Kamis, 20 Juli 2017

I am now a Stay At Home Mom :)

Heuuuu... Saya ga ngepost bulan juni kemarin, utang dehhhh.... Banyak banget draft tapi ngga selesai-selesai.

23 Juni 2017 adalah hari terakhir saya bekerja sebagai pegawai kantoran untuk menjadi ibu rumah tangga, atau sekarang kerennya disebut SAHM (Stay At Home Mom). Keputusan yang sebenarnya saya sudah rencanakan setelah melahirkan 11 bulan yang lalu. 

Ada link bagus yang saya baca tentang stay at home mom masa kini. First paragraphnya seperti ini:

In my pre-kid life, I never imagined that someday I'd be a stay-at-home mom—hey, I didn't go to grad school to spend my days changing diapers. But when I held my first baby, Mathilda, I had a complete change of heart. As soon as we locked eyes, all those career and financial worries faded. They didn't disappear, but they certainly became secondary.

Heuuuu.. Bener bangett... Mana pernah kepikiran sih kalau suatu saat akan jadi ibu rumah tangga. Kayanya kok kurang bonafit gitu, lebih keren kalau kerja di kantor yang gedungnya bagus pakai baju rapih. Sekarang mah semenjak tau rasanya jadi ibu, boro-boroo... (Sumpah, inget banget, dulu semua orang ngetawain adik saya (shofiyya) waktu pas masih kecil dia bilang cita-citanya jadi Ibu Rumah Tangga). Berat banget melangkah kerja, meninggalkan si anak dengan orang lain (kalau saya masih Alhamdulillah, dipegang neneknya sendiri), melewatkan momen-momen lucunya si kecil, tidak menjadi saksi milestone-milestone yang berhasil anak kita lewati dan masih banyak lagi.

Tentunya setiap ibu memiliki pertimbangannya masing-masing saat memutuskan ingin menjadi Stay-At-Home-Mom atau Working Mom. Semua adalah pilihan hidup setiap individu dimana tidak bijak tampaknya jika harus dinilai mana yang benar dan mana yang salah karena toh segala konsekuensi ditanggung sendiri bukan oleh yang berkomentar. Di samping itu kondisi dan lingkungan setiap orang berbeda. Kalau boleh saya menjabarkan alasan saya memutuskan menjadi SAHM adalah sebagai berikut:

  1. Agar tidak long distance. Sesungguhnya yang tau kejelasan pekerjaan suami saya hanyalah Allah. Soalnya kadang doi ditanya rencananya dalam sebulan ke depan gimana aja, dia juga ga bisa jawab. Bisa aja besok disuruh ke field, bisa aja meeting disini, harus troubleshooting disana, ngatur ini, ngatur itu, bla bla bla. Jadwal suami yang bertugas 2 minggu di Cirebon 2 minggu di Balikpapan, membuat kita cuma ketemu di weekend pada saat suami mau ke Balikpapan. Walaupun kadang ada surprise visit karena tau-tau dia mesti meeting di Jakarta. Dengan kondisi saya yang masih bekerja, mengharuskan saya untuk tetap tinggal di Depok dan tidak dapat menemani suami di tempatnya bekerja. Supaya si kecil bisa ketemu ayahnya lebih sering sepertinya solusinya sudah jelas.
  2. Saya tidak menanggung beban ekonomi siapapun kecuali lipstik-lipstikku sayang :p Alhamdulillah. Sebenarnya ini bukan berarti saya mau berpangku tangan, ongkang-ongkang kaki aja gituu... Saya mulai memikirkan untuk freelance (kerja yang tidak mengikat dan bs dikerjakan dari rumah) dan usaha kecil-kecilan (saya jual barang beraneka ragam di tokopedia, shopee, dan instagram, dan sudah saya lakukan dari saya masih bekerja). Memiliki usaha sendiri itu "tidak aman", penghasilan tidak pasti dan tetap, tetapi dijalaninya lebih menyenangkan plus saya punya waktu lebih banyak bersama si kecil. Tanggungan pribadi saya tidak ada yang bersifat wajib dan naik-turunnya belum memberikan dampak yang signifikan terhadap yang lain. Di saat terakhir saya bekerja, usaha sampingan saya sudah mencapai omset lebih banyak dari gaji saya (omset sama keuntungan beda yaaa). Yaudah, Bismillah dehhh
  3. My mom has done enough. Semenjak memiliki anak, saya kembali melipir ke rumah orang tua mengingat kondisi suami saya yang selalu dinas dan saya yang bekerja. Ibu saya sebenarnya juga working from home woman, malah dia lebih sibuk dari saya karena beliau merangkap jadi asistennya ayah saya tetapi si nenek tidak tega kalau cucunya diurus oleh orang lain. Alhasil selama 8 bulan saya kembali bekerja, anak saya diurus oleh keluarga, sebagian besar sama Ibu saya, di back up sama adik saya yang sedang tidak lagi ada kelas, atau ada yang lagi libur. Alhamdulillah dari 8 bulan itu hanya 3x saya benar-benar tidak punya pilihan lain, sehingga akhirnya si kecil dijaga sama bibi yang suka gosok di rumah. Seiring waktu Ammar semakin besar (yaiyalah kalo ngga, gagal tumbuh dong), semakin lincah dan gerak kesana kemari, yang jagain pun makin capek dan jompo. Dan kalau dipikir-pikir ibu saya punya 9 anak, terus sekarang kena jaga cucu juga (walaupun, believe me, grandparents do it happily).
  4. I worked in a hostile environment. Well, not really the environment that I hate, but I had some conflicts with my superior in a point wherel he limit my horizon and stop me from expanding my knowledge. Akhirnya jadi mikir: gw ninggalin anak gw di rumah cuman untuk ke kerjaan yang gw ga enjoy jalaninnya karena bosnya nyebelin :( ini kaya lose-lose ga sih, masih mending deh ibu-ibu karir yang emang suka dan passion sama kerjaannya... Nah ini.. Hmmm..
  5. SAHM yang dulu beda dengan sekarang. Beruntungnya kita yang hidup di zaman internet dimana semua bisa dilakukan dengan mudah dan dari rumah. Malah banyak banget deh mompreneur sukses jaman sekarang who wins best of both worlds, career and family
  6. Golden Age won't happen twice. Seribu hari pertama kehidupan seorang anak (mulai dari dalam kandungan sampai dengan umur 2 tahun) adalah masa yang sangat penting. Bahkan menurut Sigmund Freud, golden age terjadi sampai anak berusia 5 tahun. Apa yang terjadi dan didapat anak saya pada masa-masa ini akan banyak berpengaruh ke masa depannya kelak. Anggaplah ini adalah investasi penting. 
  7. Biarkan ayah melakukan kewajibannya. dan saya sebagai istri senantiasa memberi dukungan. Sedih kalau sosok kedua orang tua absen at most of the time. 
  8. Ada buku menarik berjudul "Fitrah Based Education" dengan penulis Ust. Harry Santosa. Saya waktu itu hanya datang ke diskusi singkat buku tersebut dan rangkumannya (belum baca sendiri bukunya). Materi di dalamnya cukup eye-opener, dan membuat saya makin mantap untuk menjadi SAHM. Untuk yang mau rangkumannya, nanti bisa saya share via personal karena ini tulisan orang di fb bukan tulisan saya sendiri.
Beberapa waktu yang lalu saya juga pernah baca tentang "5 second rule" bukan tentang boleh atau ngganya makanan di makan setelah jatuh ke lantai ya. Tetapi bagaimana kita harus memutuskan sesuatu dalam 5 detik pertama, atau otak akan menggagalkan rencana kita dan mengisinya dengan keraguan-keraguan. Hehehehe

