Sabtu, 13 April 2019

Review: Emina Bare With Me Mineral Cushion Shade Caramel

Kalau sampai saya skip nulis lagi, 4 minggu sudah saya bolos setor ke 1 minggu 1 cerita. 2 minggu lagi kena depak. Sebenarnya banyak tulisan di draft, tapi kok males-malesan dan mandeg ya.Kalau review beauty product lebih mengalir. Padahal bukan ahlinya juga, cuma beauty enthusiast. Yuk mari kita putihkan kembali, hehehehe.

Jadi ceritanya saya sudah lama beli cushion emina ini pas lagi diskon di Lazada (tentu saja, anaknya super modis, modal diskon). Tapi karena masih ada cushion yang pixy, jadilah belum dibuka-buka. Kemarin pas saya mau pergi, saya cari-cari si pixy, ehh ilang entah dimana. Padahal niat awal mau ngebattle cushion pixy ini sama emina.

BACA JUGA: Review Pixy Dewy Cushion

Harga Retail: 125.000 (bisa lebih murah di marketplace)
Pilihan Shade: 01 Light, 02 Natural, 03 Caramel (yang saya coba adalah shade paling gelap 03 caramel)

review cushion emina
Kemasan Emina Mineral Cushion

Packaging

Packaging emina seperti biasa memang unyu-unyu gimana gitu karena pasaran mereka memang mulai dari remaja. Lalu akutuhh berasa tua dan ga inget umur kalo beli ini. Tapi biarlah wkwkwk..  Kemasannya sendiri terbuat dari plastik dengan warna kombinasi baby pink (pink muda) dan putih. Saya sendiri penggemar cream blushnya emina yang sudah habis lebih dari 4 tube mungkin ya.

review cushion emina
Komposisi Emina Mineral Cushion

Komposisi

Dapat dilihat dari komposisi di atas tidak mengandung paraben. Walaupun saya mah ga anti paraben setelah baca ulasan dari Lippielust (sayang ga nemu link blogpostnya, kayanya waktu itu doi bahasnya di Feed Instagram. Pengawet yang digunakan di cushion ini ada di beberapa bahan kimia yang tertulis paling belakang di komposisinya, seperti Ethylexylglyceryn dan Disodium EDTA. Saya sih ga ngerasa produk ini berbau khusus dan memang tidak ada parfum pada komposisinya. Produk ini juga mengclaim mengandung perlindungan UVA dan UVB, namun sayang tidak ada informasi berapa SPFnya.

Swatch di tangan. Saat baru dioleskan (kiri) dan setelah selesai ngelenong (di kanan)

Namanya juga produk baru dicoba, tap sedikit langsung keluar banyak. Netto produk ini sama dengan cushion pada umumnya yaitu 15 gram. Sebagai perbandingan, biasanya full size foundation biasanya memiliki volume 30 ml. Jika kita asumsikan massa jenis foundation dan air sama, berarti cushion mengandung setengah produk saja jika dibandingkan foundation biasa.

emina cushion caramel
Sebelum - sesudah applikasi cushion - setelah ditambah lipstik dan cream blush biar lebih berwarna

Applikasi & Coverage

Saat diaplikasikan, ada sensasi basah karena produk namun tidak lengket dan dengan cepat mengering seiring diratakan dengan cushion bawaannya. Untuk satu wajah saya gunakan sekitar 3 kali tap produk. Setelah itu saya tambahkan Emina Cheeklit Cream Blush shade baru yaitu Nudie Brown. Dan mungkin karena solidaritas produk emina, warna nudie brown nya jadi keluar banget, padahal sebelumnya menurut saya warnanya suka ga keluar dan ga bagus di kulit tempe bacem buat saya. Untuk coverage nya menurut saya light to medium, dia bisa menutupi kemerahan yang ada di sekitar hidung saya serta menyamarkan kantung mata walaupun saya tidak secara khusus menepuk daerah bawah mata.

cushion emina review
Detail perbedaan pada area bermasalah

Shade

Shade yang saya pilih sudah paling tua, namun saya tetap merasa keputihan. Apakabar adik saya yang lebih item dari saya. Hihihi. Sebagai referensi, warna foundation Maybelline Fit Me saya adalah 220 (sebelum oxidized).  Walaupun lama-lama warnanya mereda dan ga bikin pektay di saya. 

