Sabtu, 03 April 2021
Kamis, 18 Februari 2021
Jaminan Keluarga Langgeng?
Minggu, 10 Januari 2021
Ketagihan Tantangan
Minggu, 13 Desember 2020
Hidup Sehat, Pilihan Bertahan Saat Pandemi
Sabtu, 31 Oktober 2020
Alhamdulillah, Shopeepay Sudah Lebih Berfaedah
Okay, jadi aku sudah hampir ditendang lagi nih dari komunitas 1m1c (1 minggu 1 cerita) dimana para anggotanya harus minimal menulis submit tulisan sekali dalam 6 minggu. Tulisan ini bukan submission lomba atau berbayar, tapi memang murni ingin berbagi terutama bagi sobat marketplace oren yang satu ini.
Iya, sudah hampir setahun rasanya jika anda mau mendapatkan manfaat ongkos kirim gratis, Shopee termasuk agak memaksakan penggunaan Shopeepay untuk metode pembayarannya (mungkin mau memanfaatkan dana yang mengendap terlebih dahulu yaa :| ). Belum lagi segala sesuatu harus diklaim dulu vouchernya. Ribet! Apalagi kalau ada customer yang mau dapat ongkos kirim gratis tapi tidak paham pakai Shopee. Ngajarinnya agak berbelit. Jujur saja, ini membuat saya mulai lebih menyukai Tokopedia yang subsidi ongkos kirimnya bisa didapatkan tanpa harus mengklaim voucher, hanya perlu belanja minimal 50 ribu di power merchant dan official store dengan pembayaran apapun.
Kenapa saya tidak suka Shopeepay?
1. Nyangkut
Pembayaran di Shopee harus dilakukan penuh dengan shopeepay. Misalnya saldo shopeepay kita 16ribu lalu belanjaan kita 50 ribu, ya kita harus top up shopeepay 34 ribu lagi. Tidak seperti OVO di Tokopedia, kekurangan tidak harus dengan top up OVO, tapi bisa dikombinasikan dengan pembayaran lain seperti virtual account transfer bank. Sebenanrnya sisa shopeepay bisa ditarik kembali ke rekening kita, namun ribet ahhh...
2. Pemakaian Terbatas
Sebenarnya shopeepay sudah mulai banyak diterima di berbagai merchant di mall maupun toko biasa. Promosinya mirip dengan OVO jaman dulu. Namun karena selama pandemi ini saya di rumah terus, promo-promo tersebut tidak terpakai. Salah satu kelemahan shopeepay adalah bukan afiliasi Gojek dan Grab yang masing-masing sudah punya bentuk uang digitalnya sendiri dan bisa digunakan di banyak platform.
Salah satu poin positifnya, Top Up Shopeepay Masih Gratis
Setidaknya untuk BCA dan Mandiri, jika lewat BNI dikenakan biaya admin 1000 rupiah (sama seperti OVO). Untuk bank lain saya belum mencoba.
Berikut adalah beberapa ide menghabiskan shopeepay yang "nyangkut" selain jajan ke counter
1. Sudah Bisa Digunakan untuk Pembayaran Ekspedisi Favorit
Sebagai ibu-ibu yang suka jualan online shop, sudah seharusnya tahu bagaimana caranya mengakali agar ongkir lebih murah. Salah dua nya adalah menggunakan Help dan Anteraja. Help adalah applikasi delivery perantara yang menyambungkan kita dengan Gosend serta Alfatrex (untuk pengiriman luar kota). Sedangkan Anteraja adalah salah satu ekspedisi baru yang aktif menjemput bola, pick up berapapun jumlah paket dan masih memberikan banyak potongan ongkos kirim lewat applikasinya. Kedua applikasi ini merupakan favorit saya. Dan mereka menerima pembayaran dengan Shopeepay. Yeayyyy
2. Bisa Digunakan di KitaBisa
Sekarang kita bisa bersedekah via kitabisa menggunakan Shopeepay. Nominalnya mulai dari 1000 rupiah dan kelipatannya. Enak kan untuk memanfaatkan dana yang tersisa di Shopeepay.
