Senin, 27 Februari 2017

Pengalaman Sunat menggunakan Smart Clamp untuk Bayi

Huwoww, Bulan Februari hampir lewat tanpa post, padahal udah men-challenge diri sendiri untuk 1 month 1 post.

Si Ibu Malas (baca: saya) yang satu ini memang sudah niat untuk menyunat Ammar sedari bayi, kenapa:
  • Saya malas repot, jadi sebelum Ammar gulang guling sana sini lebih baik disunat dari sekarang
  • Agar tidak ada drama nantinya di kemudian hari, semakin besar anak akan semakin mengerti apa yang akan dia hadapi... Hence, makin susah bujukin buat sunatnya.
  • Menghindari trauma pada anak, karena saat bayi dia tidak ingat.
  • Nyontoh ibu saya yang menyunatkan tiga saudara laki-laki saya sedari bayi.
Namanya juga Ibu malas ya, jadi sebelumnya kurang baca-baca tentang metode sunat yang ada. Taunya yang paling canggih itu yang laser, dulu adik saya yang terakhir disunat menggunakan laser sambil dikelilingi 8 kakaknya yang berakhir dengan bau semerbak daging kebakar kaya sate saat proses sunat dilakukan. Tanya dengan teman yang sebelumnya menyunatkan anaknya, dia menyarankan rumah sunatan

Rumah Sunatan yang kami pilih adalah yang terletak di Depok dan beralamat di Jl Margonda Raya no. 49 samping kantor walikota Depok. Cara reservasinya cukup telpon dan pilih tanggal, lalu pihak rumah sunatan akan mengkonfirmasi pada H-1. Sebenarnya kalau mau konsultasi terlebih dahulu tentang metode apa yang cocok dengan keadaan anak, bisa. Cuma yaa, dengan super koboynya kita ngga pake konsultasi dulu. Ketika datang memang sudah niat sunat.

Dokter di rumah sunatan tidak standby setiap saat oleh karena itu kita harus mengkonfirmasi kedatangan dulu sehari sebelumnya. Jika kepepet bisa juga telpon, kalau kebetulan hari itu dokter ada jadwal untuk sunat, kita akan tetap dilayani.

Saat awal kita akan dijelaskan metode sunat apa yang akan digunakan. Yang paling direkomendasikan adalah metode smart clamp yang diklaim paling aman dan cepat kering. Untuk metode sunat yang paling minim perawatan memang dengan menggunakan laser, oleh karena itu di sunatan masal biasanya yang digunakan adalah laser. Namun metode laser ini masih kalah aman dibandingkan dengan smart clamp. Smart clamp lebih aman dari potensi "kesalahan" yang bisa mempengaruhi bentuk, dll (you know what I mean)

Sebelum Sunat

Ketika dokter membuka dan memerika Ammar, dokternya bilang gini: "Bu, anaknya fimosis ya.."
Saya: Hah, fimosis apaan tuh dok? *panik, istilah apapula ituu*
Dokter: jadi kulup/kulit pembungkus penisnya menutupi lubangnya.
Saya: terus gimana dok
Dokter: ya sudah tepat, memang harus segera disunat
Saya: fiuhhh *lega*


Proses sunat pun berjalan tidak lebih dari 30 menit, awalnya akan ada pengetesan apakah bius lokal bekerja pada anak, agak lupa detailnya, sebenernya ada videonya, tapi suka ngilu sendiri. Intinya proses pengguntingan kulit luar, tapi setelah itu tidak ada jahit menjahit, adanya penjempitan dengan smart clamp, dimana jaringan kulit dijepit dengan clamp agar mati dengan sendirinya, sementara itu penis terlindung dari gesekan karena ada di dalam clamp.

Selama proses sunat, dokter ditemani oleh satu orang asisten. Kita juga tetap harus membantu untuk memegang tangan anak untuk membuatnya tenang. Rumah sunatan juga menyediakan 1 ipad untuk distraksi anak namun karena Ammar juga masih belum bisa main, jadi hanya dibukakan applikasi Talking Tom. 

Setelah selesai, dokter menjelaskan cara perawatan pasca sunat. Waktu itu Ammar sunat hari jumat sore dan bisa datang kembali pada hari senin siang untuk melepas clamp. Kami juga ditawarkan opsi pembelian Kit PK (Pasca Khitan) yang berisi macam-macam seperti: kassa steril, hand sanitizer, syringe irigasi (untuk siram/cebok anak), antiseptic wash (sabun mandi antiseptik pada intinya), obat tetes sunat (diberikan 2-3x perhari), betadine, dll. Agak lupa juga, nanti diupdate lagi disini. Harganya IDR 150.000. Ditawarin juga celana sunat yang kaya batok kelapa itu, karena panik, semua saya beli aja, celana sunat 2 buah (@ IDR 50.000), pasca sunat 1 (kaya plastik aja, harganya IDR 30,000). Padahal mah akhirnya yang kepake celana sunat cuma pas malem pertama dan yang pasca ngga kepakai sama sekali.

Kit Perawatan Paska Khitan

Setelah dilepas klamp, kira-kira perlu seminggu sampai sembuh total, dan anaknya ga ngerasa sakit juga sih. Paling emaknya aja yang ngilu liat merah gitu. Seminggu kira-kira waktu yang diperlukan untuk lukanya mengering, nanti jadi ada kaya semacam cincin berwarna hitam gitu di sekitar kepala penis si anak, ini kaya koreng lah gitu kalo kita jatuh.

So far sih, saya merasa beruntung sudah menyunat anak saya sedari dini, karena walau bagaimana pun juga sunat adalah wajib bagi laki-laki muslim. Dan yang diwajibkan oleh Allah pasti ada manfaatnya dan baik bagi kesehatan. 


UPDATE 5 Mei 2017: 2 minggu yang lalu saya membawa Ammar ke Rumah Sunatan lagi. Kenapa? Penisnya mulai kulup lagi. Kalau kedinginan dia sampai tenggelam kaya menghilang, dan karena saya jarang tarik-tarik, akhirnya kulitnya lengket lagi. Untung aja saya bawa lagi ke Rumah Sunatan lagi dan segera diperiksakan. Ammar dibius lokal dan ditarik lagi kulitnya. Jadi agak ngilu karena penisnya jadi kemerahan. Saya harus rutin menarik kulitnya 2x sehari, 5 detik setiap kalinya. Sekarang sudah kembali normal. Masa depan istrimu terselamatkan, nak. Hehehehe



Senin, 30 Januari 2017

Let's Get Real: Popok Sekali Pakai (Pospak) vs Cloth Diaper (Clodi)/ Popok Kain/ Popok Konvensional Lainnya

Nama lain dari pos ini adalah: Justifikasi Pemakaian Pospak

Just for the heads up aja ya, kalau arah tulisan ini adalah #timpospak. Hehehehe...


Yakkk, ampunnn para environmentalist... Padahal saya juga lulusan Teknik Lingkungan. When it comes to this... I choose disposable diaper over cloth diaper/conventional diaper..

Dari awal sebelum melahirkan saya sudah memantapkan diri untuk memakai pospak full dari awal. Baca-baca beberapa blog, banyak yang awalnya idealis mau pakai pospak tapi akhirnya gugur. Ternyata kulit bayi saat baru lahir lebih sensitif, dan benar kata orang merk mahal tidak menjamin anaknya cocok. 

Ammar kena diaper rash saat umur 2 minggu yang akhirnya memaksa saya "mengistirahatkan" kulitnya dari pospak. Ketika siang, Ammar pakai popok kain, bawahnya saya alasin dengan perlak dan kantong plastik... Hehehehe.. saya punya clodi 2 buah, jadi digilir aja. Clodi yang saya gunakan yang tipe pocket, dimana harus memasukkan insert terlebih dahulu. Pada masa awal-awal frekuensi bayi pup dan pipis memang sangat sering karena pencernaannya yang belum sempurna. Hal ini hanya bertahan 2-3 hari setelah diaper rash ammar membaik dibantu oleh pospak yang baru dan Pure diaper rash cream.