Ketahanan

Nah, sayangnya tadi saya lupa foto setelah dipakai beberapa jam gimana. Saya pakai jam 11 pagi. Sore hari jam 5 setelah sudah ditimpa wudhu 2x sih, rasanya udah nyisa dikit banget.

Overall? I love it. Because it's not cheap. Walaupun aku mah emang ga pernah nyoba produk high end sih jadi standarnya ga tinggi-tinggi amat. Hihihii... worth to try lah... Repurchase? Kayanya ngga, produk lokal mulai banyak yang ngeluarin cushion, mungkin selanjutnya mau coba cushionnya Rollover Reaction yang di rave banyak orang. 



Minggu, 17 Maret 2019

Staycation Bersama Keluarga di Hotel Padma Bandung

review hotel padma

#sobatmisqin bisa nginep di Padma?

DISCLAIMER: Non Sponsored Post, Review murni pendapat dan pengalaman pribadi

Awal Desember 2018 lalu, saya dan keluarga kecil saya berkesempatan untuk menginap di hotel yang dari dulu suka bikin jiper karena harganya, Hotel Padma Bandung. If you know me, then you'd know kalo saya anaknya modis banget. Modal Diskon.

Akhir tahun memang identik dengan diskon di sana sini. Ya baju, ya perlengkapan rumah, dan tentunya komoditas kesukaan millenial yaitu traveling juga ikut menebar promo. Masih ingat ga di WAG (Whatsapp Group) pada heboh booking tiket ke KL cuma 30 ribuan aja PP pake full board airlines? Nah aku salah satu yang ketinggalan dan ga kedapetan promo harga gledek dari tiket.com ini... Hiks.. 

BACA JUGA: Sudah ke New York tapi Belum ke Mekkah

Ya sudahlah, lagipula salah satu resolusi keuangan keluargaku adalah, no more impulsive traveling because of discount ticket. Karena yang impulsif gitu tuh yang biasanya bikin bocor keuangan. Pengalaman ke Amerika bermodal tiket diskon memang berbekas sekali di kami, karena setelah jalan-jalan, setahun ke depannya kami berhemat. Ingat, everyone looks better on instagram, try read their blog... curcolnya di situ. Hihihi.

Oh iya, bagi yang lebih suka liat review singkat bisa lihat di instastory saya. 

Saya akhirnya merelakan ga hunting promo tiket, alih-alih saya cari penginapan untuk acara reuni angkatan kuliah di Bandung. Eh tau-tau di suggestion paling atas hasil pencaharian muncul lah trans luxury hotel dan hotel padma. Saya ngga terlalu tertarik sama trans karena lokasinya. Tapi Padma, saya punya history tersendiri. Dulu suami saya pernah acara kantor dengan client (BUMN besar) di hotel Padma tapi hanya meetingnya aja, nginepnya di hotel lain karena harga tidak masuk di budget harian baik perusahaan suami maupun client. Hihihi. Ini yang buat saya jadi jiper kalo dengar padma, ahhh pasti mahal. 

(Iye iye, terus dapet berapa cum?)

Dari harga gledek tiket.com, kamar paling murah di Padma dari harga 2,5 juta dibanderol 1,2 juta per malam. Di tanggal dan kamar yang sama, di Traveloka harganya 1,7 juta. 

Sudah nemu harga segitu pun, #sobatmisqin tetap sibuk mencari review hotel ini untuk memastikan worth it atau engganya. Setelah baca blog sana sini dan review di google, akhirnya saya book 1 malam di padma. Itupun setelah selesai acara reunian, jadi saya berencana untuk staycation dan ga keluar dari padma supaya bisa menikmati fasilitasnya secara maksimal (read: ga mau rugi). 

Waktu check in hotel ini sebenarnya jam 3 sore dan check out jam 12 siang. Namun #timantirugi menelpon ke hotel dan bertanya apakah bisa early check in dan menunggu sembari menikmati fasilitas yang ada di hotel? Jawabannya bisa, nanti akan masuk ke daftar prioritas, saat ada kamar yang ready bisa segera masuk. 

Datanglah kami pukul 12 kurang. Kesan pertama datang sih tipe hotelnya bukan yang wah gimana gitu ya walaupun bintang 5. Cukup homy. Kami langsung disambut dan diarahkan ke front office. Tak lupa welcome drink disajikan beserta tisu basah berbentuk tablet yang lucu namun tak kupakai. Kami dimasukkan ke urgent list dan meninggalkan nomor HP agar pihak hotel bisa menghubungi saat kamar sudah siap. Setelah itu kami langsung ngibrit liat fasilitas yang ada. 

