Selasa, 21 November 2017

DIY BB Cushion



Edisi post deadliner. Kali ini topik collablogging kelompok Najwa Shihab adalah DIY (Do It Yourself). Mak, matilahhh… aku orangnya engga kreatif banget, boro-boro DIY, masak menu di rumah dan MPASI aja ga gitu bervariasi, hehehe (ada hubungannya ga sih…). Lalu tiba-tiba kuteringat beberapa bulan yang lalu (jaman minimal belanja shopee 70.000 udah free ongkos kirim JNE), pernah beli BB Cushion Set Case “It’s My Cushion”. Dan sampai sekarang ngga pernah dibuat-buat 😋

Waktu itu terinspirasi dari video youtubenya Widad Sf kalau ga salah termasuk tutorial youtube diy bb cushion indonesia yang awal-awal upload. BB Cushion sendiri merupakan tren kosmetik dari Korea, namun saya pribadi suka trust issue kalo untuk produk complexion dari korea karena kulit saya sawo matang (NC 35-37, kalo MAC reference) dan biasanya di kulit Indonesia bingit kaya saya jatuhnya jadi pektay (keputihan, ashy, gimana gitu). Tapi ya gituuu, akhirnya belum dibikin-bikin udah hampir setahun mungkin ya belinya. Sampai akhirnya malah beli super bb cushion versi Maybelline dan milih yang shadenya paling gelap 03 Natural (pilihannya cuma ada 2 shade). Yakkkk, tetap agak keputihan pemirsa walaupun setelah beberapa saat dia akan oxidize dan tone down. Jadilah saya parno mau nyoba bb cushion merk korea, walaupun ada yang bilang laneige ngeluarin range shade lebih banyak dan ada yg kulit tempe bacem friendly (tapi 400ribuan makkk)

Setelah mencoba bb cushion maybelline itulah saya baru sadar bahwa bb cushion itu penolong emak-emak banget karena kepraktisannya dan perlu waktu sebentar saja karena sudah ada pelembab, foundation, sunblock dalam satu usapan… tsahhhh… (Walaupun sebenarnya bagi saya, step by step skincare routine sampai dengan make up itu sebenarnya membawa kenikamatan tersendiri. *lalu nengok, ada Ammar lagi ngintil dan siap mencontoh emaknya make up-an, bahaya iniii)

Bahan yang dibutuhkan:


  • BB Cushion Set "It's My Cushion" (bisa yang baru dan kosong ataupun yang bekas, jangan lupa dicuci)
  • Foundation favorite kamu: disini saya pakai maybelline dream liquid mousse foundation shade sand beige dan the ordinary serum foundation shade 2.1 Y (tapi yang satu ini ga ngefek karena cuma dikit banget yang keluar). Oh iya, untuk bb cushion, lebih baik menggunakan foundie yang cair ya, akan susah dicampurnya kalo yang creamy atau padat. Satu lagi menurut saya, kalau berniat mencampurkannya dengan pelembab, sebaiknya jangan gunakan foundie yang terlalu light coveragenya, karena ketika dicampurkan dengan yang lain memang akan menurunkan coveragenya. Gunakan foundation yang bisa medium to full coverage atau buildable, toh nanti akan lebih "tame". 
  • Sunblock (jika ingin tambahan SPF): biore uv perfect protect milk 
  • Primer (agar lebih tahan lama): monistat chafing relief powder gel
  • Tambahan lainnya yang diinginkan (disini saya pakai highlighter cair dari City Cosmetics yang kebetulan engga habis-habis, daripada mubazir, sekalian biar ada glow-glow dikit gitu)

Alat yang dibutuhkan:

  • Spatula/Pengaduk
  • Tisu/Kapas/Cotton Bud untuk membersihkan kalau ada yang belepotan

Step by Step:

  1. Buka Cushion Set kamu (remove sponge yang ada di dalam tempat cushion)
  2. Tuangkan/pump foundation ke dalam cushion. Di foto saya menuangkan 20 pump foundation maybelline, saya juga menambahkan dengan foundation the ordinary, tapi sayang keluarnya kurang banyak, jadi cuma nyiprat dikit aja. (Tapi setelah dicoba ternyata ini kedikitan, mungkin bisa dicoba 60 atau lebih pump sekitar 15 ml atau ⅓ dari tempat cushion yang tersedia)
  3. Tambahkan primer, sunblock, liquid highlighter, dan pelembab sejumlah yang diinginkan. 
  4. Aduk dengan spatula/pengaduk sampai tercampur rata. Cek tekstur dan warnanya, apakah sudah sesuai yang diinginkan, jika belum sesuaikan lagi dengan foundation dan bahan lainnya.
  5. Bersihkan pengaduk dengan cara menggesekkannya ke sponge cushion. 
  6. Masukkan sponge cushion ke tempatnya. Tekan sampai campuran foundation menyerap ke bagian atas sponge (cara cepetnya juga, sponge di bolak balik celup ke campuran) 
  7. Gunakan sponge applicator, tap deh ke muka :)

Hasil bb cushion racikan sendiri di muka (ati-ati eneg liat fotonya):


Bare face and after only bb cushion application. Front camera (no beauty mode of courseee) in front of window.
Kalo saya sih Abis bb cushion tinggal tambah mascara, eyeliner, lipstik, trus totol dikit lipstik di pipi jadi blush on. Hehehhe... Praktis dan cepat kalau bukan untuk acara khusus, sekedar jalan ke mall atau ketemu teman. Untuk daya tahannya selama ini sih ya standar aja, selama di luar jarang touch up juga (ga sempet  😂)

Kelebihan bikin bb cushion sendiri adalah:
  • Warnanya bisa lebih disesuaikan mengingat pilihan warna bb cushion masih terbatas.
  • Dapat menggunakan produk pilihan yang memang cocok dengan kulit kita.
  • Bisa mengatur sendiri nilai plus/manfaat yang diinginkan, berapa SPFnya, sampai kalau mau antiaging dengan menambahkan serum retinol pun juga bisa. Yang penting hasil campurannya bisa jadi homogen.

Gimana, tertarik ngeracik bb cushion sendiri?

With love,

Sumayyah

Post merupakan balasan dari post trigger oleh Emak Alfu di web KEB
Cek juga balasan post DIY lainnya oleh kelompok najwa shihab:


  • Aya →http://www.kartikanugmalia.com/2017/11/diy-wadah-perlengkapan-jahit.html
  • Julia → http://sepradik.com/diy-menghias-sandal-japit-agar-lebih-cantik/


Kamis, 26 Oktober 2017

Kids Jaman Now yang selalu disalahkan.


Kids jaman now.
Penasaran juga siapa yang awalnya bikin istilah kekinian ini. Karena dari dulu kan orang tua kalo lagi marah-marah bilangnya “anak jaman sekarang” Hehehehe. Eh ternyata ada yang nulis tentang asal muasal siapa yang mempopulerkan istilah ini loh. By the way, kata mendikbud yang benar pakai "zaman" ya, kalo jaman enggak ada di KBBI (Kamur Besar Bahasa Indonesia), itu merupakan bentuk tidak bakunya.