Memperbesar cakupan bisnis sampingan saya, karena setelah resign tentunya ini menjadi pengganti penghasilan utama saya.Karena saya ngga pakai sih 5 second rule dan terlalu banyak pertimbangan, alhasil it took me 8 months to finally resign (initial plan was right after the maternity leave :p). Sebelum resign pun bukannya tidak ada persiapan sama sekali, beberapa hal yang saya persiapkan sebelum resign:
  1. List kegiatan yang ingin saya lakukan. Salah satunya sih saya mau lebih rajin ngeblog gituuu... Karena biasanya masalah umum jadi SAHM itu adalah bosen. Ciyus bosen kalau ga ada kegiatan dan rutinitasnya cuma sama anak dan beberes rumah doang.
  2. Oh iya, selama bekerja, setiap akhir pekan, saya membiasakan diri untuk fully handle si kecil. Iyah capekk... Suwerr capekan jaga anak dibanding kerja, wkwkwkwk.... Betapa enaknya hidup saya yang punya adik perempuan banyak dan masih pada antusias bantu momong anak saya. Hehehehe... Tapi karena setelah resign saya akan lebih sering ikut suami saya tinggal di luar kota, mau tidak mau, saya harus strong dong...
  3. Mulai googling dan list kegiatan untuk bayi mengingat si kecil hampir menginjak usia 1 tahun dan lebih aktif. Saya mulai belajar apa itu sensory play, dan play play lainnya. 
Bagi yang lagi galau resign, selamat galau semoga segera diberi petunjuk terbaik olehNya. Satu yang pasti, jangan sampai nantinya menyalahkan pihak lain atas keputusan resign yang telah diambil.

First lunch date just the two of us :)

Senin, 08 Mei 2017

Bulan Pertama Menjadi Ibu

Tidah pernah terpikir sebelumnya, bahwa setelah melahirkan akan jauh lebih berat...


Beberapa hari sebelum melahirkan, saya sempat bilang seperti ini: "Duh, cepet dong kamu lahir..." (kebetulan lagi ngeluh sama badan yang tambah berat dan susah gerak) yang kemudian dibalas sama Ibu saya "nanti kalau udah lahir, pengennya masuk lagi.."

Saya itu, orangnya kurang baca detail tentang kehidupan setelah punya anak. Walaupun saya fully aware kalau teman-teman yang udah punya anak itu susah banget diajak ngumpul dengan alasan segambreng yang most of the time karena anak. Jadi saya tidak pernah terpikirkan bahwa hidup saya akan sejungkir balik itu.

Kelahiran Ammar maju 10 hari tapi sudah cukup bulan, mungkin Ammar mau ketemu Auntie Ilina dulu sebelum pergi sekolah S2 di Norwegia. Azi masih di lapangan, jadi tidak bisa menemani saya selama persalinan. Ayah dan Ibu saya pun sebenarnya sudah "request" untuk lahiran minggu depan saja, soalnya jadwal pekerjaan mereka padat sekali, bahkan sampai terlintas mau mengajak saya ikut menginap di hotel saja biar bisa dekat kalau ada apa-apa. 

Akhirnya walaupun pada saat lahiran Azi tidak mendampingi dan baru sampai rumah sakit sekitar 4 jam setelah saya melahirkan (Alhamdulillah masih di hari yang sama dan kebetulan lagi dinasnya ke Cirebon), Azi cuti 2 minggu penuh untuk membantu dan menemani saya merawat Ammar.

Selama 3 hari di Rumah Sakit sih enak, bayi sudah dimandikan, kita tau beres, baru hari kedua saya mulai ikut gantiin pospaknya juga (sesekali). Di Hermina, setiap Ibu yang baru melahirkan akan dibekali kursus singkat bagaimana cara memandikan dan mengurus bayi, pijat ASI, dan segala pengetahuan basic yang perlu diketahui. Saya memperhatikan dengan seksama. Sesampainya di rumah

Jeng jeng...

Semua yang dipelajari di kursus singkat sebelumnya buyar. Ibu saya pergi membantu pekerjaan Ayah saya selama 4 hari. Praktis tidak bisa membantu, adik-adik saya semua belum libur sekolah/kuliah. Jadi walaupun setelah melahirkan saya tinggal di rumah samping orang tua saya di Depok, tapi dari A-Z masa-masa awal itu saya tempuh bersama Azi saja berdua.

Pengalaman pertama memandikan bayi kamu pelajari dari video di youtube. Itupun masih super salah dan epic banget praktekinnya (pengen share video tapi sayanya ngga pakai kerudung). Tali pusar ikutan basah, anak direndem di bak bayi masih pakai pospak. Malu-maluin banget yaa.. Hehhehee

image source

Bye Proper Sleeping Time

Forget lazy weekend when you can wake up at 11 am or even 2 pm in the afternoon. Not gonna happen. Ohhh masa-masa indah dulu saat hanya berdua sama suami adalah ngulet-ngulet mager di tempat tidur pas weekend.

Pada bulan pertama, rasanya restless banget. Bayi harus diberi ASI setiap 2-3 jam sekali, walaupun bayinya tertidur pun harus dibangunkan, karena memang mereka lebih banyak tidur. Kalau dibiarkan bisa-bisa berat badannya tidak terkejar. Jam tidur bayi masih terbalik, malam jadi pagi, pagi jadi malam. Saat kita ingin dia terbangun untuk menyusu, dia malah tidur. Saat malam hari kita ingin tidur eh dia bangun.

Belum lagi, karena kapasitas pencernaannya yang masih kecil membuat frekuensi buang air dan besar si bayi jadi sangat sering. Terkadang saat lagi menyusu, langsung keluar jadi pup. Kita harus sigap segera mengganti popoknya karena jika dibiarkan lama-lama, kulit bayi yang masih sensitif, rentan akan ruam popok. Minimal 2-3x terbangun saat malam hari untuk menyusui. Saat itu saya masih belum bisa menyusui sambil tiduran, jadi otomatis saya duduk dan terjaga selama menyusui.

Di usia awal pula bayi sangat senang dipeluk, bagaimana tidak, dia terbiasa di dalam perut, hangat dan terlindungi. Suara jantung kita pun juga menenangkan dirinya. Tidak jarang Ammar tidur di dekapan saya. Ada saatnya saya benar-benar ingin buang air kecil tetapi Ammar masih nyenyak tertidur dalam dekapan dan tidak mau dilepas. Atau saya merasa sangat haus tapi tidak bisa bergerak karena sedang menyusui dan air minum jauh dari jangkauan dan masih banyak lagi. Belum lagi kalau anak sedang growth spurt (huff ini butuh post sendiri).