Lobby hotel ini terletak di lantai 1 sedangkan kolam renang ada di lantai 5, dan tempat bermain outdoor ada di lantai 8. Uniknya, liftnya turun ke bawah untuk mencapai lantai yang nomornya lebih tinggi. 

Setelah sampai di lantai 8, ternyata kids playground, area petting zoo dan lain-lain masih ada di bawah lagi dan harus ditempuh dengan tangga. Sedang asyik-asyik bermain ayunan, eh pihak hotel menelpon untuk mengabari bahwa kamar sudah siap. Wah ternyata tidak sampai 15 menit dari kami datang loh. 

Saya baru ingat bahwa saya kamar yang saya pesan adalah twin (duhh namanya juga book yang paling murah sambil ngarep pas di hotel bisa diganti atau diupgrade gitu *ngelunjak). Namun tidak bisa tapi bisa dibantu agar kasurnya didempetkan. Sesampainya di kamar, ternyata kasur dengan mudah bisa didempetkan sendiri tanpa bantuan dan ternyata kalau disatukan jatuhnya malah lebih luas daripada kasur ukuran King justru malah enak untuk saya dan 2 krucil yang tidurnya lasak ini.



Kamarnya sendiri menurut saya sih tidak wah (mengingat ini bintang 5), lumayan luas, amenitiesnya memang lengkap, dari setrika dan papannya, sampai pembuat kopi yang pakai kapsul. Kamar mandi kamar yang saya tempati memakai shower dan tanpa bath tub. Ada balkon dan kursi di luar untuk menikmati pemandangan yang menghadap ke kolam renang.


Setelah golar-goler sebentar di kasur dan sholat, kami bersiap-siap untuk pergi berenang. Saya yang selama ini biasanya nunggu di pinggir aja kalau suami dan anak-anak berenang, kali ini pun ikut nyebur. Keliatan kan ga mau ruginya.

Eits, yang ga mau rugi ternyata bukan saya sendiri. Saat sedang duduk di pinggir kolam, ternyata yang di samping saya belum kebagian kamar untuk check in tapi sudah nyebur ke kolam renang. Iyaa, memang sah sah saja menikmati fasilitas yang ada asalkan sudah pesan. 

Terdapat 3 kolam yang berbeda di area kolam renang. Satu kolam yang besar dengan kedalaman mulai dari 1 meter, kolam anak-anak yang dilengkapi dengan air mancur dan keranjang basket. Kedua kolam ini heated pool, airnya pas, tidak membuat menggigil layaknya air di Lembang, tapi juga tidak panas. Tak lupa ada satu kolam lagi, jacuzzi dengan air bersuhu 39 derajat. Berbagai macam ban disediakan oleh pihak hotel, mulai dari ban leher untuk bayi, ban anak-anak, sampai ban besar.



Selesai berenang, kami bergegas pergi ke Restaurant di lantai 1 untuk menikmati Afternoon Tea yang tentu saja gratis. Waktunya hanya dari jam 15.30 sampai dengan 16.30. Makanan yang disajikan adalah snack-snack dan minuman tradisional seperti wedang jahe, sekoteng, dan lain-lain. Cocok banget kalau orang asing stay di sini, tetap dapat exposure lokal yang kental. Favorit saya adalah Pisang Goreng tentunya. Enak bangetttt..



Sehabis menyantap snack sore, kami pergi ke playground di bawah yang sebelumnya belum sempat kami nikmati. Sayang waktunya mepet, ternyata wahana-wahana binatang tutup pukul 5 sore. Jadinya hanya sempat kasih makan kelinci dan main-main sebentar di kandang burung. Yowisss, besok lagi deh. Rasanya capek juga badan aktivitas tanpa henti walau setengah hari di hotel saja, hihihi. *jompo detected.


Untuk makan malam, kami memesan dari bebek goreng Ali borromeus via Grabfood. Salah satu kelebihan Padma adalah letaknya yang masih dekat dengan pusat kota sehingga masih memungkinkan jika kita ingin memesan aneka ragam kuliner bandung yang terkenal. Sebenarnya sih menu steak yang dimasak live tiap malam hari di restoran Padma cukup menarik, harganya saja yang tidak. Hehehe. Menu-menu Indonesia juga tersedia dengan harga 200ribu ++.