Kids jaman now atau generasi Z lagi sering banget dibahas dan sebagian besar tentang kejelekannya. Setuju ga sih kalo yang masuk kategori anak jaman now itu ya anak-anak setelah generasi 90an. Iyes, kalo saya mah generasi 90an, jd ga mau disamain sama anak jaman now. Anak jaman now yang tumbuh saat jaman komputerisasi sudah semakin pesat. Kalo generasi 90an kan masih ngerasain jaman transisi sebelum internet. Ehhh teteup ya saya mah belain generasi sendiri. Tapi saya sendiri sih, ngga usah jauh-jauh buat liat anak jaman now kaya gimana, lah wong adek kandung saya ada 8 (paling muda kelahiran 2004).

Setelah renovasi rumah selesai, adek saya pada rebutan mau di kamar yang lebih kecil. Alasannya ternyata karena router wifi paling dekat dengan kamar itu. Gedubrak... 😏😏😏 Kalau mereka kehabisan paket data dan wifi mati, langsung lah megap-megap gelisah persis kaya ikan mas diangkat dari air. Nah ga pernah kan liat orang tua kita (yang di atas 50 tahunan) sampai kaya gitu. 

Sumber: http://weknowmemes.com/wp-content/uploads/2014/04/basic-human-needs-wifi.jpg

Alhamdulillah, saya rasa adik-adik saya mah masih dalam batas normal (bahkan saya ngerasa lebih nakal dari mereka saat seusianya 😜), tidak seperti yang artikel-artikel tentang kelakuan kids jaman now yang bikin miris. Duh, jaman now aja kaya gitu, gimana 10 tahun lagi yaa.. Langsung lah saya sebagai orang tua (walaupun anaknya masih piyik, baru 15 bulan) khawatir bagaimana nanti jadinya anak saya kelak dan dunia di sekitarnya cukup jadi pikiran. Dan seperti parents jaman now, saya ikut beberapa grup di line, facebook, sampai whatsapp, rajin join kulwap (kuliah via whatsapp) terutama yang bahas masalah parenting. Ada saatnya saya merasa sangat overwhelming dengan segala informasi yang saya terima. Namun ada beberapa hal yang saya coba terapkan kepada Anak saya sekarang dan kelak:

1.     Menjadi contoh yang baik
Di usia awal kehidupannya, anak sangat cepat menyerap dan mencontoh dari apa yang ada di sekitarnya terutama siapa lagi kalau bukan keluarganya. Walaupun anak saya masih 1 tahun, pernah sekali ketika saya marah di depan dia, dia nampak mengerti dan ikut terdiam. Beberapa kali dia juga menunjukkan kalau dia sama galaknya dengan saya di depan tantenya. Waduh, saya harus belajar lebih menahan diri dan menjadi lebih baik nih, karena ada mahluk kecil yang suka mencontoh saya.

2.     Menjaga keharmonisan keluarga
Saya percaya bahwa salah satu faktor yang menentukan bagaimana anak kita kelak adalah latar belakang keluarga. Walaupun tidak serta merta bahwa anak yang berasal dari keluarga broken home pasti lebih buruk dari keluarga normal biasa. Saya pernah membaca suatu tulisan (sayang saya lupa sumber tulisannya) tentang anak-anak yang berpacaran di bawah umur, salah satunya adalah hilangnya sosok peran orang tua (tidak secara harfiah, tapi bisa berarti secara emosional) di rumahnya, sehingga sang anak mencari “sosok pengganti” lewat pacaran. Oleh karena itu, peran ibu dan ayah adalah sangat penting dan tidak dapat ditiadakan salah satunya.


Semoga ayah dan bunda langgeng terus sampai tua ya, Mar…

3.     Menumbuhkan rasa percaya bukan takut

Sumber: https://www.slideshare.net/NavjyotSinghChoudhary/parents-child-relationship

Saya ingat sekali waktu SMA(kebetulan sekolah Islam) ada 2 teman saya yang dibesarkan dari 2 keluarga berbeda (yaiyalahhh…) Keduanya memiliki pacar. Sebut saja si A, orang tua si A tidak serta marah dengan anaknya yang pacaran, tapi malah mencoba mengenal pasangan sang anak dan akhirnya malah jadi dekat juga. Akhirnya jika pergi berdua mereka tidak pernah berbohong bahkan lebih sering bertemu di rumah si A dengan pengawasan orang tua. Berbanding terbalik dengan si B, orang tua si B sangat religious, segala gerak gerik anaknya dipantau, sampai akhirnya si B sering berbohong setiap pergi dengan pacarnya dan meminta bantuan teman-temannya untuk dijadikan alibinya saat berbohong. Mereka juga suka melakukan hal-hal yang seperti ada di film remaja Hollywood lah pokoknya (walaupun sepertinya di Indonesia pun banyak dan mulai umum yang seperti ini).

Dari contoh yang saya lihat, maka penting sekali bahwa anak menaruh rasa percayanya pada kita, karena ketika mereka sudah mulai berbohong, itulah pintu bahaya mulai terbuka. Saya sendiri setelah menikah, merasa, ahhh buat apa pacaran buang-buang waktu banget ternyata kalau dipikir-pikir. Tetapi kelak saat anak saya menginjak usia puber dan mengalami ketertarikan terhadap lawan jenis, enggak mungkin saya langsung marah-marah dan melarangnya kan. Kita harus bijak memilih mana yang akan menimbulkan “less damage”.  

Daripada selalu menyalahkan anak zaman now, yuk mari belajar dan berusaha agar anak-anak dan keturunan kita tidak menjadi anak zaman now yang bikin miris tapi bikin bangga dan lebih baik. Merugilah kita jika hari ini sama atau lebih buruk dari kemarin bukan? Masih ada harapan untuk kids zaman now, dan harapan itu ditentukan oleh kita, parents zaman now :)

Tulisan merupakan respon dari tulisan Anindita Ayu di website Kumpulan Emak Blogger yang merupakan collablogging dari Kelompok Najwa Shihab


Sabtu, 07 Oktober 2017

Jalan-jalan ke luar negeri, berarti kaya?

Kumpulan Emak Blogger - Blogging Collab
Kelompok Najwa Shihab
___
Sungguh sebenarnya agak bingung juga ketika topik blog kali ini adalah alasan kenapa jalan-jalan dalam kota atau luar kota. Karena sejujurnya, walaupun punya jiwa traveling sangat tinggi, tapi sebagian besar pengalaman jalan-jalan saya adalah ke luar negeri.
Dari kuliah saya suka backpacking ke daerah ASEAN sampai Asia Timur. Pokoknya kalau maskapai low cost milik negeri jiran lagi promo free seat pasti saya pantengin, entah buat jalan-jalan sendiri atau buat arrange jalan-jalan keluarga saya yang banyak dan besar (9 bersaudara, cinn… mau full team kudu pake tiket promo).
Makin kesini sih, skill tiket promo mulai beralih ke fullboard airlines, karena informasinya juga lebih mudah didapat melalui facebook group sesama traveler (saya sih join di Backpacker Dunianya mbak Elok). Alhasil pergi baby moon ke eropa ataupun jalan-jalan ke Amerika semuanya karena tiket promo yang emang murah, jarang, dan sayang untuk dilewatkan. Pernah sih saya tidak pakai tiket promo dan beli agak dadakan pas ke Australia, tapi disana ada kakak angkat dan akomodasi terjamin (lumayan banget karena di luar negeri porsi untuk akomodasi itu bisa lebih mahal daripada tiket pesawatnya apalagi kalau stay lama).


