Jumat, 14 Juni 2019

Berlebaran di Emperan Rumah Sakit




Ada yang berbeda dengan perayaan Idul Fitri tahun ini.

Tanpa ba bi bu, diskusi atau argumen. Tahun ini keluarga kecil kami merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar saya. Berkumpulnya di Malang.

Ini kali pertama kami mudik ke daerah yang cukup jauh. Biasanya saat lebaran, kami hanya beredar di sekitar Jakarta - Depok - Bogor. Dan sejak menikah, beberapa kali saya berlebaran ke Majalengka. Tidak jauh, masih di Jawa Barat dan tidak perlu naik pesawat.

Tidak, kami bukan orang Malang. Namun takdirlah yang mengantarkan kami berkumpul di Malang. 
Hari raya Idul Fitri 1440 H yang jatuh pada 5 juni 2019 bertepatan dengan 43 hari sudah Ayah saya (Abi) dirawat di ICU RSUD Dr Saiful Anwar.

Sakit apa? Komplikasi yang bermula dari asam lambung dan berakibat sistemik. Sudahlah, saya tidak bisa menjelaskan apa penyakitnya karena saya juga bingung dan memiliki pemahaman terbatas.

Ummi, Ilina, dan Ai sudah dari awal ada di Malang karena mereka yang standby nungguin Abi. Aliya dan Dinda menyusul dari Bandung langsung ke Malang setelah Dinda ujian masuk PTN. Saya, Azi (suami saya), dan anak-anak serta Sarah terbang ke Malang pada tanggal 31. Selanjutnya Rino (suami Ilina) dan Shofiyya baru datang saat hari lebaran dikarenakan baru libur saat hari H. Ilyas dan Cindy, istrinya, baru datang malam hari di hari pertama lebaran.

Karena berlebaran di emperan Rumah Sakit, tidak ada gulai atau opor ayam, makanan khas hari raya. Ada beberapa kue kering pemberian dari tamu yang datang membesuk, namun rasanya tetap tidak sama. Walaupun begitu, kami semua sangat bersyukur bisa berkumpul.

Sempat ada pengharapan, semua dapat menjenguk abi di ICU pada hari lebaran ini. Namun, justru perawat yang menjaga sedang sangat strict. Sehingga hari itu hanya da kesempatan berkunjung 2x, dan masing-masing hanya 1 orang, tidak boleh gantian. Sementara anggota keluarga kami ada 13 di luar Abi sendiri dan kedua cucunya yang masih kecil dan sudah tentu tidak memenuhi persyaratan untuk menjenguk di ruang biasa Rumah Sakit sekalipun.

Ruang tunggu ICU dan IGD di RS Saiful Anwar terdiri dari beberapa baris kursi dan space beralaskan lantai yang cukup besar. Ruangannya terbuka terletak di depan ATM Mandiri, BNI, BRI dan Bank Jatim. Untungnya Malang tidak panas seperti Jakarta ataupun Surabaya, walaupun saat malam datang mulailah terasa gigitan hawa dinginnya. Biasanya yang masih duduk di kursi, adalah orang-orang yang menunggu kabar dari IGD. Sedangkan yang sudah mulai "buka lapak" di lantai, adalah penunggu pasien ICU. 

Selama Abi dirawat, saya sudah 4x bolak balik ke Malang. Biasanya setiap ke Malang saya tidur di hotel ataupun guesthouse, karena kasihan anak-anak jika menginap di emperan Rumah Sakit. Tapi karena high season lebaran yang membuat hotel bertarif 2x lipat, 5 malam terakhir sebelum kembali ke Jakarta pada tanggal 13 Juni, saya dan anak-anak juga ikut menginap di emperan Rumah Sakit. Alhamdulillah, anak-anak baik sekali kalaupun rewel memang rewel dari sananya.

Setiap hari, penghuni ruang tunggu berganti-ganti. Ada yang kondisi keluarganya membaik sehingga dipindah ke ruang perawatan biasa. Ada juga yang berpulang ke Sang Pemilik Hidup. Biasanya ditandai dengan tangisan, jika setelah menangis mereka berkemas berarti keluarganya telah tiada. Kalau tidak berkemas, mungkin keadaannya sedang memburuk.

Dan Abi, saat ini adalah pasien ICU terlama di RSSA Malang. He's a fighter.

Saya belajar banyak tentang hidup di ruang tunggu ini. Selain itu, ini lah pertama kalinya seseorang yang dekat/signifikan bagi saya sakit keras.

1. Umur tidak ada yang tau

Sungguh umur adalah misteri. Yang sakit keras hari ini bukan berarti memiliki umur lebih pendek dari yang sehat walafiat di saat yang sama. Beberapa kali korban kecelakaan lalu lintas masuk ke IGD RSSA dan wafat beberapa hari setelahnya. Jadi ukuran siapa yang duluan masuk Rumah Sakit atau lebih lama di ICU belum tentu yang lebih dulu dipanggil. Dengan kata lain, saya yang sehat walafiat bukan berarti mempunyai umur lebih panjang daripada Abi yang terbaring di ICU saat ini. 

2. Betapa kecilnya pengetahuan manusia

Dunia kesehatan terus berkembang. Contohnya saja wabah kolera yang mematikan di tahun 1800an sekarang sudah ada obatnya sehingga kita jarang mendengar adanya korban jiwa. Namun tetap saja, pengetahuan manusia sangatlah terbatas. Seringkali kita tidak tahu penyebab penyakit ini, diobati yang bagian sini, berdampak ke bagian sana, dan seterusnya. Hal ini mengingatkan kita untuk tidak sombong, tetap tawakkal dan disertai doa memohon pertolongan kepadaNya. 