Keesokan paginya, cepat-cepat kami bergegas sarapan jam 7 pagi sebelum mandi. Agar dapat tempat di pinggir saat sarapan sehingga bisa menikmati pemandangan yang ada. Dari atas restoran dapat dilihat beberapa orang sedang menunggu kelas yoga yang dimulai jam 7 pagi. Beberapa orang dewasa dan anak-anak juga sudah nyebur ke kolam renang.


Sarapan di Padma cukup lengkap. Mulai dari menu Indonesia sampai Barat. Semua yang disajikan halal, namun jika ingin bacon pun bisa request. Minumannya bermacam-macam, susu, teh berbagai rasa dan aroma, kopi, sampai jus yang lebih cenderung disebut puree (bisa banget buat yang MPASI karena tidak ada gula tambahan). Pastrynya pun lengkap, rekomendasi saya, Croissant Coklatnya. SEDAPPPP. Jangan lupa bawa tas atau kantong atau tempat makan, untuk bawa beberapa makanan kecil, lumayan untuk snack anak-anak. Saya bahkan membawa semangkok bubur dan 2 gelas puree kembali ke kamar dan diperbolehkan.


Selagi sarapan, ada staff khusus yang berkeliling untuk menanyakan kabar kita dan kira-kira kegiatan apa yang bisa dia rekomendasikan untuk kita. Satu-satu, semua pasti disapa. Jangan merasa aneh karena semua karyawan Padma sangat ramah dan suka menyapa. Mereka juga suka bertanya dari kamar berapa (mungkin ini kalo kita sebenarnya ga nginep disana tapi cuma numpang main, jadinya berasa guilty). Mereka juga dengan senang hati menawarkan mengambilkan foto dan mengingatkan untuk tidak lupa memberikan review hotel di TripAdvisor karena berhadiah voucher 1 malam gratis dan upload Instagram. Tapi saya ga ikutan, review ini saya tulis murni karena terkesan dan butuh bahan tulisan.

Selepas sarapan, kami mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke Adventure Park di bawah. Berbekal kertas kecil berisikan jadwal kegiatan hari itu yang diselipkan di kunci kamar, dengan niat teguh kami memanfaatkan fasilitas yang ada. Sayangnya kertas tidak saya foto, jadi tidak bisa dimasukkan kesini. Padahal penting banget loh supaya maksimal pemanfaatan fasilitas yang adanya. Hehehehe


Ada banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan bagi setiap orang. There's always an activity for everyone. Baik berkeluarga atau belum, baik punya anak atau belum, baik muda ataupun tua.

Bagi anak-anak, bisa menikmati berbagai macam kegiatan seperti melukis tembikar, fun tattoo, mewarnai layang-layang, sampai nail art. Semua kegiatan berbeda setiap harinya, didesain agar tidak bosan jika anda menginap 2 malam. Sedangkan yang ada setiap hari tentu saja feeding zoo yang terdiri dari kelinci, burung, ikan, dan kambing. Tenang saja, semua makanan untuk binatang sudah disediakan gratis dan sepuasnya.





Bagi remaja dan orang dewasa, bisa bermain permainan outbond seperti flying fox, tali gantung, memanah,  bahkan hiking dengan trail khusus disertai pemandu.

Saya sebelum flying fox. Suami kebagian jagain anak-anak :p

Gantian


Fasilitas playground juga lengkap, ada labirin setinggi pinggang orang dewasa, replika kapal laut dilengkapi dengan pelosotan, mini golf, dan fasilitas playground umumnya.

Playground

Labirin menuju dan dari tempat kelinci

Tempat bermain dari atas


Sepertinya belum habis menikmati fasilitas yang ada, tapi sudah lelah dan tepar serta jam sudah menunjukkan waktu jam 11. Kami berpeluh dan perlu mandi lagi! Waktu checkout adalah jam 12, untungnya bisa request untuk checkout jam 1 tanpa tambahan biaya.

Berfoto di Lobi Padma sebelum pulang
Sekarang sudah tidak penasaran lagi dan pantaslah memang banyak yang merekomendasikan hotel ini untuk staycation karena memang yang dijual itu experiencenya.

After all, we have a really pleasant stay in Padma Bandung. 

Minggu, 03 Maret 2019

Review: Pixy Dewy Cushion Medium Beige

review pixy dewy cushion


Siapa sih yang ga tau produk yang satu ini? At least kalo beauty enthusiast juga kaya saya pasti pernah dengar produk ini.