Kebetulan bulan pertama saya benar-benar merawat anak sendiri, 2 minggu pertama dibantu suami yang cuti. 2 minggu selanjutnya saya stay di apartemen berdua saja dengan baby Ammar saat suami pergi kerja.

  1. Investasi Awal Cloth Diaper akan cukup mahal. Waktu itu sih saya cuma beli yang 45 ribu 2 biji karena mau nyoba. Waktu itu teman ada yang beli clodi ada embel-embel eco nya 10 pcs atau lebih gitu dia kena lebih dari 1 juta kalau tidak salah. Kalau istiqomah terus pakai clodi sih sebenernya jatuhnya akan lebih murah salam jangka panjang. 
  2. Perawatan clodi, fiuhhh capek cyinnn... (kalau saya, lagi-lagi jangan dijadikan patokan, after all saya kan emak-emak pemalas). Waktu itu Ammar pup, langsung saya cuci clodi dan insertnya (langsung loh yaaa ngga ditumpuk dulu lama-lama) saya kucek, terus rendam pakai vanish 30 menit, trus dikucek lagi, trus dibilas, kalau masih ada bekasnya saya cuci tangan lagi pakai sabun biasa lalu bilas. Setelah itu masuk ke mesin cuci bersama pakaian-pakaian Ammar. Dengan begini clodi Ammar tetap bersih selalu dan syaratbersih dari najis: tidak ada bau, tidak ada warna, dan tidak ada rasa (ngga dirasain sih) terpenuhi. Pernah juga saya baru cuci malam harinya, fiuhhh susah banget ngilangin warna kuning dari poopnya. -____- Trus saya jadi mikir, kalau kaya gini dari mana ramah lingkungannya, kaena saya jadi pakai air dan sabun lebih banyak.
  3. Kalau mau aman dan terhindar dari diaper rash mungkin lebih baik pakai popok kain/clodi tapi itu pun bukan jaminan, tiap 2 jam sekali harus tetap diganti. Anak salah seorang teman saya, dia malah kena ruam saat pake popok kain, karena jadinya kan tidak kering.
  4. Percayalah, bulan pertama itu tidak gampang, kecuali memang kalau kamu punya banyak orang yang mengawal dan membantu. 
Jadi, menurut saya
  • Boleh aja kalau mau idealis full popok kain atau clodi, tapi mungkin sediakan juga pospak untuk jaga-jaga kalau cucian tidak kering atau tidak sempat menyuci. Tidak perlu banyak-banyak, karena anak belum tentu cocok dengan pospak tersebut, jadi mesti trial and error dengan merk lain. 
  • Kalau masih ragu-ragu, saya sarankan jangan kalap langsung beli banyak clodi, karena investasi di awalnya mahal kalau tidak digunakan lama, jadinya sayang dan mubazir.

The most important thing is how to keep the mother stay sane and the baby healthy! Hehehehe







Selasa, 17 Januari 2017

Our 2 weeks Euro Trip Itinerary

Penyakit lama banget deh, sebenarnya punya banyak banget bahan tulisan jalan-jalan. Tapi cuma mandeg di pikiran doang dan jarang dituangkan ke kata-kata.Jangankan jadi tulisan blog, upload foto-fotonya ke fb aja engga. Resolusi tahun 2017 lah mau bikin blog ini lebih produktif.

Ceritanya hampir 7 bulan lebih yang lalu saya bersama suami niat mau babymoon, eh dekat-dekat orang tua saya juga mau ikut, jadilah tripnya double date. Seru juga kan kalau bareng orang tua, karena tujuan utama saya itu Strasbourg, tempat kelahiran saya. Bukan yang lain. Berikut adalah jadwal itinerary saya.


Penentuan kotanya berawal dari tiket pesawat yang kita beli. Waktu itu kita dapat promo Qatar Airways tp via Kuala Lumpur. Bookingnya multicity, jadi Kuala Lumpur - Paris, pulang nya Amsterdam - Kuala Lumpur. Jadi tidak ada keharusan kembali ke kota awal.

Selanjutnya sudah di Perancis, tujuan utamanya Strasbour biar bisa nostalgia gitu. Selanjutnya kita pindah ke Chamonix untuk liat pegunungan alpen dari mont blanc (yang merk pena itu loh) prancis.Yang agak tricky setelahnya karena Abi ikut dan mau ke Camp Nou, kita jadi detour ke Barcelona padahal di itinerary awal ngga ada sedangkan Barcelona ada di bawah banget. 

Rute-rute selanjutnya dipilih berdasarkan pencarian pesawat paling murah via skyscanner. Hahahaha. Masukin tujuannya everywhere, jadi nanti kelihatan tujuan mana yang paling murah, tapi mengarah ke dekat titik akhir kami Amsterdam. Contohnya seperti di bawah ya.


Bikin rute perjalanan europe memang harus bolak balik liat peta. Cari tau gimana kota tersebut, biaya, dll nya. Salah satu website yang menurut saya sangat berguna adalah rome2rio.com. Helpful banget. Dia bisa memberitahukan opsi-opsi transportasi apa yang bisa kita ambil dan berapa estimasi biayanya. Tampilannya seperti ini nih

Hasil pencarian Rome2Rio

Saya dan Azi juga memasukkan faktor 3* Rate (harga hotel bintang 3 di kota tersebut) serta cuaca di saat kita berkunjung. Jadi bisa dibandingkan tingkat kemahalan suatu kota.

Faktor yang harus diperhatikan dalam menyusun itinerary:
  • Tujuan Destinasi Utama
  • Tujuan dari Traveling tersebut dilakukan
  • Keadaan dan Kekuatan Tubuh
  • serta kekuatan dompet, hehehehe

Happy Traveling!





Senin, 16 Januari 2017

My Birth Story : Ammar Ghiffari Nugraha

I remember like yesterday ❤

Saya mulai mengambil cuti pada tanggal 1 Agustus memasuki minggu ke-38 kehamilan. HPL berdasarkan HPHT adalah 13 Agustus 2016 (sama kaya ulang tahun ayah saya) sedangkan berdasarkan USG adalah 17 Agustus 2016.

Sampai usia kehamilan tersebut saya belum pernah senam hamil di RS ataupun latihan ngeden. Hari kamis, 4 Agustus adalah hari pertama saya senam hamil. Dan tentu saja, ngeden saya masih ngaco banget. Langsung booking lagi untuk jadwal senam hamil selanjutnya (kebetulan hanya ada setiap kamis dan sabtu)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Hari sabtu, 6 Agustus pagi dimulai dengan saya yang ikutan Abi dan sofia lari pagi di UI. Saya sih tentu saja jalan kaki doang dari FKM UI, tau-tau udah sampe Perpustakaan, ngikutin arah yang banyak pokemonnya (waktu itu masih jaman main Pokemon Go). Jam 10, saya ambil senam hamil lagi. Tetep masih kurang bagus ngedennya :| 

Oh iya, saya biasanya kemana-mana naik mobil, tapi entah kenapa hari sabtu itu mau jalan aja ke depan komplek dan lanjut naik angkot, males cari parkir weekend di RS. Selepas senam hamil, saya menyempatkan diri beli es krim di Alfamart lalu pulang naik angkot lagi. Sesampainya di rumah ternyata si Ilina (adek pertama) dan Rino (suaminya) beserta sofia dan aliya (adek kandung juga, banyak yah) mau pergi ke rumah nenek di Rawamangun untuk silaturahmi. Kebetulan Ilina akan pergi melanjutkan S2 ke Norway keesokan hari 7 Agustus 2016, naik pesawat jam 7 malam. Karena males bosen di rumah, saya ikutan aja deh dan baru pulang sekitar jam 10 malam.

