Jumat, 07 Februari 2020

Pengalaman Rawat Inap di Rumah Sakit Universitas Indonesia


Jadi ceritanya beberapa waktu lalu anak saya yang kedua, Caca, demam sampai 39 derajat. Hari pertama demam, doi masih terlihat normal saja, bermain dengan kakaknya, susu dan makanan masih lancar. Hari kedua, nafsu makan berkurang dan mulai rewel. Akhirnya saya berikan paracetamol, namun panasnya tak kunjung turun walaupun sudah diberikan sampai 4x dengan jeda waktu 4 jam setiap pemberian. Sementara batas maksimal pemberian paracetamol hanya 5x dalam 24 jam. Kebetulan, caca juga tidak pilek ataupun batuk. Seingat saya kalau tidak disertai gejala lain, justru harus tambah waspada. 

Akhirnya walaupun belum 3 hari demam, saya dan suami memutuskan untuk membawa Caca ke Rumah Sakit. Pergilah kami ke Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), walaupun biasanya kami memeriksakan anak ke RS Hermina Depok yang letaknya lebih dekat rumah. Alasan simpelnya sih karena apapun itu memang kami sudah niatkan Caca harus kena infus biar tidak dehidrasi biarpun harus menginap satu malam saja dan harga di kelas kamar Deluxe/VIP di RSUI lebih murah daripada Hermina sehingga masih bisa dicover penuh oleh asuransi yang saya miliki.

tarif rawat inap
Perbandingan tarif rawat inap RSUI (kiri) dan RSH Depok (kanan)

Walaupun kita bisa melihat gedung RSUI di balik Depok Town Square, namun RSUI hanya dapat diakses jika kita masuk ke kawasan Universitas Indonesia. RSUI belum memiliki akses langsung dari Margonda atau jalan yang lebih dekat dengan jalan arteri Depok tersebut. Keuntungannya, biaya parkirnya pun ikut tarif UI, Rp 5.000,- saja per hari.

Kami tiba di IGD sekitar jam 6 sore sebelum maghrib. Karena sepi, jadi langsung dilayani. (Beberapa hari kemudian, ada kecelakaan bus di subang dan korbannya, yang kebanyakan domisilinya di Depok, dilarikan ke RSUI. Pastilah kalau bersamaan, kami mendapat prioritas terakhir sesuai kegawatdaruratan). Di sana, Caca diperiksa oleh dokter jaga yang ada dan diambil darah serta urinnya untuk tes lab. 

IGD RSUI
Diinfus dan nunggu sampel urin di IGD

Hasil tes darah keluar sejam kemudian, hasilnya bagus. Hasil tes urin lebih lama, karena nunggu Caca akhirnya pipis cukup memakan waktu. Karena masih demam dan Caca tidak mau minum, akhirnya dia diinfus. Dan kami sebagai orang tua juga lebih memilih untuk rawat inap saja. Proses berpindah ke ruang rawat inap sebenarnya cukup lama. Jam 10 baru kami masuk kamar karena proses administrasinya cukup lama (walau tidak mengantri, heuu). 

Fasilitas Kamar

Akhirnya kekepoan ku akan kamar VIP RSUI yang harganya lebih murah dari kamar kelas 1 RS Hermina terjawab sudah. Berikut beberapa gambar yang sempat saya ambil. 

kamar VIP RSUI
Rawat Inap Kelas VIP RSUI

Fasilitas yang ada di Kamar
Toilet dalam Kamar
Sebenarnya mereka masih memiliki satu tingkat kamar di atas VIP, namun unitnya terbatas, dan untuk yang anak tidak ada. Lagipula, kalau dilihat dari gambarnya, hanya besar di ruang tamu saja. Detail jenis kamar rawat inap di RSUI bisa lihat di sini ya.

Kamarnya sendiri cukup luas, tempat tidur dan furniturnya pun masih baru. Setiap kamar dilengkapi dengan dispenser besar dan lemari es 1 pintu berukuran sedang (lebih besar daripada kulkas kamar RS lain pada umumnya). TV disediakan untuk hiburan, namun isinya masih channel lokal semua, beberapa receptionnya kurang bagus. (kebetulan saya tidak ada TV di rumah, dan baru sadar segitu membosankannya TV lokal, pantesan netizen ngamuk kalau netflix diblock Telkom :p).

Untuk penunggu disediakan sofa 2 seater kecil, meja makan dan 2 kursi. Nah ini salah satu kurangnya ya kalau dibandingkan dengan kamar Deluxenya Hermina. Sofanya terlalu kecil, jadi yang tidur di sofa harus nekuk banget kakinya, kurang nyaman. Akhirnya pada malam ketiga, kami minta orang rumah untuk mengirimkan kasur lipat.

Kamar mandinya pas, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil dan dilengkapi dengan shower dan toilet duduk. Namun mungkin karena tekanan/headloss perpipaannya kurang (naon sih, ini ceritanya analisis lulusan teknik lingkungan yang udah rada lupa ilmunya), jadi kadang air menggenang, padahal tidak ada sampah atau rambut di gutternya.

Oh iya, walaupun ini di lantai 6, namun masih banyak nyamuk. Mungkin pihak RS bisa lebih meningkatkan pest controlnya. Dulu almarhum ayah saya sering berolahraga dan lari di depan jalan yang cikal bakalnya menjadi RSUI. Di daerah ini memang nyamuknya banyak dan luar biasa, kalau kita diam saja bisa diserbu dan pulang dengan banyak bentol.

Ruangan kamar dibersihkan oleh cleaning service 2-3x sehari (agak lupa, tapi seinget saya sering deh).

Makanan

Dari cerita teman sih, biasanya diberikan pilihan menu untuk makanan, namun saat Caca dirawat, kami tidak diberikan pilihan, biasanya sih karena mendapat diet khusus. Sarapan pagi biasanya paling simpel, biasanya bubur dan topping. Makan siang dan malam lebih lengkap dengan buah. Caca juga mendapat pediasure untuk selingan 3x sehari sebanyak 150 ml (yang pakai asuransi, biasanya susu formula tidak dicover ya), mungkin karena anaknya langsing banget yaa. Selama 4 malam dan 4 hari menginap, ahli gizi datang sebanyak 2x.

Contoh Sarapan
Contoh Makan Malam
Contoh Makan Siang

Tapi dasar, tante-tantenya Caca yang merupakan nakes, bisa aja nemu kurangnya. Katanya makanannya kok ga diwrap plastik lagi satu-satu biar aman. Hehehhee...

Oh iya, salah satu yang agak susah di RSUI adalah masih kurangnya restoran/kantin di kawasan Rumah Sakit. Ada kantin di area parkir namun saat akhir pekan tutup. Karena kebetulan saat Caca dirawat, kampus sedang libur, kantin fakultas pun banyaknya tutup. Jadi kita harus mengandalkan grabfood/gofood saja dan diambil di lobby.