Trend cushion dan kepraktisannya memang sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Asalnya tidak lain dari Korea Selatan. Brand-brand barat pun juga ikutan memproduksi cushion ini. Dulu saya tidak langsung ikut mencoba trend bb cushion ini karena pilihan shade dari merk korea biasanya terlalu putih di kulit saya yang sawo matang. Akhirnya dulu berbekal tutorial di youtube, saya coba buat sendiri.

BACA JUGA: DIY BB Cushion

Tidak mau ketinggalan, brand lokal pun mulai memproduksi bb cushion juga. Yang paling pertama merilis sih mineral botanica, diikuti dengan mizzu, lalu wardah, pixy dan emina. Sebenarnya sih pixy ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan lokal, karena berada di bawah Mandom (perusahaan asal Jepang). Namun harga-harga produk pixy memang bersahabat sehingga sering diidentikan dan dimasukkan ke kategori produk lokal.

Pixy merilis cushionnya dalam rangkaian produk Make It Glow series yang terdiri dari compact powder, primer, serta cushion pada September 2018 yang lalu. Semenjak itu pula saya telah memasukkan cushion Pixy yang bertabur banyak review bagus ini ke dalam keranjang saya di marketplace yang sering saya gunakan. Baru pada Februari 2019 yang lalu, saya akhirnya men-checkout karena harganya lagi promo menjadi 89 ribu saja dan gratis biaya pengiriman. Hehehehe.

Harga Resmi: 125.000 namun sudah banyak yang menjual 15-20% di bawah harga resmi di marketplace. Sedangkan refillnya dibanderol 90.000. Refillnya bisa digunakan di cushion case merk lain jika kebetulan sudah habis.


Pilihan shade: (dari kiri ke kanan) 101 Light Beige, 102 Natural Beige, 301 Medium Beige 

Saya memilih warna tergelap 301 Medium Beige yang warm undertone. Sebagai referensi pembanding, biasanya saya memakai Maybelline Fit Me Matte + Poreless shade 220 Natural Beige.

Keterangan Produk:
BB cream atau liquid foundation yang disimpan dalam sponge khusus. Daya tutup yang tinggi sehingga dapat menutup kekurangan di wajah seperti noda hitam dan bekas jerawat dengan sangat baik. Mengandung Botanical Extract seperti Olive Oil, Jojoba Oil dan Yuzu extract yang membantu menutrisi kulit dari dalam, sehingga membuat wajah nampak sehat bercahaya. Mengandung SPF 23 & PA++.



Claim oleh Produk:
Coverage 4/5
Glowy Finish 5/5

review pixy dewy cushion

Sesungguhnya claim high coverage dan glowy finish ini lah yang membuat saya ragu untuk membeli. Saya takut kalau high coverage, nanti jadinya dempul. Kulit wajah saya sendiri cenderung kering, jadi kata-kata dewy cukup menarik hati namun kalau nampak seperti ladang minyak kayanya ga ok. Tapi setelah menonton K-Drama untuk pertama kalinya setelah 15 tahun, saya jadi tertarik dengan glass skin look :p

BACA JUGA: Review Memories of the Alhambra

Elegant Brown Packaging


Setelah segel dibuka

review pixy dewy cushion
Swatch di tangan. Atas: saat baru di swatch, Bawah: setelah mengering warnanya menyatu

Bagaimana hasilnya di muka? Saya mencobanya setelah menggunakan skincare dan tanpa menggunakan primer terlebih dahulu.

Kiri: Bare Face, Kanan: Sesudah mengaplikasikan pixy dewy cushion

Di percobaan pertama, hyperpigmentasi di jidat tidak tertutup hanya lebih samar sedikit. Sepertinya saya pakai terlalu tipis. Di lain waktu, saya pun mencoba lagi. Sebenarnya sih hampir setiap keluar saya pakai karena cushion memang praktis dan hemat waktu. Tapi ga setiap kali sempat ambil foto sebelum dan sesudah di tempat dan cahaya yang sama. Hehehehe.

review pixy dewy cushion
Kiri-Kanan: Sebelum memakai apa-apa - Setelah applikasi pixy dewy cushion - Setelah selesai make up

Selama ini orang-orang suka bilang sekali tap bisa buat semua, tapi kok saya ngerasa perlu tap lembut beberapa kali ya untuk 1 muka. Atau saya yang nekannya terlalu lembut atau memang harus ditekan biar dapat banyak produk ya? 