3. Sedekah adalah penyelamat maut

Jika anda seseorang dengan latar belakang kesehatan dan mengetahui riwayat penyakit yang diderita oleh Abi. Mungkin anda akan sependapat bahwa keajaiban dan pertolonganNya lah yang masih membuat Abi bertahan. Tidak jarang jika bercerita ke teman yang pekerja medis, komentarnya selalu "berat..." 

Sesungguhnya apa yang terjadi di luar kuasa manusia. Namun jika boleh berspekulasi, mungkin apa yang dilakukan Ummi lah yang menyelamatkan maut. Setiap kali ada yang mau membantu dengan mengirimkan sejumlah dana, Ia menolak dan meminta disumbangkan saja ke lembaga amil atas nama Abi.

"Sesungguhnya, sedekah memadamkan murka Allah dan mencegah kematian yang buruk." (HR Turmudzi, Ibnu Hibban, dan Tirmizi).

4. Maka nikmat TuhanMu yang manakah yang Kau dustakan?

Sungguh tidak ada sakit yang enak. Sesimpel kesusupan kayu kecil di jari tangan atau sariawan bisa mengganggu kenyamanan. Abi datang dengan faktor penyebab utama asam lambung yang membuat sesak nafas, namun kini, terganggunya satu organ mempengaruhi organ lain sehingga terjadi komplikasi dan gangguan sistemik. Jadi jika Allah cabut saja satu kenikmatan dariNya, sungguh manusia tidak berdaya. 


فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan”

Kalimat ini sampai diulang sebanyak 31x pada ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77 dalam surat Ar Rahman.

Ada yang pernah dengar cerita tentang seorang ahli ibadah yang hari-harinya hanya diisi full dengan ibadah? Saya ingat pernah diceritakan kisah ini (nanti saya cari lagi sumbernya). Singkat cerita di hari penentuan, Allah masukkan iya ke dalam surga dengan rahmatNya. Sang ahli ibadah protes, "dengan amalanku ya Allah". Sampai beberapa kali. Akhirnya ditimbanglah amal ibadah dan nikmat yang Allah telah berikan. Ternyata amal ibadahnya yang non stop seumur hidup hanya bisa impas dengan nikmat mata saja. 

Nah apalagi kita yang begini-begini saja. Jangan pernah merasa cukup dan semata-mata rahmat dan pengampunan Allah lah yang kita harapkan. 


Semoga ada hikmah dan pembelajaran yang bisa dipetik. 

Yang benar datangnya dari Allah, yang salah dari saya. 


Senin, 20 Mei 2019

Baca Buku Gratis, Legal, dan Dimana Saja via iPusnas


Beberapa waktu lalu beberapa teman blogger ada yang curhat kalau blogpost mereka ada yang duplikasi tanpa izin bahkan saking canggihnya post contekan tersebut dibackdate jadi seakan-akan penulis aslinya lah yang plagiat. Duh, nyebelin banget ya. Kebetulan saya blogger yang insignificant, jadi mungkin resiko diplagiat lebih sedikit, hehehehe. 

Begitu pun halnya dengan buku bajakan, effort buat buku itu lebih banyak dibandingkan blogpost, pastinya nyebelin banget dong kalo dibajak dan disebarkan tanpa ijin dan royalti untuk yang nulis. Saya langsung guilty as charged, karena sering baca ebook gratisan dari Internet. 

Oh iya? Pada tau ga sih kalau ternyata hukum jual-beli barang KW atau bajakan itu adalah haram hukumnya? Lengkapnya bisa baca di sini ya. 

Nah sekarang ada loh solusi buat yang suka baca ebook gratisan tapi legal. Bisa melalui Applikasi milik Perpustakaan Nasional Indonesia bernama iPusnas.


Pertama kali tau tentang ipusnas adalah ketika melihat instastory mbak Antung Apriyana yang share kalau dia meminjam buku finansial "Pension Happy" karya Prita Hapsari Ghozie yang baru rilis Desember tahun lalu. Dari situ akhirnya saya mencoba sendiri memakan applikasi ini.

Applikasi iPusnas sendiri sudah tersedia untuk Android dan iOS. Namun untuk versi apple sepertinya kurang terdeveloped dengan baik karena rating review applikasi ini rendah. Saya sendiri pengguna Android, jadi tidak bisa memberikan pendapat user experience akan applikasi ini di platform iOS. Untuk yang android akan dibahas di bagian akhir post ini.

Untuk dapat menikmati fasilitas iPusnas kita diwajibkan membuat akun terlebih dahulu, bisa menggunakan email ataupun akun facebook. Walaupun bisa menggunakan akun facebook, tapi bukan berarti otomatis terdaftar dengan data dari facebook ya, kita tetap harus melengkapi beberapa isian lagi dan membuat kata sandi sendiri.

ipusnas

Pengoperasian applikasi ini sendiri sebenarnya cukup mudah dimengerti. Koleksinya juga cukup banyak walaupun tidak lengkap. Namun biasanya buku baru masih jarang.

applikasi ipusnas
Senangnya ada novel terjemahannya Mitch Albom walaupun hanya dua

Buku yang tersedia di iPusnas walaupun berbentuk elektronik namun ada batasan jumlah copy nya.. Jadi jika semua copy sedang dipinjam maka kita tidak bisa meminjamnya. Waktu peminjaman adalah 3 hari, selebihnya akan otomatis dikembalikan ke sistem dan kita harus meminjam ulang. Batas buku yang dipinjam dalam satu waktu adalah 3 buku.