Fasilitas Penunjang Lainnya

Di RSUI, Mushola sangat mudah sekali ditemukan, karena hampir setiap lantai atau tempat yang ada ruang tunggunya pasti ada mushola. Walaupun besar mushola berbeda-beda. Contohnya di ruang tunggu IGD, mushola hanya muat untuk 3 orang. Namun di ruang tunggu rawat inap lantai 6 misalnya, musholanya lebih besar. Tujuannya supaya orang tidak perlu jauh-jauh dan bisa tetap standby di tempat yang diperlukan.

RSUI
Mushola Rawat Inap Lantai 6
Rumah Sakit Universitas Indonesia
Ruang Tunggu Keluarga/Pengunjung cukup luas dan nyaman.

Pelayanan

Selama dirawat, dokter spesialis anak melakukan kunjungan setiap hari, pada akhir pekan sekalipun. Dokter anak yang menangani Caca adalah dr Annisa, bukan dokter langganan kami, melainkan dokter yang diassign saat perpindahan dari IGD ke Rawat Inap. dr Annisa cukup baik dan sangat informatif. Beliau juga cukup RUM (Rational Use of Medicine) dan tidak berlebihan dalam memberikan obat. Selama dirawat, Caca hanya mendapat cairan infus dan paracetamol jika panas karena penyebab sakitnya jika dilihat dari hasil lab adalah virus. Kami harus menunggu anak bebas demam selama 24 jam sampai diperbolehkan pulang. 

Pada hari keempat, keluar bercak merah pada badan Caca, ternyata dia terkena Roseola. Gejalanya memang panas pada 3 hari pertama, lalu muncul bercak merah pada hari keempat. Ketika bercak merah muncul, ini justru menandakan gejala membaik. Oleh karena itu kami diperbolehkan pulang dan disarankan kontrol 3 hari setelah pulang.

Tidak boleh lupa ditulis, pelayanan Ners/Suster/Nurse/Perawat (sepertinya sekarang mereka lebih suka disebur Ners) di RSUI juga sangat baik. Semua ners sangat ramah, setiap pergantian shift, mereka selalu menyapa dan memperkenalkan diri. Nersnya juga rajin, suka menawarkan untuk memandikan anak (seinget saya di RSH, ya semua-semua orang tuanya sendiri). Secara berkala mereka mengecek suhu tubuh anak saya, dan setiap alarm infus menyala, mereka sigap datang tanpa harus dipencet belnya. Saya juga harus melaporkan dan memberikan pampers anak saya setiap pipis kepada suster, sebagai indikator hidrasi, pencernaan, serta ekskresi anak.

Peralatan kesehatan yang digunakan di RSUI juga masih baru dan modern. Cairan dan obat yang dimasukkan lewat infus semua diatur sesuai dosis dengan alat. Pengalaman 2x rawat inap anak, tidak pernah pakai yang semacam itu, pernah lihatnya saat ayah saya dirawat di ICU. (norak deh sum, mungkin kalau nakes yang liat ni tulisan).

Helpful dan detail sekali menurut saya semua prosedur kesehatan yang ada di RSUI ini. Walaupun kita sebelumnya bukan pasien di RSUI, namun kita akan diwawancarai tentang riwayat kesehatan sebelumnya.


Perkiraan Biaya

Sampai tulisan ini dibuat, RSUI masih belum bisa menerima BPJS karena belum mendapatkan akreditasi Rumah Sakit, oleh sebab itu jumlah pasien yang ada masih sedikit. 

Berapa kira-kira biaya yang dihabiskan untuk rawat inap? Sebenarnya sangat tergantung dengan tindakan medis yang dilakukan. Untuk Caca sendiri, sebenarnya tidak banyak karena hanya cairan infus dan paracetamol. Biaya yang dikeluarkan untuk kamar rupanya hanya setengah dari total tagihan. Jadi jika anda tidak menggunakan asuransi, mungkin estimasikan untuk kamar sekitar 1/3 dari biaya seluruhnya. 


Overall, saya cukup puas dengan pelayanan RSUI, kecuali yaaaaa itu, admin dan farmasinya yang sangat lama (apalagi kalo rawat jalan, hikssss). Harga kamar yang cukup murah menjadi daya tarik Rumah Sakit ini.

Next time, mungkin saya akan review pengalaman rawat jalannya. Kalau tidak malas... Hehehehhee...

Selasa, 14 Januari 2020

Ikhtiar dan Tawakal Tidak Bisa DIpisah



Sok banget deh sum, di post pertama 2020 bahas-bahas tentang ikhtiar dan tawakkal

Iya, soalnya beberapa minggu lalu ada kejadian yang menggangu di pikiran saya. Yah, semoga saja tidak ada yang baca.

Jadi ceritanya, salah satu kerabat ada yang kehilangan putrinya yang masih berumur 20 tahunan. Masih muda. Almarhumah sedang hamil anak kedua dengan usia kandungan memasuki trimester ketiga. Anak pertamanya sendiri belum genap satu tahun (kalau tidak salah). 

Qadarullah.

Iya, memang sudah tertulis takdirnya seperti itu. Tambahannya, ini adalah kehilangan kedua bagi keluarga itu dalam 4 bulan terakhir. Sebelumnya kakak perempuannya yang lebih tua 10 tahun juga berpulang ke rahmatullah. 

Penyebabnya sendiri berbeda. Tapi ada satu yang sama, keduanya meninggal di rumah tanpa mendapatkan pertolongan medis walaupun sakit setelah beberapa lama dan sempat terjatuh pingsan. Pertolongan di sini maksudnya dilarikan ke rumah sakit. ya, keluarga ini anti rumah sakit

Sebelumnya saya sadur dulu ya dari sebuah artikel tentang ikhtiar dan tawakal di situs milik Republika yang bisa diakses di sini

Tetap ikhtiar berarti terus berupaya dan berbuat. Tidak diam, juga tidak fatalistis. Keyakinannya cukup kuat dan stabil. Sebesar dan semaksimal ikhtiar sebesar itulah hasil. Tentu berikhtiar maksimal dalam jalan yang diridhai-Nya. Bukan di jalan yang tidak dibenarkan, apalagi menabrak banyak rambu dan ketentuan.

Manusia terbaik adalah yang terus bergerak, memanfaatkan setiap potensi yang dia miliki untuk merebut sebuah kemenangan. Potensi yang termanfaatkan tidak hanya dari fisik, tetapi juga dari jalur ruhiyah, misal shalat, zikir, dan doa. Ikhtiar tanpa doa adalah sebuah ke-sombongan. Sebagaimana doa tidak disertai ikhtiar adalah kesia-siaan.

Seorang Muslim yang tawakal adalah yang menyerahkan kepada Allah SWT atas segala yang sudah dilakukannya. Tawakal tidak sama dengan pasrah. Tawakal adalah sebuah tindakan aktif, sementara pasrah adalah tindakan pasif. Tawakal mensyaratkan adanya upaya kreatif dari pelakunya. Dalam Alquran, ada banyak ayat yang berbicara mengenai tawakal ini, setidaknya, ada 70 ayat.