One windy day in DC
Trus kalau ada waktu seminggu kosong, kadang saya rencanakan untuk ke Malaysia. Selain tiketnya ga usah promo dan mendadak pun juga 1 juta rupiah dapet PP, saya juga lebih familiar dengan kuala lumpur dibandingkan dengan Jakarta, karena saya sempat berkuliah di Malaysia. Harga makanannya ga beda jauh dan murah, penginapan tidak mahal, transportasi mudah dan murah, kemungkinan digetok sedikit plus sekalian buka jastip siss… lumayannn (mampir yak ke IG @landkshop) 😛

Sombong amat sih makkk…

Ya bukan maksud, tapi jalan-jalan dalam Indonesia ke tujuan yang saya idam-idamkan, malah mahal bokkk…
Sehabis menikah, suami sempat ngajakin honeymoon ke ora. Ya ampun pantainya bagus banget, eco resort pula. Tapi paketnya 7 juta seorang dan kalau tidak salah belum termasuk tiket pesawat dari Jakarta. Hikss.. ya ampun, kalo mau backpackingan ke jepang atau korea juga segitu bisa lebih diirit bahkan.
Akhirnya kita pindah haluan ke sabang, dan itu juga demi kemurahan tiket pesawat, kita ambil yang ke Kuala Lumpur dulu baru ke Banda Aceh. Karena kalau langsung dari Jakarta, harganya lebih mahal. Hihihi, ironis ya, transportasi antar Indonesia.

Terus wishlist selanjutnya apa?

Ada wishlist, tujuan destinasi yang sudah saya idam-idamkan dari dulu dan Insya Allah akan terwujud bulan November ini.
Ke Malang… Tadaaaaa..


Udah kepengen banget ke Batu Malang sama melipir juga ke Gunung Bromo , apalagi si Ammar (14 mo) lagi senang-senangnya sama binatang, tambahlah kan yaa modus ke paksu minta ke Batu Secret Zoo. Hehehhee…
Uhhh super luv, bromo.. Mauuu

Kenapa ga dari kemarin-kemarin ke Malang? Ke luar negeri aja bisa

Makkkk, sejujurnya aku ngerasa tiket ke Malang mahal. Lebih mahal dari ke Kuala Lumpur, hiksss (dimana aku pun ada prospek bisnis disana). Jd tunggu ada rezeki dulu baru bisa ke Malang akhir taun ini. Sebelumnya habis bleeding dari jalan-jalan ke Amerika bulan Maret lalu yang tiketnya dibeli hanya 2 bulan sebelum keberangkatan. Impulsif banget yakk, coba bayangin kepanikannya saat kalian dapat tiket PP ke Amerika naik fullboard airline untuk 2 dewasa dan 1 bayi hanya 15 juta rupiah.
Dan perlu digarisbawahi juga bahwa kami bukannya hidup tanpa kompromi.
Ga terhitung berapa weekend dan long weekend kami bertiga cuma di rumah aja. Padahal semua orang pergi menghamburkan gaji ke mall, makan di restoran hits, gaul sana sini.
  • Saya fobia macet, uhhh bisa stres dan malah marah-marah di jalan. Depok itu pas weekend macet banget apalagi kalo abis gajian.
  • Suami cinta sepi, ga suka mall, dan sangat menikmati waktu di kamar saja me time. Baca novel online ataupun main PS mah lebih dari cukup. Untungnya doi suka traveling.
  • Waktu saya masih kerja kantoran senin-jumat jam 8-17, saya juga lebih suka di rumah aja istirahat dibanding ke luar rumah. Maksimal 1 hari aja antara sabtu atau minggu keluar rumah kalau perlu. Suka salut deh yang kerja senin sampai jumat dan masih kuat ngegaul sabtu dan minggunya.
  • Saya udah susah banget window shopping dan belanja di mall indonesia. Mahal, diskonnya boongan, duhh susah emang kalo otaknya price police banget. Lebih suka belanja online sekarang.
  • Udah punya krucil sekarang, jadinya kalau mau jalan-jalan pun dipikirin yang child friendly. Destinasi wisata anak itu terkenal penuh dan ramai, jadi saya dan suami memilih jalan-jalan di tanggal tua. Bulan lalu saya ke Taman Safari tapi tanggal 20, ga sesepi itu juga, tapi saya ga kebayang itu kalo weekend abis gajian gimana disana. Hehehehhee…
Jadi coba dipikir-pikir lagi, saya mah ga kaya. Tapi saya ada prioritas dan keluarga kecil kami suka jalan-jalan non mall. Dibanding makan hits minimal 500 ribu belum lagi jajan yang lainnya, bensin, tol, dll. Mending ditahan-tahan, alokasi seminggu 500ribu-1 juta, 2 bulan aja bisa jalan-jalan yang lebih jauhan. Ya kan… Ga usah kemakan social media demi hidup yang hits, hati-hati terjebak menjadi kaum urban miskin.

Salam sotoy,
Sumayyah, si #ibumalas

Tulisan merupakan respon atas blog post oleh fillyawie di https://emak2blogger.com/2017/10/01/liburan-impian-ke-mana/

Rabu, 20 September 2017

Poligami: Ikuti Sunnah Rasul jangan setengah-setengah


Jujur, ini adalah topik yang sangat sensitif dan bisa bikin esmosi tapi menantang untuk ditulis.

Masih teringat saat Aa Gym berpoligami dan mempunyai dampak sangat hebat padahal beliau saat itu sedang ngetop-ngetopnya ngisi ceramah dimana-mana baik on air maupun off air. Sampai-sampai beliau juga melebarkan sayap bisnis brand MQ (Manajemen Qalbu) mulai dari air minum, mie instan, pasta gigi, dan lain-lain. Agennya banyak, tokonya dimana-mana. Namun seketika itu juga mengalami penurunan drastis semenjak Aa Gym berpoligami. Pengajiannya sepi, penginapan miliknya di Geger Kalong yang biasanya full book juga kosong.

Source: http://www.boombastis.com/istri-cantik-ustadz/9587

Gimana tidak, saat itu istri madu Aa Gym adalah seseorang yang (maaf) lebih menarik dan dari kalangan berada. Aa Gym sendiri sudah diberikan banyak keturunan dari istri tuanya Teh Ninih yang sehat dan tidak memiliki cacat atau tidak mampu melayani Aa Gym lagi. Ya terang aja, bubar jalan ibu-ibu ‘emoh’ ke pengajian Aa Gym lagi. Dari pihak luar pastinya menilai kok sepertinya dilandasi nafsu saja karena sang istri madu sepertinya tidak masuk kategori yg perlu ditolong. Apa alasan sebenarnya kan yang tahu hanya Allah, Aa Gym, dan orang-orang dalam rumah tangga mereka. Pokoknya infotainment berminggu-minggu bahasnya hal ini terus.

