Selasa, 29 Januari 2019

Review: Lipstik Arab 4ribuan


Ceritanya kemarin sunblock saya habis dan saya carilah di marketplace oren. Dan seperti orang lain yang pakai marketplace ini, pastinya mau manfaatin free ongkirnya. Kebetulan toko tempat saya beli sunblock, minimal pembelanjaan untuk free ongkir adalah 50.000 rupiah. Sunblok saya 47.500, kurang 2.500 lagi.

Jadilah saya browse isi toko itu dan diurutkan dari yang paling murah. Jreng-jreng, muncul lah si lipstik arab ini yang dibanderol harga 4.000 rupiah saja.

Sebenarnya lipstik ini sudah tidak asing, banyak dijual di toko oleh-oleh haji. Namun saya belum pernah mencoba. Ah ga ada salahnya nyoba, keluar 4.000 tambahan dibanding jadi bayar ongkir 11.000 hihihi #logikaibuibu

Packaging
Ga usah expect banyak kalau harganya cuma 4.000 ya buibu, lipstik ini ga ada bungkus, seal, atau kotak gitu. Tube lipstiknya terbuat dari plastik, di dalamnya plastik reflektif bewarna emas.

Penampakan Lipstik 4 ribu


Review lipstik arab
Keterangan Produk 
Oh ternyata namanya Lipstick Hare. Dan yang saya beli ternyata Shade 33 (yang jual sih ga kasih pilihan kalo ada shade lain). Walaupun sering disebut lipstik arab tapi buatannya Taiwan. Dan ternyata lipstik ini ada nomor BPOMnya loh. Mari kita cek, apakah nomornya beneran atau ngga.

Review lipstik arab
Hasil Pencarian di Situs BPOM
Wiii cocok dan sama nomor dan deskripsi produknya. Insya Allah aman untuk digunakan berarti ya.

Lalu gimana hasilnya di bibir?
Lipstik arab

Maafkan, ini swatch pagi-pagi masih bare face. Warnanya manis dan natural namun tidak mengcover warna asli bibir. Just nice. Lipstik juga tidak lengket tapi ada sensasi berminyak sedikit dan tidak membuat bibir kering. Lipstik ini suka saya pakai di rumah atau saat keluar rumah namun tidak mau tampak seperti dandan, hanya agar tidak terlihat pucat.

Worth to buy? Yes, murah ini hihihi... Tapi ga ada niatan mau koleksi kalo ada warna lain sih. 

Senin, 28 Januari 2019

Telaga Nilem dan Remis, Wisata Alam Cantik di Kuningan

wisata alam kuningan


Sudah lebih dari setahun menetap di Cirebon, rekor terlama tidak pulang ke Depok hanyalah 4 minggu kurang. Namun kelamaan, menempuh macet Cikampek (yang masih banyak proyek pembangunan) 2 minggu sekali rasanya selain mahal juga melelahkan. Apa salahnya kali ini lebih mengeksplore daerah sekitar Cirebon.

Atas rekomendasi dari seorang teman, minggu lalu kami berkunjung ke Telaga Nilem yang terletak di perbatasan antara Kuningan (Jawa Barat), Cirebon, dan Majalengka. Melihat reviewnya di google sih, nilai Telaga Nilem cukup bagus. Wah sepertinya asyik nih kalau bisa ajak anak-anak main air di sana.

Kami beranjak dari Kota Cirebon sekitar pukul 10 pagi dan menempuh waktu sekitar satu jam untuk sampai ke Telaga Nilem. Rupanya, Telaga Nilem ini satu kawasan dengan Telaga Remis. Selama ini suami saya yang asli Majalengka hanya tau Telaga Remis saja.

Masuk ke kawasan ini akan dikenakan beberapa tiket, yang pertama tiket masuk Gunung Ciremai sebesar 5000 rupiah, lalu untuk masing-masing telaga dikenakan lagi 10.000 rupiah.

Apa bedanya Telaga Nilem dan Remis?

Telaga Nilem

Telaga Nilem sebenarnya adalah tempat pemandian umum alam. Airnya bening sekali dan bersuhu sejuk (tidak membuat menggigil macam air di Lembang). Kedalamannya bermacam-macam, ada yang cukup dalam, ada yang cetek dan aman untuk direnangi anak-anak. 

Panorama View Telaga Nilem

Ada banyak warung di sekitar telaga Nilem, mereka menawarkan berbagai macam makanan seperti jajanan snack warung, gorengan, pop mie, dan semcamnya. Tidak lupa mereka juga menyewakan ban dan pelampung berbagai macam tipe, mulai dari ban anak hingga dewasa sampai dengan floaties berbentuk matras yang bisa dipakai untuk tiduran di atas air. Mereka juga menyewakan baju renang/basahan untuk bermain air jika anda lupa membawa. Yang paling penting juga, mereka menyediakan kantung waterproof untuk gadget anda agar aman dipakai berfoto-foto di air. Jadi tidak usah khawatir jika kunjungan anda ke telaga nilem bersifat dadakan dan kurang persiapan, karena warung-warung ini siap membantu dengan harga yang cukup murah dan manusiawi.


Biasanya anak muda senang menghabiskan waktu di bagian kolam dalam. Sedangkan yang mengisi kolam cetek biasanya yang bawa keluarga dan anak kecil. Ceteknya pun kira-kira sepinggang suami saya. Anak-anak saya senang sekali bisa berenang bersama ikan-ikan kecil di sini.

telaga nilam
Kolam Cetek Telaga Nilem

Kurang lebih 1 jam mereka berenang sampai adzan Dzuhur berkumandang. Biarpun berenang di siang bolong, Alhamdulillah cuacanya pas dan bagus, tidak panas terik namun tidak gloomy dan mendung.

Setelah berganti pakaian di ruangan yang disediakan (bayar 2000/orang yang ternyata all in untuk ganti sebelum dan sesudah renang, jadi ga usah ngumpet-ngumpet ganti pakaian sebelum renang kaya suami saya ya gaes...), kamu pun beranjak ke objek wisata yang dekat selanjutnya.