Sebagai outsider, ya siapa saya berkomentar. Namun tahun lalu saya juga baru kehilangan seorang yang amat saya sayangi, yaitu ayah saya. (Ya dan sampai saat ini saya masih belum bisa membuat tulisan tentang perasaan saya atas kejadian ini). Ayah saya dirawat di ICU selama 2 bulan sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. 2 bulan itu, tidak ada komunikasi sama sekali karena memang beliau dibuat tidak sadar agar pengobatan bisa lebih efektif.

Namun sebelumnya, memang ayah saya sempat mengeluhkan kesehatannya. Sempat pernah dibawa ke IGD juga namun dokter hanya bilang sakit lambung biasa. Kebetulan yang mengantarkan saya, namun episode itu terulang-ulang di benak saya. Ada rasa marah kepada dokter yang waktu itu memberikan diagnosis ringan seminggu sebelum akhirnya Ayah saya masuk ICU dengan kondisi yang sudah cukup parah. 

Selama 2 bulan itu, saya merasakan betapa kecilnya kita sebagai manusia. Dan dokter pun hanya manusia biasa, yang bukanlah serba tau. Walau kejadian itu ada, tapi keberhasilan seperti yang layaknya sering dipertontonkan di serial TV tentang kedokteran.

Penyesalan kenapa tidak segera mendapatkan diagnosis yang benar lebih cepat itu selalu ada. Walaupun semua sudah terjadi dan yang bisa saya lakukan adalah ikhlas dan bersabar.

Yang saya tidak bisa bayangkan adalah, bagaimana keluarga yang saya ceritakan di atas rasakan. Tidak ada usaha. Jikalau tidak ada uang, mereka mempunyai banyak teman yang siap membantu. Rumah Sakit tidak jauh dari kediaman mereka. Atau ketika sebenarnya masih bisa dilarikan ke Rumah Sakit dan bayi dalam kandungan diselamatkan. Tidak, mereka tidak memilih itu. Rasanya gemas. Gemas saja. Memang keluarga tersebut tergolong religius dan memang giat mengingatkan tentang hari akhir. Namun, bukan begini dong seharusnya. Padahal banyak ilmuwan muslim yang merupakan pelopor kesehatan, contohnya Ibnu Sina. BE RATIONAL.

Ya Allah, julid sekali ya saya... Ya, saya gemas. Hanya merasa perlu menuliskan uneg-uneg, semoga yang bersangkutan tidak membaca dan tersinggung.

Bagaimanapun, ikhtiar itu penting kan? Diiringi dengan doa dan kepasrahan sebagai bentuk tawakkal kita.

Senin, 09 Desember 2019

Kutek Halal dan Breathable, Aman untuk Sholat?

kosmetik halal


Akhir-akhir ini semakin marak sertifikasi halal pada produk non-makanan khususnya produk perawatan tubuh, skincare, dan kosmetik. Walaupun sampai saat ini belum ada undang-undang yang mewajibkan produk-produk tersebut untuk mendapatkan sertifikasi halal MUI, namun produk lokal sudah berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagai nilai tambah di mata konsumen.

Apa saja sih titik kritis halal untuk kosmetik? Berikut adalah sebagian bahan-bahan yang biasa digunakan dan bisa bersumber dari hewani (sapi, babi, atau bahkan manusia) dan nabati (tumbuh-tumbuhan). Sumber lengkapnya dari sini ya.
  1. Plasenta - biasa digunakan pada produk hand body dan lotion untuk melembutkan kulit. Sering berasal dari hewan dan bahkan manusia.
  2. Gliserin - biasanya ada dalam campuran sabun. Ada yang hewani (babi dan sapi) serta nabati. Insya Allah yang sapi dan nabati halal untuk digunakan.
  3. Kolagen - biasa digunakan pada produk pelembab. 
  4. Vitamin - karena sifatnya yang tidak stabil, biasanya digunakan coating tambahan yang berasal dari gelatin
  5. Hormon - contohnya estrogen, melantonin, dll yang berfungsi untuk memberi efek lebih muda. Semua jenis hormon diekstrak dari binatang jadi harus dipastikan hewannya halal.
  6. AHA - senyawa kimia untuk mengurangi keriput dan memperbaiki tekstur kulit. Biasanya dibuat menggunakan media dari hewan.

Kutek adalah salah satu produk yang tidak boleh digunakan oleh seorang muslim saat sholat karena sifatnya yang menghalangi air wudhu. Namun, apakah jika ditambahkan halal dan breathable membuatnya bisa digunakan untuk sholat? Kutek yang halal berarti dia tidak menggunakan bahan baku yang diharamkan dengan kata lain tidak menggunakan produk hewani dari babi. Sedangkan klaim breathable sendiri yang dimaksudkan bahwa air dapat mempenetrasi lapisan kutek.

Nah saya adalah termasuk salah seorang yang gatel dan genit ingin pakai kutek karena sudah lama banget ga pakai, terakhir saat nifas anak kedua, 1.5 tahun yang lalu. Kebetulan ada teman yang tinggal di timur tengah sedang buka PO kutek halal dan breathable yang sedang diskon, jadi harganya lumayan lebih miring dari biasanya.

Sesampainya paket kecil berisi kutek, saya langsung mencoba memakainya. Warnanya cantik di tangan saya yang buluk, hihihi. Tapi setelah saya pakai beberapa lama, entah hati nurani saya ragu, hmmm... Apakah benar kutek ini bisa tembus air wudhu?

Sebelumnya berikut review singkat kutek halal dan breathable yang saya beli tersebut.

Merk: Mikyajy
Nama Produk: Breathable Nail Enamel
Shade: 905

Bagian belakang keterangan produk Mikyajy

Akhirnya saya pun melakukan eksperimen sederhana. Dengan membandingkan permeabilitas air pada kutek ini dan kutek lain yang tidak memiliki klaim breathable yaitu kutek dari Flormar.


Pada percobaan ini saya menorehkan kutek dengan ketebalan yang sama di atas kertas art paper (semacam yang di Majalah tapi lebih tebal, seperti pada katalog, tapi bukan karton). Setelah itu di atas kedua kutek dan di ats kertas tanpa kutek saya teteskan air.

kutek halal


kutek untuk wudhu
Penampakan setelah 15 menit
Seperti yang bisa dilihat di gambar di atas, setelah dibiarkan selama 15 menit, air merembes pada kertas yang tidak dilapisi kutek, sedangkan yang di atasnya ada kutek baik mikyajy maupun flormar sama-sama tidak tembus air. Kalaupun di dekat flormar terlihat rembesan, itu karena air bergoyang mengalir ketika kertas saya pindahkan.

Klaim Breathable pada kutek Mikyajy tidak memberikan jaminan bahwa kutek tersebut bisa digunakan saat berwudhu. Saya sendiri belum pernah mencoba kutek breathable lain seperti Inglot O2M breathable nail enamel atau merk lainnya. Harganya lumayan mahal ya, kecuali kalau ada yang mau ngirimin, hihihi. Tapi ini sangat mudah dilakukan dan bisa dicoba sendiri di rumah.