Selain itu kita juga bisa memberikan review terhadap buku-buku yang ada, baik yang pernah kita baca melalui iPusnas maupun tidak. Namun konsepnya sebatas seperti komentar di facebook, tidak bisa memberikan rating seperti di goodreads.

Kolom komentar review buku


Kekurangan Applikasi iPusnas

Applikasi ini terkadang suka crash. Reader bawaan iPusnas pun tidak senyaman jika kita biasa memakai applikasi MoonReader karena fiturnya hanya terbatas dengan gaya transisi ke halaman lain serta mode background gelap dan terang (inipun saya coba ke beberapa buku tidak berubah gelap dan terangnya). Tidak ada highlight atau kaca pembesar.

pinjam buku dengan ipusnas
Reader di iPusnas

Selain itu terkadang kita logout dengan sendirinya sehingga perlu memasukkan password lagi (masalahnya saya sering lupa dan reset password, jadi salah terus). Tak jarang pula, bookshelf  kita kosong padahal kita sedang meminjam beberapa buku.

Walaupun masih banyak kekurangan, inisiatif Perpustakaan Nasional dengan membuat applikasi ini patut diacungi jempol. Mengingat minat baca orang Indonesia berdasarkan  studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016.

Semoga dengan kemudahan akses terhadap buku melalui applikasi ini bisa meningkatkan minat baca di Indonesia. Kalau buat saya sendiri sih baca buku dari handphone bisa mengurangi sedikit waktu berseluncur di media sosial. Yah walaupun memang banyak godaannya sih tapi lebih mudah dijangkau kapan saja daripada harus ambil buku fisik.

Tertarik untuk coba iPusnas?










Kamis, 02 Mei 2019

Harta yang Paling Berharga, #AyoHijrah bersama Bank Muamalat Indonesia


Seminggu sudah semenjak Ayah saya (saya memanggilnya Abi) dilarikan ke IGD RSUD Saiful Anwar Malang. Abi sesak, tidak dapat bernapas... Rupanya gangguan asam lambung (sering dikenal juga sebagai GERD) yang dideritanya hampir 3 minggu belakangan ini telah mengganggu fungsi organ lainnya. Saat dilarikan ke Rumah Sakit pada tanggal 24 April 2019 yang lalu, kebetulan memang Abi sedang ada kerjaan di Malang, memberikan pelatihan tentang ISO (International Standard Organization bukan ISO yang di kamera).

Dari IGD, Abi masuk ke HCU, namun karena keadaannya yang tidak membaik serta dibutuhkan monitoring yang lebih ketat, keesokan harinya beliau masuk ICU. Keadaannya memburuk dan mengkhawatirkan. Saya beserta anak-anak dan adik-adik bergegas menuju Malang untuk menyusul Ibu saya (saya memanggilnya Ummi) yang memang dari awal perjalanan menemani Abi ke Malang.

Pertama kali bertemu, keadaan Abi sedang kritis. Napasnya sudah dibantu ventilator 100%, beliau dibius agar bisa istirahat dan obat dapat bekerja lebih baik. Lampu di bagian atas monitor yang menampilkan detak jantung berkelap kelip warna merah. Dokter pun berkata dan mengingatkan "kami ikhtiar, anda terus berdoa ya". 

Anak-anaknya berkumpul, ngariung, sambil cerita hari-hari terakhir Abi sebelum berangkat ke Malang. Tak jarang kami mengingat-ngingat cerita lama. Membuka foto-foto yang selama ini dibagikan di grup whatsapp keluarga. Setiap diingat, semakin deraslah air mata mengucur. Tidak berhenti doa kami haturkan. Berharap yang terbaik untuk Abi.


Berkali-kali, Ummi mengingatkan bahwa ada 3 hal yang tidak putus amalannya walaupun sudah meninggal yaitu: amal jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh (HR. Muslim 1631). Bukan bermaksud mendahului perhitunganNya, tetapi Abi memang sepanjang hidupnya mengabdikan diri pada dunia pendidikan, mulai dari awal masih menjadi mahasiswa melalui bimbel kecil-kecilan untuk membiayai kuliah, mengabdi menjadi dosen selama berpuluh-puluh tahun di sebuah PTN, sampai akhirnya berkeliling Indonesia untuk mengajarkan tentang standar internasional. Sekarang pertanyaannya, apakah anak-anaknya yang ada SEMBILAN ini termasuk orang-orang yang sholeh dan sholehah?
3 perkara hr muslim

Saya lihat lagi foto-foto saat pergi bersama Ummi dan Abi tahun 2016 lalu, napak tilas ke Strasbourg. Ahhh rasanya ingin berkata ke Abi, "ayo bi, kita jalan-jalan lagi ke tempat lain". Tapi jika memang yang terbaik untuk Abi adalah berpulang kepada Nya, maka tentu saja saya berharap beliau dalam keadaan husnul khotimah dan pastinya tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang keindahannya mendekati apa yang ada di surga. Mungkin sekarang Abi tidak perlu lagi dijanjikan jalann-jalan ke tempat yang indah, atau makan makanan di restoran ternama atau hal duniawi lain yang ingin diberikan seorang anak untuk orang tuanya.

agus nurhadi strasbourg
Strasbourg, May 2016

Sungguh kematian adalah sebaik-baiknya pengingat bagi manusia. Seketika jua segala yang ada di dunia ini terasa semu karena kita akan kembali ke hadapanNya dengan membawa amalan kita, bukan mobil atau rumah kita. Pada akhirnya kita semua akan sama, dikubur dalam tanah, yang membedakan ketaqwaannya.