Telaga Remis

wisata alam kuningan


Telaga Remis jauh lebih besar dari telaga nilem, namun kita tidak diperuntukkan untuk berenang karena ada banyak ganggang disana. Warna yang dipancarkan dari telaga berwarna biru kehijauan, yang jika didekati airnya tetap bening dan nampak ikan berenang-renang.

telaga remis

Kawasan ini sangat photogenic dan tipe wisata untuk dinikmati mata. Mereka yang hobi memancing pun bisa memancing ikan disini dan bakar di tempat. Kawasan yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan ini juga menyediakan jalur khusus untuk pejalan kaki jika ingin mengelilingi telaga.


telaga remis

Selain itu ada juga wahana sepeda air/bebek kayuh seharga 20.000 untuk 15 menit. Karena sepi dan saat itu hanya kami saja yang bermain bebek kayuh, kami diperbolehkan untuk main sepuasnya.

telaga remis


Walaupun akhir pekan, namun tempat wisata ini tidak terlalu ramai dan cenderung sepi, lain halnya saat liburan sekolah. Kebanyakan warga sekitar justru berkunjung ke Rumah Makan yang ada sebelum masuk ke Kawasan Gunung Ciremai. Salah satu Rumah Makan yang terkenal, namanya Kharisma. Harganya murah, makanannya enak, dan tempatnya bagus.

Alhamdulillah, kesampaian juga mulai explore satu-satu wisata alam yang mudah dijangkau dari Cirebon supaya akhir pekan isinya ga cuma belanja ke Mall hihihi.

Kalau ditanya worth it ga dikunjungin untuk orang luar kota yang jauh-jauh ke Cirebon? Ya tergantung, suka alam dan hal yang ga bisa ditemuin di Jakarta ga? Kalau punya lebih dari 1 malam sih worth it. Objek wisata ini cuma perlu setengah hari kok. 

Rabu, 23 Januari 2019

Review Buku: The Danish Way of Parenting

Jiahh, belum apa-apa daku sudah utang hampir 3 post di bulan ini. Baru bulan Januari dan target blogging yang ditentukan oleh diri sendiri tidak dipenuhi. Hadeuhhhh.

Pada post pertama di tahun 2019 ini, saya akan mereview buku yang cukup populer di trimester akhir 2018 lalu. Saking lakunya, bahkan penerbit menaikkan harga buku tersebut dari 49.000 menjadi 59.000. Buku itu berjudul "The Danish Way of Parenting".


Apa yang membuat buku ini berbeda dengan buku parenting lainnya? Baca post ini sampai akhir yaa.

Judul: The Danish Way of Parenting (Rahasia Orang Denmark Membesarkan Anak) 
Penulis: Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl
Penerbit: Bentang Pustaka 
Tahun Terbit: 2016 (edisi asli) 
Cetakan I edisi Terjemahan: April 2018
Jumlah Halaman: 180


Semenjak menjadi orang tua, barulah saya sadar bahwa pengasuhan menjadi dasar penting hidup seorang anak. Bahkan hal ini akan mempengaruhi suatu generasi dan masa depan suatu negara. Kayanya lebay ya, tapi tidak. 

Sudah lama saya ngefans sama negara-negara di Skandinavia yang selalu menduduki peringkat teratas dalam survey kebahagiaan. Selain itu kebijakan-kebijakan yang mereka miliki pun sangat family friendly, seperti maternity leave yang panjang, paternity leave untuk ayah agar bisa turut membantu Ibu, penitipan anak subsidi pemerintah yang berkualitas dan lain-lain.

Terwujudnya buku ini bermula dari penasarannya Jessica, seorang kewarganegaraan Amerika yang memiliki suami orang Denmark, tentang "Apa yang menjadikan anak-anak (dan orang tua) di Denmark, orang paling bahagia di bumi?" Bersama dengan Iben yang seorang psikoterapis dan Ibu di Denmark, mereka melakukan penelitian yang kemudian dituliskan dalam buku ini agar lebih banyak orang yang mendapatkan manfaat dan bisa belajar dari cara orang Denmark membesarkan anak-anaknya.

Buku ini sendiri terbagi menjadi 6 bagian yang bisa disingkat dengan kata PARENT ditambah dengan 1 bagian pendahuluan tentang fakta yang ada di belahan dunia lain (khususnya Amerika).


Pada bagian Play dijelaskan bagaimana pentingnya bermain untuk anak-anak sebagai proses belajar kita. Bahkan sebenarnya lebih baik lagi jika mereka dibiarkan main bebas di luar rumah dengan pengawasan kita daripada playdate atau kegiatan bermain yang sudah diatur. (Bagian ini nih, iri banget sama eropa yang dikit-dikit ada playground gratisan buat dimainin anak-anak, di Indonesia kita mesti ke Emol.. Hiks). Beberapa penelitian bahkan menyimpulkan bahwa bermain mempunyai dampak langsung pada semua kemampuan beradaptasi dalam kehidupan. (FUN FACT: Lego asalnya dari Denmark loh)

Pernah dengan Hans Christian Andersen? Penulis terkenal dari Denmark dengan karya terkenalnya seperti The Ugly Duckling dan The Little Mermaid. Tahukan anda sesungguhnya cerita dongen yang sampai dan sering dibacakan di kita atau difilmkan Hollywod memiliki akhir cerita yang berbeda dari aslinya. The little mermaid misalnya sebenarnya dia tidak mendapatkan pangeran dan berubah menjadi buih lautan karena kesedihan. Ya, orang Denmark percaya bahwa tragedi dan kesedihan bukanlah untuk ditutup-tutupi atau hindari, karena dengan adanya itulah membuat mereka bersyukur dengan apa yang mereka miliki.

Bab Authenticity membahas bagaimana membesarkan anak secara natural agar dia dapat mengenali dan menerima semua emosi sejak dini. Hal ini selaras dengan fitrah based parenting yang mengatakan bahwa pada usia 2-7 tahun yang harus diasah adalah otak emosi. Salah satu kesalahan yang saya suka lakukan adalah, overpraised. Terlalu memuji anak tidaklah disarankan karena bisa menyebabkan fixed mindset, contohnya biasanya terjadi pada anak yang selalu dipuji cerdas (secara effortless, alias pinter dari sononya), ini bisa membuat anak justru tidak mau mencoba terlalu keras karena seakan jadi tidak pintar. Heuuuu, jleppp ini kayanya aku banget si fixed mindset. Dari kecil dibilang pinter, sedangkan adikku selalu dibilang tidak sepintar kakak tapi rajin dan gigih, jadilah ia growth mindset. Jreng-jreng, Now I'm a broke and dull mother, and she holds master degree from abroad and allowed to be working online from Indonesia because they need her. Intinya, kalau mau memuji, pujilah prosesnya.