Beberapa percobaan bisa anda cari di youtube. Ada beberapa merk yang memerlukan kita menggosok-gosok kuku saat berwudhu untuk memastikan air masuk. Namun jika diperhatikan, dibandingkan dengan luasnya area kutek yang digosokkan air, air yang menembus biasanya hanya setengahnya (itu pun dengan cara digosok-gosokkan lama). Jadi sebenarnya kurang practical, masa wudhunya lebih lama dari sholatnya... Ehhhh

Kesimpulannya, jika anda ragu, sebaiknya gunakan memang ketika sedang berhalangan sholat saja. 

Sekian post ini, semoga bermanfaat :) 

Minggu, 08 Desember 2019

Berhenti Mengeluh dan Merengek

Minggu lalu karena ada sahabat suami yang menikah, kami sekeluarga pergi dan menghabiskan akhir minggu di Cirebon. Kota dimana beberapa bulan lalu kami tinggali sampai akhirnya suami dipindahtugaskan kembali ke Jakarta. Barang-barang kami sebenarnya pun belum terangkut semua ke Jakarta.



Masih teringat dulu dimana saya mengeluh pada suami bahwa kita tidak bisa tinggal lebih lama lagi di tempat itu. Tempat tinggal saya di Cirebon adalah serviced apartment di  sebuah hotel dengan luas sekitar 80 m2 yang terdiri dari sebuah ruangan besar (ruang keluarga dan ruang makan), sebuah kamar tidur yang cukup luas, pojok lemari, dan kamar mandi dengan bath tub yang cantik. Ya, kami tidak memiliki dapur dan hanya bermodalkan slow cooker dan rice cooker saja. Sebagian besar kami memesan makanan melalui room service, grabfood, ataupun gofood.

BACA JUGA: Rekomendasi Tempat Makan di Cirebon

Semenjak kepergian ayah saya pada bulan Juni 2019, kami memang jadi lebih sering ada di Depok. Ditambah lagi suami pun sudah lebih sering diperlukan oleh kantornya di Jakarta. Hidup kami berubah. Kami kembali tinggal di rumah orang tua saya, dimana ada 2 keluarga kecil lain yang hidup di sana dan 5 adik saya lainnya yang belum menikah. Memang rumah itu cukup luas. Ibu saya mendesainnya agar lantai bawah rumah bisa digunakan oleh anaknya yang sudah menikah, semua kamar dilengkapi kamar mandi jadi privasi terjaga.

Namun, ternyata tidak semudah itu. Rumah rasanya terlalu crowded dan mulai tidak sehat. Apalagi ketika gaya parenting saya mendapat kritik dari orang yang bahkan belum mempunyai anak. Kebayang dong panasnya seperti apa. Akhirnya kami melipir pindah ke apartment milik ibu saya yang masih ada di Depok. 

Apartment Studio. 24 m2. 1 ruangan dan kamar mandi. Dalam ruangan itu ada dapur, meja makan, dan tempat tidur 120x200 yang dapat dilipat ke dalam dinding. Dan kami keluarga muda dengan 2 orang anak mulai tinggal disitu. Setiap malam, suami saya tidur di kasur tiup karena kasur yang ada tentu saja tidak cukup.

Sebenarnya ada beberapa keuntungan ketika kamu tinggal di tempat yang kecil:
  • Lebih sedikit area yang menjadi sasaran berantakannya anak-anak
  • Anak-anak bisa melihat ibunya dengan mudah sehingga saya bisa dengan lebih leluasa melakukan berbagai hal seperti memasak dan membereskan rumah
Dan tinggal di apartment studio itu rasanya masih lebih baik daripada berada dalam rumah besar dengan terlalu banyak kepala keluarga.

Lalu perjalanan kami kembali ke Cirebon menjadi pengingat kembali bahwa hidup kami yang sebelumnya sangatlah nyaman. Fresh linen everyday, buffet breakfast, space for kids to run around, ke kantor hanya 5 menit, dan lain sebagainya. And yet, I was complaining about it before. Not feeling grateful. Suggesting (or more like nagging) that my husband should look for overseas transfer or other job opportunity.

Jadi teringat cerita Abu Nawas yang sering diceritakan dahulu jika saya tidak salah ingat. Seorang lelaki mengeluhkan pada Abu Nawas tentang rumahnya yang sempit dan istrinya yang mengeluh serta anaknya yang nakal. Abu Nawas pun menyuruhnya untuk menambahkan beberapa ekor ayam ke rumahnya. Keesokannya iya kembali lagi dan mengeluh bahwa hal bertambah buruk, namun Abu Nawas justru menyarankan untuk menambahkan beberapa ekor kambing ke dalam rumah. Keadaan tambah parah, namun Abu Nawas kembali menyarankan untuk menambah beberapa ekor bebek. Rumah lelaki itu pun makin sesak dan bau, istrinya makin marah dan kesal.



Sampai akhirnya Abu Nawas menyuruhkan mengeluarkan semua binatang itu. Keesokannya lelaki itu kembali lagi dengan wajah berseri dan mengatakan bahwa rumahnya terasa lebih lapang dan semua orang bahagia tanpa harus benar-benar memperbesar rumahnya.

Baca Cerita Lengkap Abu Nawas di sini.

Hikmah yang dapat saya ambil adalah kita harus mensyukuri apa yang kita miliki sekarang karena hal bisa saja bertambah buruk. Dan jika kita tidak bersyukur, sesungguhnya kita tidak akan pernah puas dan bahagia apalagi merasa content. 

Sebagai istri *ngomong sama diri sendiri*, jangan sampai sifat mengeluh, merengek, dan menuntut ini membuat suami mencari rezeki yang tidak halal. Jadi kepikiran, jangan-jangan ini juga salah satu faktor yang membuat para pejabat itu korupsi.

Semoga saya bisa belajar untuk berhenti mengeluh, menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan mendukung apa yang dilakukan suami selama itu Halal. Bisa jadi karena saya selalu merasa tidak puas dengan pekerjaannya justru itulah yang membuat karirnya mandek... Iya gakkk

Once again, this is one of the random post about random things in my mind. Plus, sudah hampir habis ini batas tidak setor tulisan ke 1minggu1cerita. Hampir di kick saudara-saudara, hehehehe.


Rabu, 30 Oktober 2019

Secret I Only Share to Strangers




Sebenarnya tujuan awal saya mulai aktif menulis di blog adalah untuk media curhat selain tumblr yang sebelumnya sempat di blok pemerintah. Ingin curhat, ingin ditulis, tapi tak ingin dibaca. Jadi yang baca yang ga sengaja aja hahahaha. Saya memang tipe yang jarang membagikan tulisan organik saya terutama bagi keluarga ataupun yang saya kenal kecuali memang saya yakin ada faedahnya.

Ini bukan rahasia kelam atau aib sih sebenarnya. Bukan berarti saya tidak bersyukur juga.