Sejauh ini sih yang saya temukan itu, semoga bisa saya perbaharui lagi listnya. Ya jadi intinya, shopeepay bisa dipakai di Help, Anteraja, dan Kitabisa, 3 applikasi yang saya gunakan setiap harinya. Hehehehe
Sabtu, 19 September 2020
Kujaga Anak Bungsuku dari 'Ain
Minggu, 09 Agustus 2020
Terpaksa, Pecut Si Procrastinator
Dur undur undur... Kalo bisa nanti, ya nanti aja...
Senin, 22 Juni 2020
My Reading List : May 2020
1. The Hating Game
Penulis: Sally ThorneGenre: Chick LitRating Pribadi: 6.5/10Review Singkat: Sejujurnya saya tidak paham kenapa pengguna Goodreads memberikan rating tinggi untuk buku ini. Ceritanya cukup tipikal untuk chicklit, dari benci jadi cinta. Bermula dari dua orang rekan kerja bernama Lucy dan Joshua yang saling bersaing dan bermusuhan yang akhirnya berujung saling suka. Ada twist tipis pada cerita ini namun tidak sampai membuat saya wow. Novel ini lebih cocok untuk dewasa karena termasuk cukup deskriptif ketika menceritakan keintiman antara dua tokoh utama.
2. The First Phone Call From Heaven
Senin, 15 Juni 2020
My Reading List: April 2020
1. Bare Minimum Parenting
2. Norwegian Wood
3. Confession of Scary Mommy
Rabu, 13 Mei 2020
My Reading List : March 2020
Berikut adalah daftar buku yang saya baca di bulan Maret yang lalu. Semuanya masih seputar Autobiography dan Memoir.
1. Voices from Chernobyl
Karena nonton HBO Miniseries "Chernobyl" tahun lalu, saya jadi agak obsesi dengan Chernobyl dan bahkan memasukkannya sebagai bucket list saya. Tak lama setelah menonton series tersebut, saya pun membaca buku Midnight in Chernobyl karya Adam Higginbottom yang cukup tebal tapi sangat asik dan detail dan kabarnya dijadikan referensi dalam pembuatan miniseries HBO tersebut. Walaupun saya telah membaca buku Midnight in Chernobyl, membaca buku Voices of Chernobyl tidak membuatnya kehilangan informasi baru. Buku ini menyajikan kejadian tentang Chernobyl dengan gaya yang berbeda yaitu melalui sudut pandang berbagai tokoh dan peran. Di dalamnya terdapat cerita mulai dari orang-orang yang berada di Chernobyl saat itu seperti pemadam kebakaran/keluarganya, karyawan chernobyl, tentara yang ditugaskan, sampai dengan pihak-pihak yang tidak ada di lokasi namun melihat/merasakan sendiri dampaknya seperti penduduk Kiev. Chapter dalam buku ini pun tidak panjang, masing-masing menceritakan cerita dari seseorang. Saya pribadi suka dengan buku yang tidak memiliki chapter panjang, seperti checkpoint jika setelah itu mau berhenti membaca terlebih dahulu dan mengerjakan hal lain. Saya suka dan memang agak terobsesi tentang Chernobyl.
2. Scrappy Little Nobody
Seperti umumnya autobiography aktris/aktor pada umumnya, buku ini menceritakan tentang perjuangan seorang Anna Kendrick mulai dari masa kecilnya sampai dia menjadi dirinya sekarang. Tentu saja memoir yang menarik adalah yang berisi tantangan dan kesulitan apa saja yang pernah ia hadapi dan lewati sampai akhirnya menjadi sukses seperti sekarang. (Hmmm, sepertinya kalo dari awal tidak pernah susah, tidak menarik untuk dibuat memoir, bukan begitu?). Saya sendiri baru mengenal Anna Kendrick dari perannya di Up in The Air yang dibintangi oleh George Clooney. Ternyata Anna Kendrick sudah melanglang buana di dunia seni peran sedari kecil. Mengapa saya suka baca memoir orang terkenal, karena pastinya ada inside story yang selama ini kita tidak tahu dan biasanya menarik (bisa jadi lucu, bisa jadi mengagetkan). Gaya bercerita yang digunakan dalam buku ini ringan dan lucu namun tidak sejenaka buku komika tentunya (coba baca memoirnya Trevor Noah dan Tiffany Haddish deh).
BACA JUGA: My Reading List February 2020




