Pada bagian Reframing, kita diajarkan untuk optimis namun realistis. Kita juga diingatkan untuk tidak seenaknya memberikan label negatif pada anak karena ketika label itu diulang terus menerus mereka akan mulai mengasosiasikan dirinya dengan label tersebut dan mengambil kesimpulan identitas darinya. Semenjak saat itu, saya sabar dan tahan-tahan banget jangan sampai keluar perkataan dengan kata mengungkung seperti "Ammar Bandel" kalau dia lagi bertingkah tapi "Ammar Anak Sholeh mana yaaa".

Nilai Empati sudah ditanamkan pada anak-anak Denmark semenjak kecil. Mereka dikenalkan dengan berbagai emosi semenjak preschool, sampai dengan pengaturan halus sedemikian rupa agar anak-anak dengan kelebihan dan kekurangan berbeda bisa belajar dan mengatasi masalah bersama. Empati adalah salah satu faktor paling penting untuk menjadi pemimpin, pengusaha, manajer yang sukses, dan peran penting lainnya.

No-Ultimatums. Pada bagian ini banyak dijelaskan ketidakefektifan dari hukuman fisik pada parenting. Selain itu tipe pengasuhan di Denmark sangat demokratis. Peraturan ditetapkan, namun mereka responsif dan terbuka jika anak pertanyakan. Bahkan di sekolah, setiap tahun murid dan guru duduk bersama berdiskusi peraturan apa yang ingin diterapkan untuk menciptakan kelas yang baik. Di Denmark, lebih banyak waktu dihabiskan untuk bagaimana cara menghindari masalah,  bukan bagaimana menghukum. Ingat, yang salah itu perilakunya, bukan anaknya. Selain itu, orang tua Denmark juga tidak langsung turun tangan jika anaknya mengalami kesulitan, sang anak dibiarkan sendiri dulu untuk mencoba mengatasi masalahnya. 

Togetherness (Kebersamaan) dan Hygge (Kenyamanan) untuk bab terakhir ini saya yakin sebenarnya hal ini mirip dengan di Indonesia yang sejatinya tidak seindividualistis negara barat. Keluarga berkumpul, saling akrab dan menikmati kegiatan bersama seperti main game, makan, bercengkrama dan lain-lain. Remember when you replace I with We, even Illness become Wellness. 

Dan seperti layaknya buku parenting pada umumnya, semua hal dikembalikan lagi ke orang tua. Ingin anaknya baik ya contohkan yang baik. Tidak ingin anak mudah meledak dan marah-marah, ya jangan lakukan hal yang sama. Saya jadi suka ingat-ingat ini kalau sudah mau marah dan teriak sama Ammar, anak saya yang pertama, karena saya ga mau dia melakukan hal yang sama.

Di bagian akhir buku ini mencantumkan sekitar 30 halaman daftar sumber rujukan dan penelitian yang penulis gunakan sebagai referensi. Ahhhh, saya suka sekali karena jadi ilmiah dan bukan "sekedar pengalaman". Salah satu yang jarang ditemukan di buku parenting Indonesia.

Dan sudah tentunya review dan resensi singkat dari saya ini masih kurang dan lebih afdol lagi kalo beli bukunya. Saya jual loh di IG @sabooks.id isinya kumpulan buku yang saya rekomendasikan dan jual dengan harga diskon selalu.

Semoga bermanfaat 😁😚


Senin, 31 Desember 2018

Ammar dan Speech Delay



Long read, karena rada curcol yaaa 😃

Salah satu kekhawatiran mommy-mommy saat anaknya berusia di bawah 1 tahun adalah kalau anaknya belum bisa jalan.

Sedangkan kalau anaknya berusia di bawah 2 tahun, yaitu kemampuan bicaranya.

Ya nggak? Padahal red line sih belum tapi kok jadi cemas ya liat anak teman udah bisa ini itu.

Begitupun dengan saya. Saat itu Ammar berusia 15 bulan ketika saya mulai resah kenapa kemampuan berbicara Ammar menghilang. Dari yang sebelumnya babbling, sempat manggil ayah sampai akhirnya cuma seperti menggumam dan enggan berbicara. Ammar mengerti dan paham apa yang kami ucapkan namun orang di sekitarnya tidak mengerti apa yang dia maksud sehingga hal ini membuatnya mudah ngambek dan marah. 

Saya teringat dengan denver developmental chart yang sering dijadikan acuan tumbuh kembang anak, dan memang kemampuan berbicara Ammar menghilang dan sama seperti anak 9 bulan. Dari hasil googling sana sini dan baca blog orang (lupa blognya yang mana) lebih baik segera periksakan anak ke klinik tumbuh kembang, karena jika ternyata ada masalah dan anak belum berusia 2 tahun akan lebih mudah terapi dan penyembuhannya.

Akhirnya mendaftarlah saya pada bulan Desember 2017 di Klinik Tumbuh Kembang salah satu Rumah Sakit swasta di Depok. Bukan main, untuk pemeriksaan awal saja harus waiting list selama 3 bulan. Klinik sangat penuh karena mereka juga menerima pasien BPJS dan tidak ada pengkhususan untuk yang umum. Oh iya perlu diingat untuk pengguna asuransi swasta yang biasanya disediakan kantor, sebagian besar tidak menanggung biaya untuk tumbuh kembang, jadi pastikan dengan kantor atau provider asuransi anda.

Yang ditunggu pun tiba, 3 bulan sudah dan akhirnya giliran janji temu Ammar dengan dokter di klinik tumbuh kembang. Saat itu saya sedang hamil besar kira-kira week 35 atau 36 dan tentunya cukup stres seakan inilah drama si kakak saat hamil si adek.