Minggu, 07 Agustus 2016

Capek rasanya badan, perut juga keras sama ada rasa seperti nyeri haid. Tapi saya pikir hanya kontraksi biasa. Malam itu saya langsung tidur, tidak ikut bantu ritual J alias Jemur Pakaian yang biasa adik-adik saya lakukan malam hari. Sekitar jam 1 malam saya terbangun karena kebelet pipis. Badan terasa masih pegal dan remuk seperti biasa. Trimester ketiga memang merupakan saat terberat karena memang badan rasanya jadi super berat.

02.30

Cuss.. Bless.. aduh gimana ya suaranya.. pokoknya kaya kantong air terus pecah gt. Saya langsung terbangun. Celana saya banjir.. Tapi perasaan tadi udah pipis deh, sambil cium-cium basahan. Baunya ngga pesing. Jangan-jangan ini ketuban aaaaaaaaa.. Saya langsung masuk ke kamar orang tua saya dan bilang "Mi, mi, kayanya ketuban kakak pecah deh"
"Apaa.. duh tenang tenang" jawab si Umi yang dari tidur langsung sadar.
"Yaudah sekarang siap-siap untuk ke RS ya" saran Abi

03.30

Di perjalanan menuju Hermina yang ngga sampai 2 km itu, Abi sama Ummi masih sempat-sempatnya berdebat soal mau lahiran dimana. Abi punya trust issue sama RS, takut anaknya nanti dibelek, jadi mau dibawa ke rumah Uwo (kakaknya Ummi) yang bidan saja. Tapi Ummi bilang takut tidak keburu, karena sudah pecah ketuban, dan Uwo belum siap-siap. Akhirnya saya tetap dibawa ke RS Hermina Depok.

Sesampainya di Hermina, saya langsung dibawa ke ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan dalam. Sudah bukaan tiga ternyata.

04.30

Uwo, Te' Ina, Te' Efa datang dari Rawamangun. Uwo mendampingi selama menunggu persalinan. Semakin lama, kontraksi datang semakin cepat. Rasanya super mules ngga enak gitu loh. Kalau lagi ga kontraksi, saya cuma bisa berdzikir sambil mikir "waduh durhaka amat gw sama emak..". Kalau lagi kontraksi, cuma bisa tarik napas panjang, buang, gitu aja terus. Salah satu tips dari Uwo, dan sepertinya cukup membantu mempercepat persalinan adalah tidur miring. Jadi saya menghadap ke kanan, uwo sambil pijit-pijit punggung.

06.00

Saat itu sedang ada konferensi dokter OBGYN se-Indonesia di Solo, jadi dokter saya, dr. Nel, sedang ikut acara tersebut. Dokter rujukan jika dr nel idak ada pun, juga ke acara yang sama. Padahal dari awal saya maunya dengan dokter perempuan, supaya ngga malu gitu. Eh apa daya, yang ada hanya dr. Maman, SpOG. Itu pun ada karena beliau baru akan pergi ke Solo pada siang hari, jadi masih sempat untuk menolong persalinan saya. 

Terus gimana rasanya: LET ME TELL YOU, pas udah persalinan mah engga peduli lagi dokternya cowo apa cewe, boro-boro risih, yang penting selamat.. Bahkan pas bidannya nanya "bapaknya sedang dimana?" saya jawab "engga peduli sus, saya ngga mau nungguin"

Jadi ya, persalinan ideal yang di pikiran saya itu sama dokter cewe plus ada suami mendampingi biar dia liat dan tambah cinta ituuuuu NGGA TERJADI di saya. Hehehe

07.10

Setelah gagal ngeden beberapa kali (yang bikin Abi semaput dan keluar ruangan, ngga sanggup kalau-kalau anaknya akhirnya dibelek) dan akhirnya dibantu push juga dari bidan. Lahirlah putra pertama kami bernama Ammar Ghiffari Nugraha melalui persalinan normal, berat 2.45 kg dengan panjang 46 cm.

Karena Azi masih di perjalanan, akhirnya yang mengadzani Ammar untuk pertama kali adalah Abi. Sepertinya ini cikal bakal alasan mengapa dari awal Ammar paling responsif sama suara Abi (pada bulan awal, bayi belum begitu responsif terhadap suara). Kalau kata te' efa, sewaktu abi mengadzani, kepala Ammar mengikuti sumber suara adzan, seperti mencari gitu.

Proses inisiasi menyusui dini (IMD) berlangsung 10-15 menit saja, tidak sampai berhasil menyusui tapi sungguh sangat efektif membuat saya lupa kalau dibawah sana dokter sedang sibuk menjahit. Karena Ammar termasuk BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah, 2.5 kg ke bawah), jadi Ammar harus diobservasi selama 6 jam, padahal cuma ngutang 0.05 kg doang. 


Ammar di observasi

13.00

Hari ini hari yang cukup abstrak untuk keluarga kami. Bahagia dan Sedih. Bahagia karena Ammar lahir dengan selamat ke dunia ini. Sedih karena Auntie Ilina akan pergi ke Norway untuk melanjutkan S2. Karena Ammar sedang diobservasi, Auntie Ilina ngga bisa gendong Ammar dulu. Hikss

Foto terakhir sebelum Ilina pergi

14.00

Akhirnya Ammar dibawa kembali ke kamar. Huuuu sini sayangku, mau peluk... Kecil banget sih kamu. Kecil aja susah ngeluarinnya ya. Sekarang kalau dengar bayi >3 kg udah klenger sendiri dengernya. Hehehehe

Azi pertama kali gendong bayi, dan bayi itu anaknya sendiri :')

Ammar Ghiffari Nugraha, Umur 1 hari

Pada saat itu, kami orang tua baru, masih belum sadar bahwa ini adalah permulaan, bukan akhir. Ke depannya tantangan yang ada jauh lebih sulit dari hamil dan melahirkan. 

Welcome to Parenthood!


Review: Malish Ilaria Double Breastpump

Finally, I bought my own breast pump!

Sebelumnya saya cuma dipinjami oleh teman saya yang baik hatinya, Mrs. Diah Novitasari, Medela Swing. Saya benar-benar awam dan tidak pernah mencari-cari review breastpump sebelum melahirkan. Dengan baik hatinya Diah meminjamkan Medela Swing yang ternyata harganya lumayan mahal yaa... Hehehehe, thanks Di!

Saya juga dapat breastpump avent natural dari teman-teman kuliah, karena masuk ke wishlist saya. Hasil rekomendasi dari kakak sepupu. Tapi dasar yah, saya pemalas, jadinya dipakai kalau lagi perlu cepat, ga mau ribet sama kabel-kabelan.

Detail review kedua breastpump di atas di post terpisah aja ya (kalau saya rajin), hehehehe..

Berawal dari promo di jd.id, si Malish Ilaria yang biasanya dibanderol 2.2 juta jadi cuma 1.6 juta terus bisa dicicil. Ihiyy, langsung lah demi urusan per-ASI-an, Azi mah selalu mendukung. Sebenarnya sih yang lagi ngeHip banget Spectra 9+, tapi baca di beberapa review sana sini (di blog dan IG @shafarentalpump) akhirnya saya pilih Malish Ilaria. Tujuannya memang cari yang double pump biar cepat pas pumping di kantor. Dan mumpung lagi diskon, pilihnya malish yang paling bagus, hehehe...

Malish ini adalah merek dari Rusia yang lumayan terkenal di negara tetangga kita, Malaysia. Sedangkan di Indonesia, rasanya baru tahun 2016 yang lalu mulai terdengar. Harga pompa malish sendiri relatif lebih murah di Malaysia, tapi sekarang Malish sudah ada secara resmi di Indonesia. Mereka juga sudah ada service centernya sendiri, jadi lebih baik membeli produk malish yang bergaransi Malish Indonesia.