Jadi ceritanya beberapa bulan yang lalu saat Ayah saya sakit dan harus dirawat di ICU selama 2 bulan lebih lamanya (sebelum akhirnya berpulang ke rahmatullah), saya mulai menyadari enaknya punya saudara banyak. Bagaimana tidak, selama 2 bulan lebih itu harus ada di antara kami yang standby di emperan Rumah Sakit menunggu jikalau ada panggilan dari dokter melalui speaker yang terpasang. Pasien yang dirawat ICU tentu saja tidak boleh ditemani keluarga di dalam ruangan karena tingginya resiko infeksi bagi pasien maupun pendamping.

Gimana rasanya? Lelah walaupun dari total 2 bulan itu mungkin jika di total saya hanya ada disana 3 minggu, karena anak-anak tidak mungkin terlalu lama tinggal di Rumah Sakit (awalnya masih booking kamar di hotel dekat RS, tapi lama-lama mayan ya sisss). Oh iya, perlu diingat bahwa kejadian Ayah saya jatuh sakit itu di Malang saat bekerja, kami bukan orang Malang dan tidak punya tempat tinggal di sana. Jadilah kami sekeluarga bergantian PP Jakarta-Malang, Cirebon-Malang untuk menjenguk ayah saya.

Alhamdulillah kami semua 9 bersaudara, jd minimal 2-3 anak menemani ibu saya di Malang. Walaupun menunggu, tapi melelahkan loh.. Fisik dan Psikis, deg deg ser setiap dengar panggilan dari speaker.

Nah, setelah pengalaman itu, saya jadi sempat berdoa kalau saya ingin juga punya anak banyak.

Dipost 2 hari sebelum Ayah saya berpulang, Alhamdulillab sempat kumpul full tim

Lalu apa yang terjadi, jeng jeng jeng. Saya hamil lagi dengan perkiraan waktu conceive nya berdekatan dengan meninggalnya Ayah saya.

Saya baru mengetahuinya setelah kehamilan menginjak hampir 6 minggu. Karena kebetulan saya memang tipe hamil kebo yang hampir tidak merasakan perubahan apa-apa kalau hamil.

Perasaan saya dan suami? Ya campur aduk

Di sisi lain, ya Allah cepat banget diijabahnya doa, apakah ini pengganti Ayah saya? Tapi di sisi lain, saya masih belum begitu siap mengingat kedua anak saya masih kecil dan butuh banyak perhatian. Walaupun setidaknya jarak antara anak kedua dan ketiga akan lebih jauh (yaitu 2 tahun) dibandingkan yang pertama dan kedua (19 bulan).


Aa dan calon teteh


Suami saya? Ya dia membayangkan bagaimana menghadapi 3 anak nanti... Dan yang paling ditakutkan adalah kalau sayanya stress dia juga yang kena kan hehehehe... Karena baginya, everything is easy as long as my wife doesn't get angry 😂


Diambil saat ngedate nonton Joker, kehamilan 18 minggu


Di lingkungan keluarga, adik saya (anak nomor 2) belum dikaruniai anak setelah tinggal 1 tahun lebih bersama (sebelumnya 2 tahun LDM), sedangkan istri adik saya yang lainnya (anak nomor 3) sedang mengandung dengan due date akhir tahun ini. Ditambah masih ada 4 sepupu lainnya di keluarga besar yang juga sedang mengandung. Saya takut ini akan menjadi pressure untuknya.

Akhirnya jadilah beberapa orang saja dalam keluarga yang mengetahuinya. Saya sendiri juga belum memberi tahu teman-teman dekat saya. Beberapa masih ada yang belum menikah, ada juga yang belum dikaruniai anak, dan saya hamil anak ketiga.

Masya Allah.

Terkadang saya bertemu dengan sesama ibu lain di playground dan bercerita bahwa saya sedang mengandung lagi. Iya ibu lain, orang asing yang mungkin saya tidak akan berjumpa kembali. Sama halnya saya akhirnya menuliskan hal ini di blog yang mungkin tidak akan ada yang membaca. Setidaknya orang yang tidak mengenal saya langsung di kehidupan nyata.

Selama ini saya memang selalu memakai baju yang longgar sehingga jika tidak diberitahu, orang tidak sadar bahwa saya sedang hamil. Belum lagi saya masih aktif berpergian dan beraktivitas bersama 2 bocah, yang satu digendong pakai carrier perut ketutupan, hehehhe. 

Sungguh bukan berarti saya tidak bersyukur. Walaupun harus diakui bahwa excitement kehamilan selanjutnya memang tidak setinggi yang pertama apalagi kalau jaraknya dekat.

Ada saatnya saya merasa overwhelmed dan merasa anak-anak saya adalah anchor bagi kemajuan saya (sebagai pribadi). Dan saya masih pada tahap belajar berdamai dengan diri sendiri dan mencintai peran saya sebagai ibu. Lalu Allah menentukan lain, dititipkannya saya 1 anak lagi.

Saya sering bercanda dengan suami ketika sedang hitung-hitungan uang. "wah ini kalo ga ada pengeluaran susu anak setahun, aku bisa beli tas louis vuitton loh satu tiap tahun" 😜🤪

Beberapa waktu yang lalu saya lewat di depan RS Bunda Menteng yang bersebelahan dengan fertility clinic terkenal Morula IVF. Tempat banyak orang melakukan bayi tabung. Parkirannya penuh sehingga agak menimbulkan kemacetan kecil jika ada kendaraan yang keluar masuk. Berapa biaya bayi tabung? Katanya sih harus menyiapkan minimal 80-120 juta tanpa jaminan berhasil ya (tetap Allah yang berkehendak). Berarti kira-kira itu biaya susu anak-anak selama 4.5-6 tahun lamanya. Hanya untuk mendapatkan seorang anak, belum biaya ke depannya. 

Jadi wahai kamu Sumayyah, syukurilah bahwa kamu dapatkan anak ini dengan percuma dengan proses kehamilan cenderung mudah dan biaya persalinan nyaman yang selalu ditanggung asuransi.

Maka Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Jakarta, 30 Oktober 2019
Kehamilan 20 minggu

Selasa, 22 Oktober 2019

Review Buku Anak: Where Willy Went

Ammar, anak saya yang pertama, sekarang sudah berumur 3 tahun. Sedang cerewet-cerewetnya dan mempunyai rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Tak terasa telah sampailah ia pada rasa keingintahuan darimana manusia berasal.

Ammar: Mama, adek keluarnya darimana?
Saya: Dari sini (menunjuk bagian bawah). Aa juga dulu dari sini.
Ammar: Oh, kalo masuknya darimana mah?
Saya: *Gelagapan*, hmmm jadi kalo suami istri saling menyayangi, nanti lama-lama dikasih Allah adek di perut. (Kebetulan Ammar sudah mengerti konsep suami-istri, dia tahu bahwa yang boleh cium di bibir itu suami istri, selain itu di pipi saja)

Yah, sebenarnya sih masih bisa teratasi. Hanya saja saya tidak menyangka kalau dari sekecil ini sudah perlu sex education. Tapi memang pemahaman tentang tubuh sendiri dan perbedaan laki dan perempuan sih kalau baca-baca memang dari kecil. Bisa baca di sini ya.