Di ruang tunggu klink tersebut, kamu mengamati anak-anak lain. Rata-rata memang hiperaktif, kesulitan konsentrasi, dan lain sebagainya usianya rata-rata sudah 3 tahun ke atas atau sudah umur playgroup. Ada juga yang memang diterapi karena kelainan bawaan seperti down syndrome, microcephaly, autisme.

Keputusan saya membawa Ammar ke klinik tumbuh kembang (tumbang) dinilai lebay oleh orang tua saya. Ketika saya melihat kondisi anak-anak di tumbang pun ada perasaan "duh lebay ga yaa.. Jangan-jangan dah capek-capek waiting list 3 bulan, dokternya pun bilang ga kenapa napa"

Khusus untuk ke tumbang ini, suami saya yang bekerja di luar kota, pulang dan mengambil cuti. Masuklah kami ke ruangan dokter. Ada 2 dokter yang menganalisa ditemani 1 perawat. Di dalam ruangan, Ammar diajak bermain, dites apakah bisa menyusun (stacking), jika dipanggil menoleh atau tidak, bagaimana konsentrasinya, bisa memenuhi perintah atau tidak, dan lain sebagainya. Sedangkan kami sebagai orang tua harus menjawab banyak pertanyaan tentang perilaku dan tumbuh kembang Ammar sehari-hari.

Diagnosanya: Ammar memiliki gangguan sensori integrasi dengan kecenderungan yang bisa mengarah ke ADHD (Attention Deficit/Hyperactive Disorder). Waktu itu Ammar berumur 18 bulan. Untuk checklist periksa sendiri apakah anak gangguan sensori integrasi atau tidak, bisa lihat di sini ya. Kami pun diberi list stimulasi yang bisa dilakukan sendiri di rumah dan disarankan untuk mengambil terapi Sistem Integrasi terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan Okupasi Terapi. Tapi untuk diagnosa saja kami menunggu 3 bulan, untuk terapi jadwalnya penuh berbulan-bulan. Susternya sendiri pun tidak bisa memberikan jadwal dan lebih menyarankan untuk mencari ke klinik di luar.


Agar diagnosa lebih menyeluruh, Ammar juga dirujuk ke dokter kejiwaan yang ada di Rumah Sakit yang sama. 

Sepanjang jalan pulang dari dokter tumbuh kembang, pikiran saya hanya memutar balik percakapan yang terjadi di ruang dokter tadi. Jujur saya tidak terima karena rasanya ada yang mengganjal, seperti:
  • Di rumah, Ammar dengan mudah melaksanakan perintah yang kami berikan. Namun di Rumah Sakit kan tidak semudah itu, apalagi yang menyuruh bukan orang yang dikenal.
  • Dokter menanyakan pertanyaan seperti "sudah bisa naik tangga". Kami jawab "sudah, tapi masih pegangan pinggir tangga". Dokter "oh berarti belum bisa ya". 😐😐😐😐 (Belakangan saya malah nemu di poster kesehatan, naik tangga tanpa pegangan itu ada di milestone anak 3 tahun, lagian coba bayangin kalau tangganya 1/3 tinggi badan kita, emangnya ga pegangan?)
  • Saya juga bilang bahwa Ammar anaknya sangat hati-hati bisa menilai bahaya. Jika kita taruh di pinggir tempat dengan elevasi maka dia akan diam tidak bergerak atau memanggil orang. Tanggapan dokternya: "itu kan menurut Ibu, orang tuanya"
  • Selama wawancara kami mencoba menjawab sedetail dan sejujur mungkin namun terkadang dokter seperti tidak percaya.
Sedangkan di dokter jiwa (horor bener kann kayanya anak saya gila 😣) saya tak ingat betul selain saya memahami kesalahan saya yaitu anak terpapar screentime terlalu lama dan anak suka tidur terlalu malam sehingga hormon pertumbuhannya tidak optimal. Ditambah lagi dokter jiwa merasa bahwa ukuran kepala Ammar "unusually big" jadi disarankan untuk diperiksa. Atas saran dokter anak langganan, saya disarankan untuk memeriksakan Ammar ke dokter syaraf anak di Cinere (daerah Depok tidak ada, Cinere walaupun Depok tapi bukan Depok karena jauh.. halahhh apa sihh).

Dokter syaraf anak di Cinere ini termasuk yang terkenal sepertinya karena dari hasil googling banyak yang menyebutkan nama beliau (inisial nama depannya I). Waktu itu pun cukup antri, walaupun dokternya juga agak telat, praktek jam setengah 7 datangnya jam 8, dan Ammar baru dipanggil jam 10 (saat itu Salsa sudah lahir dan berumur 2 minggu). Dan salah satu yang bikin kecewa adalah, selama di ruangan, dokternya tidak pernah sama sekali melakukan kontak mata atau menengok ke arah anak kamu. Untuk mengetes respon Ammar, sang dokter menyuruh susternya untuk memanggil anak saya, dan tentu saja Ammar tidak langsung menengok karena sedang sibuk main pelosotan yang memang disediakan di dalam ruangan dokter tersebut. :| Jujur ilfeel berat sama dokternya.

Hasil dari dokter syaraf anak ini adalah rujukan untuk melakukan CT Scan yang sampai sekarang tidak berhasil karena anaknya selalu terbangun dan menangis ketika ditaruh di alatnya walaupun sudah diberikan obat tidur. Selain itu Ammar juga diberikan resep obat racikan untuk membantu konsentrasinya yang ternyata obat cukup keras sehingga saya hanya menebusnya tapi tidak pernah saya berikan ke anak saya.

Karena mendapatkan jadwal terapi tidak mudah ditambah saran dari beberapa teman, kami memutuskan untuk dimaksimalkan saja di rumah dulu dengan cara-cara sebagai berikut:

  • Strict no gadget dan ini berlaku juga kepada yang sedang mendampingi
  • Lebih aktif mengajak Ammar main bersama dan mengobrol
  • Mengusahakan Ammar tidur siang tidak kesorean, dan tidur tidak lebih dari jam 9 
  • Beralih dari buku anak tipe spotting ke yang ada jalur ceritanya

Sungguh saya bukannya anti gadget, dan saya tau banget gimana rasanya hopeless anak susah makan. Sebelumnya ada perasaan denial akan pengaruh youtube kepada kemampuan berbicara. Masih ada sedikit perasaan "ahh semoga anakku seperti anak si X yang walaupun kena screen time banyak tapi tetap bisa ngomong". "ahh enak ya jadi orang luar negeri yang mother languagenya bahasa Inggris, jadi resiko gagap bahasa berkurang, kan video anak yang lucu-lucu banyaknya dalam bahasa Inggris", dan lain sebagainya. 