Berikut penampakan Malish Ilaria.
Isi Produk Lengkap Paket Malish Ilaria, credit: pumponthego
Berikut keterangan produk dari website malish indonesia ya:

THE ULTRA SILENT PUMP
New double electric pump suitable for home and office use.
A real duo with 2 discrete pumps, serving each expression kit, just like 2 sets of single pump
Left, right or duet operation with individual control. Different suction strength can be set on left and right!
  • Unique soft breast shield design, reacting to the pumping rhythm which mimic baby’s suckling for maximum comfort and stimulation
  • 2 Phase Expression – Stimulation Phase & Expression Phase
  • 9 steps suction control
  • Built-in timer
  • Heavy Duty Pump
  • 30 minute auto stop function
  • Last used setting memory
  • Built-in LCD
  • Compact and light weight for maximum portability
  • Silent operation
  • 1 year warranty
  • FREE USB cable
Isi paketnya sendiri (seinget saya ya, ngga lagi di depan kardusnya):
  • 2 set botol lengkap kaya di samping, ada dudukannya, selang, soft breast shield, membran, diafragma, penutup corong)
  • mesin nya yang warna pink
  • membran cadangan 2 buah
  • adapter (kaki tiga)
  • kabel usb (buat dicolokin ke power bank)
  • kartu garansi (harus dikirimkan ke malish indonesia beserta bukti pembelian)
  • Hmmm apalagi ya, nanti diupdate kalau ada yang kelewat


Apakah klaim di atas benar? Yes, saudara-saudara. Aduh saya jatuh cinta sama Malish Ilaria ini, Alhamdulillah ga salah beli. Why? Berikut kelebihan dari Malish Ilaria menurut saya:
  1. Bisa dipakai terpisah, jadi walaupun dia double breastpump, tp kalau kita mau pakai satu aja juga ga masalah. Jadi dia bisa dioperasikan terpisah. Bahkan level kekuatan pompa pun bisa diatur berbeda kiri dan kanan.
  2. Ngga sakit sama sekali, saya ga pernah ngerasa sakit pakai pompa ini. Pakai medela juga ngga sih. Tapi pakai medela pernah jadi bengkak karena kelamaan. Kalau pakai ilaria ngga pernah bengkak, karena satu sesi pun biasanya cuma perlu 15 menit doang udah dapat lumayan banyak.
    Display malish ilaria. Tombolnya ada pengatur L dan R; pengatur tipe stimulasi atau expressed; adjust kekuatan pompa; serta power
  3. Dia ada 9 atau 10 tingkat kekuatan hisap, tapi selama ini saya cukup menggunakan level 3, atau max level 4.
  4. Lumayan ngosongin dada, saya ga perlu sambil pijet-pijet pake VCO lagi kaya dulu pas pakai medela swing. Tinggal tempel, trus main HP. Sampai saat ini udah ngga pernah plugged duct lagi.
  5. Orang-orang banyak yang membandingkan Ilaria dengan BP hospital grade, walaupun tidak ada claim resmi, tapi kemampuan mengosongkannya mumpuni. Kalau dilihat dari segi ukuran dengan BP Hospital Grade lainnya, dia termasuk kecil.
  6. Perbedaan hasil pompa saya 20-30% dari saat menggunakan Medela Swing, dengan waktu jauh lebih singkat, dan ngga usah pakai dipijit-pijit manual segala.
Berikut kekurangannya:
  1. Bisa portable tp dia ngga punya built in battery yang bisa dicharge kaya fitur yang dimiliki breastpump seperti Spectra 9+. Jadi kita tetap harus sambungin ke power bank. Selama ini saya masih tidak masalah, karena di kantor selantai cuma saya yang pumping, colokan di mushola bisa dimonopoli. 
  2. Dia ga berisik banget kaya philips avent electric, tapi ga sesenyap itu juga suaranya. Masih normal tapi tidak mengganggu. 
  3. Lumayan banyak yang dilepas untuk dicuci (kalau dibandingin dengan medela swing, ya iyalahhhh). Dia kan ada breast shieldnya supaya ngga sakit, sama penutup corong biar tetap higienis.
Begini deh kira-kira penampakan kalau lagi mau pumping di mushola. Dudukan biasanya tidak saya bawa karena makan tempat di tas, hehehehe
Overall, I love It!


UPDATE 26/07/2018: Udah satu setengah tahun pakai malish Ilaria, sekarang saya sudah tidak bekerja, tapi si adek hanya suka menyusu di satu sisi sehingga saya tetap harus rajin mompa. Alhamdulillah sampai saat ini breastpumpnya belum pernah rusak, membrannya juga aman. :)


Membuat Paspor Untuk Bayi

Minggu lalu, kami bertiga (Saya, Ammar, dan Azi) pergi ke Imigrasi, mau bikin paspor baru buat Ammar dan perpanjang paspor untuk Azi. Kami berniat untuk membuat e-paspor biar free visa gitu kemana-mana. Epaspor hanya bisa dibuat di kantor imigrasi kelas I, yaitu di Jakarta dan Surabaya. Sedangkan di kota tempat tinggal kami (Depok) belum bisa karena masih kelas II.

Pergilah kami dari jam 6 kurang menuju kator imigrasi kelas I Jakarta Pusat. Yah memang sih kurang pagi, mengingat hari kerja arus menuju jakarta dari pinggiran kota itu padat. Alhasil kita baru sampai jam 7.40. Sesampainya di Jalan Merpati, jeng jeng, antrian sudah habis. Padahal biasanya kan kalau datang sampai jam 10, masih dapat nomor antrian. Ternyata hari itu sistem offline sehingga nomor antrian dibatasi.

"Yah, pak, bukannya biasanya jam 10 masih dapat nomor antrian?"
"Sistem offline bu, nih liat bu, ada beritanya *menunjuk ke artikel berita yang di print*"
"Kita udah jauh-jauh nih pak dari Depok"
"Loh kan di Depok juga ada bu"
"Iya tapi kita maunya Epaspor"
"Oh untung ibu bilang, epaspor juga sedang tidak bisa bu, jadi ini pun yang dapat antrian hanya untuk bikin paspor biasa"

Wahhhh... akhirnya kami pun keluar dari kantor imigrasi jakarta pusat.

Ammar si ganteng dan Ayah
Memutuskan untuk mengisi perut dengan bubur ayam di dekat situ. Pas lagi sarapan, tukang parkirnya ada yang nawarin pembuatan epaspor via calo 1,5 juta padahal harga asli epaspor cuma 600ribuan. Huekk, keselek biji salak, mahal amat... Ngambil jatah pospak si Ammar itu. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Imigrasi Kota Depok (yang aslinya deket banget sama rumah saya).Tujuannya sih survey dulu, jadi nanti bisa jaga-jaga dan persiapan buat besok mau apply lagi.

Informasi di Depan Pos Satpam Kantor Imigrasi Kelas II Kota Depok
Kami sampai di kantor Imigrasi depok jam 9.45. Eh ternyata antrian masih dibuka. Yasudah akhirnya kami ambil antrian aja. Oh iya sebagai warga depok yang suka mengutuk kotanya karena macet. Saya mau apresiasi Kantor Imigrasi nya yang rapih dan lebih sistematis walaupun cuma kelas II. Jadi alurnya seperti ini:
  • Masuk, ambil antrian cek berkas (depannya F-XXX), difoto kitanya di pos satpam, jadi nanti pas nomor antiran dipanggil, di layar yang muncul nomor antrian dan foto siapa yang antri --- di jakpus kemaren sih ga kaya gitu
  • Di pos satpam ini pula, kita dikasih form isian, kalau bayi kan ada form surat keterangan dari orang tua, form ini diberikan gratis tis tis (kalau di jaksel kan katanya harus fotokopi atau bawa sendiri). Oh yaa, jangan lupa bawa Materai dan Pulpen yaa..
  • Bayi dan pengantarnya bisa masuk ke antiran prioritas. Tapi pas awal tetap antri normal di antrian cek berkas. Sesudah dari cek berkas, baru deh antrian dibagi dari yang biasa (kalo ga salah depannya A-XXX, yang prioritas depannya C-XXX)
  • Masuk ke ruang foto dan wawancara, petugas input data, kita verifikasi, bayi difoto. Tunggu print kertas pembayaran. Bayar di bank BNI. 
  • Selesai dehh...