Jika punya anak membuat saya sadar akan arti penting orang tua. Maka saat ini adalah saat dimana saya sadar bahwa harta yang paling berharga adalah anak yang sholeh dan sholehah.

sumayyah tsabitah
Waktu ku kecil, hidupku amatlah senang

Mungkin ini adalah momen saya untuk berhijrah. Wake Up Call. Saya ingin jadi lebih baik. Saya ingin menjadi anak yang sholehah, saya ingin menjadi ibu yang sholehah dan menjadi contoh yang baik untuk keturunan saya sebagaimana Abi telah mencontohkan. Supaya kita semua berkumpul di surgaNya, Aamiin. Sepertinya selama ini saya sudah terlalu sibuk dengan urusan duniawi bergulat dengan angka dan target, sehingga lupa bahwa perlu juga menyiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal selanjutnya. Tidak ada alasan untuk menunda berhijrah (menjadi lebih baik), terlepas apapun kehendak Allah atas Abi (akankah membaik atau berpulang).

Sedari kecil saya sudah dibiasakan menggunakan jilbab dan menutup aurat. Menginjak usia baligh, hal tersebut menjadi wajib. Ya semua memang sudah terkondisikan karena lingkungan. Hal tersebut seakan membuat saya sudah merasa cukup. Tapi bukan hijrah namanya jika kita tidak berusaha lebih baik lagi.

Saya akan mencoba menghidupkan kembali beberapa kebiasaan baik yang dulu saya lakukan saat masih SMA dulu seperti:

  • Al-Ma'tsurat Pagi dan Sore - Doa dan Dzikir yang disusun oleh Hasan Al-Banna ini memang sangatlah lengkap, mulai dari memohon perlindungan dan ampunan, sampai kesehatan dan seluruh aspek kehidupan lainnya. 
  • Murajaah Harian - walau hapalan saya tidak banyak (1.5 juz) tapi selepas lulus SMA saya praktis tidak pernah menambah hapalan lagi. Boro-boro nambah, lupa iya. Astaghfirullah. Pelan-pelan mesti mengulang-ngulang lagi nih.
Source: Pixabay

Dan salah satu yang cukup sulit padahal basic adalah, sholat di awal waktu. Malu, tapi harus saya akui bahwa masih sering saya sholat di akhir waktu dan mengkambinghitamkan kesibukan mengurus anak. 

Satu hal yang saya pelajari dari orang tua saya adalah bagaimana sepanjang hidupnya mereka terbebas dari riba. Mereka tidak pernah mengambil KPR bertahun-tahun lamanya walaupun baru bisa memiliki rumah di umur pernikahan 10 tahun. Dan memang benar, hitungan matematika manusia berbeda dengan yang di atas asalkan kita tetap berusaha, yakin, dan tetap di jalanNya. Dengan penuh kerja keras kehidupan ekonomi keluarga kami terus membaik dan berkecukupan. 

Walaupun namanya juga keluarga baru yang panik ingin punya aset, saya dan suami mengambil KPR konvensional yang sungguh tidak menguntungkan peminjam dengan bunga tetap hanya 2 tahun pertama yang akhirnya kami sesali kemudian. Masih untung, KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) yang kami ambil hanya berdurasi 6 tahun. Terkena lah kami jerat yang ngeRIBAnget ini.


Masya Allah, kita sebagai muslim sangat beruntung karena Islam adalah satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya, namun juga bagaimana menjalani hidup (way of life). Dan salah satu aspek keberkahan hidup adalah bebas riba. Solusinya? Ada Bank Muamalat Indonesia yang siap membantu.

Kenapa pilih Bank Muamalat Indonesia dibandingkan Bank Syariah lainnya?
  • Pertama murni syariah. Pertama kali didirikan pada tahun 1992.
  • Bank Muamalat tidak menginduk pada bank lain, jadi Insya Allah kemurnian syariahnya terjaga.
  • Bank Muamalat dikawal dan diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
  • Fasilitas penunjang Bank Muamalat cukup lengkap seperti Mobile Banking, Internet Banking Muamalat dan jaringan ATM dan Kantor Cabang hingga ke luar negeri sehingga memudahkan nasabah dalam bertransaksi perbankan. 

Produk Perbankan Bank Muamalat

Kabar baiknya adalah sekarang Bank Muamalat Indonesia, akan menambah produk perbankannya yaitu Pembiayaan Rumah iB Hijrah Angsuran Super Ringan dan Fix. Saat ini sedang dalam proses pengajuan ke OJK, yuk doain segera cepat launching. Sebuah solusi supaya terhidar dari riba KPR konvensional seperti aku :(

Kebetulan orang tua saya adalah nasabah Bank Muamalat sedari lama, sharE nama kartu debitnya. Kata Ummi, setiap selesai transaksi di ATM, selalu ada pertanyaan tambahan apakah kita mau berinfaq. Oke banget kan diingetin terus untuk nabung dunia-akhirat.


#AyoHijrah. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Yakin masih ada umur? 





Sabtu, 13 April 2019

Review: Emina Bare With Me Mineral Cushion Shade Caramel

Kalau sampai saya skip nulis lagi, 4 minggu sudah saya bolos setor ke 1 minggu 1 cerita. 2 minggu lagi kena depak. Sebenarnya banyak tulisan di draft, tapi kok males-malesan dan mandeg ya.Kalau review beauty product lebih mengalir. Padahal bukan ahlinya juga, cuma beauty enthusiast. Yuk mari kita putihkan kembali, hehehehe.

Jadi ceritanya saya sudah lama beli cushion emina ini pas lagi diskon di Lazada (tentu saja, anaknya super modis, modal diskon). Tapi karena masih ada cushion yang pixy, jadilah belum dibuka-buka. Kemarin pas saya mau pergi, saya cari-cari si pixy, ehh ilang entah dimana. Padahal niat awal mau ngebattle cushion pixy ini sama emina.