Sesungguhnya, sesungguhnya, walaupun anak sudah menangis dan kita perlu bantuan, pak suami masih bisa-bisanya tidur nyenyak. Doi baru bangun ketika saya bilang "tolongin dong". Kalau ngga mah... Zzzzzzzz


Ada beberapa link bagus tentang interpretasi tangisan bayi yang ternyata bersifat universal, namanya Dunstan Baby Talk. Bisa langsung ke websitenya ya kalau mau tau lebih lanjut. 

Me Time = Bath Time

Rasanya selama sebulan pertama semua yang kita lakukan pasti ada hubungannya dengan si bayi. Makan pun juga tujuannya untuk ngisi dada menghasilkan ASI untuk si anak. Kalaupun saya berseluncur di dunia maya biasanya saya lakukan saat sedang menyusui (jangan dicontoh ya ibu-ibu) itu juga yang dibaca seputar menyusui/bayi dan yang terkait, atau mencari barang-barang yang diperlukan untuk dibeli lewat online shop.

Kemana-mana saya pakai kerudung instan yang besar dan langsung masuk agar praktis dan bisa menutupi saat menyusui. Dandan, beuhhh ga sempat deh. Makanya ini jadi patokan saya untuk "tingkat kebaruan" seorang Ibu. Misalnya nih ada ibu-ibu berjejer, nah yang paling kucel itu pasti yang paling fresh melahirkan, hehehe.

Satu-satunya hal yang benar-benar saya lakukan untuk diri sendiri ya mandi. Wait, masa-masa awal dulu saya harus mandi dengan air hangat. Why? Soalnya sekalian ngompres dada supaya ngga ada grinjel-grinjelannya. Iyap, ujung-ujungnya ada hubungannya lagi sama si kecil. Sudah tidak ada kepemilikan lagi pada tubuh ini. 

Some shapes are changing

I think the meme described itself best.
Image source

and No, Breastfeeding ain't as easy as it look in the TV Commercial.

Bahasan tentang breastfeeding perlu post sendiri karena penuh dengan perjalanan paling abstrak dan menakjubkan selama hidup saya. Love and hate relationship gitu deh

Duh, padahal perasaan banyak yang mau ditulisin disini. Secara saya ngerasa punya anak itu bener-bener game changer, life changing experience, near death experience, etc hahahhaa rada lebay ya. Nanti diupdate lagi deh kapan-kapan kalau mood.

It's not easy, but worth every second of it!







Senin, 10 April 2017

Memilih Baby Gear yang tepat untuk Traveling

Hola!

Tumben banget malam ini saya belum ketiduran setelah Ammar tidur. Biasanya saya ikutan ketiduran pas Ammar tidur sambil mimik 😏

Masih terkait sama pengalaman trip kemarin, saya mau sharing tentang pemakaian baby carrier dan stroller saat traveling. Berdasarkan pendapat sotoy saya, berikut beberapa poin yang penting menjadi pertimbangan dalam memilih moda angkut anak kita:

1.     Usia dan Kondisi Fisik Anak

Jalan-jalan dengan newborn, di atas 6 bulan, di bawah 2 tahun, balita, dll, pasti semuanya berbeda dan memiliki tantangan tersendiri. Kalau newborn, mungkin masih harus lebih hati-hati dan rentan. Di atas 6 bulan, sudah MPASI dan lebih banyak berkegiatan. Toddler yang sudah bisa lari kesana kemari lain lagi ceritanya. Oleh karena itu, usia menjadi salah satu faktor penting dalam merencanakan perjalanan. Beberapa pertanyaan yang harus dijawab:
·        Apakah kita masih mampu untuk menggendongnya dalam waktu lama?
·        Apakah anak terbiasa ditaruh di stroller?
·        Sudah banyak dan lincahkah pergerakan dia?
Kebetulan di perjalanan lalu, Ammar berumur 7 bulan dan ada di fase belajar merangkak. Ammar bukanlah bayi roti sobek, jadi waktu 7 bulan itu beratnya masih 7 kg. Dia terbiasa ditaruh di stroller terutama kalau strollernya jalan terus. Bahkan doi lebih suka liat jalan dibandingkan liat orang tuanya yang dorong (percuma deh nak, beli stroller yang parent facing). Saat itu pun si Ammar masih pada fase belajar merangkak yang masih 11-12 sama kodok. Dengan pertimbangan itulah akhirnya saya bawa stroller dan baby carrier juga. Stroller yang saya gunakan Peg Perego Si Switch sedangkan Baby CarriernyaErgobaby 360 (versi KW).


2.      Waktu/Musim saat Traveling

Eits, yang di atas itu tidak cukup. Sebagai mahluk tropis yang sebelumnya belum pernah merasakan snow fall sebelumnya, pengalaman trip ke US kemarin di awal Maret membuat saya cukup jera. Dengan asumsi sudah akhir winter, saya pikir sih cincai lahh ya ngga usah beli stroller foot muff (sayang kalau cuma sekali dipakai) modal selimut tebel aja lah nanti.
Saya salah besar saudara-saudara. Ternyata global warming cukup berdampak dalam menggeser waktu pergantian musim. Iyapp, walaupun akhir winter harusnya sudah mulai hangat, saya malah ngerasain badai salju yang sampai membuat sekolah-sekolah di New York City dan West Coast pada umumnya tutup. Di hari-hari lainnya, suhu minus dengan angin yang super ga santai.

Apa kabar stroller? Selain di airport, ngga kepakai, Ammar lebih nyaman di pelukan saya dengan baby carrier. Di saat yang dingin sekali (suhu yang tidak nyaman) ternyata anak saya malah masuk mode hibernasi, jadi dia tidur, sambil mimik. Apakah ada yang punya pengalaman juga mengenai ini? 
Alhasil saya kemana-mana dengan carrier dengan Ammar yang tidur sambal mimik sampai terlepas sendiri. Sepertinya dia mendapat kehangatan dari posisi itu. Sayanya juga pun diuntungkan karena jadi lebih hangat juga. Setiap kali kita memasuki ruangan museum atau indoor lainnya yang lebih hangat, Ammar langsung bangun, tapi pas kita keluar ruangan dan disambut angin dingin, doi langsung tidur lagi.

 

3.     Kondisi Tujuan

Ini juga penting banget dan menurut saya NYC itu ngga stroller friendly. Bisa baca juga pendapat native newyorker ttg stroller disini. Walaupun setiap saya kemana-mana, hampir semua ibu-ibu membawa anaknya di stroller, namun sepertinya akan lebih ribet untuk bawa stroller saat naik-turun bis dan subway karena aksesnya banyak juga yang tidak ada lift. Selain itu tipe stroller yang mereka gunakan Jogger Stroller yang ban belakangnya besar-besar untuk menerjang salju kali yaaa…Kalau udah punya keluarga kayanya bakal lebih milih tinggal di suburb atau ke new jersey sih kayanya and mostly sih jarang pake kendaraan umum. Beda cerita kalau kita ke mall di Jakarta naik mobil pribadi ya, pastinya lebih nyaman bawa stroller biar kegiatan cuci mata makin lancar, hehehe...