Kenyataannya, memang secara statistik 40% anak dengan screen time tinggi mengalami keterlambatan berbicara apalagi jika terpapar pada usia di bawah 2 tahun. Dampak yang ditimbulkan biasanya:
  • Bingung bahasa - bisa dilihat bahwa sebagian besar konten youtube anak yang menarik adalah berbahasa Inggris. Sedangkan orang di sekitar anak berbahasa Indonesia.
  • Berkurangnya konsentrasi dan cepat bosan
  • Lebih mudah marah
Pada usia 21 bulan, Ammar ditawari menjadi volunteer di kelas anak FIK (Fakultas Ilmu Keperawatan) UI yang sedang membahas tentang tumbuh kembang oleh tantenya (adik saya). Tentu saya bersedia apalagi ini gratis dan saya perlu second opinion tentang kondisi Ammar. Di kelas tersebut, Ammar diajak bermain dan saya sebagai orang tua ditanyai beberapa pertanyaan mengenai Ammar yang tidak bisa dijawab hanya dengan melihat Ammar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan KPSP IDAI (Kuesioner Pra Screening Perkembangan Ikatan Dokter Anak Indonesia).


Contoh Pertanyaan Untuk Ammar saat itu

Hasilnya?

Alhamdulillah tahap perkembangan Ammar masih sesuai dan tidak mengkhawatirkan. Setidaknya saat itu Ammar mempunyai lebih dari 3 kata yang memiliki arti. KPSP yang saya sebutkan di atas dapat digunakan sampai anak berusia 72 bulan atau 6 tahun loh sehingga bisa dipakai dan dievaluasi sendiri sebelum memutuskan untuk membawa anak ke klinik tumbuh kembang.

Jujur, rasanya berbeda sekali saat diperiksa dokter dengan saat diperiksa perawat. Pendekatannya itu loh... lebih intim dan bersahabat dengan perawat. Tanpa bermaksud mengeneralisir, tapi dokter yang saya temui seakan waktunya sangat berharga dan ingin secepatnya mengakhiri sesi dengan pasien dengan memberikan diagnosa yang terlalu terburu-buru.

UPDATE Ammar Sekarang?

Sesungguhnya draft blogpost ini sudah ngejogrok dari Bulan Agustus saat Ammar berusia 2 tahun (24 bulan). Sekarang Ammar sudah 28 bulan. Ammar sendiri mengalami ledakan bahasa pada usia kurang lebih 22-23 bulan. Setelah ini tahapannya sangat cepat, mulai dari kalimat lengkap terdiri dari S-P-O (Subjek, Predikat, Objek), sampai penggunaan pada konteks yang tepat dari sih, kok, oh, dong, dan kata-kata lain yang tidak memiliki arti tapi biasa kita ucapkan sehari-hari. Ammar pun sekarang sudah gemar menceritakan kembali cerita yang dibacakan atau kejadian yang dia alami sehari-hari. Yup, sudah memasuki tahap "ember" dan suka ngadu.

Kesimpulannya?

Dari pengalaman saya di atas, ada beberapa poin yang perlu dievaluasi orang tua apabila anaknya mengalami keterlambatan bahasa sebelum memutuskan memeriksakan anak ke klinik Tumbuh Kembang.


1. Cek Screen timenya

Menurut saya ini adalah yang perlu dicek pertama kali saat anak mulai terlihat "lambat berbicara". Saatnya jujur dengan diri sendiri. Mungkin ibu pekerja yang menitipkan anaknya dan tidak bisa berbuat banyak saat yang dititipkan memberikan screen time, atau ibu rumah tangga yang cukup desperate untuk bisa mengatur dan membereskan hal lain, atau bahkan taktik agar anak bisa makan? Percayalah, I've been there, done that! Berdasarkan saran batasan screen time dari American Academy of Pediatrics, untuk anak di bawah 18 bulan sebenarnya belum boleh kecuali untuk video call. Di atas 18 bulan perlu pendampingan dan seleksi akan program yang disungguhkan, sedangkan 2 tahun ke atas tetap perlu pendampingan dengan batas maksimal screen time selama 1 jam per hari.

Untuk anak saya yang ke-2, caca, sudah saya terapkan hanya video call saja. Dulu beberapa teman saya pernah post tentang anaknya yang sedang bermain di dekat TV tapi tidak menunjukkan ketertarikan/terhipnotis TV, ya usianya sekitar 2 tahunan memang tapi mereka memang tidak terpapar semenjak kecil. Saya sempat skeptis, MANA MUNGKIN. Ternyata mungkin, karena caca sekarang pun masih lebih memilih asyik dengan mainannya dibanding melihat ke layar TV.

Kalaupun memang sangat terpaksa, menurut pengalaman saya TV dengan tontonan berbahasa Indonesia memiliki dampak buruk yang lebih ringan dibandingkan youtube bahasa Inggris di Gadget/HP saat anak masih belum bisa berbicara. Layar gadget yang lebih kecil, cenderung membuat anak menjadi lebih terpaku dan fokus kepada layar.

2. Interaksi dan Dialog?

Siapa yang suka main HP di saat menyusui? CUNG, SAYA! Tanpa sadar hal itu membuat saya kurang melakukan interaksi dan mengajak anak saya berbicara. Rajin-rajinlah mengajak bayi anda berbicara, mulai dari mendeskripsikan apa yang sedang anda lakukan, mengajaknya bercanda, sampai memberikan pertanyaan retorika. Stimulasi seperti ini membantu anak dalam merespon, mulai dari sederhana lama kelamaan menjadi lebih kompleks seperti berbicara :)

Jadi tunggu lah sampai anaknya tertidur yaa.. Walaupun kadang saya suka senewen sendiri, anak ngga tidur-tidur padahal saya ada perlu di HP. But then I came with a conclusion, it's not only their addiction we want to avoid, it's our addiction we have to overcome!