Ihhhh.. saya apresiasi banget deh Kanim Depok. Petugasnya juga ramah banget. Pas antrian berkas, saya dapat nomor F-280, ngantrinya sih kira-kira 1.5 jam. Pas dateng itu yang dipanggil masih nomor F-100an kalau ga salah. Tapi cepat kok. Pas sudah cek berkas, De' Ammar dapat nomor C-037, sedangkan sudah dilayani sampai C-036, jadinya sama aja kaya ga ngantri kan.

Dengan datang jam 09.45 dan selesai jam 12 sebelum makan siang. Saya rasa sih ini cepat banget. Thumbs Up.

Oh iya, berikut adalah dokumen persyaratan untuk mengurus paspor.

Saya sih sekarang sudah merelakan tidak membuat epaspor untuk ammar dan azi, karena toh sampai saat ini manfaatnya masih belum begitu banyak selain free visa ke Jepang dan Korea. Dan saya perlu cepat untuk perjalanan kami berikutnya.

Oh iya, untuk harga paspor biasa 48 halaman harganya 300 ribuan, sedangkan yang 24 halaman harganya 200 ribu kurang. Agak lupa harga pastinya. Tidak ada kegiatan transaksi di Kantor Imigrasi, semuanya dilakukan di BNI ya.

Happy Traveling, Mommies!


Jumat, 13 Januari 2017

Johnson's Baby Top-To-Toe Wash vs Zwitsal Natural Baby Bath 2 in 1

Sebagai ibu-ibu pemalas, saya paling suka menggunakan produk mandi bayi yang sudah jadi satu antara shampoo dan sabunnya. Alasannya biar simpel dan tidak makan tempat. Apalagi saat traveling, barang bawaan bayi bisa ngalahin barang bawaan ayah bundanya, padahal mahluknya mah cuma seiprit.. hehhehee...

Kali ini saya mau membandingkan antara Johnson's Baby Top-To-Toe Wash (TTT Wash) dengan Zwitsal Natural Baby Bath 2 in 1


Bau
Kayanya hampir semua produk bayi wanginya enak-enak deh, nagih banget kan bau bayi itu. Tapi saya lebih suka dengan zwitsal yang natural. Kenapa? Karena yang wanginya natural ini, ada juga hair lotion dan colognenya dengan wangi yang sama. Jadi bau anak saya bisa selaras gituuu
- Zwitsal: ★★★★★
- Johnson's: ★★★★

Formula
Sampai saat ini masih belum pernah kena ke mata anak, jadi ga bisa bandingin. Tapi yang johnson's TTT wash ini ada claim 'no more tears' formula, sedangkan yang Zwitsal tidak. Saat ini anak saya masih 5 bulan jadi kalau mandi masih belum bisa benar-benar dilepas, masih digendong atau menggunakan bather. Nah kalau lagi traveling kita ga bawa bather, alhasil itu ayah bunda sama ammar mandi bareng... lohh.. hahahhaa.. jadi si ammar digendong, nahhh si johnson's ini licin banget, slippery gitu loh, jadi harus hati2 banget pas mandiin sambil digendong, sedangkan zwitsal engga selicin itu.
In that case, karena saya masih lebih mementingkan kelicinan...
- Zwitsal: ★★★★★
- Johnson's: ★★★

Availability and Price
Harga bersaing, tidak jauh beda, agak lupa berapa. Untuk harga 500 ml zwitsal sekitar IDR 25,000 sedangkan johnson's IDR 22,000. Sedangkan untuk ketersediaannya lebih mudah menemukan yang Johnson's TTT dibanding zwitsal. Hampir setiap minimarket ada.
- Zwitsal: ★★★★
- Johnson's: ★★★★★

Overall:
Udah jelas sih ya, kalau saya suka banget sama zwitsal natural baby bath 2 in 1

Note: zwitsal juga punya wangi lain selain yang natural, ada yang classic, bau zwitsal banget deh.. Tapi ku tetap paling suka yang natural ♡


Jumat, 09 Desember 2016

Mencari Popok Sekali Pakai (Pospak) Idaman Tipe Perekat

Dari awal sebelum Ammar dilahirkan, saya memang tidak punya niatan memakai popok kain padahal saya lulusan teknik lingkungan. Ga go green banget yaa... Cuma memang saya tidak mau repot dengan masalah cuci mencuci popok kain, dan baca-baca pengalaman orang banyak yang ujung-ujungnya gugur juga.

Sebelum mendekati lahiran, Pampers Premium Care sedang gencar-gencarnya melakukan promosi terutama untuk ukuran Newborn. Dengan embel-embel premium dan diskon 40% saya borong banyak banget. Kalo ditotal mungkin sampai 300 pcs dengan ukuran NB dan S. Menurut saya investasi besar banget, soalnya harga per pcs cuma 1300an plus katanya bayi baru lahir itu setiap 2 jam sekali harus diganti popoknya. 

Sip deh, udah jaga-jaga sama 300 pospak, yang premium pula. Rajin-rajin siaga cepat-cepat ganti setiap dia udah pipis atau pup.

First Impression Pampers Premium Care - NB:
+ Tipis
+ Lembut
+ Desainnya cheerful
+ Ada garis indikator udah ada isinya belum si pospak
Note: Ini intinya first impression sama pospak sih, selama ini ga tau perbandingan pospak yang lain gimana, udah kepincut ama kata-kata premiumnya

Seminggu, dua minggu terlewati... Awalnya saya ga gitu ngeh, sampai ibu saya yang bilang kalo itu ada merah di patpatnya si Ammar. Kyaaaaa.. padahal aku sudah sesiaga mungkin mengganti popoknya. Akhirnya intropeksi diri, oh mungkin karena kapasnya kebasahan terus abis itu ngga diseka lagi untuk dikeringkan (nyontoh suster hermina waktu itu dia ga keringin lagi). Saya kasih diaper cream juga. Cuma membaik dikit terus gitu lagi... Wah kayanya ga cocok nih, harus mulai cobain pospak merk lain (Apa kabar itu sisa pospak masih ratusan ☹) Ngga cuman merah doang ya, ini sampai kaya semacam kutu air tapi ga berair, aduh gimana ya jelasinny, tapi belum sampai semenyeramkan hasil googling gambar "Diaper Rash" sih

Nilai Pampers Premium Care: 6/10
Harga: $$$ (kalau normal)

Jreng jreng..Dimulailah pencarian pospak idaman untuk Ammar


Baca review sana sini di blog orang, akhirnya saya memutuskan untuk memilih nepia sebagai pospak alternatif pengganti. 

First Impression Nepia Genki:
+ Tipis juga
+ Lebih lembut dari Pampers Premium Care
+ Desainnya simple classic gitu, tp ga keliatan murahan
- Lebih mahal dari Pampers Premium Care, Isi 44 harganya IDR 95,000 ukuran NB, IDR 190,000 ukuran S
- Kebanyakan tersedia online atau di toko bayi, ga ada di Supermarket

Harganya lebih mahal, tapi sebagai emak-emak baru yang masih suka panikan, demi anak apapun deh. Sambil terus rajin ngasih diaper cream (aku pake purol zalf sama puree diaper cream, yang lagi berada di jangkauan tangan mana aja), akhirnya diaper rash Ammar mulai menghilang.

Suatu ketika nepia udah abis, tapi pesenan yang baru belum datang, akhirnya saya coba pakaikan lagi yang pampers premium care yang masih tersisa. Eaaaa... merah-merahnya datang lagi. Officially good bye ini mahhh..