Source: http://fajar-aryanto.blogspot.co.id/2010/03/h-puspo-wardoyo-pemilik-restoran-wong.html?m=1

Atau ada juga kisah pengusaha pemilik restoran “Ayam Bakar Wong Solo” yang sangat “bangga” atas poligami yang dilakukannya. Sampai-sampai beliau bikin poligami award, nama-nama jus di restorannya pun ada yang dinamakan ‘dimadu’, ‘jus poligami’, dll. Di dinding-dinding restoran ditempel artikel tentang pemilik dan istri-istrinya. Saya ingat waktu itu ayam bakar wong solo sempat booming, rasanya memang enak. Lokasi cabang depoknya premium dan sangat strategis. Tapi sayang semenjak berlebihan mengumbar poligami yang dilakukannya, restoran cabang depok ditutup, gedungnya kosong bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya terkena penggusuran untuk jalan tol. Usaha ayam bakar wong solo tidak serta nerta mati sih, masih ada di beberapa kota terutama di sumatera. Walaupun sempat mengalami kebangkrutan, ayam bakar wong solo akhirnya berhasil bertahan dan tentunya tidak menggembar-gemborkan lagi poligami yang dilakukan pemiliknya lewat dekorasi restoran.

Lalu bagaimana dengan nasib penyanyi opick setelah diam-diam melakukan poligami? Kabar terakhir menyebutkan sang istri menggugat cerai. Bagaimana dampak terhadap karir opick ke depannya? Hmmmm… Saya juga jadi kepikiran, kalau bapak proklamator kita hidup di jaman demokrasi seperti sekarang, akankah beliau terpilih menjadi presiden melalui pemilihan langsung mengingat cerita romansanya yang penuh dengan banyak wanita.

Sebelum saya menikah saya sempat berniat untuk membuat perjanjian pranikah. Perjanjian pranikah ini dibolehkan dalam islam dan umum loh dilakukan di negara arab sekalipun. Bukan masalah materil macam artis hollywood, tetapi saya memang ingin menekankan bahwa saya tidak mau dipoligami kecuali: jika saya tidak bisa memiliki anak setelah berbagai upaya, dan saya sakit keras atau cacat sehingga saya tidak dapat melaksanakan kewajiban saya terhadap suami.

Trus, jadi ga? Wacana doang, ga pernah tertulis. Semoga ga kejadian yaaa..

Di usia pernikahan menginjak 3 tahun saya menyadari bahwa menjalani pernikahan tidaklah mudah. Pacaran dan nikah sangatlah berbeda. Ada masa-masa dimana kita mulai merasa hambar atau kesal dengan kebiasaan buruk pasangan. Yes, perlu banyak kesabaran, niat, serta usaha untuk menjalani sebuah pernikahan. Pernikahan bukan akhir dari cerita seperti layaknya yang ada di pikiran sebelum menikah karena termakan kisah cinderella. Ada yang namanya perceraian dan ternyata banyak terjadi serta tentunya tidak kita inginkan saat awal kita menikah.

Menurut saya tidak mungkin ada pasangan yang ga pernah berantem kecuali mungkin Rasulullah. Hehehhee… kadang habis berantem dan maaf-maafan saya suka bilang gini ke suami: “Bebo (panggilan kesayangan suami), ingat ya kalau ada cewe lain yang godain kamu, ingattttt, cewe pas pacaran sama pas udah nikah galaknya dikali 10. Dan aku doain, kalau kamu macem-macem, kamu bakal dapet yang jauhhh lebih galak dari aku plus mertuanya lebih galak dari abi (ayah saya) wkwkwkwk. Dan semua yang ada campur tangan setannya pasti lebih enak” “Hiii serem” balas suami.

Dan ada satu yang suka saya ucapkan dan contoh dari perkataan Ibu saya ke Ayah saya: “Kalau mau poligami, tunggu sampai istri pertama meninggal ya. Rasulullah aja baru menikah lagi setelah Khadijah RA meninggal. Jadi kalau ikut sunnah nabi jangan setengah-setengah”.

Untuk para istri (ngomong ama diri sendiri juga), yuk perbaiki diri sendiri juga supaya pikiran ingin berpoligami jauh-jauh dari suami. Ingatlah bahwa sangat sedikit perempuan yang rela dipoligami tapi banyak perempuan yang mau jadi madunya. Sambutlah suami dengan senyuman saat ia pulang ke rumah.,

Tulisan merupakan respon atas post trigger dari Kartika Nurmaglia di http://emak2blogger.com/2017/09/12/ada-apa-dengan-poligami/.
Kelompok Najwa Shihab

Kamis, 07 September 2017

Review Pospak tipe Pants: Mamy Poko dan Goon

DISCLAIMER: Not a sponsored review. Jujur dan tulus dari hati yang paling dalam

Sebelumnya saya sudah pernah bikin perbandingan review popok sekali pakai (pospak) tipe perekat. Nahh, yang tipe pantsnya belum nihhh… Hehehehe

Kenapa mamy poko extra dry? Karena ammar memang cocok pakai ini sejak kecil dan emaknya mulai tercekik harga nepia atau merries premium. Pas ganti ke tipe pants ya pakainya yang extra dry lagi. Untuk tipe pants, mamy poko punya yang lebih premium, namanya mamy poko extra soft. Kalau tanggal muda, saya belinya yang extra soft. Hehehehe.

Apa perbedaan mamy poko extra soft sama extra dry.
  1. Extra soft lebih lembut dan tipis. Tapi ketebalannya tidak berbeda signifikan. Jika ditanya tipisan mana sama pampers premium pants, tipisan pampers premium ya.
  2. Ada selotip buat roll si pospak setelah digunakan pada extra soft, di extra dry ngga ada.
  3. Extra soft memiliki 2 tema desain, buat anak laki dan anak perempuan dengan pattern disney. Extra dry juga menggandeng disney untuk mempercantik popoknya, tp lebih unisex.

Foto perbedaannya nanti diupdate lagi di bawah ini ya. Kebetulan yang extra soft lagi habis.

Mamy poko ini kaya my safety dispo lah pokoknya. Untuk harganya pun juga bersahabat dengan catatan belinya kalo lagi promo di supermarket atau di toko khusus susu dan pospak (kalau di Depok ada yang terkenal banget dan dekat rumah, namanya Lulu Kids).
Untuk ukuran M isi 32, extra dry dibanderol 60 ribu (harga di normal supermarket sekitar 99-105rb), sedangkan extra soft dibanderol 76 ribu (harga normal supermarket di atas 100 ribu). Selain di lulu atau harga promo, saya ngga pernah beli dengan harga normal kecuali kepepet.

Nah, kemarin kebetulan karena saya lagi di tempat suami di Cirebon, jauhlah saya dari toko kesayangan si lulu kids, ya bisa sih beli online. Tapi pospak itu kadang mahal di ongkir karena kena hitungan volume. Akhirnya saya melipir ke superindo, mau beli yang lagi promo tentunya. Sayangnya mamy poko ku sayang ngga lagi promo. Yang promo si goon premium dari 100an jadi 70ribuan ukuran M isi 32.

Trus malemnya di line group ada yang bilang goon premium promo di Alfamart jadi 56 ribu, katanya harga di lulu biasanya 60an, jd ini emang good deal. *hatiku sedih, hatiku gundah..
Yaudahlah, semua harus tetap berjalan karena Ammar tetap pipis dan pup. Hehehhee. Bismillah semoga ga merah-merah.


BACA JUGA: MENCARI POSPAK IDAMAN TIPE PEREKAT

Setelah beberapa hari pemakaian, eh aman loh… malah saya jadi lebih suka pakai goon dibanding mamy poko extra dry.