Oh iya, dengan sering melakukan interaksi dengan anak, kita juga bisa mengetahui dan lebih peka, kalau-kalau anak memiliki tanda-tanda autisme. Karena tanda-tandanya bisa dilihat dari usia 6-12 bulan, dan diagnosanya bisa tegak pada umur 18 bulan.

3. Bagaimana tekstur makanannya?

Pada beberapa kasus, oromotor (oral motor) menjadi penyebab keterlambatan anak berbicara. Kepiawaian ibu dalam menentukan kapan anak bisa naik tekstur makanan sangatlah penting. Salah-salah, jika telat, anak akan terbiasa memakan makanan dengan tekstur yang lembut padahal umurnya sudah cukup sehingga oromotornya tidak terlatih dan menghambat kemampuannya berbicara.


Sekian pengalaman saya dan tanpa niat untuk menggurui. Semoga bisa diambil hikmahnya dan terhindar dari kestressan yang saya alami.




Rabu, 19 Desember 2018

Target Blog di Tahun 2019

Post terakhir di BPN 30 Day Blog Challenge 2018! YEAY, sampai juga akhirnya. Ternyata saya bisaa... Sebulan ikut ODOP (One Day One Post) nya BPN sungguh membuka mata saya tentang blogging. Menulis jadi lebih lancar, menambah inspirasi dan ilmu dengan sering-sering blogwalking, dan lain-lain. Ahhh senang rasanya bisa ikutan.

Lalu apa target saya di tahun 2019 untuk blog ini?

1. 1 Minggu 1 Post

Pada tahun 2017 dan 2018 yang lalu target saya adalah 1 bulan 1 post. Setelah saya mengikuti BPN 30 Day Blog Challenge 2018 dan ternyata saya mampu, saya ingin menargetkan minimal 1 Minggu 1 Post. Tidak muluk-muluk sebenarnya, tapi saya inginnya sih bisa istiqomah. 

2. Page View minimal 1000/hari

Saya paling suka liat statistik kunjungan ke blog saya dan terkadang masih suka heran sendiri "beneran nih ada segini kunjungan setiap harinya ke blog saya?". Yah mungkin tidak sebesar blog teman-teman blogger yang sudah lebih profesional. Atau mungkin masih di bawah persyaratan untuk job review. Namun mengingat blog ini ditulis dengan cita-cita sederhana dan tempat menyalurkan hobi menulis, sudah ada yang baca saja memberikan kepuasan tersendiri bagi saya.

Tentu saja "nyasar"nya orang ke blog saya juga disebabkan oleh faktor DA (Domain Authority) dan PA (Page Authority) dari blog saya. Oleh karena itu target nomor 2 ini sangat berkaitan juga dengan target pertama dimana diperlukan kekonsistenan dalam menulis dan mengupdate blog. Sampai saat ini jumlah pageview per hari saya ada di kisaran 400-600. Semoga bisa terus bertambah.

3. Mulai membahas topik lain dan lebih teratur

Selama ini yang saya tulis di blog masih sebatas suka-suka serta tidak teratur ataupun terjadwal. Seiring dengan seringnya saya melakukan blogwalking akhir-akhir ini, sebenarnya akan lebih mudah apabila topik dan jadwal sudah ditentukan.

Selama ini yang paling banyak saya bahas adalah review produk anak dan hal-hal yang berkaitan dengan motherhood. Niche blog ini akan tetap tentang lifestyle, namun saya akan lebih memperbanyak review buku anak maupun buku dewasa. 

Selain itu saya juga ingin lebih mengeksplor tema-tema tentang keuangan keluarga.


Tidak muluk-muluk sebenarnya target saya untuk ngeblog. Seperti kata Gretchen Rubin penulis "My Happiness Project", tulis saja dulu tanpa membebankan dengan target, tau-tau blognya masuk ke daftar Top 5000 nya Technorati (peringkat blog di dunia).
 
Yang paling utama adalah kecintaan terhadap menulis yang harus dipupuk, kalau memang cinta, insya Allah berbuah manis 😊


Oh iya, selain page view dan kenalan blogger bertambah, ada loh satu manfaat yang baru saya rasakan setelah ikut ODOP: rezeki bertambah! Bukan, bukan karena baru dapat job dari blog ini. Tapi karena saya jadi sholat shubuh di awal waktu, entah kenapa jadinya selalu ada saja order di toko shopee saya atau lapak facebook, hihihihi. Nyata benar bahwa waktu shubuh bisa menjemput rezeki. *ketauan banget selama ini kesiangan mulu 😛

5 Situs yang Sering Dikunjungi


Jujur sih semenjak mulai sering main instagram sekitar 2014, saya jadi jarang bukan website tertentu. Padahal dulu, setiap duduk di angkot, pasti rajin buka-bukain situs berita (belum ada line today gaess). 

Sekarang perlu cari tau segala sesuatu: google. Sehingga sebenarnya cukup sulit untuk mengatakan, mana situs yang benar-benar saya memang niat kunjungi. Cara gampangnya, mari cek dari most frequent visit di browser. 

1. Blogger.com



Karena lagi ikutan BPN 30 Day Blog Challenge, jadilah website blogger yang paling sering dikunjungi. Biasanya saya ngedraft dari handphone lewat applikasi Blogger Pro, lalu diedit di web browser blogger via PC. Semoga blogger membuat applikasi yang lebih user friendly di handphone. Mereka sepertinya malas untuk mengupdatenya, applikasi blogger resmi rating di playstore hanya 3.8 dengan keluhan banyak bugs-nya.

2. Shopee



Ampunnn, ini juga sebenarnya applikasi yang paling sering saya buka. Bukan karena saya suka belanja online loh, tapi karena saya punya toko disitu dan beberapa fitur pengaturan toko hanya bisa dilihat via PC browser contohnya fitur promosi saya untuk pengaturan diskon di toko atau event promo shopee. Apalagi jika tokonya besar dan banjir pesanan, sudah pasti membuka shopee dari web browser karena memudahkan untuk mencetak label pengiriman dan memungkinkan untuk mass upload.