Coveragenya memang lumayan, kemerahan di sekitar hidung bisa tertutupi. Namun bekas jerawat sedang mengering yang saya punya di dagu dan pipi sebelah kiri tidak sepenuhnya tertutup. Hyperpigmentasi di jidat juga masih terlihat. Di foto terakhir saya hanya menambahkan cheeklit blushnya emina pada complexion saya, hasil polesan cushionnya tidak menjadi bergeser dan rusak asalkan diberi jeda waktu pengaplikasian (pakai mascara dan eyeliner dulu contohnya). Saya juga tidak mengenakan powder apapun untuk mengeset make up.

Pada foto kedua, saya mengaplikasikan cushion sekitar jam 1 siang. Malam hari sekitar jam 9, sebelum membersihkan make up, saya menemani anak-anak video call dengan tantenya. Kata adik saya "pake skincare apaan kak? putihan". Padahal cuma belum hapus bekas make up tadi. Lumayan setelah 8 jam masih terlihat efeknya berarti ya.

OVERALL: 4/5 I like it!
Repurchase? Make up suka ga abis-abis, dan makin banyak merk-merk lain yang bikin penasaran untuk dicoba... Tapi mungkin kalau engga nemu yang lebih enak dengan harga terjangkau, kenapa ngga...



Minggu, 24 Februari 2019

Review: Hachi Grill, Lebih Enak dari Shabu Hachi?

hachi grill

Beberapa bulan ini, di Instastory saya berseliweran tempat makan baru namanya Hachi Grill. Dari nama dan font yang digunakan, nampaknya Hachi Grill masih bersaudara dengan Shabu Hachi, salah satu restoran favorit saya.


Benar saja, Hachi Grill masih satu grup dengan Shabu Hachi yang mengusung jaminan Halal MUI untuk semua makanan di Restorannya. CMIIW Shabu Hachi masih satu-satunya restoran shabu-shabu besar yang halal MUI.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu hobi dengan shabu-shabu, saya lebih suka grill/yakiniku nya, jadi tentu saja Hachi Grill cukup menggelitik rasa penasaran saya. Sebelum pulang ke Cirebon, kami sekeluarga menyempatkan untuk mencoba restoran ini terlebih dahulu.

hachi grill jakarta


Hachi Grill memiliki beberapa cabang di Jakarta dan BSD. Yang saya kunjungi adalah yang terletak di kawasan Gatot Subroto, tepatnya di Sythesis Tower. Gedung ini dapat dikenali dengan mudah karena dia diselubungi oleh tanaman rambat di depannya.

Tempat Hachi Grill Gatot Subroto ini terbatas dan tidak seluas Shabu Hachi Bogor. Di bagian depan restauran ada tempat tunggu dengan banyak tempat duduk. Ruangan bermain anak dan menyusui tidak ada, sedangkan toilet dan mushola tidak tersedia secara khusus kecuali yang telah disediakan oleh Synthesis Tower sehingga ada di bagian luar restoran.

Berbeda dengan di Shabu Hachi dimana default harga yang tertera adalah untuk shabu-shabu (dan menambah jika ingin membuka panggangan untuk yakiniku), di Hachi Grill kita bisa menentukan mau shabu-shabu saja, yakiniku saja, atau keduanya. Harga weekday dan weekend berbeda, dan tentu saja lebih murah harga weekday. Harga yakiniku only mulai dari 178ribu, shabu-shabu only mulai dari 158ribu, sedangkan keduanya yang ingin keduanya mulai dari 198ribu.  Tersedia harga khusus untuk grup (10 orang ke atas), anak-anak (4 tahun ke atas) dan senior citizen.

harga hachi grill

Saya dan suami memilih paket yang "Yakiniku Only" lalu diupgrade pula ke prime. Tentu saja yang suami saya yang pilih untuk upgrade, dan diiringi dengan tatapan tajam istrinya.

Pada menu yakiniku only jika ingin diupgrade dari reguler ke prime, per orang menambah 100 ribu, sedangkan pada menu shabu-shabu hanya 50 ribu. Kenapa berbeda? Daging yang digunakan di shabu-shabu hanya 1 jenis, yaitu daging slice tipis, sedangkan pada yakiniku, berbeda-beda. Untuk yakiniku prime ada 5 pilihan bagian daging, sedangkan pada paket supreme ada 12 pilihan jenis daging.