Desain depan dan belakang Goon Premium

Alasannya:
  1. Lebih lembut dan tipis (yaiyalah ini soalnya at the moment saya lagi bandingin sama mampok extra dry, mungkin kalau mau lebih apple to apple, bandinginnya sama extra soft (diupdate lagi kalau udah dibandingin ama extra soft)
  2. Cuttingnya lebih besar dan nyaman. Nutup sampai pusar anak saya.

Goon Premium (Kiri), Mamy Poko Extra Dry (Kanan)

Keliatan kan dari gambar di atas kalau lebih besar. Padahal size guidelinenya sama loh, untuk ukuran M berat 7-12 kg.


Oke deh, goon premium (pokoknya yang ada pelanginya di bungkus) bisa jadi pospak andalan Ammar selain mamy poko. Luvvvv


Oh iyaa, pospak tipe pants yang pernah saya coba antara lain:
  1. Merries Premium (bungkus putih): Tipis, lembut, ga bikin iritasi, semua oke kecuali harganya 😂 apa cuma saya aja ya, emak-emak yang ngitung harga pospak sampe per pcsnya. Budget ga lebih dr 3 ribu per pcs. 
  2. Pampers Premium: Again, dapet samplenya lagi dr mommies daily, sambil berharap-harap seiring dengan bertambahnya umur Ammar, dia udah kebal dan ga sensitif lagi pake popok ini. Yuk, dadah bye bye. Merah lagi dia pakai ini. Padahal anak teman saya banyak yang cocok pakai ini. Udah gitu dia tipis banget dan desainnya unyu. Maaf, jodoh tidak ditentukan semata-mata karena fisik. Wkwkwkwk
  3. Mamy Poko Standar (bungkus kuning): nyobain kepepet karena yang tipe lain habis, daya tampungnya sedikit, dan jadi sering tembus pakai ini.
  4. Merries Good Skin (bungkus hijau): sama kaya mamy poko standar, Ammar jadi sering tembus pakai ini. Dipakai semalaman ga cukup. 
  5. (UPDATE) Fitti Gold Import Pants: Ini termasuk popok kelas premium, kayanya belinya cuma bisa di online. Waktu itu saya belinya di orami karena iming-iming diskon 60%. Untuk pants ukuran L isi 50 harga normalnya dibanderol 300ribu, mahal dan lebay sekali bukan. Tapi popok ini selalu diskon minimal banget 35%. Saran saya kalau mau beli pas diskonnya 50% ke atas aja. Kualitasnya sendiri sebenarnya bagus, lembut, tipis, ga bikin ruam, kapasitas lumayan banyak. TAPI, ngga ada roll tapenya buat gulung sehabis dipakai. Ga ada indikator basah sih is okay, tapi ga ada roll tape padahal popok premium, hmmmm.. Rada gimana gitu 





Semoga review penting ga penting ini bermanfaat. Masing-masing anak kulitnya beda-beda, jadi bisa aja yang ga cocok di anak saya, cocok di anak anda.

Peace, love, and gaul

Sabtu, 02 September 2017

Merdeka itu Pilihan...

Perjuangan atas kemerdekaan tidak serta merta berhenti ketika presiden pertama kita Ir. Soekarno mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dari Belanda pada tanggal 17 Agustus 1945. Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, dan mempertahankan kemerdekaan tidaklah lebih mudah daripada mendapatkannya. Apalagi penjajahan masa sekarang bentuknya berbeda dari penjajahan zaman dahulu. Lebih mendasar daripada itu, bagaimana setiap individu mengartikan dan menjiwai kemerdekaan alias mental merdeka menjadi hal yang penting untuk ditanamkan. 

Arti merdeka sendiri jika dilansir dari kamus besar bahasa indonesia adalah sebagai berikut:

mer·de·ka /merdéka/ a 1 bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); berdiri sendiri: sejak proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 itu, bangsa kita sudah --; 2 tidak terkena atau lepas dari tuntutan: -- dari tuntutan penjara seumur hidup; 3 tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa: majalah mingguan --; boleh berbuat dengan --;
-- ayam ki bebas merdeka (dapat berbuat sekehendak hatinya);

Maka dapat diartikan, semakin minimnya kebergantungan kita, semakin besar derajat kemerdekaan. 

Merdeka itu bebas. Merdeka itu tidak bergantung. Dan merdeka itu pilihan.

Menurut saya, semakin banyak pilihan yang dapat kita pilih, berarti semakin merdeka lah kita. Dan banyaknya pilihan tersebut tidak hanya ditentukan oleh faktor finansial semata. Bukan berarti yang lebih kaya yang lebih merdeka loh. Contohnya saja kesalahan setitik yang dilakukan oleh seorang public figure misalnya akan berdampak besar dan menjadi sorotan orang banyak dibandingkan dengan kesalahan yang sama dilakukan oleh orang biasa. Atau misalnya lagi saat berada di tempat umum dan hidung terasa sangat gatal, pastilah reflek (sangat manusiawi) kita menggaruknya atau mengupil bukan, namun hal ini bahkan bisa menjadi bahan pekerjaan untuk paparazzi jika yang melakukan seorang selebriti. 


Bagaimana menjadi merdeka?

DISCLAIMER: Saya pun juga masih mencoba menerapkan di diri saya ya 😛


Merdeka ada pada mindset kita.

Pernah dengarkan ungkapan "your mind is your worst enemy"? Banyak hal yang menghambat kemajuan kita yang berasal dari diri sendiri. Keragu-raguan, kekhawatiran, overthinking, dan lain sebagainya. Berdamailah dengan diri sendiri karena pikiran kitalah yang membatasi kita dari kesempatan yang ada, membuat pilihan-pilihan tidak tampak seakan kita hanya memiliki satu pilihan saja. 
Terkekang atau tidaknya seseorang ada dalam pikirannya. Saya pun terkadang masih suka merasa terbatasi/terkekang setelah punya anak, kok saya jadi lebih kurang produktif. Lalu saya lihat lagi ibu-ibu yang lain (apalagi emak-emak di Kumpulan Emak Blogger😁) yang sangat produktif, blognya aktif, ngeyoutube pulaaa... Salut deh, saya anak satu aja masih terseok-seok.. 
Ingat merdeka itu bebas. Semakin sedikit bergantung pada faktor eksternal untuk merasa bahagia semakin merdeka lah diri kita.
Source

Semakin bersyukur semakin merdeka.

Being grateful is one of the key to happiness. Bersyukur membuat jiwa dan hati lebih tenang, selain itu dalam QS Ibrahim ayat 7 pun dijanjikan bahwa bagi orang-orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Salah satu sifat yang menghalangi orang dari bersyukur adalah iri dengki. Membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain akan lebih sering berujung kepada iri dan penyakit hati. Contoh simpel yang saya lakukan agar tidak iri adalah: tidak follow celebgram (yang lebih banyak pamernya dibandingkan faedah). Hehehehe...

Source

Merdeka adalah pilihan. Dan yang memilih untuk merdeka adalah pribadi kita sendiri.


Tulisan merupakan respon terhadap blogpost oleh Julia Amrih di http://emak2blogger.com/2017/08/25/mensyukuri-nikmat-kemerdekaan/. Bagian dari collablogging kelompok Najwa Shihab.