Tambahan-tambahan sotoy lainnya:
·   Invest in a good baby carrier, soalnya kemarin ergo saya sempat putus jahitannya karena saya lepasnya juga salah. Entah hal ini akan sama atau tidak kalau saya pakai yang original. Padahal menurut saya sih untuk kenyamanan dalam memakai dan distribusi beban, ergobaby cukup juara. Akhirnya kemarin saya beli carrier lain yang murah di Target tapi engga bisa ngadep depan.
·        Pelajari medan tempat tujuan dengan baik. Jangan menggampangkan, karena faktor kenyamanan itu sangat penting saat traveling bersama anak. Ngga bisa lagi gaya-gaya koboy jaman muda pas backpacker-an dulu.
·  Ada saat dimana stroller bisa membantu kita membawa barang-barang kalaupun anak tidak duduk di dalamnya. Namun ada saatnya juga stroller menuh-menuhin bagasi kita sehingga kita jadi harus pesan Uber XL yang lebih mahal ketika harus menggunakan uber.


Untuk trip selanjutnya, pengalaman ini cukup menjadi pertimbangan saya. Whoaaa ga sabar gimana ya rasanya bawa Ammar pas udah lari kesana kemari...

Rabu, 29 Maret 2017

March is Almost Over!

I challenged myself 1 month 1 post and almost lost it this month!

Banyak banget utang tulisan, mulai dari babymoon tahun lalu, sampai tau-taunya ada rezeki lagi buat jalan-jalan di awal tahun ini bareng si kecil.

Kesini saya semakin bersyukur dengan apa yang saya miliki sekarang dan betapa banyak kemudahan yang telah diberikan Allah untuk saya dan keluarga kecil kami. Sampai-sampai saya berpikir, kok kayanya cerita tentang hamil, persalinan, dan mengASIhi saya kok kurang dramatis ya jadi kurang seru kayanya untuk diceritakan.

Huff, namanya juga manusia ya, udah dikasih enak tapi masih ada aja ngeluhnya.

Wel,, gapapa lah ya, supaya Ammar gede nanti bisa baca tulisan bundanya. Kalo postnya segini doing terhitung curang ga ya? Lagi banyak kerjaan, huhuhu.

Will update this blog later. Hopefully.

Here's a little sneak peek from our winter trip earlier




Senin, 27 Februari 2017

Pengalaman Sunat menggunakan Smart Clamp untuk Bayi

Huwoww, Bulan Februari hampir lewat tanpa post, padahal udah men-challenge diri sendiri untuk 1 month 1 post.

Si Ibu Malas (baca: saya) yang satu ini memang sudah niat untuk menyunat Ammar sedari bayi, kenapa:
  • Saya malas repot, jadi sebelum Ammar gulang guling sana sini lebih baik disunat dari sekarang
  • Agar tidak ada drama nantinya di kemudian hari, semakin besar anak akan semakin mengerti apa yang akan dia hadapi... Hence, makin susah bujukin buat sunatnya.
  • Menghindari trauma pada anak, karena saat bayi dia tidak ingat.
  • Nyontoh ibu saya yang menyunatkan tiga saudara laki-laki saya sedari bayi.
Namanya juga Ibu malas ya, jadi sebelumnya kurang baca-baca tentang metode sunat yang ada. Taunya yang paling canggih itu yang laser, dulu adik saya yang terakhir disunat menggunakan laser sambil dikelilingi 8 kakaknya yang berakhir dengan bau semerbak daging kebakar kaya sate saat proses sunat dilakukan. Tanya dengan teman yang sebelumnya menyunatkan anaknya, dia menyarankan rumah sunatan

Rumah Sunatan yang kami pilih adalah yang terletak di Depok dan beralamat di Jl Margonda Raya no. 49 samping kantor walikota Depok. Cara reservasinya cukup telpon dan pilih tanggal, lalu pihak rumah sunatan akan mengkonfirmasi pada H-1. Sebenarnya kalau mau konsultasi terlebih dahulu tentang metode apa yang cocok dengan keadaan anak, bisa. Cuma yaa, dengan super koboynya kita ngga pake konsultasi dulu. Ketika datang memang sudah niat sunat.

Dokter di rumah sunatan tidak standby setiap saat oleh karena itu kita harus mengkonfirmasi kedatangan dulu sehari sebelumnya. Jika kepepet bisa juga telpon, kalau kebetulan hari itu dokter ada jadwal untuk sunat, kita akan tetap dilayani.

Saat awal kita akan dijelaskan metode sunat apa yang akan digunakan. Yang paling direkomendasikan adalah metode smart clamp yang diklaim paling aman dan cepat kering. Untuk metode sunat yang paling minim perawatan memang dengan menggunakan laser, oleh karena itu di sunatan masal biasanya yang digunakan adalah laser. Namun metode laser ini masih kalah aman dibandingkan dengan smart clamp. Smart clamp lebih aman dari potensi "kesalahan" yang bisa mempengaruhi bentuk, dll (you know what I mean)

Sebelum Sunat

Ketika dokter membuka dan memerika Ammar, dokternya bilang gini: "Bu, anaknya fimosis ya.."
Saya: Hah, fimosis apaan tuh dok? *panik, istilah apapula ituu*
Dokter: jadi kulup/kulit pembungkus penisnya menutupi lubangnya.
Saya: terus gimana dok
Dokter: ya sudah tepat, memang harus segera disunat
Saya: fiuhhh *lega*


Proses sunat pun berjalan tidak lebih dari 30 menit, awalnya akan ada pengetesan apakah bius lokal bekerja pada anak, agak lupa detailnya, sebenernya ada videonya, tapi suka ngilu sendiri. Intinya proses pengguntingan kulit luar, tapi setelah itu tidak ada jahit menjahit, adanya penjempitan dengan smart clamp, dimana jaringan kulit dijepit dengan clamp agar mati dengan sendirinya, sementara itu penis terlindung dari gesekan karena ada di dalam clamp.

Selama proses sunat, dokter ditemani oleh satu orang asisten. Kita juga tetap harus membantu untuk memegang tangan anak untuk membuatnya tenang. Rumah sunatan juga menyediakan 1 ipad untuk distraksi anak namun karena Ammar juga masih belum bisa main, jadi hanya dibukakan applikasi Talking Tom. 

Setelah selesai, dokter menjelaskan cara perawatan pasca sunat. Waktu itu Ammar sunat hari jumat sore dan bisa datang kembali pada hari senin siang untuk melepas clamp. Kami juga ditawarkan opsi pembelian Kit PK (Pasca Khitan) yang berisi macam-macam seperti: kassa steril, hand sanitizer, syringe irigasi (untuk siram/cebok anak), antiseptic wash (sabun mandi antiseptik pada intinya), obat tetes sunat (diberikan 2-3x perhari), betadine, dll. Agak lupa juga, nanti diupdate lagi disini. Harganya IDR 150.000. Ditawarin juga celana sunat yang kaya batok kelapa itu, karena panik, semua saya beli aja, celana sunat 2 buah (@ IDR 50.000), pasca sunat 1 (kaya plastik aja, harganya IDR 30,000). Padahal mah akhirnya yang kepake celana sunat cuma pas malem pertama dan yang pasca ngga kepakai sama sekali.