Oh iya, untuk kuah shabu-shabu di hachi grill pilihannya hanya ada 4 yaitu Collagen Soup, Tori Dashi, Shoyu Dashi, dan Tom Yum. Kalau tidak salah di Shabu Hachi ada 6.

menu yakiniku hachi grill

Prime Package terdiri dari 5 jenis daging yaitu Hone Tsuki Karubi (iga), Baraniku (short blade/perut bawah), Umami Hireshita (sirloin), Hon Misuji (top blade/punggung) serta Gyu Tan Thin (lidah). Sedangkan pada Supreme Package terdapat 6 jenis tambahan lainnya seperti Karubi Wagyu, Saikoro Wagyu, Umami Rib Shin, Umami Hire, Gyu Tan Thick, dan US Scallop.

hachi grill
Om Nom Nom

Di Hachi Grill, kita juga bisa memilih jenis grill plate yang digunakan. Pilihannya antara Iron Plate Grill (di Shabu Hachi hanya ada yang ini) serta Super Net Grill (seperti yang ada di gambar atas.

prasmanan di hachi grill

Jika di shabu hachi, prasmanannya hanya ada untuk isian shabu-shabu, lain halnya dengan hachi grill. Disini ada 2 prasmanan besar. Yang pertama isinya segala jenis daging reguler untuk yakiniku. Semua bagian daging yang ada di paket prime juga ada disini. Sepertinya beda lokal atau impor saja. Kebetulan kemarin saya mencoba bagian sirloin reguler dan prime silih berganti. Heuuu.. Saya menyesal sudah upgrade ke prime! Karena saya jadi tahu bahwa daging yang prime tuh memang jauh lebih enak. Hiksss... Nanti kalau standar lidahnya naik, kan gawat di kantong 😣😋

prasmanan di hachi grill

Yang kedua tentu saja prasmanan untuk isian shabu-shabu, mulai dari sayur-sayuran, udang sampai dengan bakso. Untuk daging shabu-shabunya setiap refill harus request ke pramusaji. Sama seperti yakiniku, plate yang bawahnya hitam reguler, putih prime, merah supreme. *Ngeh, soalnya bule di sebrang meja saya platenya warna merah :p*

hachi grill synthesis
Berbagai jenis saus untuk Shabu-Shabu dan Yakiniku

menu hachi grill

Menu lain hampir sama dengan shabu hachi, mengingat kita lagi di Indonesia dimana masih banyak yang menganut "ga makan nasi berarti belum makan", disini tersedia mulai dari nasi putih sampai kabocha (labu parang) yang bisa dikonsumsi bayi MPASI. Hehehehe...

menu hachi grill jakarta

Tidak lupa aneka jenis minuman dingin dan hangat (ocha, infused water, thai tea sampai berbagai jenis minuman nestle) serta pudding, buah-buahan segar hingga rujak. 

hachi grill synthesis

Di bagian makanan pencuci mulut, ada es krim dengan 4-5 rasa berbeda (sayang waktu saya kesana tidak ada rasa cokelat, itu kan rasa wajib). Tapi di sampingnya malah ada mesin frozen yoghurt dengan banyak pilihan topping.. Heuuuu, saya langsung lemah. Auto cheating nih, resmi ga low carb lagi abis dari sini. 

hachi grill
My favorite counter: FROYO!

menu hachi grill
Frozen Yoghurt, cobain topping bubble enak banget, meletus-letus gitu

Walaupun lebih baru, dari segi makanan, hachi grill merupakan "upgrade" dari shabu hachi. Makanan yang tersedia lebih banyak macamnya. 

Saat kami kesana, restoran saat itu tidak terlalu penuh di hari kerja. Mungkin karena itu, pramusajinya bahkan bisa sempat memanggangkan daging-daging yang kita pilih jadi kita tinggal makan saja. Selain itu semuanya ramah-ramah walaupun ada 2 anak kecil spesial yang ikut dengan saya dan hobinya jatuhin makanan. 

Ya Allah, semoga mereka tidak masuk blacklist restoran-restoran di Indonesia

OVERALL, saya dan suami suka Hachi Grill! Memang sedap. Tapi ya ga bisa sering-sering makan di sini karena lumayan yaa harganya (bagi kami) dan selama 2 bocil di atas masih free hahahaha. Tapi untuk family experience, masih belum ada restoran yang mengalahkan Shabu Hachi Bogor.