Saya nyaman dengan nepia, malas mencari-cari pospak lagi. Saya termasuk yang lambat menguasai teknik menyusui sambil berbaring (uuhhh padahal ini salah satu kunci bahagia ibu-ibu baru). Saat Ammar sudah berusia 1,5 bulan lebih kalau tidak salah saya baru bisa. Jadi tiap malam seringnya Ammar tertidur dengan posisi miring, sama kaya emaknya. Ammar termasuk anak yang cepat menyesuaikan dan tertidur panjang di malam hari pada saat usianya 1 bulan. Terbangun maksimal banget 2x. Biasanya cuma sekali dan itu ternyata karena udah banjir, baju dan celananya basah. Huhuhuhu..

Saya masih belum ngeh ya, bahwa salah satu faktor penting Diaper idaman selain tidak diaper rash juga tidak bocor samping. Sampai akhirnya cerita-cerita sama temen, dia bilang kalau bocor samping berarti ngga cocok mungkin fittingnya dengan anak kita. (Saat itu Ammar sudah menggunakan size S, jadi bukan karena kekecilan). Yahhh harus cari baru lagi dong... 

Nilai Nepia Genki: 7.5/10

Akhirnya saya beli merries premium yang kebetulan lagi diskon, lupa harganya berapa.. IDR 60,000 untuk isi 24 ukuran S kalau tidak salah.. Lahhh udah diskon aja harganya deket-deket ke 3000/pcs. Bayi minimal kan 6-7 pospak tiap harinya.Gapapa, demi Ammar lah pokoknya.

First Impression Merries Premium:
+ Tipis
+ Cuttingnya besar
+ Ada indikator pipisnya juga
- Harganya mahal

Pakai merries premium, saya tidak ada keluhan apa-apa sama sekali. Ngga diaper rash, ngga bocor. Ok lah.. Merries premium ini buatan jepang, kalau yang merries good skin bikinan Indonesia. Saya agak lupa hanya 1 atau 2 bungkus saja saya beli merries, setelah itu saya bergerilya lagi cari pospak lain dan seorang teman menyarankan Mamy Poko Extra Dry.

Nilai Merries Premium: 8/10
Harga: $$$$

First Impression Mamy Poko Extra Dry:
+ Ada Indikator Pipis
+ Mudah didapatkan di supermarket terdekat (beli ga mesti online)
+ Lebih murah dari 3 pospak yang sebelumnya dibeli (dibandingkan kalau pampers premium carenya dengan harga normal ya), IDR 95,000 udah dapet yang isi 50 (beli di Tiptop).
+ desainnya unyuuu banget, winnie the pooh gitu, dan dalam satu kemasan ada beberapa motif berbeda
- Bulky → ini berasa banget kalau sebelumnya udah biasa pakai yang premium

Catatan tambahan: Oh iya harga satuan pampers memang akan lebih mahal seiring makin besarnya ukuran

Walaupun agak bulky, tapi saya happy banget pakai pospak ini, Ammar tidurnya ga kebangun-bangun, ga diaper rash juga ☺ ga bocor samping juga... Harganya ga mahal lagi. Bahagia deh diriku.Tapii, kayanya karet mamy poko ini agak terlalu ketat/kekencengan di pahanya si Ammar. Waktu itu Ammar beratnya 5 komaan kg, padahal kan size S mamy poko itu untuk 4-8 kg. Akhirnya saya beliin deh yang size M (6-10 kg), ehh kegedean banget. Hmmmm, apakah kuharus mencari pospak lain lagi..

Nilai Mamypoko Extra Dry: 9/10
Harga: $$

Suatu hari, ibu saya pulang belanja dan membelikan Ammar Sweety Comfort Gold yang ukuran M. Range ukuran M pospak ini untuk 5-x kg lupa sampai berapa kg. Cuma berat ammar sudah masuk. Plus si pospak ini ceritanya lagi diskon juga dan ada embel-embel undian jalan-jalan ke Amerika.

First Impression Sweety Comfort Gold:
+ Tipis
+ Desainnya hello kitty gt, bungkusnya warna tosca kesukaankuuu
- Ngga ada indikator pipisnya (by this time, aku udah ngga perlu lagi sih sebenernya, udah bisa ngira-ngira tingkat kepenuhan dari teken-teken pospaknya aja
+ Ngga terlalu mahal dengan catatan harga promo ya, untuk isi 24 ukuran M, harganya IDR 48,000 (Beli di Tiptop)

Ngga ada keluhan untuk pospak yang satu ini, selain itu Ammar sudah 3 bulan lebih, kayanya kulitnya sudah tidak sesensitif dulu pas masih Newborn. Jadi sebenernya perbandingan ini rada-rada kurang apple to apple sih, soalnya waktu nyobanya beda. Cuman mungkin saya ga bakal balik lagi ke pospak yang pernah buat anak saya diaper rash.Tapi kemarin sempat merhatiin ada merah di dekat lubang pantat Ammar, mungkin juga karena sekarang sudah tidak sesering dulu gantinya, dan karena doi juga kebo sih sleep through the night, jadi saya cuma gantiin pospaknya sebelum tidur (jam 9 malam) sama kalau dia kebangun (terkadang baru jam 6 atau bahkan jam 7 pagi)

Nilai Sweety Comfort Gold: 8.5/10
Harga: $$$ (kalau normal)

Sampai saat ini sih saya juga sudah mencoba merk lain tapi tipe pants. Kepanjangan kayanya kalau digabung di post ini. Sebenernya sih mau bikin tabel pembobotan pemilihan pospak (sok engineer banget), tapi akan saya update lagi lain waktu kalau sempet dan inget. Hehehehe

DISCLAIMER: Setiap anak berbeda-beda kecocokannya terhadap pospak. Review ini jangan dijadikan patokan sepenuhnya juga ya. Mungkin bisa jadi pertimbangan.

Happy Hunting, Mommies!



Selasa, 15 November 2016

My First Pregnancy Story

DISCLAIMER: Efek kehamilan pada setiap orang berbeda-beda. Jangan ikutin contoh yang salahnya ya.

Saya hamil setelah kurang lebih satu tahun menikah. Saya dan suami sempat LDR-an selama 6 bulan pertama, selanjutnya masih dikasih kesempatan pacaran (padahal mah rookie mistake :p).

HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) saya adalah 6 November 2015. Inget banget karena itu adalah ulang tahun suami yang 27, kita rayain dengan menginap di salah satu resort di Bogor, eh taunya malah dapet.. hehehhee. Nah HPHT inilah merupakan dimulainya hitungan umur janin. Makanya kan suka ada yang buruk sangka sama pasangan yang umur kehamilannya lebih tua dibanding pernikahannya. Ya mungkin saja, kalau saat menikah sang istri sedang masa subur dan langsung jadi..

The First Trimester

Saya baru tau hamil setelah saya telat lebih dari 3 minggu. Awalnya saya pikir telat biasa, tapi kok ini dada sakitnya udah macam waktu SMP dulu pas mau numbuh. Test pack pertama, saya beli karena besok paginya saya mau ikut BPJS Ketenagakerjaan Run 5K. Ibu saya menyuruh memastikan saya memang tidak hamil jadi aman kalau mau ikut lari. Salahnya, dicoba pas malam-malam, hasil negatif. Amanlah buat ikutan lari.

5K Finisher walaupun ngga cepet :p
Kami sempat disarankan oleh tante untuk periksa kesuburan biar kalau ada masalah sudah tau dari awal. Berhubung saya masih belum haid juga, iseng-iseng berhadiah lah nyobain testpack lagi tapi kali ini menggunakan urin pertama di pagi hari yang katanya mengandung kadar HcG (jika ada) paling tinggi. Lahh hasilnya positif. Dicoba pake merk lain pun sama. Shockkk lah saya dan suami. Errr ok, what should we do. Confused, disbelief, and happy I guess.