Kit Perawatan Paska Khitan

Setelah dilepas klamp, kira-kira perlu seminggu sampai sembuh total, dan anaknya ga ngerasa sakit juga sih. Paling emaknya aja yang ngilu liat merah gitu. Seminggu kira-kira waktu yang diperlukan untuk lukanya mengering, nanti jadi ada kaya semacam cincin berwarna hitam gitu di sekitar kepala penis si anak, ini kaya koreng lah gitu kalo kita jatuh.

So far sih, saya merasa beruntung sudah menyunat anak saya sedari dini, karena walau bagaimana pun juga sunat adalah wajib bagi laki-laki muslim. Dan yang diwajibkan oleh Allah pasti ada manfaatnya dan baik bagi kesehatan. 


UPDATE 5 Mei 2017: 2 minggu yang lalu saya membawa Ammar ke Rumah Sunatan lagi. Kenapa? Penisnya mulai kulup lagi. Kalau kedinginan dia sampai tenggelam kaya menghilang, dan karena saya jarang tarik-tarik, akhirnya kulitnya lengket lagi. Untung aja saya bawa lagi ke Rumah Sunatan lagi dan segera diperiksakan. Ammar dibius lokal dan ditarik lagi kulitnya. Jadi agak ngilu karena penisnya jadi kemerahan. Saya harus rutin menarik kulitnya 2x sehari, 5 detik setiap kalinya. Sekarang sudah kembali normal. Masa depan istrimu terselamatkan, nak. Hehehehe



Senin, 30 Januari 2017

Let's Get Real: Popok Sekali Pakai (Pospak) vs Cloth Diaper (Clodi)/ Popok Kain/ Popok Konvensional Lainnya

Nama lain dari pos ini adalah: Justifikasi Pemakaian Pospak

Just for the heads up aja ya, kalau arah tulisan ini adalah #timpospak. Hehehehe...


Yakkk, ampunnn para environmentalist... Padahal saya juga lulusan Teknik Lingkungan. When it comes to this... I choose disposable diaper over cloth diaper/conventional diaper..

Dari awal sebelum melahirkan saya sudah memantapkan diri untuk memakai pospak full dari awal. Baca-baca beberapa blog, banyak yang awalnya idealis mau pakai pospak tapi akhirnya gugur. Ternyata kulit bayi saat baru lahir lebih sensitif, dan benar kata orang merk mahal tidak menjamin anaknya cocok. 

Ammar kena diaper rash saat umur 2 minggu yang akhirnya memaksa saya "mengistirahatkan" kulitnya dari pospak. Ketika siang, Ammar pakai popok kain, bawahnya saya alasin dengan perlak dan kantong plastik... Hehehehe.. saya punya clodi 2 buah, jadi digilir aja. Clodi yang saya gunakan yang tipe pocket, dimana harus memasukkan insert terlebih dahulu. Pada masa awal-awal frekuensi bayi pup dan pipis memang sangat sering karena pencernaannya yang belum sempurna. Hal ini hanya bertahan 2-3 hari setelah diaper rash ammar membaik dibantu oleh pospak yang baru dan Pure diaper rash cream.

Kebetulan bulan pertama saya benar-benar merawat anak sendiri, 2 minggu pertama dibantu suami yang cuti. 2 minggu selanjutnya saya stay di apartemen berdua saja dengan baby Ammar saat suami pergi kerja.

  1. Investasi Awal Cloth Diaper akan cukup mahal. Waktu itu sih saya cuma beli yang 45 ribu 2 biji karena mau nyoba. Waktu itu teman ada yang beli clodi ada embel-embel eco nya 10 pcs atau lebih gitu dia kena lebih dari 1 juta kalau tidak salah. Kalau istiqomah terus pakai clodi sih sebenernya jatuhnya akan lebih murah salam jangka panjang. 
  2. Perawatan clodi, fiuhhh capek cyinnn... (kalau saya, lagi-lagi jangan dijadikan patokan, after all saya kan emak-emak pemalas). Waktu itu Ammar pup, langsung saya cuci clodi dan insertnya (langsung loh yaaa ngga ditumpuk dulu lama-lama) saya kucek, terus rendam pakai vanish 30 menit, trus dikucek lagi, trus dibilas, kalau masih ada bekasnya saya cuci tangan lagi pakai sabun biasa lalu bilas. Setelah itu masuk ke mesin cuci bersama pakaian-pakaian Ammar. Dengan begini clodi Ammar tetap bersih selalu dan syaratbersih dari najis: tidak ada bau, tidak ada warna, dan tidak ada rasa (ngga dirasain sih) terpenuhi. Pernah juga saya baru cuci malam harinya, fiuhhh susah banget ngilangin warna kuning dari poopnya. -____- Trus saya jadi mikir, kalau kaya gini dari mana ramah lingkungannya, kaena saya jadi pakai air dan sabun lebih banyak.
  3. Kalau mau aman dan terhindar dari diaper rash mungkin lebih baik pakai popok kain/clodi tapi itu pun bukan jaminan, tiap 2 jam sekali harus tetap diganti. Anak salah seorang teman saya, dia malah kena ruam saat pake popok kain, karena jadinya kan tidak kering.
  4. Percayalah, bulan pertama itu tidak gampang, kecuali memang kalau kamu punya banyak orang yang mengawal dan membantu. 
Jadi, menurut saya
  • Boleh aja kalau mau idealis full popok kain atau clodi, tapi mungkin sediakan juga pospak untuk jaga-jaga kalau cucian tidak kering atau tidak sempat menyuci. Tidak perlu banyak-banyak, karena anak belum tentu cocok dengan pospak tersebut, jadi mesti trial and error dengan merk lain. 
  • Kalau masih ragu-ragu, saya sarankan jangan kalap langsung beli banyak clodi, karena investasi di awalnya mahal kalau tidak digunakan lama, jadinya sayang dan mubazir.

The most important thing is how to keep the mother stay sane and the baby healthy! Hehehehe







Selasa, 17 Januari 2017

Our 2 weeks Euro Trip Itinerary

Penyakit lama banget deh, sebenarnya punya banyak banget bahan tulisan jalan-jalan. Tapi cuma mandeg di pikiran doang dan jarang dituangkan ke kata-kata.Jangankan jadi tulisan blog, upload foto-fotonya ke fb aja engga. Resolusi tahun 2017 lah mau bikin blog ini lebih produktif.

Ceritanya hampir 7 bulan lebih yang lalu saya bersama suami niat mau babymoon, eh dekat-dekat orang tua saya juga mau ikut, jadilah tripnya double date. Seru juga kan kalau bareng orang tua, karena tujuan utama saya itu Strasbourg, tempat kelahiran saya. Bukan yang lain. Berikut adalah jadwal itinerary saya.


Penentuan kotanya berawal dari tiket pesawat yang kita beli. Waktu itu kita dapat promo Qatar Airways tp via Kuala Lumpur. Bookingnya multicity, jadi Kuala Lumpur - Paris, pulang nya Amsterdam - Kuala Lumpur. Jadi tidak ada keharusan kembali ke kota awal.