BACA JUGA: Review Pixy Dewy Cushion

Harga Retail: 125.000 (bisa lebih murah di marketplace)
Pilihan Shade: 01 Light, 02 Natural, 03 Caramel (yang saya coba adalah shade paling gelap 03 caramel)

review cushion emina
Kemasan Emina Mineral Cushion

Packaging

Packaging emina seperti biasa memang unyu-unyu gimana gitu karena pasaran mereka memang mulai dari remaja. Lalu akutuhh berasa tua dan ga inget umur kalo beli ini. Tapi biarlah wkwkwk..  Kemasannya sendiri terbuat dari plastik dengan warna kombinasi baby pink (pink muda) dan putih. Saya sendiri penggemar cream blushnya emina yang sudah habis lebih dari 4 tube mungkin ya.

review cushion emina
Komposisi Emina Mineral Cushion

Komposisi

Dapat dilihat dari komposisi di atas tidak mengandung paraben. Walaupun saya mah ga anti paraben setelah baca ulasan dari Lippielust (sayang ga nemu link blogpostnya, kayanya waktu itu doi bahasnya di Feed Instagram. Pengawet yang digunakan di cushion ini ada di beberapa bahan kimia yang tertulis paling belakang di komposisinya, seperti Ethylexylglyceryn dan Disodium EDTA. Saya sih ga ngerasa produk ini berbau khusus dan memang tidak ada parfum pada komposisinya. Produk ini juga mengclaim mengandung perlindungan UVA dan UVB, namun sayang tidak ada informasi berapa SPFnya.

Swatch di tangan. Saat baru dioleskan (kiri) dan setelah selesai ngelenong (di kanan)

Namanya juga produk baru dicoba, tap sedikit langsung keluar banyak. Netto produk ini sama dengan cushion pada umumnya yaitu 15 gram. Sebagai perbandingan, biasanya full size foundation biasanya memiliki volume 30 ml. Jika kita asumsikan massa jenis foundation dan air sama, berarti cushion mengandung setengah produk saja jika dibandingkan foundation biasa.

emina cushion caramel
Sebelum - sesudah applikasi cushion - setelah ditambah lipstik dan cream blush biar lebih berwarna

Applikasi & Coverage

Saat diaplikasikan, ada sensasi basah karena produk namun tidak lengket dan dengan cepat mengering seiring diratakan dengan cushion bawaannya. Untuk satu wajah saya gunakan sekitar 3 kali tap produk. Setelah itu saya tambahkan Emina Cheeklit Cream Blush shade baru yaitu Nudie Brown. Dan mungkin karena solidaritas produk emina, warna nudie brown nya jadi keluar banget, padahal sebelumnya menurut saya warnanya suka ga keluar dan ga bagus di kulit tempe bacem buat saya. Untuk coverage nya menurut saya light to medium, dia bisa menutupi kemerahan yang ada di sekitar hidung saya serta menyamarkan kantung mata walaupun saya tidak secara khusus menepuk daerah bawah mata.

cushion emina review
Detail perbedaan pada area bermasalah

Shade

Shade yang saya pilih sudah paling tua, namun saya tetap merasa keputihan. Apakabar adik saya yang lebih item dari saya. Hihihi. Sebagai referensi, warna foundation Maybelline Fit Me saya adalah 220 (sebelum oxidized).  Walaupun lama-lama warnanya mereda dan ga bikin pektay di saya. 

Ketahanan

Nah, sayangnya tadi saya lupa foto setelah dipakai beberapa jam gimana. Saya pakai jam 11 pagi. Sore hari jam 5 setelah sudah ditimpa wudhu 2x sih, rasanya udah nyisa dikit banget.

Overall? I love it. Because it's not cheap. Walaupun aku mah emang ga pernah nyoba produk high end sih jadi standarnya ga tinggi-tinggi amat. Hihihii... worth to try lah... Repurchase? Kayanya ngga, produk lokal mulai banyak yang ngeluarin cushion, mungkin selanjutnya mau coba cushionnya Rollover Reaction yang di rave banyak orang. 



Minggu, 17 Maret 2019

Staycation Bersama Keluarga di Hotel Padma Bandung

review hotel padma

#sobatmisqin bisa nginep di Padma?

DISCLAIMER: Non Sponsored Post, Review murni pendapat dan pengalaman pribadi

Awal Desember 2018 lalu, saya dan keluarga kecil saya berkesempatan untuk menginap di hotel yang dari dulu suka bikin jiper karena harganya, Hotel Padma Bandung. If you know me, then you'd know kalo saya anaknya modis banget. Modal Diskon.

Akhir tahun memang identik dengan diskon di sana sini. Ya baju, ya perlengkapan rumah, dan tentunya komoditas kesukaan millenial yaitu traveling juga ikut menebar promo. Masih ingat ga di WAG (Whatsapp Group) pada heboh booking tiket ke KL cuma 30 ribuan aja PP pake full board airlines? Nah aku salah satu yang ketinggalan dan ga kedapetan promo harga gledek dari tiket.com ini... Hiks.. 

BACA JUGA: Sudah ke New York tapi Belum ke Mekkah

Ya sudahlah, lagipula salah satu resolusi keuangan keluargaku adalah, no more impulsive traveling because of discount ticket. Karena yang impulsif gitu tuh yang biasanya bikin bocor keuangan. Pengalaman ke Amerika bermodal tiket diskon memang berbekas sekali di kami, karena setelah jalan-jalan, setahun ke depannya kami berhemat. Ingat, everyone looks better on instagram, try read their blog... curcolnya di situ. Hihihi.