Karena pertanyaan Ammar mulai mengarah ke sana, saya khawatir suatu saat dia akan bertanya lagi untuk penjelasan yang lebih jelas dan tidak abstrak. Lalu saya teringat tentang suatu buku yang pernah dijual di sebuah forum ibu-ibu yang saya ikuti. Judul buku anak itu "Where Willy Went". Iseng lah saya cari di marketplace oren, eh ternyata ada dan harganya tidak sampai 70 ribu rupiah.


review buku where willy went


Buku karya Nicholas Allan ini pertama kali diterbitkan oleh Red Fox pada tahun 2004. Buku yang saya punya sendiri tidak mencantumkan sudah edisi cetakan yang ke berapa, namun buku ini dicetak di Malaysia. 


where willy went


Karena buku untuk Ammar biasanya ikut dibaca adiknya yang masih belum lancar bicara (umur 1. 5 tahun), maka sampai saat ini saya masih membatasi pengenalan Bahasa Inggris kepada anak-anak. Terakhir kali saat mereka kecanduan youtube, campuran Masha and the Bear dalam bahasa Rusia dan Inggris membuat Ammar suka membuat bahasa sendiri 🤪. Jadi saat saya membacakan buku impor biasanya masih sering saya artikan ke dalam bahasa Indonesia. Agar bisa mendapat manfaat dari read aloud, saya berusaha menggunakan artian bahasa yang sama dan konsisten setiap membacakan. 

Buku ini bercerita tentang perjalanan Willy si sperma kecil yang hidup di dalam tubuh Mr. Browne. Willy mempunyai kekurangan dan kelebihan tersendiri. Akankah ia dapat memenangkan Perlombaan Balap Renang yang akan diadakan dengan hadiah sebuah telur di dalam Mrs. Browne? Jawabannya ada di buku ini *atau di video YouTube yang saya embed di bawah*





Buku Where Willy Went ini sendiri tidaklah sulit untuk diceritakan kembali (terkadang ada kan buku anak yang jika kita baca/dongengkan kembali kurang enak/enjoy diartikannya). Penjelasan tentang bagaimana sperma dan ovum bertemu dibuat lucu dan menarik tapi tidak menyimpang dari ilmiahnya. Ide cerita yang sangat bagus menurut saya. Dan buku ini termasuk salah satu buku yang Ammar suka minta untuk dibacakan sebelum tidur atau di siang hari.

Sewaktu saya membeli buku ini, saya memang tidak mencari tahu terlebih dahulu isi detail buku ini. Namun jika anda ingin tahu bagaimana isi lengkapnya, di youtube ada versi read aloud oleh Greg Mitchell dalam bahasa aslinya tentu saja, Bahasa Inggris. 


Sebagai penikmat buku anak, menurut saya buku ini layak untuk dikoleksi. Kamu sudah punya?

Senin, 21 Oktober 2019

Review Buku: Uncensored #teronglyf by Olevelove


review buku teronglyf

Judul buku: Uncensored 18+ #teronglyf
Penulis: @olevelove/Citra Tiara Mustika
Penerbit: Kawan Pustaka
Cetakan Pertama: Agustus 2019
Jumlah Halaman: 250
Jenis Cover: Soft Cover
Harga Normal: IDR 99,000

Sudah lama sebenarnya ingin review buku ini. Buku ini saya baca sebulan yang lalu karena ada teman yang buka PO untuk buku ini di facebook. Jadi walaupun penulisnya adalah seorang selebgram yang lebih suka dipanggil tetegram, saya belum pernah sama sekali melihat post dan interaksinya di sosial media.

Kemarin tidak sengaja baca review pendek di google books dari seorang pembaca yang memang follower akun Instagram @olevelove. Katanya sih tidak begitu berbeda dengan apa yang selama ini dibahas di Instastory. Hanya saja jadi lebih terkumpul dengan rapih. Ada syukurnya juga saya karena memang belum pernah woro wiri di Instagramnya Mbak Citra, hehehehe.

Membaca buku ini apalagi jika di tempat umum mungkin akan membuat malu karena covernya 'terong' berembun. Ditambah judulnya, pasti dikira buku ini mirip-mirip kamasutra kali ya. Dicetak pertama kali pada bulan Agustus 2019, sampai saat tulisan ini dibuat sudah masuk ke cetakan enam. Yuhuuu, great job Mbak Citra! (sok ikrib)

Buku dengan tebal 250 halaman ini termasuk buku ringan yang sangat relatable dengan pasangan suami istri terutama yang sudah punya anak. Walaupun 250 halaman, tapi layout buku dibuat kekinian layaknya buku non fiksi jaman sekarang, tulisan besar, highlighted text, dan bahasa super ringan sehari-hari hampir mirip bahasa instastory. Untuk saya yang memiliki keterbatasan waktu untuk membaca (read: punya sedikit sekali waktu tenang tanpa gangguan krucil), buku ini bisa diselesaikan dalam 2 hari saja. Jadi saya rasa untuk yang kurang suka membaca pun mungkin masih bisa menikmati buku ini.

Jika anda mengira buku ini banyak mengulas tentang tips teknik berhubungan, maka anda salah. Satu-satunya tips secara eksplisit hanya ada di 5 halaman terakhir buku ini. Pada beberapa edisi PO disertai bonus sikat gigi. Yaa, tentu saja bukan buat menyikat gigi *wink

Buku ini perlu dibaca untuk pasangan suami istri, terutama yang sudah punya anak atau yang akan punya anak. Your life is about to change after kids, dude.


BACA JUGA: Pentingnya Babymoon

What a preface!

Kata pengantar dari penulis pun sungguh menarik dan benar adanya. Kita kaum wanita memang mendominasi sosial media. Kampanye untuk awareness kesehatan mental ibu itu banyak, tapi untuk ayah itu jarang, padahal mereka mengalami dampak juga loh setelah punya anak.

Di buku ini, penulis membahas banyak hal yang mempengaruhi kesehatan hubungan pasangan suami istri. Mulai dari hubungan suami-istrinya sendiri termasuk urusan finansial, hubungan dengan mertua, sampai dengan hubungan dengan Yang Maha Esa. Jadi gak langsung kesana ya, gaes. Porsi yang diambil penulis pun secukupnya dan tidak menggurui tapi ada benarnya.

review buku uncensored teronglyf
Couldn't agree more

Mbak Citra juga bercerita bagaimana kehamilan dan pasca lahiran mempengaruhi kehidupannya. Belum lagi baby blues dan drama perASIan yang saya rasa banyak Ibu yang mengalaminya juga. Walaupun rasa-rasanya buku ini mungkin lebih banyak dibaca wanita, tapi ada banyak insight yang sangat bagus untuk dibaca oleh para suami demi kehidupan rumah tangga yang lebih harmonis.

teronglyf
Salah satu yang bikin ngakak

Jadi apakah buku ini worth the hype? It is! Karena buku ini membahas hal yang sebenarnya tabu untuk dibahas dan bahkan mungkin tidak pernah kita diskusikan dengan pasangan halal kita selama ini. Selain itu, beberapa hal yang selama ini mungkin membuat kita kurang percaya diri, ternyata memang normal untuk dialami. Banyak yang bikin kita manggut-manggut, banyak juga yang bikin ngakak. Saya salut dengan penulis yang berani membuka sedikit dapurnya (dan menurut saya masih dalam batas).