3. GoodReads




Saya sesungguhnya belum punya akun GoodReads tapi termasuk sering mencari review buku. Biasanya buku yang saya cari buku anak dan buku-buku self help. Iya saya sudah jarang sekali baca buku fiksi, apalagi yang percintaan (pahit kehidupan membuatku terlalu getir, halahhh). Sampai saat ini, goodreads tetaplah website terasyik untuk membaca review buku. Mulai dari buku internasional sampai buku Indonesia.

4. LibGen



Nah lanjutan dari habis browsing goodreads biasanya saya cari ebook buku yang menarik hati di website ini. Koleksinya banyak sekali, hampir semua buku ada walaupun untuk buku-buku baru biasanya perlu waktu lebih lama. Biasanya dari membaca sekilas buku tersebut, barulah saya membeli buku terjemahannya yang sudah diterbitkan di Indonesia. Terkadang saya akhirnya menjual buku tersebut kalau menurut saya memang bagus. Hitung-hitung menebus dosa udah mengunduh ebooknya, diganti dengan jualin buku resminya, hihihi...


5. Female Daily



Sebelum female daily menggarap segmen review di webnya, saya biasanya mengandalkan makeupalley untuk review produk kecantikan. Namun kelemahan makeupalley adalah reviewnya kebanyakan dari orang luar negeri yang tinggal di daerah 4 musim dan warna kulit yang berbeda. Sama dengan makeupalley, review di female daily juga bisa diurutkan berdasarkan jenis kulit serta umur reviewer sehingga sangat membantu untuk menemukan review yang lebih akurat dan cocok untuk saya, si orang Indonesia berkulit bacem.


Kok websitenya ngga ada yang berita ya? Karena sumber berita saya sekarang line today, hahaha. Berita-berita dengan judul click bait tapi tetap aja dibuka wkwkwkwk. Salah satu guilty pleasure saya: baca kolom komentarnya :p

5 Situs Belanja Favorit versi Online Shopping Mania


Nah ini dia nih yang paling sering jadi distraksi buat saya nulis, belanja! Dan di saat-saat terakhir ini, saya ketinggalan banyak post. Biang penyebabnya, 12.12! 

Seberapa sukanya saya belanja online? Sampai-sampai saya kalau ke mall ya hanya buat makan dan anak main, jarang belanja kecuali kebutuhan sehari-hari. Soalnya saya bisa menemukan barang yang sama dengan harga lebih murah di online.

Berikut tempat belanja online favorit saya, 2 marketplace dan 3 situs belanja (e-commerce).

1. Shopee



Siapa sih yang ngga tau shopee? Marketplace yang paling populer saat ini. Saya sudah memakai shopee semenjak punya anak pertama, hampir 2 tahun. Di Shopee saya bisa menemukan apa saja dengan harga yang termurah. Dari dulu subsidi ongkos kirim (ongkir) nya sampai 70 ribu sampai sekarang tinggal 20 ribu. Dari yang sebelumnya jumlah checkout free ongkir tidak dibatasi, sampai sekarang dibatasi dan dibuat jadi voucher. Hahahhaa, sebenarnya shopee semakin tidak mudah dan semenyenangkan dulu. Tapi sekarang hampir semua toko melapak di Shopee. 

Saya sendiri pun punya toko disini. Membuka toko di shopee memang lebih mudah padahal sebelumnya saya punya lapak juga di "si hijau", tapi akhirnya tidak terurus karena membuka toko di lebih dari satu tempat membuat pusing pengaturan stok barang, sedangkan saya masih mengerjakannya sendirian. Marketplace yang merah? Saya sudah tidak punya tenaga untuk membuka di situ walaupun promonya juga lagi gencar untuk free ongkir dan foundernya 1 almamater hehehehe.

Berdasarkan pengamatan saya, barang-barang seperti kosmetik dapat ditemukan di shopee dengan harga 20% di bawah harga normal eceran yang ditentukan produsen. Jadi kalau di mall diskonnya baru 15-20% saya belum tertarik, tapi kalau lebih dari itu baru lah menarik.

My Best Purchase: Susu anak paling murah bisa dapet di Shopee. Sebagai ilustrasi, Pediasure 850 gr itu harga normal di tokonya 280 ribu, kalau di Shopee bisa ada yang jual 220 ribu. Terkadang ada voucher cashback juga, jadi lumayan banget ngehematnya.

2. Lazada



Lazada juga merupakan marketplace yang artinya tidak semua barang disediakan dan dikirim dari gudang lazada. Biasanya yang dikirimkan dari lazada adalah barang-barang dari brand rekanan atau official shop. Kita juga bisa berjualan lewat lazada namun tidak semudah melalui shopee karena persyaratannya lebih khusus dan applikasinya pun berbeda. 

Sebenarnya saya suka agak trust issue sama lazada, karena diskonnya suka bohongan. Harganya suka di mark up dulu lalu diberi diskon besar dan jadi mendekati harga normalnya (kadang masih lebih mahal atau hanya murah sedikit saja). Saya sih tidak akan tertipu dengan yang begini. Belum lagi, keaslian barang tidak terjamin. Makanya di Lazada saya hanya berbelanja di official shop milik brand saat lagi ada promo besar-besaran.

My Best Purchase: Popok Sekali Pakai Sweety! Official Shop Sweety di Lazada termasuk yang paling sering diskon, kadang sampai 50%. Saya jadi sering dapat popok kelas gold dengan harga yang terkadang lebih murah daripada beli yang kelas silver di toko biasa.


3. JD.ID


Waktu baru pertama kali muncul (iyahhh, emang e-commerce kalau baru launching tuh promonya banyak dan pelanggan dimanjain banget), jd.id sering banget promo, belanja berapa pun gratis pengiriman ke seluruh Indonesia. Enak banget kann.. Sering tuh saya cuma beli 9 ribu perak tapi gratis pengiriman. Sekarang sih mereka sudah ada batas minimum pembelanjaan 90 ribu untuk bisa gratis ongkir tapi tidak ada batasan kg nya... Kategori yang ditawarkan beragam, mulai dari handphone, komputer, sampai kendaraan bermotor, kebutuhan sehari-hari dari mie instant sampai shampo, segala barang fashion, kebutuhan ibu dan anak, sampai barang branded mahal 😮 semuanya ada. Dan salah satu keunggulan jd.id adalah, dijamin ori.  