Oh iya, bagi yang lebih suka liat review singkat bisa lihat di instastory saya. 

Saya akhirnya merelakan ga hunting promo tiket, alih-alih saya cari penginapan untuk acara reuni angkatan kuliah di Bandung. Eh tau-tau di suggestion paling atas hasil pencaharian muncul lah trans luxury hotel dan hotel padma. Saya ngga terlalu tertarik sama trans karena lokasinya. Tapi Padma, saya punya history tersendiri. Dulu suami saya pernah acara kantor dengan client (BUMN besar) di hotel Padma tapi hanya meetingnya aja, nginepnya di hotel lain karena harga tidak masuk di budget harian baik perusahaan suami maupun client. Hihihi. Ini yang buat saya jadi jiper kalo dengar padma, ahhh pasti mahal. 

(Iye iye, terus dapet berapa cum?)

Dari harga gledek tiket.com, kamar paling murah di Padma dari harga 2,5 juta dibanderol 1,2 juta per malam. Di tanggal dan kamar yang sama, di Traveloka harganya 1,7 juta. 

Sudah nemu harga segitu pun, #sobatmisqin tetap sibuk mencari review hotel ini untuk memastikan worth it atau engganya. Setelah baca blog sana sini dan review di google, akhirnya saya book 1 malam di padma. Itupun setelah selesai acara reunian, jadi saya berencana untuk staycation dan ga keluar dari padma supaya bisa menikmati fasilitasnya secara maksimal (read: ga mau rugi). 

Waktu check in hotel ini sebenarnya jam 3 sore dan check out jam 12 siang. Namun #timantirugi menelpon ke hotel dan bertanya apakah bisa early check in dan menunggu sembari menikmati fasilitas yang ada di hotel? Jawabannya bisa, nanti akan masuk ke daftar prioritas, saat ada kamar yang ready bisa segera masuk. 

Datanglah kami pukul 12 kurang. Kesan pertama datang sih tipe hotelnya bukan yang wah gimana gitu ya walaupun bintang 5. Cukup homy. Kami langsung disambut dan diarahkan ke front office. Tak lupa welcome drink disajikan beserta tisu basah berbentuk tablet yang lucu namun tak kupakai. Kami dimasukkan ke urgent list dan meninggalkan nomor HP agar pihak hotel bisa menghubungi saat kamar sudah siap. Setelah itu kami langsung ngibrit liat fasilitas yang ada. 

Lobby hotel ini terletak di lantai 1 sedangkan kolam renang ada di lantai 5, dan tempat bermain outdoor ada di lantai 8. Uniknya, liftnya turun ke bawah untuk mencapai lantai yang nomornya lebih tinggi. 

Setelah sampai di lantai 8, ternyata kids playground, area petting zoo dan lain-lain masih ada di bawah lagi dan harus ditempuh dengan tangga. Sedang asyik-asyik bermain ayunan, eh pihak hotel menelpon untuk mengabari bahwa kamar sudah siap. Wah ternyata tidak sampai 15 menit dari kami datang loh. 

Saya baru ingat bahwa saya kamar yang saya pesan adalah twin (duhh namanya juga book yang paling murah sambil ngarep pas di hotel bisa diganti atau diupgrade gitu *ngelunjak). Namun tidak bisa tapi bisa dibantu agar kasurnya didempetkan. Sesampainya di kamar, ternyata kasur dengan mudah bisa didempetkan sendiri tanpa bantuan dan ternyata kalau disatukan jatuhnya malah lebih luas daripada kasur ukuran King justru malah enak untuk saya dan 2 krucil yang tidurnya lasak ini.



Kamarnya sendiri menurut saya sih tidak wah (mengingat ini bintang 5), lumayan luas, amenitiesnya memang lengkap, dari setrika dan papannya, sampai pembuat kopi yang pakai kapsul. Kamar mandi kamar yang saya tempati memakai shower dan tanpa bath tub. Ada balkon dan kursi di luar untuk menikmati pemandangan yang menghadap ke kolam renang.


Setelah golar-goler sebentar di kasur dan sholat, kami bersiap-siap untuk pergi berenang. Saya yang selama ini biasanya nunggu di pinggir aja kalau suami dan anak-anak berenang, kali ini pun ikut nyebur. Keliatan kan ga mau ruginya.

Eits, yang ga mau rugi ternyata bukan saya sendiri. Saat sedang duduk di pinggir kolam, ternyata yang di samping saya belum kebagian kamar untuk check in tapi sudah nyebur ke kolam renang. Iyaa, memang sah sah saja menikmati fasilitas yang ada asalkan sudah pesan. 

Terdapat 3 kolam yang berbeda di area kolam renang. Satu kolam yang besar dengan kedalaman mulai dari 1 meter, kolam anak-anak yang dilengkapi dengan air mancur dan keranjang basket. Kedua kolam ini heated pool, airnya pas, tidak membuat menggigil layaknya air di Lembang, tapi juga tidak panas. Tak lupa ada satu kolam lagi, jacuzzi dengan air bersuhu 39 derajat. Berbagai macam ban disediakan oleh pihak hotel, mulai dari ban leher untuk bayi, ban anak-anak, sampai ban besar.



Selesai berenang, kami bergegas pergi ke Restaurant di lantai 1 untuk menikmati Afternoon Tea yang tentu saja gratis. Waktunya hanya dari jam 15.30 sampai dengan 16.30. Makanan yang disajikan adalah snack-snack dan minuman tradisional seperti wedang jahe, sekoteng, dan lain-lain. Cocok banget kalau orang asing stay di sini, tetap dapat exposure lokal yang kental. Favorit saya adalah Pisang Goreng tentunya. Enak bangetttt..