Minggu, 20 Agustus 2017

Setahun menjadi Ibu. Selamat Ulang Tahun Ammar



7 Agustus 2017.
Genap setahun saya menjadi ibu dari seorang bocah lelaki yang kadang tengil bernama, Ammar Ghiffari Nugraha.

Bunda dan Ammar, Agustus 2017


1 tahun. Itu artinya kewajiban saya memberikan ASI sudah setengah jalan. Semoga dicukupkan sampai 2 tahun. Sungguh dulu saya menanti-nanti masa 1 tahun, kenapa? Karena katanya kalau di atas 1 tahun, sudah tidak apa-apa minum susu UHT, tidak mesti susu formula. Jadi kemungkinan terburuk kalau ASI saya tidak ada, yaaa bisa susu UHT. Tapi itu dulu saat saya frustasi dengan sakit dan tantangan dalam menyusui. TAPI sekarang, saya bisa bilang, menyusui adalah THE MOST REWARDING MOMENT FOR MOMMY AND BABY. Pantas saja ibu-ibu yang mau menyapih anaknya seperti sedih sekali, now I can relate.

Selama 1 tahun ini, ada beberapa poin yang bisa saya simpulkan dan bisa menjadi saran untuk ibu-ibu lainnya (walaupun bisa aja ya ini agak sesat, biasanya saya kasih hashtag #ibumalas kalau di instastory):

  1. Tabunglah berat anak sebanyak-banyaknya di 6 bulan pertama - Iyes, soalnya 6 bulan pertama gerakan anak belum begitu banyak, otomatis energi yang diperlukan tidak terlalu besar sehingga ASI masih cukup untuk memenuhinya. Lagipula tidak ada istilah Gerakan Mogok Mimik selama anak sehat (kecuali kalau lagi batpil parah). Setelah 6 bulan, susah banget naikin berat badannya. Padahal anak saya termasuk yang jarang sekali sakit.
  2. Transfer Factor to the Rescue! - Kaya iklan yaa, cuma sungguh saya tidak akan menulis ini kalau saya tidak merasakan manfaatnya sendiri. Transfer Factor (TF) adalahsemacam suplemen untuk pendidik sistem imun keluaran dari 4Life, produk Amerika. Nah saya masih teringat saat horor Ammar sakit batpil parah di umur 5 bulan sampai dia susah sekali untuk mimik karena sulit bernafas dan bunyinya grok grok. Kebetulan orang tua saya termasuk yang anti banget minum obat (kecuali terpaksa) dan mereka ga rela si Ammar masih kecil udah minun antibiotik. Dengan pertimbangan bahwa dengan mengkonsumsi TF tidak membuat Ammar berhenti ASI eksklusif (kan imunisasi juga kadang obatnya diminum toh, dan anak hitungannya masih ASI Eksklusif), akhirnya saya setuju untuk ikhtiar meminumkan TF ke Ammar. Yang akhirnya saya rutinkan sampai saat ini. Alhamdulillah, Ammar termasuk sangat jarang sakit. Setelah batpil parah terakhir di usia 5 bulan, Ammar pernah diare di usia 9 bulan itupun karena minum es buah abang-abang pinggir jalan. Selebihnya walaupun Ammar bukan bayi steril (saya cenderung cuek bahkan), sering traveling baik dalam dan luar negeri, dia terbukti memiliki daya tahan tubuh yang cukup baik dan tidak memiliki alergi apapun.
  3. Anak ikut prasangka orang tua. Saya percaya bahwa ikatan batin ibu dan anak itu cukup kuat. Apalagi pas masih kecil, belum ada dendam percekcokan di antara kita. Hehehhee. Tapi saya selalu yakin Ammar akan baik-baik saja, Ammar bisa diajak kesini, Ammar ga masalah kok kalau dibawa kesana. Sampai terkadang saya terharu sendiri, duh ni anak pengertian banget ya, kok dia ga rewel dibawa kesini, kok tahan ya. Bahkan Ammar juga termasuk bayi pencitraan, dimana dia selalu terlihat adorable dan low maintenance kalau di depan orang banyak sehingga tak jarang banyak yang berkomentar "duh enak banget ya anak lo, ga ngerepotin". (Please take note, Ammar belum masuk ke masa-masa "terrible two" yang kata orang-orang sangat legendaris itu)

Sungguh saya merasa beruntung dikaruniai Ammar. Saya sadar saya bukanlah ibu yang ideal dan terkadang masih lebih banyak malasnya. Sampai-sampai kadang ibu saya (neneknya Ammar) suka bilang "kasihan kamu nak punya ibu kaya gitu. Ibu kaya gitu aja kamu nempelnya kaya perangko". Hehehee... Sepertinya Allah tidak akan memberikan ujian di atas kemampuan hambanya ya. Saya tidak kebayang bagaimana perjuangan ibu-ibu dengan anak berkebutuhan atau kondisi khusus yang kadang suka muncul di explorer Instagram. Mereka pasti ibu-ibu terpilih.

Love you, Ammar. Semoga kamu selalu jadi anak baik, sholeh, dan sukses dunia-akhirat ya nak. Thanks for being my son and making me feel needed and significant.



Kamis, 20 Juli 2017

I am now a Stay At Home Mom :)

Heuuuu... Saya ga ngepost bulan juni kemarin, utang dehhhh.... Banyak banget draft tapi ngga selesai-selesai.

23 Juni 2017 adalah hari terakhir saya bekerja sebagai pegawai kantoran untuk menjadi ibu rumah tangga, atau sekarang kerennya disebut SAHM (Stay At Home Mom). Keputusan yang sebenarnya saya sudah rencanakan setelah melahirkan 11 bulan yang lalu. 

Ada link bagus yang saya baca tentang stay at home mom masa kini. First paragraphnya seperti ini:

In my pre-kid life, I never imagined that someday I'd be a stay-at-home mom—hey, I didn't go to grad school to spend my days changing diapers. But when I held my first baby, Mathilda, I had a complete change of heart. As soon as we locked eyes, all those career and financial worries faded. They didn't disappear, but they certainly became secondary.

Heuuuu.. Bener bangett... Mana pernah kepikiran sih kalau suatu saat akan jadi ibu rumah tangga. Kayanya kok kurang bonafit gitu, lebih keren kalau kerja di kantor yang gedungnya bagus pakai baju rapih. Sekarang mah semenjak tau rasanya jadi ibu, boro-boroo... (Sumpah, inget banget, dulu semua orang ngetawain adik saya (shofiyya) waktu pas masih kecil dia bilang cita-citanya jadi Ibu Rumah Tangga). Berat banget melangkah kerja, meninggalkan si anak dengan orang lain (kalau saya masih Alhamdulillah, dipegang neneknya sendiri), melewatkan momen-momen lucunya si kecil, tidak menjadi saksi milestone-milestone yang berhasil anak kita lewati dan masih banyak lagi.