Untuk mencari kepastian, kami pun buat janji ke dokter kandungan di Hermina Bekasi Barat. Eh bener lah ternyata, memang sedang isi. Maka resmilah pada tanggal 26 Desember 2016, sehari sebelum first wedding anniversary, saya benar-benar dinyatakan hamil. Waktu itu bentuknya masih absurd kaya kacang, usia kandungan 6 atau 7 minggu (agak lupa). Umur janin berdasarkan hasil USG mundur seminggu dari HPHT, tapi kata dokter tidak apa-apa kalau plus minus seminggu. Masih dianggap wajar karena haid kan juga suka maju mundur tidak teratur. Yang perlu dikhawatirkan kalau mundurnya 2 minggu lebih, bisa-bisa mengindikasikan janin tidak berkembang. Salah satu nasihat bu dokter selama trimester pertama adalah: "Bapaknya jangan 'tengok-tengok' ibunya dulu ya" -- you know what i mean

Dipanggilnya little monster :|
Trimester pertama saya lewati tanpa perubahan berarti. Alhamdulillah saya tidak mengalami gejala kehamilan awal pada umumnya seperti mual-mual, pusing, dan lain sebagainya. Berat badan naik 1 kg. Kata dokter, pada trimester awal tidak naik pun tidak apa-apa, malah banyak ibu-ibu yang turun karena mual dan muntah-muntah. Baru khawatir kalau penurunan lebih dari 10% berat badan.

Ngidam? Saya ngga ngidam apa-apa selagi hamil. Sampe dipikir-pikir maunya apa ya supaya bisa ngerepotin suami gitu.. Tapi tetep ngga kepikiran apa-apa.

Nafsu Makan? Masih biasa aja, ngga naik. Sebenernya sih awal-awal sempat stress mau cari makan dimana. Soalnya kan makanan yang dijual di sekitar kantor pasti ga bebas MSG 100%. Akhirnya malah, yasudahlah makan aja yang bisa dimakan asal ngga junk food/MSG banget daripada ngga makan sama sekali.

Emosi? Rasanya ngga usah pakai hamil, saya udah suka emosian. Hehehehe, kasian paksu.

MY ADVICE for the FIRST Trimester:

Ini bukannya salah juga sih, tapi sebaiknya tidak perlu memberitahukan ke seluruh dunia via socmed kalau anda sedang mengandung kalau usia kandungan masih di trimester awal. Kenapa? Karena trimester awal resiko keguguran sangat tinggi, setelah week 14 barulah resiko keguguran menurun 40%. Jika ingin beritahu, cukup beritahu orang-orang terdekat. Beberapa orang mengalami gejala-gejala yang tidak nyaman seperti mual-mual disebabkan perubahan hormon pada tubuh. Jika anda termasuk yang mengalaminya, ada baiknya memberitahukan kolega di kantor tentang kondisi anda, agar dapat memaklumi sehingga tidak memberikan workload yang terlalu besar. Pada trimester awal ini sebenarnya tidak disarankan untuk capek-capek juga (jangan contoh saya yang lari 5K!).

Dari awal ibu saya sudah cerewet masalah stretchmark perut akibat kehamilan, jadi beliau menyuruh saya untuk mengoleskan minyak zaitun dari hamil 2 bulan (walaupun biasanya saran orang-orang setelah memasuki trimester kedua). Tapi saya tidak menyesal, karena memang tidak ada satu stretchmark pun yang muncul akibat hamil (kalo dari jaman puber atau menggemuk yang dulu-dulu sih ada). Mencegah memang lebih mudah daripada mengobati.

The Second Trimester

Yeay, akhirnya first trimester terlewati. Lewat USG pun udah mulai bisa ketauan jenis kelamin si jabang bayi pada sekitar minggu ke-14 dan 15. Si baby dari semua USG selalu show-off kalau dia itu laki-laki, hehehhee… 

15 weeks

Trimester kedua di saya sih berasa tidak terlalu berbeda kecuali perut yang mulai nyembul dikit. Sampai usia kehamilan 6 bulan barulah orang-orang mulai menyadari kalau saya lagi hamil melalui penampilan saya. Sebelumnya sih banyak yang ga notice karena ga keliatan. Ga enaknya di kereta pun jadinya engga dapet tempat duduk :|

Banyak orang yang berpendapat bahwa trimester kedua adalah saat yang paling nyaman karena morning sickness sudah tidak ada (tubuh sudah penyesuaian) namun perut belum segede ember. Dari awal kunjungan ke dokter kandungan, saya langsung menanyakan waktu terbaik untuk traveling dengan pesawat. Bu dokter bilang paling aman di antara minggu ke-20 sampai minggu ke-30. Dannnn saya pun booking perjalanan baby moon di minggu ke 27-29… Tentang apa yang perlu dipersiapkan untuk traveling saat hamil bisa dilihat disini

Pada trimester kedua ini, saya juga dirujuk untuk tes darah guna mengetahui level Hb, gula, sama apalagi lupa. Ternyata Hb saya termasuk rendah, sehingga dokter pun memberikan resep obat penambah darah disamping suplemen kalsium yang memang selalu diberikan.

The Third Trimester

Bisa dibilang ini adalah trimester paling berat bagi saya. Tubuh mulai terasa berat, tidur pun tidak nyenyak dan kurang nyaman bisanya miring ke samping aja. Perut semakin besar, kantung kemih sering terhimpit membuat trip ke WC semakin sering. 

Setelah baby moon trip yang cukup panjang dan melelahkan, saya melakukan check up lengkap. Hasilnya mengindikasikan bahwa berat bayi saya kecil (walaupun dari sebelumnya bayi saya memang cenderung kecil). Saya pun disarankan untuk banyak-banyak es krim. Padahal biasanya orang lain disuruh ngerem makan es krim supaya tidak bablas, saya malah disarankan. Selama 2 minggu saya geber makan es krim setiap hari, eh si debay masih kecil juga. Kenaikan berat badan saya pun tidak banyak. Akhirnya saya diinfus fenofer (zat besi) dengan harapan anak saya membesar. Pada saat ini lah, plafon asuransi rawat jalan saya HABIS.  Selama ini saya santai saja selalu print hasil USG, bahkan suka genit USG 4D. Eh ada batasnya toh… Dokter saya ternyata selama ini selalu kasih obat paten yang mahal mentang-mentang saya pakai asuransi. Akhirnya saya pun pindah ke dokter langganan ibu saya di Hermina Depok. Terbukti beda signifikan total tagihan padahal jenis obat yang diberikan sama (suplemen kalsium dan zat besi). Ohhh pantes aja ya dulu suka denger cerita dokter suka dikasih bonus hadiah ini itu sama perusahaan farmasi.

Me during 35 or 36 weeks 
Bayi saya tetap aja masih kecil. Saya masih menikmati privilege untuk makan es krim sebanyak-banyaknya. Sampai saat minggu ke 37, hasil berat bayi saya 2.7 kg. Kata dokter sudah melewati batas minimal/aman, lebih baik besar di luar daripada di dalam.

Saya mulai cuti ketika masuk minggu 38 pada tanggal 1 Agustus 2016. Lebih dari 2 minggu sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL) tanggal 17 Agustus 2016. Sempat agak merasa rugi, tapi itu perintah paksu, karena saya suka senewen dan emosi ☹  terkait pekerjaan saya di kantor, hasilnya perut suka kontraksi-kontraksi palsu. 

Oh iya, memasuki trimester ketiga harusnya lebih sering senam hamil untuk persiapan. Tapi saya waktu itu pemalas dan cuma donlot video youtube. Padahal senam hamil di Rumah Sakit berbeda loh.. Jadi minimal 2-3x saya rasa perlu senam hamil di rumah sakit, untuk mengecek benar atau tidaknya kita ngeden ☺


Expecting and Happy!


Rabu, 02 November 2016

Perlengkapan Tempur Pumping di Kantor

Tidak terasa maternity leave saya selama tiga bulan sudah berlalu. Pagi itu rasanya malas sekali harus kembali kerja meninggalkan si kecil yang semakin hari semakin menggemaskan. Belum genap 3 bulan umurnya, karena saya mengambil cuti seminggu sebelum kelahirannya. Huff, harus kuat... Walaupun saya mulai kembali bekerja, saya bertekad untuk memenuhi hak anak saya akan ASInya minimal sekali sampai 6 bulan. Semoga sih bisa sampai 2 tahun. Tas kerja bersandar di pundak kanan, cooler bag bersandar di pundak satunya. Tegapkan langkah sambil dalam hati mencoba self-hypnotize "I CAN DO IT". Berikut adalah hal-hal yang perlu dibawa dan akan membantu saat harus pumping di kantor.