Minggu, 17 Februari 2019

Review Buku: Buku Anak oleh Maurice Pledger

review buku maurice pledger

Semenjak punya anak, saya punya hobi baru yaitu beli buku anak-anak. Apalagi sekarang makin sering pameran buku impor (read: Big Bad Wolf dan semacamnya) di Indonesia, buku anak impor menjadi lebih murah dan terjangkau. Bukan berarti buku lokal tidak bagus ya.


Kali ini saya akan mengulas 3 judul buku anak yang ditulis oleh Maurice Pledger. Bagi ibu-ibu yang sering ikutan grup jastip (jasa titip) bbw pasti familiar dengan buku-buku seperti Sounds of the Wild (SOTW) dan Seashore yang sering jadi rebutan. SOTW dan Seashore ini cenderung seperti ensiklopedia, saya punya 1 buku sejenis ensiklopedia oleh Maurice Pledger juga judulnya Explore Bugs. 


bugs maurice pledger

Ketiga buku ini bentuknya boardbook dengan jumlah 16 halaman jadi cenderung aman dari robekan, kecuali di halaman terakhir ada halaman tambahan yang menggunakan art paper tebal serta bagian lift the flap. Di setiap cover terdapat touch and feel sedangkan pada bagian dalam terdapat lift the flap setiap 2-4 halaman.

1. Ping-Ping Panda's Bamboo Journey


ping ping panda's bamboo journey

Isi ceritanya adalah tentang Ping-Ping si bayi panda yang kelaparan dan mencari bambu untuk di makan. Ping-ping ditemani oleh teman-temannya yang ia temui di jalan dalam mencari pohon bambu. Dari buku ini saya belajar bahwa red panda itu tidak sama dengan racoon dan mengenal hummingbird dan kingfisher. Iyah, saya ikutan belajar sama anak saya. Dulu perbendaharaan burung, cuma tau elang, kakaktua, gagak, gereja, merpati, sekarang makin banyak.

ping ping panda's bamboo journey

 2. Daisy Duckling's Adventure


daisy duckling's adventure

Buku ini menceritakan tentang anak bebek yang baru saja menetas dan mencari saudara-saudaranya. Dia bertemu dengan binatang-binatang lain yang juga baru menetas dari telur. Dari buku ini saya baru tau kalo cygnet artinya anak angsa!

daisy duckling's adventure

 3. Billy Bunny and the Butterflies


billy bunny maurice pledger

Yang terakhir berisi tentang Billy si Kelinci yang penasaran seperti apa rupa kupu-kupu. Saya belajar berbagai macam hewan pengerat dan jenis bunga.


Sebenarnya ketiga buku ini pola ceritanya sama, mencari sesuatu dan bertemu dengan binatang yang lain. Hanya apa yang dicari dan binatangnya saja yang berbeda. Binatang yang ada di buku Ping-Ping Panda contohnya ada red panda, hummingbird, kingfisher, mole, dan lain-lain yang jujur kadang saya bingung bahasa Indonesianya apa yaaa... Jadi saya ikut belajar dan mencari tau agar bisa menerangkan binatang tersebut ke anak.

Selain ketiga buku ini, ada seri serupa oleh Maurice Pledger judulnya Bobby Bear and the Honeybees serta Dottie Dolphin Plays Hide and Seek. Saat post ini ditulis, bukunya baru saja saya pesan ke teman di Malaysia, hehehe. Saya sendiri memang suka mengkoleksi buku anak, jadi walaupun setipe tetap saya beli.

Setelah sering membaca buku anak, ada satu yang saya sadari pada buku anak luar negeri. Yaitu biasanya huruf depan nama tokoh binatang akan sama dengan binatang itu, contohnya: Ping Ping Panda, Daisy Duckling, Billy Bunny. Mungkin kalau saya bikin cerita binatang nanti namanya Bambang Badak, Jojon Jerapah, dan Gigin Gajah kali ya, hehehehe

Rekomendasi umur di belakang buku ini sendiri sebenarnya 3 tahun ke atas, tapi anak saya Caca (10 bulan) dan Ammar (2.5 tahun) sangat suka dibacakan buku ini. Jadi menurut saya sepertinya dari 1 tahun pun tidak apa asal dengan pendampingan.

Jadi tertarik untuk menambahkan karya Maurice Pledger ke wishlist BBW kamu?