Selanjutnya sudah di Perancis, tujuan utamanya Strasbour biar bisa nostalgia gitu. Selanjutnya kita pindah ke Chamonix untuk liat pegunungan alpen dari mont blanc (yang merk pena itu loh) prancis.Yang agak tricky setelahnya karena Abi ikut dan mau ke Camp Nou, kita jadi detour ke Barcelona padahal di itinerary awal ngga ada sedangkan Barcelona ada di bawah banget. 

Rute-rute selanjutnya dipilih berdasarkan pencarian pesawat paling murah via skyscanner. Hahahaha. Masukin tujuannya everywhere, jadi nanti kelihatan tujuan mana yang paling murah, tapi mengarah ke dekat titik akhir kami Amsterdam. Contohnya seperti di bawah ya.


Bikin rute perjalanan europe memang harus bolak balik liat peta. Cari tau gimana kota tersebut, biaya, dll nya. Salah satu website yang menurut saya sangat berguna adalah rome2rio.com. Helpful banget. Dia bisa memberitahukan opsi-opsi transportasi apa yang bisa kita ambil dan berapa estimasi biayanya. Tampilannya seperti ini nih

Hasil pencarian Rome2Rio

Saya dan Azi juga memasukkan faktor 3* Rate (harga hotel bintang 3 di kota tersebut) serta cuaca di saat kita berkunjung. Jadi bisa dibandingkan tingkat kemahalan suatu kota.

Faktor yang harus diperhatikan dalam menyusun itinerary:
  • Tujuan Destinasi Utama
  • Tujuan dari Traveling tersebut dilakukan
  • Keadaan dan Kekuatan Tubuh
  • serta kekuatan dompet, hehehehe

Happy Traveling!





Senin, 16 Januari 2017

My Birth Story : Ammar Ghiffari Nugraha

I remember like yesterday ❤

Saya mulai mengambil cuti pada tanggal 1 Agustus memasuki minggu ke-38 kehamilan. HPL berdasarkan HPHT adalah 13 Agustus 2016 (sama kaya ulang tahun ayah saya) sedangkan berdasarkan USG adalah 17 Agustus 2016.

Sampai usia kehamilan tersebut saya belum pernah senam hamil di RS ataupun latihan ngeden. Hari kamis, 4 Agustus adalah hari pertama saya senam hamil. Dan tentu saja, ngeden saya masih ngaco banget. Langsung booking lagi untuk jadwal senam hamil selanjutnya (kebetulan hanya ada setiap kamis dan sabtu)

Sabtu, 06 Agustus 2016

Hari sabtu, 6 Agustus pagi dimulai dengan saya yang ikutan Abi dan sofia lari pagi di UI. Saya sih tentu saja jalan kaki doang dari FKM UI, tau-tau udah sampe Perpustakaan, ngikutin arah yang banyak pokemonnya (waktu itu masih jaman main Pokemon Go). Jam 10, saya ambil senam hamil lagi. Tetep masih kurang bagus ngedennya :| 

Oh iya, saya biasanya kemana-mana naik mobil, tapi entah kenapa hari sabtu itu mau jalan aja ke depan komplek dan lanjut naik angkot, males cari parkir weekend di RS. Selepas senam hamil, saya menyempatkan diri beli es krim di Alfamart lalu pulang naik angkot lagi. Sesampainya di rumah ternyata si Ilina (adek pertama) dan Rino (suaminya) beserta sofia dan aliya (adek kandung juga, banyak yah) mau pergi ke rumah nenek di Rawamangun untuk silaturahmi. Kebetulan Ilina akan pergi melanjutkan S2 ke Norway keesokan hari 7 Agustus 2016, naik pesawat jam 7 malam. Karena males bosen di rumah, saya ikutan aja deh dan baru pulang sekitar jam 10 malam.

Minggu, 07 Agustus 2016

Capek rasanya badan, perut juga keras sama ada rasa seperti nyeri haid. Tapi saya pikir hanya kontraksi biasa. Malam itu saya langsung tidur, tidak ikut bantu ritual J alias Jemur Pakaian yang biasa adik-adik saya lakukan malam hari. Sekitar jam 1 malam saya terbangun karena kebelet pipis. Badan terasa masih pegal dan remuk seperti biasa. Trimester ketiga memang merupakan saat terberat karena memang badan rasanya jadi super berat.

02.30

Cuss.. Bless.. aduh gimana ya suaranya.. pokoknya kaya kantong air terus pecah gt. Saya langsung terbangun. Celana saya banjir.. Tapi perasaan tadi udah pipis deh, sambil cium-cium basahan. Baunya ngga pesing. Jangan-jangan ini ketuban aaaaaaaaa.. Saya langsung masuk ke kamar orang tua saya dan bilang "Mi, mi, kayanya ketuban kakak pecah deh"
"Apaa.. duh tenang tenang" jawab si Umi yang dari tidur langsung sadar.
"Yaudah sekarang siap-siap untuk ke RS ya" saran Abi

03.30

Di perjalanan menuju Hermina yang ngga sampai 2 km itu, Abi sama Ummi masih sempat-sempatnya berdebat soal mau lahiran dimana. Abi punya trust issue sama RS, takut anaknya nanti dibelek, jadi mau dibawa ke rumah Uwo (kakaknya Ummi) yang bidan saja. Tapi Ummi bilang takut tidak keburu, karena sudah pecah ketuban, dan Uwo belum siap-siap. Akhirnya saya tetap dibawa ke RS Hermina Depok.

Sesampainya di Hermina, saya langsung dibawa ke ruang bersalin dan dilakukan pemeriksaan dalam. Sudah bukaan tiga ternyata.

04.30

Uwo, Te' Ina, Te' Efa datang dari Rawamangun. Uwo mendampingi selama menunggu persalinan. Semakin lama, kontraksi datang semakin cepat. Rasanya super mules ngga enak gitu loh. Kalau lagi ga kontraksi, saya cuma bisa berdzikir sambil mikir "waduh durhaka amat gw sama emak..". Kalau lagi kontraksi, cuma bisa tarik napas panjang, buang, gitu aja terus. Salah satu tips dari Uwo, dan sepertinya cukup membantu mempercepat persalinan adalah tidur miring. Jadi saya menghadap ke kanan, uwo sambil pijit-pijit punggung.

06.00

Saat itu sedang ada konferensi dokter OBGYN se-Indonesia di Solo, jadi dokter saya, dr. Nel, sedang ikut acara tersebut. Dokter rujukan jika dr nel idak ada pun, juga ke acara yang sama. Padahal dari awal saya maunya dengan dokter perempuan, supaya ngga malu gitu. Eh apa daya, yang ada hanya dr. Maman, SpOG. Itu pun ada karena beliau baru akan pergi ke Solo pada siang hari, jadi masih sempat untuk menolong persalinan saya. 