Tentunya setiap ibu memiliki pertimbangannya masing-masing saat memutuskan ingin menjadi Stay-At-Home-Mom atau Working Mom. Semua adalah pilihan hidup setiap individu dimana tidak bijak tampaknya jika harus dinilai mana yang benar dan mana yang salah karena toh segala konsekuensi ditanggung sendiri bukan oleh yang berkomentar. Di samping itu kondisi dan lingkungan setiap orang berbeda. Kalau boleh saya menjabarkan alasan saya memutuskan menjadi SAHM adalah sebagai berikut:

  1. Agar tidak long distance. Sesungguhnya yang tau kejelasan pekerjaan suami saya hanyalah Allah. Soalnya kadang doi ditanya rencananya dalam sebulan ke depan gimana aja, dia juga ga bisa jawab. Bisa aja besok disuruh ke field, bisa aja meeting disini, harus troubleshooting disana, ngatur ini, ngatur itu, bla bla bla. Jadwal suami yang bertugas 2 minggu di Cirebon 2 minggu di Balikpapan, membuat kita cuma ketemu di weekend pada saat suami mau ke Balikpapan. Walaupun kadang ada surprise visit karena tau-tau dia mesti meeting di Jakarta. Dengan kondisi saya yang masih bekerja, mengharuskan saya untuk tetap tinggal di Depok dan tidak dapat menemani suami di tempatnya bekerja. Supaya si kecil bisa ketemu ayahnya lebih sering sepertinya solusinya sudah jelas.
  2. Saya tidak menanggung beban ekonomi siapapun kecuali lipstik-lipstikku sayang :p Alhamdulillah. Sebenarnya ini bukan berarti saya mau berpangku tangan, ongkang-ongkang kaki aja gituu... Saya mulai memikirkan untuk freelance (kerja yang tidak mengikat dan bs dikerjakan dari rumah) dan usaha kecil-kecilan (saya jual barang beraneka ragam di tokopedia, shopee, dan instagram, dan sudah saya lakukan dari saya masih bekerja). Memiliki usaha sendiri itu "tidak aman", penghasilan tidak pasti dan tetap, tetapi dijalaninya lebih menyenangkan plus saya punya waktu lebih banyak bersama si kecil. Tanggungan pribadi saya tidak ada yang bersifat wajib dan naik-turunnya belum memberikan dampak yang signifikan terhadap yang lain. Di saat terakhir saya bekerja, usaha sampingan saya sudah mencapai omset lebih banyak dari gaji saya (omset sama keuntungan beda yaaa). Yaudah, Bismillah dehhh
  3. My mom has done enough. Semenjak memiliki anak, saya kembali melipir ke rumah orang tua mengingat kondisi suami saya yang selalu dinas dan saya yang bekerja. Ibu saya sebenarnya juga working from home woman, malah dia lebih sibuk dari saya karena beliau merangkap jadi asistennya ayah saya tetapi si nenek tidak tega kalau cucunya diurus oleh orang lain. Alhasil selama 8 bulan saya kembali bekerja, anak saya diurus oleh keluarga, sebagian besar sama Ibu saya, di back up sama adik saya yang sedang tidak lagi ada kelas, atau ada yang lagi libur. Alhamdulillah dari 8 bulan itu hanya 3x saya benar-benar tidak punya pilihan lain, sehingga akhirnya si kecil dijaga sama bibi yang suka gosok di rumah. Seiring waktu Ammar semakin besar (yaiyalah kalo ngga, gagal tumbuh dong), semakin lincah dan gerak kesana kemari, yang jagain pun makin capek dan jompo. Dan kalau dipikir-pikir ibu saya punya 9 anak, terus sekarang kena jaga cucu juga (walaupun, believe me, grandparents do it happily).
  4. I worked in a hostile environment. Well, not really the environment that I hate, but I had some conflicts with my superior in a point wherel he limit my horizon and stop me from expanding my knowledge. Akhirnya jadi mikir: gw ninggalin anak gw di rumah cuman untuk ke kerjaan yang gw ga enjoy jalaninnya karena bosnya nyebelin :( ini kaya lose-lose ga sih, masih mending deh ibu-ibu karir yang emang suka dan passion sama kerjaannya... Nah ini.. Hmmm..
  5. SAHM yang dulu beda dengan sekarang. Beruntungnya kita yang hidup di zaman internet dimana semua bisa dilakukan dengan mudah dan dari rumah. Malah banyak banget deh mompreneur sukses jaman sekarang who wins best of both worlds, career and family
  6. Golden Age won't happen twice. Seribu hari pertama kehidupan seorang anak (mulai dari dalam kandungan sampai dengan umur 2 tahun) adalah masa yang sangat penting. Bahkan menurut Sigmund Freud, golden age terjadi sampai anak berusia 5 tahun. Apa yang terjadi dan didapat anak saya pada masa-masa ini akan banyak berpengaruh ke masa depannya kelak. Anggaplah ini adalah investasi penting. 
  7. Biarkan ayah melakukan kewajibannya. dan saya sebagai istri senantiasa memberi dukungan. Sedih kalau sosok kedua orang tua absen at most of the time. 
  8. Ada buku menarik berjudul "Fitrah Based Education" dengan penulis Ust. Harry Santosa. Saya waktu itu hanya datang ke diskusi singkat buku tersebut dan rangkumannya (belum baca sendiri bukunya). Materi di dalamnya cukup eye-opener, dan membuat saya makin mantap untuk menjadi SAHM. Untuk yang mau rangkumannya, nanti bisa saya share via personal karena ini tulisan orang di fb bukan tulisan saya sendiri.
Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah baca tentang "5 second rule" bukan tentang boleh atau ngganya makanan di makan setelah jatuh ke lantai ya. Tetapi bagaimana kita harus memutuskan sesuatu dalam 5 detik pertama, atau otak akan menggagalkan rencana kita dan mengisinya dengan keraguan-keraguan. Hehehehe

Memperbesar cakupan bisnis sampingan saya, karena setelah resign tentunya ini menjadi pengganti penghasilan utama saya.Karena saya ngga pakai sih 5 second rule dan terlalu banyak pertimbangan, alhasil it took me 8 months to finally resign (initial plan was right after the maternity leave :p). Sebelum resign pun bukannya tidak ada persiapan sama sekali, beberapa hal yang saya persiapkan sebelum resign:
  1. List kegiatan yang ingin saya lakukan. Salah satunya sih saya mau lebih rajin ngeblog gituuu... Karena biasanya masalah umum jadi SAHM itu adalah bosen. Ciyus bosen kalau ga ada kegiatan dan rutinitasnya cuma sama anak dan beberes rumah doang.
  2. Oh iya, selama bekerja, setiap akhir pekan, saya membiasakan diri untuk fully handle si kecil. Iyah capekk... Suwerr capekan jaga anak dibanding kerja, wkwkwkwk.... Betapa enaknya hidup saya yang punya adik perempuan banyak dan masih pada antusias bantu momong anak saya. Hehehehe... Tapi karena setelah resign saya akan lebih sering ikut suami saya tinggal di luar kota, mau tidak mau, saya harus strong dong...
  3. Mulai googling dan list kegiatan untuk bayi mengingat si kecil hampir menginjak usia 1 tahun dan lebih aktif. Saya mulai belajar apa itu sensory play, dan play play lainnya. 
Bagi yang lagi galau resign, selamat galau semoga segera diberi petunjuk terbaik olehNya. Satu yang pasti, jangan sampai nantinya menyalahkan pihak lain atas keputusan resign yang telah diambil.

First lunch date just the two of us :)

Senin, 08 Mei 2017

Bulan Pertama Menjadi Ibu

Tidah pernah terpikir sebelumnya, bahwa setelah melahirkan akan jauh lebih berat...