Penulis buku ini menyarankan untuk membaca buku 5 love languagenya Gary Chapman. Belum selesai tapi isinya bagus deh dan ternyata rating di goodreadsnya 4.2... Bukunya membantu kita untuk memahami bahasa cinta yang kita gunakan/inginkan. Hal ini penting untuk diketahui dan dipahami dan tentu saja akan ada hubungannya dengan si #teronglyf tadi..  Kita bisa ikutan quiznya untuk mengetahui bahasa cinta kita, walaupun memang pembahasan detail ada di bukunya sih.

Lalu ada efeknya ga ke saya? Sebenarnya sih sebelum baca buku ini, saya dan pasangan memang sedang berbenah diri dan buku ini hanya sebagai affirmasi saja bahwa memang perlu berbenah. Terasa sekali memang setelah hubungan suami-istri lebih harmonis, rumah jadi lebih hangat. Says yang sehari-hari berkutat dengan anak-anak pun lebih jarang marah dan kesal atas tingkah laku anak-anak. Anak-anak sendiri mungkin karena berkurang negative vibenya dari saya menjadi anak-anak yang lebih adorable dan menggemaskan. Hari-hari bersama mereka terasa lebih menyenangkan.

Kalo penasaran, buku ini banyak kok dijual di marketplace. Versi e-booknya juga tersedia di playstore (bisa ke link ini). Kalau kurang modal ya bisa cari pinjaman ke teman, saya rasa pasti ada deh temannya yang punya buku ini, hehehe...


Thanks for writing this, Mbak Citra :)

Senin, 14 Oktober 2019

Cleansing Balm Battle: Ponds, Heimish, Banilla


ponds cleansing balm


Beberapa minggu yang lalu, iklan Pond's muncul di Instastory saya. Isinya tentang berbagai macam produk Pond's untuk make up removal. Ada beberapa varian micellar water yang disesuaikan dengan jenis kulit kita. Tapi saya tidak begitu tertarik karena sudah setia dengan Garnier Oil Infused Micellar Water. Namun satu produk lagi menarik perhatian saya, Pond's sekarang punya CLEANSING BALM! Wow, tentu saja saya tertarik dan kebetulan sedang ada diskon di Marketplace.



Tahapan favorit saya dalam skincare adalah First Cleanser (Oil Based). Selama ini saya menggunakan cleansing oil dari Hada Labo dan Senka. Untuk cleansing balm, saya baru pernah mencoba Heimish Cleansing Balm, itupun sample sizenya. Sebenarnya cleansing balm Banila lah yang booming, namun harga sample size Heimish lebih murah jadi itu lah yang saya beli. Memang sensasi memakai cleansing balm itu lebih fulfilling. Cleansing balm yang seperti butter itu, ketika bertemu dengan panas tubuh di tangan mulai meleleh menjadi minyak dan melunturkan dosa masa lalu eh maksudnya makeup dan kotoran yang ada di wajah.

Harga

Ok, balik lagi kenapa saya sangat excited dengan cleansing balm Pond's, karena dia adalah Pond's, merk yang bisa kita temui dengan mudah di minimarket.
Pond's Cleansing Balm - IDR 92.000 untuk Netto 44 ml (tapi sering diskon, harga terendah selama ini adalah IDR 59.000)
Heimish All Clean Balm - IDR 165.000-200.000 untuk Netto 120 ml, IDR 13.500-20.000 untuk Sample Size 5 ml
Banila Co. Clean It Zero Original - IDR 219.000 untuk Netto 100 ml, IDR 20.000-30.000 untuk Sample Size 7 ml
Kalau dihitung harga per ml, sebenarnya Heimish yang paling murah, disusul Ponds (jika tidak diskon), lalu Banila.

banila heimish ponds
Banila (sample) - Heimish (sample) - Ponds (full size)

Kemasan, Bentuk Fisik, dan BPOM


Untuk kemasannya sendiri karena saya tidak pernah memegang full size nya Banila dan Heimish, jadi masih belum bisa membandingkan secara objektif. 

Kemasan Ponds adalah jar plastik yang sayangnya tidak dilengkapi dengan spatula untuk mengambil produk. Sedangkan kemasan sample Heimish mirip kapsul kopi, ada kotaknya tapi tutupnya mesti dikelet (bahasa apa pulak iniii). Kemasan sample banila masih lebih "sopan", mini jar plastik walau tanpa kotak ataupun segel. 

Semua warna cleansing balmnya adalah putih dengan konsistensi yang hampir mirip. Namun cleansing balm milik Ponds adalah yang paling cepat meleleh saat bertemu dengan panas tubuh.

Di antara ketiganya, heimish lah yang paling beraroma semacam floral namun bukan mawar ataupun melati dan masih bisa tercium saat sedang memakai produk, ponds memiliki bau agak mawar namun tipis sekali (setelah liat kemasannya memang dicantumkan mengandung 100% Organic Rose Extract), banila memiliki aroma yang subtle seperti produk mahal (wkwkwkw, saya tidak jago mendeskripsikan bebauan). Saya sih tidak terganggu dengan adanya bebauan ini.

Ketiga produk ini telah terdaftar di BPOM dengan nomor registrasi sebagai berikut.

Pond's Cleansing Balm - NA49191205053
Heimish All Clean Balm - NA26181207044
Banila Co. Clean It Zero Original - NA26181212213

Removal Power

Untuk menguji kekuatan removalnya, saya mencobanya pada tiga produk: eyeliner, lipstik, dan maskara. 

Tes removal power pada eyeliner (Esqa Liquid Eyeliner)

Pertama adalah eyeliner. Eyeliner yang digunakan untuk mengetes kekuatan removal masing-masing cleansing balm ini adalah Esqa Liquid Eyeliner yang bersifat waterproof. Masing-masing eyeliner diberikan cleansing balm dengan jumlah sama dan diberi tanda: P untuk Pond's, H untuk Heimish, dan B untuk Banila. Lalu dipijat dengan gerakan memutar selama 10 detik lalu dibilas dengan air (saat dibilas air dibasuh seadanya dan tidak dikeringkan dengan handuk). 

Hasilnya, eyeliner yang diberikan banila lah yang paling pudar warnanya. Disusul oleh ponds lalu heimish.

1st - Banila, 2nd - Pond's, 3rd - Heimish


Tes removal power pada Maybelline Superstay Matte Shade Self Starter

Produk selanjutnya yang saya gunakan adalah Maybelline Superstay Matte yang memang terkenal dengan ketahanannya yang cukup awet walau diajak makan gorengan. Dengan metode yang sama seperti pada eyeliner di atas, hasilnya yang dioleskan dengan Pond's lah yang paling pudar, disusul Heimish lalu Banila. 