1.   Breastpump

Udah pasti lah ya, secara judul kegiatannya aja pumping. Tipe apa yang enak, itu sih balik ke pribadi sendiri. Pumping di rumah dan di kantor tentunya sangat berbeda. Banyak faktor yang harus diperhatikan saat pumping di kantor seperti: tempat pumping (ada power outlet atau tidak, ruangan khusus laktasi atau ruangan umum seperti mushola), frekuensi dan durasi kita pumping (karena bergantung dengan izin dari superior kita juga kan, syukur-syukur dapet yang baik dan pengertian).
Saya sendiri menggunakan breastpump Medela Swing. Breastpump ini membutuhkan sumber listrik untuk beroperasi walaupun bisa juga pakai baterai AA tapi saying ah, mending pake listrik kantor kan… ehh... Setiap sesi pumping saya memerlukan waktu 15-20 menit untuk setiap PD, berarti total waktu yang saya butuhkan sekitar 30-40 menit (khusus untuk mompanya aja). Ke depannya saya mungkin mau mencoba pakai yang dual pump biar lebih hemat waktu (will update later)

2.   Cooler Bag dengan Gel Pack

      Cooler Bag, wajib banget sih untuk menyelamatkan ASI-ASI tersebut dari kerusakan. Kecuali bisa simpan di kulkas kantor trus jarak rumah cuma 20 menit dari kantor. Tapi jalan kan kadang suka susah ditebak, tau-tau ada macet akibat perbaikan jalan dan sebagainya bisa berabe jadinya. Beruntungnya saya masih bisa simpan di kulkas ruang admin yang hampir selalu kosong. Jadi gel pack dan botol susu bisa saya simpan sementara sampai saya pulang.



  Gel Pack/Ice Gel tapi yang didalam tempat plastik keras bukan yang kemasan plastik biasa. Kenapa? Soalnya waktu itu pernah pengalaman masukin Ice gel plastik biasa yang lagi beku-bekunya ke cooler bag dan agak desak-desakkan dengan ice gel lainnya. Eh alhasil jadi sobek kemasannya, pas udah mencair baru keliatan ternyata si  gelnya keluar-keluar.




3.   Hand Sanitizer

      Ini kebiasaan sih, sebelum “main-main” sama alat pumping biasanya saya pakai hand sanitizer dulu biar steril gitu.. (Ah padahal permen coklat jatuh ke lantai aja suka dicomot lagi :p)

4.   Botol Kaca ASI (atau Plastik ASI)

Saya lebih prefer untuk menggunakan botol kaca ASI dibandingkan dengan plastik. Alasannya lemak dari susu tidak menempel di dinding botol kaca tidak seperti dengan plastik. Selain itu botol kaca bisa digunakan berkali-kali. Untuk botol kaca ASI saya paling suka merk BKA karena instruksi pemakaian dan penyimpanannya jelas serta dilengkapi dengan indikator volume. Beberapa merk lain yang lebih murah pernah saya coba, tapi saya kurang suka karena tidak ada indicator volume, jadi harus kira-kira masukin susunya, padahal untuk penyimpanan di freezer botol hanya bisa diisi 90 ml, sedangkan di chiller max 100 ml. Kalau botol kaca dengan tutup karet ini diisi lebih dari volume tersebut, tutup botolnya bisa terlepas sendiri.Tapi akhir-akhir ini kalau hasil pumpingnya berlebih tapi nanggung ditaruh di botol baru, akhirnya saya suka pas-pasin jadi 100 ml. Tambahan saya menggunakan konsep LIFO (Last In First Out), jadi hasil pumping 3 hari terakhir saya ditaruh di chiller/kulkas bawah/kulkas kanan (you name it).

Saya juga punya kemasan plastik ASI sekali pakai, merk gabag. Suka juga sih karena ada zippernya dan steril hanya sekali pakai. Biasanya yang kemasan plastik saya pakai ketika saya traveling lebih dari 2 hari. Pemakaian plastik lebih praktis karena tidak perlu mensterilkan botol terlebih dahulu serta ringan. Ini jadi cadangan kalau stok botol yang dibawa ga cukup menampung hasil pumping. Sampai saat ini hasil pumping sama konsumsi anak saya masih surplus. Makanya jumlah botol yang diputar lebih sedikit sehingga saya harus buka botol baru terus (males steril awalnya yang harus ngerebus dulu.. hehehe)

5.   VCO (or any oil)

Semenjak terkena blocked duct yang sangat sakit itu (Alhamdulillah belum sampai mastitis), ritual pijat memijat sebelum pumping tidak boleh terlewatkan. Untuk memijat saya menggunakan VCO (Virgin Coconut Oil) karena menurut saya cukup aman jika saya lupa membersihkan PD setelah pumping tapi si babynya udah mau mimik lagi. Selain itu pumping sambil dipijit biasanya mempercepat durasi untuk mengosongkan PD, soalnya yang mancurnya jadi lebih banyak. Oh iya penggunaan minyak ini juga merupakan salah satu tips n trick buat memaksimalkan hasil perahan, referensi bisa liat disini

6.   Sticker label dan Permanent Marker

Ini memanfaatkan sisa sticker label dari ibu saya. Labelnya bening gitu, dan gampang nempelnya kalau di botol kaca dibandingkan dengan label dari kertas. Kalau label dari kertas suka susah nempelnya kalo botol udah dingin, sedangkan label bening plastik ini masih bisa nempel. Pas dicuci juga mudah dicopotnya.

Permanent marker, jelaslah ya fungsinya untuk memberikan label tanggal dan waktu ASI tersebut dipompa.

7.   Zipper Bag

Why? Waktu itu pernah dapet tips supaya ga ribet steril di kantor dari forum femaledaily. Jadi si bekas pompa (pokoknya yang kena susu) biasanya saya bilas pake air hangat (nyolong dari dispenser kantor tentunyah), lalu elap pake tissu terus dimasukin ke zipper bag. Masukin kulkas deh. Nah begitu terus setiap habis pumping, jadi ga usah repot-repot sterilin. Zipper bagnya cuma bisa dipakai sekali ya sehari. Kalau ngga mau pakai zipper bag bisa juga pakai tempat makan macam lock n lock gitu, tapi sepertinya lebih makan tempat. Awal-awal tau metode ini ada yang sharing di forum femaledaily, setelah itu juga baca-baca di forum babycenter untuk referensi cara orang-orang sterilin BP di kantor.

8.   Tissue

Buat ngeringin kalo botol ada yang basah sama elap-elap dada kalo ada susu tercecer, hehehehe.

9.   Sumpit

Temennya tissue, untuk membantu menggapai bagian botol yang masih basah.Saya pakai sumpit dari bekas Gokana kalo ga salah, bahannya plastik gitu bukan kayu.

10. Mood dan Lingkungan yang mendukung

Kegiatan pumping di kantor ini mau gamau pasti menyita waktu bekerja, oleh karena itu izin dari superior supaya kita bisa pumping di sela-sela waktu bekerja sangatlah penting. Selain itu, dengan ketiadaan bayi di dekat kita, sedikit banyak mempengaruhi LDR (Let Down Reflex) dan produksi ASI. Oleh karena itu mak ASI harus happy dan relax saat pumping. Saran tambahan lagi, sediakan video tontonan buat menemani saat pumping, serial favorit atau lebih bagus lagi video anak. Saya kalo pumping sambal nonton video anak eh dapetnya lebih 50 ml dari biasanya loh, dan itu sebenarnya masih bisa lagi, tapi ga enak kalau kelamaan pompanya.



Happy Pumping, Mommies! :)