Sehabis menyantap snack sore, kami pergi ke playground di bawah yang sebelumnya belum sempat kami nikmati. Sayang waktunya mepet, ternyata wahana-wahana binatang tutup pukul 5 sore. Jadinya hanya sempat kasih makan kelinci dan main-main sebentar di kandang burung. Yowisss, besok lagi deh. Rasanya capek juga badan aktivitas tanpa henti walau setengah hari di hotel saja, hihihi. *jompo detected.


Untuk makan malam, kami memesan dari bebek goreng Ali borromeus via Grabfood. Salah satu kelebihan Padma adalah letaknya yang masih dekat dengan pusat kota sehingga masih memungkinkan jika kita ingin memesan aneka ragam kuliner bandung yang terkenal. Sebenarnya sih menu steak yang dimasak live tiap malam hari di restoran Padma cukup menarik, harganya saja yang tidak. Hehehe. Menu-menu Indonesia juga tersedia dengan harga 200ribu ++.

Keesokan paginya, cepat-cepat kami bergegas sarapan jam 7 pagi sebelum mandi. Agar dapat tempat di pinggir saat sarapan sehingga bisa menikmati pemandangan yang ada. Dari atas restoran dapat dilihat beberapa orang sedang menunggu kelas yoga yang dimulai jam 7 pagi. Beberapa orang dewasa dan anak-anak juga sudah nyebur ke kolam renang.


Sarapan di Padma cukup lengkap. Mulai dari menu Indonesia sampai Barat. Semua yang disajikan halal, namun jika ingin bacon pun bisa request. Minumannya bermacam-macam, susu, teh berbagai rasa dan aroma, kopi, sampai jus yang lebih cenderung disebut puree (bisa banget buat yang MPASI karena tidak ada gula tambahan). Pastrynya pun lengkap, rekomendasi saya, Croissant Coklatnya. SEDAPPPP. Jangan lupa bawa tas atau kantong atau tempat makan, untuk bawa beberapa makanan kecil, lumayan untuk snack anak-anak. Saya bahkan membawa semangkok bubur dan 2 gelas puree kembali ke kamar dan diperbolehkan.


Selagi sarapan, ada staff khusus yang berkeliling untuk menanyakan kabar kita dan kira-kira kegiatan apa yang bisa dia rekomendasikan untuk kita. Satu-satu, semua pasti disapa. Jangan merasa aneh karena semua karyawan Padma sangat ramah dan suka menyapa. Mereka juga suka bertanya dari kamar berapa (mungkin ini kalo kita sebenarnya ga nginep disana tapi cuma numpang main, jadinya berasa guilty). Mereka juga dengan senang hati menawarkan mengambilkan foto dan mengingatkan untuk tidak lupa memberikan review hotel di TripAdvisor karena berhadiah voucher 1 malam gratis dan upload Instagram. Tapi saya ga ikutan, review ini saya tulis murni karena terkesan dan butuh bahan tulisan.

Selepas sarapan, kami mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke Adventure Park di bawah. Berbekal kertas kecil berisikan jadwal kegiatan hari itu yang diselipkan di kunci kamar, dengan niat teguh kami memanfaatkan fasilitas yang ada. Sayangnya kertas tidak saya foto, jadi tidak bisa dimasukkan kesini. Padahal penting banget loh supaya maksimal pemanfaatan fasilitas yang adanya. Hehehehe


Ada banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan bagi setiap orang. There's always an activity for everyone. Baik berkeluarga atau belum, baik punya anak atau belum, baik muda ataupun tua.

Bagi anak-anak, bisa menikmati berbagai macam kegiatan seperti melukis tembikar, fun tattoo, mewarnai layang-layang, sampai nail art. Semua kegiatan berbeda setiap harinya, didesain agar tidak bosan jika anda menginap 2 malam. Sedangkan yang ada setiap hari tentu saja feeding zoo yang terdiri dari kelinci, burung, ikan, dan kambing. Tenang saja, semua makanan untuk binatang sudah disediakan gratis dan sepuasnya.





Bagi remaja dan orang dewasa, bisa bermain permainan outbond seperti flying fox, tali gantung, memanah,  bahkan hiking dengan trail khusus disertai pemandu.

Saya sebelum flying fox. Suami kebagian jagain anak-anak :p

Gantian


Fasilitas playground juga lengkap, ada labirin setinggi pinggang orang dewasa, replika kapal laut dilengkapi dengan pelosotan, mini golf, dan fasilitas playground umumnya.

Playground

Labirin menuju dan dari tempat kelinci

Tempat bermain dari atas


Sepertinya belum habis menikmati fasilitas yang ada, tapi sudah lelah dan tepar serta jam sudah menunjukkan waktu jam 11. Kami berpeluh dan perlu mandi lagi! Waktu checkout adalah jam 12, untungnya bisa request untuk checkout jam 1 tanpa tambahan biaya.

Berfoto di Lobi Padma sebelum pulang
Sekarang sudah tidak penasaran lagi dan pantaslah memang banyak yang merekomendasikan hotel ini untuk staycation karena memang yang dijual itu experiencenya.

After all, we have a really pleasant stay in Padma Bandung. 

Minggu, 03 Maret 2019

Review: Pixy Dewy Cushion Medium Beige

review pixy dewy cushion


Siapa sih yang ga tau produk yang satu ini? At least kalo beauty enthusiast juga kaya saya pasti pernah dengar produk ini.