Terus gimana rasanya: LET ME TELL YOU, pas udah persalinan mah engga peduli lagi dokternya cowo apa cewe, boro-boro risih, yang penting selamat.. Bahkan pas bidannya nanya "bapaknya sedang dimana?" saya jawab "engga peduli sus, saya ngga mau nungguin"

Jadi ya, persalinan ideal yang di pikiran saya itu sama dokter cewe plus ada suami mendampingi biar dia liat dan tambah cinta ituuuuu NGGA TERJADI di saya. Hehehe

07.10

Setelah gagal ngeden beberapa kali (yang bikin Abi semaput dan keluar ruangan, ngga sanggup kalau-kalau anaknya akhirnya dibelek) dan akhirnya dibantu push juga dari bidan. Lahirlah putra pertama kami bernama Ammar Ghiffari Nugraha melalui persalinan normal, berat 2.45 kg dengan panjang 46 cm.

Karena Azi masih di perjalanan, akhirnya yang mengadzani Ammar untuk pertama kali adalah Abi. Sepertinya ini cikal bakal alasan mengapa dari awal Ammar paling responsif sama suara Abi (pada bulan awal, bayi belum begitu responsif terhadap suara). Kalau kata te' efa, sewaktu abi mengadzani, kepala Ammar mengikuti sumber suara adzan, seperti mencari gitu.

Proses inisiasi menyusui dini (IMD) berlangsung 10-15 menit saja, tidak sampai berhasil menyusui tapi sungguh sangat efektif membuat saya lupa kalau dibawah sana dokter sedang sibuk menjahit. Karena Ammar termasuk BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah, 2.5 kg ke bawah), jadi Ammar harus diobservasi selama 6 jam, padahal cuma ngutang 0.05 kg doang. 


Ammar di observasi

13.00

Hari ini hari yang cukup abstrak untuk keluarga kami. Bahagia dan Sedih. Bahagia karena Ammar lahir dengan selamat ke dunia ini. Sedih karena Auntie Ilina akan pergi ke Norway untuk melanjutkan S2. Karena Ammar sedang diobservasi, Auntie Ilina ngga bisa gendong Ammar dulu. Hikss

Foto terakhir sebelum Ilina pergi

14.00

Akhirnya Ammar dibawa kembali ke kamar. Huuuu sini sayangku, mau peluk... Kecil banget sih kamu. Kecil aja susah ngeluarinnya ya. Sekarang kalau dengar bayi >3 kg udah klenger sendiri dengernya. Hehehehe

Azi pertama kali gendong bayi, dan bayi itu anaknya sendiri :')

Ammar Ghiffari Nugraha, Umur 1 hari

Pada saat itu, kami orang tua baru, masih belum sadar bahwa ini adalah permulaan, bukan akhir. Ke depannya tantangan yang ada jauh lebih sulit dari hamil dan melahirkan. 

Welcome to Parenthood!


Review: Malish Ilaria Double Breastpump

Finally, I bought my own breast pump!

Sebelumnya saya cuma dipinjami oleh teman saya yang baik hatinya, Mrs. Diah Novitasari, Medela Swing. Saya benar-benar awam dan tidak pernah mencari-cari review breastpump sebelum melahirkan. Dengan baik hatinya Diah meminjamkan Medela Swing yang ternyata harganya lumayan mahal yaa... Hehehehe, thanks Di!

Saya juga dapat breastpump avent natural dari teman-teman kuliah, karena masuk ke wishlist saya. Hasil rekomendasi dari kakak sepupu. Tapi dasar yah, saya pemalas, jadinya dipakai kalau lagi perlu cepat, ga mau ribet sama kabel-kabelan.

Detail review kedua breastpump di atas di post terpisah aja ya (kalau saya rajin), hehehehe..

Berawal dari promo di jd.id, si Malish Ilaria yang biasanya dibanderol 2.2 juta jadi cuma 1.6 juta terus bisa dicicil. Ihiyy, langsung lah demi urusan per-ASI-an, Azi mah selalu mendukung. Sebenarnya sih yang lagi ngeHip banget Spectra 9+, tapi baca di beberapa review sana sini (di blog dan IG @shafarentalpump) akhirnya saya pilih Malish Ilaria. Tujuannya memang cari yang double pump biar cepat pas pumping di kantor. Dan mumpung lagi diskon, pilihnya malish yang paling bagus, hehehe...

Malish ini adalah merek dari Rusia yang lumayan terkenal di negara tetangga kita, Malaysia. Sedangkan di Indonesia, rasanya baru tahun 2016 yang lalu mulai terdengar. Harga pompa malish sendiri relatif lebih murah di Malaysia, tapi sekarang Malish sudah ada secara resmi di Indonesia. Mereka juga sudah ada service centernya sendiri, jadi lebih baik membeli produk malish yang bergaransi Malish Indonesia.

Berikut penampakan Malish Ilaria.
Isi Produk Lengkap Paket Malish Ilaria, credit: pumponthego
Berikut keterangan produk dari website malish indonesia ya:

THE ULTRA SILENT PUMP
New double electric pump suitable for home and office use.
A real duo with 2 discrete pumps, serving each expression kit, just like 2 sets of single pump
Left, right or duet operation with individual control. Different suction strength can be set on left and right!
  • Unique soft breast shield design, reacting to the pumping rhythm which mimic baby’s suckling for maximum comfort and stimulation
  • 2 Phase Expression – Stimulation Phase & Expression Phase
  • 9 steps suction control
  • Built-in timer
  • Heavy Duty Pump
  • 30 minute auto stop function
  • Last used setting memory
  • Built-in LCD
  • Compact and light weight for maximum portability
  • Silent operation
  • 1 year warranty
  • FREE USB cable
Isi paketnya sendiri (seinget saya ya, ngga lagi di depan kardusnya):
  • 2 set botol lengkap kaya di samping, ada dudukannya, selang, soft breast shield, membran, diafragma, penutup corong)
  • mesin nya yang warna pink
  • membran cadangan 2 buah
  • adapter (kaki tiga)
  • kabel usb (buat dicolokin ke power bank)
  • kartu garansi (harus dikirimkan ke malish indonesia beserta bukti pembelian)
  • Hmmm apalagi ya, nanti diupdate kalau ada yang kelewat


