuk berinvestasi termasuk penjelasan tentang asuransi (yang mana sangat penting untuk dipahami terlebih dahulu sebelum menentukan asuransi yang tepat, jangan dengan otak kosong datang ke sales asuransi dan menelannya mentah-mentah, salah-salah kita bisa merugi sekali). 

Sebenernya ini bukan buku pertama tentang keuangan rumah tangga yang pernah saya baca. Tapi yang sebelumnya, saya baca masih tidak serius hanya di awal saja dan saat itu masih double income serta belum punya anak, kalau sekarang kan single income household dengan dua anak... Hmmm jadi kebayang lah yaa bedanya.

Penyampaian buku ini mudah dimengerti dengan ilustrasi yang mudah dibayangkan disertai persoalan yang memang banyak dihadapi. Mimpi-mimpi yang dibahas pun mimpi yang umumnya dimiliki orang, contohnya kebutuhan papan. Pertimbangan dalam membeli rumah sampai memilih KPR. Selain itu juga dibahas tentang mempersiapkan pendidikan anak (yang ternyata tingkat inflasinya paling besar tiap tahun) sampai bagaimana merencanakan dana pensiun untuk hari tua.
Karena ini juga judulnya Make It Happen, bukan ayo kita berhemat banget sampai jangan bersenang-senang, buku ini mengajarkan bagaimana merencanakan dan mengalokasikan dana untuk kebutuhan leisure seperti traveling, belanja, dan lain sebagainya.

Dari buku ini juga saya baru sadar "jahatnya" kartu kredit apalagi kalau kita terjebak dengan gaya hidup konsumtif dan pembelian impulsif (talking to myself!). Salah-salah kita bisa terkena bunga efektif kartu kredit yang dapat mencapa 60% pertahun. Dan ternyata, lebih dari 50% pemilik kartu kredit di Indonesia tidak membayar tagihan kartu kreditnya secara penuh saat jatuh tempo. Pantas saja kartu kredit promo dan salesnya sangat gencar, ternyata sangat menguntungkan bank.


Tapi buku yang saya baca ini ga bisa saya pinjamkan kayanya, soalnya banyak coretan-coretan "dapur" saya. Jadi di buku ini langsung ada exercise dan tabel yang bisa kita gunakan. Tidak lupa Mbak Prita menyelipkan booklet "12 Bulan Menuju Make It Happen!" yang berisi financial checklist langkah demi langkah untuk memiliki rencana keuangan.

Yaa, pokoknya habis baca buku ini saya jadi gemas pengen cepat-cepat ketemu suami (kebetulan lagi training selama sebulan penuh) untuk merapatkan semua ini.

Ada yang bilang "money is more taboo than sex". Nah itu dia kalo dihindari terus, padahal salah satu penyebab terbanyak kegagalan rumah tangga itu adalah masalah uang. Ketidakpedulian istri juga bisa menjadi penyebab korupsinya suami, gawat banget kannn... untung suami saya bukan anggota DPR atau abdi negara.

Saya merasa cukup terlambat membaca buku ini, kenapa ga dari dulu ya tau segitu pentingnya perencanaan keuangan. But better late than never right? Karena sekarang yang diatur masih recehan dan masalah belum komplek atau jadi kanker, Insya Allah sih buku ini cukup mencerahkan. 

Terima kasih Mbak Prita telah membuka mata saya. Semoga saya juga bisa me-make it happen-kan mimpi-mimpi saya.

Let's Start Planning Now and Make It Happen!

You Might Also Like

1 comments

  1. Rekomendasi bagus nih, harus mulai membicarakan 'hal tabu' yaa.. 😉

    ReplyDelete

Subscribe