Trend cushion dan kepraktisannya memang sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Asalnya tidak lain dari Korea Selatan. Brand-brand barat pun juga ikutan memproduksi cushion ini. Dulu saya tidak langsung ikut mencoba trend bb cushion ini karena pilihan shade dari merk korea biasanya terlalu putih di kulit saya yang sawo matang. Akhirnya dulu berbekal tutorial di youtube, saya coba buat sendiri.

BACA JUGA: DIY BB Cushion

Tidak mau ketinggalan, brand lokal pun mulai memproduksi bb cushion juga. Yang paling pertama merilis sih mineral botanica, diikuti dengan mizzu, lalu wardah, pixy dan emina. Sebenarnya sih pixy ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan lokal, karena berada di bawah Mandom (perusahaan asal Jepang). Namun harga-harga produk pixy memang bersahabat sehingga sering diidentikan dan dimasukkan ke kategori produk lokal.

Pixy merilis cushionnya dalam rangkaian produk Make It Glow series yang terdiri dari compact powder, primer, serta cushion pada September 2018 yang lalu. Semenjak itu pula saya telah memasukkan cushion Pixy yang bertabur banyak review bagus ini ke dalam keranjang saya di marketplace yang sering saya gunakan. Baru pada Februari 2019 yang lalu, saya akhirnya men-checkout karena harganya lagi promo menjadi 89 ribu saja dan gratis biaya pengiriman. Hehehehe.

Harga Resmi: 125.000 namun sudah banyak yang menjual 15-20% di bawah harga resmi di marketplace. Sedangkan refillnya dibanderol 90.000. Refillnya bisa digunakan di cushion case merk lain jika kebetulan sudah habis.


Pilihan shade: (dari kiri ke kanan) 101 Light Beige, 102 Natural Beige, 301 Medium Beige 

Saya memilih warna tergelap 301 Medium Beige yang warm undertone. Sebagai referensi pembanding, biasanya saya memakai Maybelline Fit Me Matte + Poreless shade 220 Natural Beige.

Keterangan Produk:
BB cream atau liquid foundation yang disimpan dalam sponge khusus. Daya tutup yang tinggi sehingga dapat menutup kekurangan di wajah seperti noda hitam dan bekas jerawat dengan sangat baik. Mengandung Botanical Extract seperti Olive Oil, Jojoba Oil dan Yuzu extract yang membantu menutrisi kulit dari dalam, sehingga membuat wajah nampak sehat bercahaya. Mengandung SPF 23 & PA++.



Claim oleh Produk:
Coverage 4/5
Glowy Finish 5/5

review pixy dewy cushion

Sesungguhnya claim high coverage dan glowy finish ini lah yang membuat saya ragu untuk membeli. Saya takut kalau high coverage, nanti jadinya dempul. Kulit wajah saya sendiri cenderung kering, jadi kata-kata dewy cukup menarik hati namun kalau nampak seperti ladang minyak kayanya ga ok. Tapi setelah menonton K-Drama untuk pertama kalinya setelah 15 tahun, saya jadi tertarik dengan glass skin look :p

BACA JUGA: Review Memories of the Alhambra

Elegant Brown Packaging


Setelah segel dibuka

review pixy dewy cushion
Swatch di tangan. Atas: saat baru di swatch, Bawah: setelah mengering warnanya menyatu

Bagaimana hasilnya di muka? Saya mencobanya setelah menggunakan skincare dan tanpa menggunakan primer terlebih dahulu.

Kiri: Bare Face, Kanan: Sesudah mengaplikasikan pixy dewy cushion

Di percobaan pertama, hyperpigmentasi di jidat tidak tertutup hanya lebih samar sedikit. Sepertinya saya pakai terlalu tipis. Di lain waktu, saya pun mencoba lagi. Sebenarnya sih hampir setiap keluar saya pakai karena cushion memang praktis dan hemat waktu. Tapi ga setiap kali sempat ambil foto sebelum dan sesudah di tempat dan cahaya yang sama. Hehehehe.

review pixy dewy cushion
Kiri-Kanan: Sebelum memakai apa-apa - Setelah applikasi pixy dewy cushion - Setelah selesai make up

Selama ini orang-orang suka bilang sekali tap bisa buat semua, tapi kok saya ngerasa perlu tap lembut beberapa kali ya untuk 1 muka. Atau saya yang nekannya terlalu lembut atau memang harus ditekan biar dapat banyak produk ya? 

Coveragenya memang lumayan, kemerahan di sekitar hidung bisa tertutupi. Namun bekas jerawat sedang mengering yang saya punya di dagu dan pipi sebelah kiri tidak sepenuhnya tertutup. Hyperpigmentasi di jidat juga masih terlihat. Di foto terakhir saya hanya menambahkan cheeklit blushnya emina pada complexion saya, hasil polesan cushionnya tidak menjadi bergeser dan rusak asalkan diberi jeda waktu pengaplikasian (pakai mascara dan eyeliner dulu contohnya). Saya juga tidak mengenakan powder apapun untuk mengeset make up.

Pada foto kedua, saya mengaplikasikan cushion sekitar jam 1 siang. Malam hari sekitar jam 9, sebelum membersihkan make up, saya menemani anak-anak video call dengan tantenya. Kata adik saya "pake skincare apaan kak? putihan". Padahal cuma belum hapus bekas make up tadi. Lumayan setelah 8 jam masih terlihat efeknya berarti ya.

OVERALL: 4/5 I like it!
Repurchase? Make up suka ga abis-abis, dan makin banyak merk-merk lain yang bikin penasaran untuk dicoba... Tapi mungkin kalau engga nemu yang lebih enak dengan harga terjangkau, kenapa ngga...