Apakah klaim di atas benar? Yes, saudara-saudara. Aduh saya jatuh cinta sama Malish Ilaria ini, Alhamdulillah ga salah beli. Why? Berikut kelebihan dari Malish Ilaria menurut saya:
  1. Bisa dipakai terpisah, jadi walaupun dia double breastpump, tp kalau kita mau pakai satu aja juga ga masalah. Jadi dia bisa dioperasikan terpisah. Bahkan level kekuatan pompa pun bisa diatur berbeda kiri dan kanan.
  2. Ngga sakit sama sekali, saya ga pernah ngerasa sakit pakai pompa ini. Pakai medela juga ngga sih. Tapi pakai medela pernah jadi bengkak karena kelamaan. Kalau pakai ilaria ngga pernah bengkak, karena satu sesi pun biasanya cuma perlu 15 menit doang udah dapat lumayan banyak.
    Display malish ilaria. Tombolnya ada pengatur L dan R; pengatur tipe stimulasi atau expressed; adjust kekuatan pompa; serta power
  3. Dia ada 9 atau 10 tingkat kekuatan hisap, tapi selama ini saya cukup menggunakan level 3, atau max level 4.
  4. Lumayan ngosongin dada, saya ga perlu sambil pijet-pijet pake VCO lagi kaya dulu pas pakai medela swing. Tinggal tempel, trus main HP. Sampai saat ini udah ngga pernah plugged duct lagi.
  5. Orang-orang banyak yang membandingkan Ilaria dengan BP hospital grade, walaupun tidak ada claim resmi, tapi kemampuan mengosongkannya mumpuni. Kalau dilihat dari segi ukuran dengan BP Hospital Grade lainnya, dia termasuk kecil.
  6. Perbedaan hasil pompa saya 20-30% dari saat menggunakan Medela Swing, dengan waktu jauh lebih singkat, dan ngga usah pakai dipijit-pijit manual segala.
Berikut kekurangannya:
  1. Bisa portable tp dia ngga punya built in battery yang bisa dicharge kaya fitur yang dimiliki breastpump seperti Spectra 9+. Jadi kita tetap harus sambungin ke power bank. Selama ini saya masih tidak masalah, karena di kantor selantai cuma saya yang pumping, colokan di mushola bisa dimonopoli. 
  2. Dia ga berisik banget kaya philips avent electric, tapi ga sesenyap itu juga suaranya. Masih normal tapi tidak mengganggu. 
  3. Lumayan banyak yang dilepas untuk dicuci (kalau dibandingin dengan medela swing, ya iyalahhhh). Dia kan ada breast shieldnya supaya ngga sakit, sama penutup corong biar tetap higienis.
Begini deh kira-kira penampakan kalau lagi mau pumping di mushola. Dudukan biasanya tidak saya bawa karena makan tempat di tas, hehehehe
Overall, I love It!


UPDATE 26/07/2018: Udah satu setengah tahun pakai malish Ilaria, sekarang saya sudah tidak bekerja, tapi si adek hanya suka menyusu di satu sisi sehingga saya tetap harus rajin mompa. Alhamdulillah sampai saat ini breastpumpnya belum pernah rusak, membrannya juga aman. :)


Membuat Paspor Untuk Bayi

Minggu lalu, kami bertiga (Saya, Ammar, dan Azi) pergi ke Imigrasi, mau bikin paspor baru buat Ammar dan perpanjang paspor untuk Azi. Kami berniat untuk membuat e-paspor biar free visa gitu kemana-mana. Epaspor hanya bisa dibuat di kantor imigrasi kelas I, yaitu di Jakarta dan Surabaya. Sedangkan di kota tempat tinggal kami (Depok) belum bisa karena masih kelas II.

Pergilah kami dari jam 6 kurang menuju kator imigrasi kelas I Jakarta Pusat. Yah memang sih kurang pagi, mengingat hari kerja arus menuju jakarta dari pinggiran kota itu padat. Alhasil kita baru sampai jam 7.40. Sesampainya di Jalan Merpati, jeng jeng, antrian sudah habis. Padahal biasanya kan kalau datang sampai jam 10, masih dapat nomor antrian. Ternyata hari itu sistem offline sehingga nomor antrian dibatasi.

"Yah, pak, bukannya biasanya jam 10 masih dapat nomor antrian?"
"Sistem offline bu, nih liat bu, ada beritanya *menunjuk ke artikel berita yang di print*"
"Kita udah jauh-jauh nih pak dari Depok"
"Loh kan di Depok juga ada bu"
"Iya tapi kita maunya Epaspor"
"Oh untung ibu bilang, epaspor juga sedang tidak bisa bu, jadi ini pun yang dapat antrian hanya untuk bikin paspor biasa"

Wahhhh... akhirnya kami pun keluar dari kantor imigrasi jakarta pusat.

Ammar si ganteng dan Ayah
Memutuskan untuk mengisi perut dengan bubur ayam di dekat situ. Pas lagi sarapan, tukang parkirnya ada yang nawarin pembuatan epaspor via calo 1,5 juta padahal harga asli epaspor cuma 600ribuan. Huekk, keselek biji salak, mahal amat... Ngambil jatah pospak si Ammar itu. Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan ke Imigrasi Kota Depok (yang aslinya deket banget sama rumah saya).Tujuannya sih survey dulu, jadi nanti bisa jaga-jaga dan persiapan buat besok mau apply lagi.

Informasi di Depan Pos Satpam Kantor Imigrasi Kelas II Kota Depok
Kami sampai di kantor Imigrasi depok jam 9.45. Eh ternyata antrian masih dibuka. Yasudah akhirnya kami ambil antrian aja. Oh iya sebagai warga depok yang suka mengutuk kotanya karena macet. Saya mau apresiasi Kantor Imigrasi nya yang rapih dan lebih sistematis walaupun cuma kelas II. Jadi alurnya seperti ini:
  • Masuk, ambil antrian cek berkas (depannya F-XXX), difoto kitanya di pos satpam, jadi nanti pas nomor antiran dipanggil, di layar yang muncul nomor antrian dan foto siapa yang antri --- di jakpus kemaren sih ga kaya gitu
  • Di pos satpam ini pula, kita dikasih form isian, kalau bayi kan ada form surat keterangan dari orang tua, form ini diberikan gratis tis tis (kalau di jaksel kan katanya harus fotokopi atau bawa sendiri). Oh yaa, jangan lupa bawa Materai dan Pulpen yaa..
  • Bayi dan pengantarnya bisa masuk ke antiran prioritas. Tapi pas awal tetap antri normal di antrian cek berkas. Sesudah dari cek berkas, baru deh antrian dibagi dari yang biasa (kalo ga salah depannya A-XXX, yang prioritas depannya C-XXX)
  • Masuk ke ruang foto dan wawancara, petugas input data, kita verifikasi, bayi difoto. Tunggu print kertas pembayaran. Bayar di bank BNI. 
  • Selesai dehh...

Ihhhh.. saya apresiasi banget deh Kanim Depok. Petugasnya juga ramah banget. Pas antrian berkas, saya dapat nomor F-280, ngantrinya sih kira-kira 1.5 jam. Pas dateng itu yang dipanggil masih nomor F-100an kalau ga salah. Tapi cepat kok. Pas sudah cek berkas, De' Ammar dapat nomor C-037, sedangkan sudah dilayani sampai C-036, jadinya sama aja kaya ga ngantri kan.

Dengan datang jam 09.45 dan selesai jam 12 sebelum makan siang. Saya rasa sih ini cepat banget. Thumbs Up.

Oh iya, berikut adalah dokumen persyaratan untuk mengurus paspor.

Saya sih sekarang sudah merelakan tidak membuat epaspor untuk ammar dan azi, karena toh sampai saat ini manfaatnya masih belum begitu banyak selain free visa ke Jepang dan Korea. Dan saya perlu cepat untuk perjalanan kami berikutnya.

Oh iya, untuk harga paspor biasa 48 halaman harganya 300 ribuan, sedangkan yang 24 halaman harganya 200 ribu kurang. Agak lupa harga pastinya. Tidak ada kegiatan transaksi di Kantor Imigrasi, semuanya dilakukan di BNI ya.

Happy Traveling, Mommies!