Maaf ini
posting rada aib, kalau laki-laki ga usah baca yaaa.. Hehehe.. Tapi saya merasa
masih sedikit sekali yang sharing tentang hal ini (sempet googling sana sini,
kalau pakai bahasa inggris banyaknya ke case study medical tapi mau ngeklik
aja, kayanya super complicated)
Pernah engga merasa ada jendolan aneh di sekitar payudara dan ketiak?
Selama ini
saya hanya mengira bahwa saya memiliki lemak berlebih di sekitar ketiak yang
biasa dipanggil armpit fat ditambah
saya juga punya flabby arms 😁.
![]() |
| Source |
Suatu saat
ketika saya mengandung Ammar di usia kehamilan awal, saya menyadari bahwa ada
benjolan seperti kelereng di kedua ketiak saya dengan ukuran yang berbeda. Penyebab
yang pertama kali saya duga adalah kebiasaan saya mencabut bulu ketiak pakai
pinset. Takutnya kebiasaan tersebut mungkin mengganggu kelenjar di bawah kulit
sehingga menimbulkan benjolan ditambah pemakaian deodorant gitu karena kan kalo
dicabut dengan pinset sampai ke akar tuh, tidak seperti kalau shaving. Yang kedua yang saya takutkan
adalah, tumor jinak atau apapun mungkin yang bisa mengarah ke kanker.
Akhirnya
pergi lah saya ke dokter spesialis bedah di RS Hermina Bekasi. Lupa nama
dokternya siapa, tapi beliau seorang laki-laki paruh baya. Hmmm, namanya juga
orang agak sedeng ya, mau periksa kelenjar ketiak ya harus buka baju dan
dilihat ketiaknya dong. Eh sayanya malu dan ragu-ragu, kebetulan dokternya rada
galak dan maunya buru-buru. Akhirnya doi pundung, jadi diagnosisnya hanya
berdasarkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dia lontarkan. Seperti “Sejak
Kapan ada Benjolan?” à Nah jangan
lupa diinget-inget kapannya ya. Karena saya sedang hamil, jadi dokter pun
menduga kemungkinan bahwa saya memiliki mammae aberans. (Yang penasaran mammae aberans kaya apa, googling imagenya aja yaaa, hehehe)
Saya juga
mengirimkan foto ketiak saya ke teman saya yang masih dokter umum, sesama perempuan
jadinya ga malu, untuk mencari second opinion. Nah menurut dia bisa jadi
seperti yang diungkapkan dokter ahli bedah sebelumnya, kecil kemungkinannya
karena teknik pencabutan bulu ketiak dengan pinset.
Karena
masih belum begitu mengganggu dan teralihkan pikirannya, saya tidak melanjutkan
proses untuk treatment mammae
aberans.
Lalu saat
itu datang, yang membuat minggu-minggu awal saya setelah melahirkan menjadi miserable. Saya mulai menyusui, kelenjar
payudara semakin aktif untuk produksi ASI, ditambah suplemen penambah ASI yang
diresepkan oleh dr OBGYN, ikut aktiflah payudara tambahan yang ada di ketiak
saya. Yang awalnya sebesar kelereng menjadi sebesar telur ayam dan sangat sakit
jika ditekan, sampai-sampai saya tidak dapat mengepitkan tangan karena
sakitnya.
Saya pun
konsultasi dengan dr OBGYN saya tentang mammae
aberans ini. Beliau tidak menyarankan untuk di operasi, karena keponakannya
ada yang dioperasi, namun tak lama kemudian, kelenjar tambahan ini muncul lagi.
Selain itu, mammae aberans masuk
kategori kongenital atau bawaan lahir which
means tidak dicover asuransi.
Kejadian
ini pun berulang lagi setelah melahirkan anak kedua. Nyut-nyutan sekali
rasanya. Tapi yang kedua kali ini, Alhamdulillah dalam 3 hari sudah membaik
dibandingkan saat pertama kali dulu. Yang berbeda adalah:
- Pumping – Waktu pertama kali dulu, saya masih belum paham manfaat dari pumping. Lah manajemen waktu aja belum bagus, rasanya pumping buang-buang waktu. Eh sekarang kerasa banget karena rajin pumping dari awal bisa sangat meredakan bengkaknya payudara. Nah karena si mammae aberans ini kan kelenjar payudara juga, jadi dengan pumping bisa meredakan juga.
- Mandi Air Panas – Kalau sudah pumping, trus dilanjut mandi air panas. Beuhhhh, nikmat. Kalau saya pakai shower, angkat tangan dan arahkan… Nyesssss, enak banget, benjolannya melunak karena kena air panas. Semakin lama semakin mengecil juga, akhirnya ngga sakit lagi deh. Selain itu mandi air panas bisa meningkatkan hormon oksitosin alias hormon bahagia yang sangat diperlukan oleh ibu menyusui.
![]() |
| Source |
Jadi pada
intinya sih untuk meredakan mammae
aberans saat menyusui sebenarnya sama dengan cara meredakan bengkak payudara. Bagi
yang mengalaminya, bisa dicoba ya. Jangan menyerah. Soalnya waktu lagi
sakit-sakitnya, saya sampai minta-minta pengen operasi aja rasanya. Tetapi googling-googling
pengalaman orang-orang yang menjalani operasi ini, pasca operasinya sakit
sekali. Selain itu saya takut akan mempengaruhi produksi ASI saya plussss balik
lagi, ngga ditanggung asuransi.
Oh iya,
beberapa orang lain juga ada yang merasakan benjolan si mammae aberans saat masa datang bulan (atau masa-masa lain sebelum
menikah ataupun hamil). Setiap orang berbeda-beda, saya sendiri baru
merasakan/baru sadar kehadirannya saat hamil. Mungkin sebelumnya sudah ada tapi
tidak sadar. Jika tidak mengganggu dan ukurannya tidak terlalu besar, maka
operasi tidak terlalu disarankan walaupun banyak juga yang menjadikan estetika
sebagai alasan untuk melakukan operasi.