1st - Pond's, 2nd - Heimish, 3rd - Banila

ponds cleansing balm
Tes removal power pada L'oreal Miss Manga Waterproof


Yang terakhir saya cobakan ke maskara L'oreal Miss Manga Waterproof. Semua pasti setuju bahwa maskara adalah produk makeup yang paling sulit untuk dihilangkan. Saya sendiri selama ini selalu menggunakan micellar yang mengandung minyak untuk membersihkan mascara (pre-cleanse) sebelum akhirnya melakukan double cleansing.

Untuk menilai keefektifan pada mascara agak susah. Perlu dilihat pada gambar pertama, maskara yang diujikan untuk Pond's memang lebih pendek, sehingga lebih baik fokus pada kepudaran hitamnya maskara. Menurut saya pemenangnya Pond's lagi, sedangkan Heimish dan Banila bisa dibilang seri.

1st - Pond's, 2nd - Heimish & Banila (Seri)


Jika dilihat dari harga (apalagi kalo diskon dan kemudahan produk tersebut didapatkan) serta keefektifan dari uji yang saya lakukan di atas, pemenangnya adalah Pond's. Namun tes yang saya lakukan hanya dengan memijat selama 10 detik, pada kenyataan aslinya biasanya lebih lama lagi kan. 

Namun jika anda ingin lebih teliti lagi dalam memilih produk, anda dapat membandingkan komposisinya di cosmily.com.

Cosmily.com adalah website untuk para enthusiast makeup dan skincare. Di website ini kita dapat melihat komposisi suatu produk beserta efeknya pada kulit. Kita juga bisa membandingkannya dengan produk lainnya. Selain itu dilengkapi juga dengan review dari anggota yang terdaftar.

Cosmily.com front page


banila review
Contoh informasi produknya seperti ini, informatif banget kan.

Saya ingin bandingkan ketiga produk ini di website cosmily, namun ternyata untuk produk ponds belum terdaftar akhirnya saya tambahan produk ini dengan menuliskan informasi komposisinya sesuai dengan urutan yang ada di kemasan.

Komposisi Pond's Cleansing Balm

Siwer juga mata ini ngetik komposisinya manual karena tidak menemukan komposisi yang bisa tinggal copy-paste dari website pond's. 


Setelah klik 'Submit a Product', jeng jeng langsung lah keluar hasil seperti ini

ponds cleansing balm
Pond's Cleansing Balm on Cosmily

Sayangnya website cosmily hanya bisa menampilkan perbandingan 2 produk saja, tidak bisa 3 sekaligus, jadi saya edit dan merge ya agar bisa gampang dibandingkan ketiganya.

comparison on cosmily

Nampaknya gambar di atas kurang jelas karena tampilan dari handphone ataupun gambar yang cukup panjang ke samping. Biar saya jabarkan ya

  • Dari ketiga produk di atas, Banila saja yang memiliki 1 produk high hazard yaitu 'Fragrance'. Namun sebenarnya Pond's juga memiliki 'Perfume' pada komposisinya, namun tingkat bahayanya tidak ter-rating oleh cosmily.
  • Produk pond's memiliki paling banyak 'Positive Effect' dari data yang ditampilkan. Buat saya pemilik kulit kering dan umur hampir kepala 3, anti aging serta moisturizing cukup penting dan kedua poin ini dimiliki oleh semuanya. Untuk anti aging, ponds memiliki 6 bahan yang mendukung anti aging pada komposisinya, banila 1, heimish 3. Sedangkan untuk moisturizing, pond's 3, banila 1, heimish 2. Hmmm, pond's menang lagi nihh
  • Banila memiliki tingkat comedogenic paling tinggi yaitu 2, sedangkan yang lainnya 1.
  • Pond's memiliki tingkat Fungal Acne Feeding paling tinggi yaitu 7 (Banila hanya 2 dan Heimish 3). Nah bagi yang memiliki fungal acne harap hati-hati ya. Apa itu fungal acne bisa cek disini ya.


Jadi mau pilih yang mana? Saya sih Pond's dulu yaaa... Nanti kalau suplai popok dan susu anak baru coba-coba cleansing balm yang lebih bagus dan mahal lagi, hehehhe


Selasa, 01 Oktober 2019

Buku Wajib Pegangan Orang Tua: Berteman Dengan Demam

Berawal dari festival buku online (yang memberikan harga diskon tentunya), akhirnya saya membeli sebuah buku kesehatan yang ditulis oleh Dr Arifianto Apin. Mamah muda jaman sekarang mana (terutama domisili jadebotabek) yang ga kenal dr. Apin, dokter spesialis anak tempat para ibu mencari ketenangan karena tidak mudah memvonis anak stunting dan pendekatan yang digunakannya RUM (Rational Use of Medicine). Pengikut Akun Instagram @dokterapin sendiri sudah lebih dari 200k, jadi bisa dibilang dokter selebgram. Hehehehehe




Judul buku: Berteman dengan Demam
Penulis: dr. Arifianto, Sp.A & dr. Nurul I. Hariadi, FAAP
Penerbit: Kata Depan
Cetakan Pertama: Oktober 2017
Jumlah Halaman: 250
Jenis Cover: Soft Cover
Harga Normal: IDR 78,000

berteman dengan demam
Cover depan

buku dr apin
Cover belakang

Awalnya buku in masih tertumpuk bersama buku-buku baru lain yang masih bersegel. Lalu suatu waktu, anak saya demam. Seringnya ketika demam, bapaknya anak-anak langsung menyuruh saya membawa anak ke UGD Rumah Sakit walaupun baru demam 1 hari saja. Akhirnya saya meminta suami untuk membuka dan membaca buku ini (sementara saya sibuk menenangkan anak saya yang sakit). Duh membayangkan antrian UGD yang lama saja sudah membuat saya tidak nyaman, belum lagi banyak potensi virus dan bakteri lainnya yang dapat tertular pada kita dari Rumah Sakit.

Berikut adalah daftar isi bukunya

Di dalam buku ini, penulis memudahkan kita untuk melakukan analisis pendahuluan sendiri terlebih dahulu sebelum pergi ke Rumah Sakit, seperti suhu badan anak (menggunakan termometer), apakah anak rewel, apakah ada gejala lain yang menyertai seperti flu atau diare, dan lain-lain. Tujuannya adalah untuk penanganan yang lebih tepat dan kalaupun harus dibawa ke dokter, hal ini dapat membantu diagnosis dokter lebih akurat.


Buku ini juga memiliki layout yang tidak membosankan dan menarik (yang saya perhatikan memang begitu tren buku non fiksi saat ini) dan cocok untuk kaum millenial. Bahasa yang digunakan juga mudah dipahami oleh orang yang awam dengan dunia kedokteran.

buku dokter apin

Buku ini sangat cocok untuk dimiliki oleh orang tua terutama yang memiliki anak kecil. Boleh juga jadi kado saat teman kita lahiran karena pastinya akan ada momen dimana kita panikan saat anak demam.

Sekian review singkat dari saya, semoga berguna ya :)