Beberapa hari sebelum melahirkan, saya sempat bilang seperti ini: "Duh, cepet dong kamu lahir..." (kebetulan lagi ngeluh sama badan yang tambah berat dan susah gerak) yang kemudian dibalas sama Ibu saya "nanti kalau udah lahir, pengennya masuk lagi.."

Saya itu, orangnya kurang baca detail tentang kehidupan setelah punya anak. Walaupun saya fully aware kalau teman-teman yang udah punya anak itu susah banget diajak ngumpul dengan alasan segambreng yang most of the time karena anak. Jadi saya tidak pernah terpikirkan bahwa hidup saya akan sejungkir balik itu.

Kelahiran Ammar maju 10 hari tapi sudah cukup bulan, mungkin Ammar mau ketemu Auntie Ilina dulu sebelum pergi sekolah S2 di Norwegia. Azi masih di lapangan, jadi tidak bisa menemani saya selama persalinan. Ayah dan Ibu saya pun sebenarnya sudah "request" untuk lahiran minggu depan saja, soalnya jadwal pekerjaan mereka padat sekali, bahkan sampai terlintas mau mengajak saya ikut menginap di hotel saja biar bisa dekat kalau ada apa-apa. 

Akhirnya walaupun pada saat lahiran Azi tidak mendampingi dan baru sampai rumah sakit sekitar 4 jam setelah saya melahirkan (Alhamdulillah masih di hari yang sama dan kebetulan lagi dinasnya ke Cirebon), Azi cuti 2 minggu penuh untuk membantu dan menemani saya merawat Ammar.

Selama 3 hari di Rumah Sakit sih enak, bayi sudah dimandikan, kita tau beres, baru hari kedua saya mulai ikut gantiin pospaknya juga (sesekali). Di Hermina, setiap Ibu yang baru melahirkan akan dibekali kursus singkat bagaimana cara memandikan dan mengurus bayi, pijat ASI, dan segala pengetahuan basic yang perlu diketahui. Saya memperhatikan dengan seksama. Sesampainya di rumah

Jeng jeng...

Semua yang dipelajari di kursus singkat sebelumnya buyar. Ibu saya pergi membantu pekerjaan Ayah saya selama 4 hari. Praktis tidak bisa membantu, adik-adik saya semua belum libur sekolah/kuliah. Jadi walaupun setelah melahirkan saya tinggal di rumah samping orang tua saya di Depok, tapi dari A-Z masa-masa awal itu saya tempuh bersama Azi saja berdua.

Pengalaman pertama memandikan bayi kamu pelajari dari video di youtube. Itupun masih super salah dan epic banget praktekinnya (pengen share video tapi sayanya ngga pakai kerudung). Tali pusar ikutan basah, anak direndem di bak bayi masih pakai pospak. Malu-maluin banget yaa.. Hehhehee

image source

Bye Proper Sleeping Time

Forget lazy weekend when you can wake up at 11 am or even 2 pm in the afternoon. Not gonna happen. Ohhh masa-masa indah dulu saat hanya berdua sama suami adalah ngulet-ngulet mager di tempat tidur pas weekend.

Pada bulan pertama, rasanya restless banget. Bayi harus diberi ASI setiap 2-3 jam sekali, walaupun bayinya tertidur pun harus dibangunkan, karena memang mereka lebih banyak tidur. Kalau dibiarkan bisa-bisa berat badannya tidak terkejar. Jam tidur bayi masih terbalik, malam jadi pagi, pagi jadi malam. Saat kita ingin dia terbangun untuk menyusu, dia malah tidur. Saat malam hari kita ingin tidur eh dia bangun.

Belum lagi, karena kapasitas pencernaannya yang masih kecil membuat frekuensi buang air dan besar si bayi jadi sangat sering. Terkadang saat lagi menyusu, langsung keluar jadi pup. Kita harus sigap segera mengganti popoknya karena jika dibiarkan lama-lama, kulit bayi yang masih sensitif, rentan akan ruam popok. Minimal 2-3x terbangun saat malam hari untuk menyusui. Saat itu saya masih belum bisa menyusui sambil tiduran, jadi otomatis saya duduk dan terjaga selama menyusui.

Di usia awal pula bayi sangat senang dipeluk, bagaimana tidak, dia terbiasa di dalam perut, hangat dan terlindungi. Suara jantung kita pun juga menenangkan dirinya. Tidak jarang Ammar tidur di dekapan saya. Ada saatnya saya benar-benar ingin buang air kecil tetapi Ammar masih nyenyak tertidur dalam dekapan dan tidak mau dilepas. Atau saya merasa sangat haus tapi tidak bisa bergerak karena sedang menyusui dan air minum jauh dari jangkauan dan masih banyak lagi. Belum lagi kalau anak sedang growth spurt (huff ini butuh post sendiri).

Sesungguhnya, sesungguhnya, walaupun anak sudah menangis dan kita perlu bantuan, pak suami masih bisa-bisanya tidur nyenyak. Doi baru bangun ketika saya bilang "tolongin dong". Kalau ngga mah... Zzzzzzzz


Ada beberapa link bagus tentang interpretasi tangisan bayi yang ternyata bersifat universal, namanya Dunstan Baby Talk. Bisa langsung ke websitenya ya kalau mau tau lebih lanjut. 

Me Time = Bath Time

Rasanya selama sebulan pertama semua yang kita lakukan pasti ada hubungannya dengan si bayi. Makan pun juga tujuannya untuk ngisi dada menghasilkan ASI untuk si anak. Kalaupun saya berseluncur di dunia maya biasanya saya lakukan saat sedang menyusui (jangan dicontoh ya ibu-ibu) itu juga yang dibaca seputar menyusui/bayi dan yang terkait, atau mencari barang-barang yang diperlukan untuk dibeli lewat online shop.

Kemana-mana saya pakai kerudung instan yang besar dan langsung masuk agar praktis dan bisa menutupi saat menyusui. Dandan, beuhhh ga sempat deh. Makanya ini jadi patokan saya untuk "tingkat kebaruan" seorang Ibu. Misalnya nih ada ibu-ibu berjejer, nah yang paling kucel itu pasti yang paling fresh melahirkan, hehehe.

Satu-satunya hal yang benar-benar saya lakukan untuk diri sendiri ya mandi. Wait, masa-masa awal dulu saya harus mandi dengan air hangat. Why? Soalnya sekalian ngompres dada supaya ngga ada grinjel-grinjelannya. Iyap, ujung-ujungnya ada hubungannya lagi sama si kecil. Sudah tidak ada kepemilikan lagi pada tubuh ini. 

Some shapes are changing

I think the meme described itself best.
Image source

and No, Breastfeeding ain't as easy as it look in the TV Commercial.

Bahasan tentang breastfeeding perlu post sendiri karena penuh dengan perjalanan paling abstrak dan menakjubkan selama hidup saya. Love and hate relationship gitu deh

Duh, padahal perasaan banyak yang mau ditulisin disini. Secara saya ngerasa punya anak itu bener-bener game changer, life changing experience, near death experience, etc hahahhaa rada lebay ya. Nanti diupdate lagi deh kapan-kapan kalau mood.

It's not easy, but worth every second of it!