My Best Purchase: Kain Pel Bolde 70ribu saja sudah dikirim ke Cirebon (sambil beli nata de coco buat Ammar biar gratis ongkir), liat di mall hampir 200 ribu. Pernah juga saya beli mangga harummanis dan bawah merah via jd.id hihihi.

4. Watsons



Semenjak watsons buka toko online, saya hampir tidak pernah belanja di toko fisik watsons kecuali memang perlu atau ingin mencoba langsung produknya. Kenapa? Karena mereka memberikan promo tambahan diskon 20% untuk pembelian online. Jadi lebih murah beli online kan. Belum lagi layanan free ongkirnya yang tak terbatas dengan hanya belanja 50 ribu untuk pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Semoga saja seperti ini terus, ngga perlahan dikurangi seperti Shopee, hehehehe.

My Best Purchase: Sabun mandi Palmolive 1L cuma 25 ribu waktu promo 9.9 yang lalu. Dan saya borong 8L. Stok sabun mandi walau di rumah ada 10 orang aman sampai pertengahan tahun depan mungkin ya.

5. Orami



Orami (sebelumnya Bilna) adalah situs belanja yang fokus terhadap kebutuhan wanita (read: ibuk-ibuk). Mulai dari peralatan bayi, baju menyusui, sampai gincu semua ada disini. Harga normal di Orami memang lebih mahal daripada di Shopee, tetapi memang sering diskon dan harganya bersaing. Gratis biaya pengiriman untuk pembelian minimal 200 ribu. Sebenarnya ini agak memaksa sih, karena kalau tidak mencapai 250 ribu, biaya pengiriman ke jadebotabek jadi 18 ribu walau berat yang dibeli hanya 1 kg. Untuk di luar Jadebotabek, ada kuota berat pengiriman, kalau tidak salah 3 kg. Terakhir kali saya mencoba mengirim ke Cirebon, tidak sepenuhnya gratis soalnya.

Sekarang Orami tidak hanya berjualan namun menyediakan forum diskusi untuk ibu-ibu yang membahas mulai dari kesehatan sampai menyediakan konsultasi gratis dengan dokter spesialis via forum.

My Best Purchase: Playmat Parklon yang harganya lebih murah dari di ITC Kuningan tapi bedanya saya ngga perlu capek-capek ke ITC dan ribet bawanya. Semuanya di antar gratis tis ke rumah :) Tapi ini hampir 1.5 tahun yang lalu sih, sekarang mereka ada syarat dan ketentuannya untuk gratis pengiriman.


Bagaimana dengan anda? Ada yang sama?

My Simple Happiness



Okay, kejar tayang topik hari ke 27 - 5 Kebahagiaan Sederhana. Topik yang cukup susah menurut saya, seorang manusia yang banyak keluh kesah.. Duh ga good vibe banget sih aku orangnya. Jujur ini bahasan yang cukup berat karena terkadang saya masih struggling dengan diri sendiri untuk ikhlas menjalani hidup sebagai Ibu Rumah Tangga dengan anak yang nempelnya kaya perangko.

Tapi ada beberapa hal yang bisa membuat hari-hari saya lebih ringan setiap harinya, apabila...

1. Bangun Paling Pagi atau Tidak Ketiduran

Saya paling sering ketiduran saat nidurin anak dan seringnya bablas ketiduran sampai pagi. Alhasil cucian piring masih numpuk, baju-baju kotor belum dikucek dan direndam, membuat pagi hari ku saya lebih suram. Kebetulan anak saya yang kedua ini pun tidurnya mengempeng, jadi sulit sekali untuk melepaskan diri darinya saat tertidur.

Beberapa waktu ini karena harus menulis blog untuk BPN 30 Day Challenge 2018, saya jadi sering bangun jam 2 dan biasanya tidak tidur lagi sampai malam hari selanjutnya. Rasanya produktif sekali dan dapat melakukan banyak hal. Saya merasa menang sudah bisa curi start dari anak-anak saya. Menulis bagi saya adalah ME TIME. 

2. Anak Tidur Siang


Di balik ulah anak-anak yang membuat ibunya sering istighfar, melihat mereka ketika sedang tidur siang suka membuat saya terenyuh. Merasa bersalah sebelumnya sudah jengkel. They sleep like an angel. Biasanya saya suka berbisik meminta maaf jika saya memarahi mereka sebelumnya. Jika posisi tidur siangnya bisa terlepas dari badan saya, biasanya saya jadi bisa mengerjakan hal lain seperti merapihkan rumah atau melakukan hal produktif lain. Namun jika posisinya "sandera" maka saya hanya bisa memaksimalkan hal-hal yang bisa dilakukan melalui handphone seperti mengupdate jualan dan membaca e-book. Maklum saya hanya bisa pegang handphone saat mereka tidur atau tidak di dekat saya dalam rangka pembatasan screen time. Ya wajar saja kalau anak saya jadi mau main handphone kalau saya sendiri pegang handphone terus kan. 

3. Anak MAKAN dengan lancar


Anak saya termasuk picky eater berat. Sudah kecil susah makan pula, komplit deh, ibunya jungkir balik putar akal supaya anak mau makan. Padahal saya ini bukanlah ibu yang rajin memasak, namun demi anak saya suka mencoba berbagai macam resep. Tak jarang berujung dengan kegagalan. Ya anaknya ngga mau makan, ya makanannya juga rada jauh dari ekspektasi, hehehehe. Hal inilah yang paling sering buat saya senewen. Rasanya semua sia-sia.

Di antara banyaknya penolakan, ada kalanya anak saya mau makan dan senang dengan makanannya. Bagaimana rasanya? Bahagia. Bahagia banget, lebih bahagia daripada dapat nilai A dulu pas kuliah.

4. Bersama, berempat di satu tempat


Menjalani Long Distance Marriage itu ga mudah, hal ini lah yang membuat saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Walaupun terkadang kerinduan untuk bekerja kembali itu ada namun berkumpul bersama berempat di satu tempat adalah anugerah tersendiri. Satu yang saya rasakan setelah tidak LDM lagi, Ammar terlihat lebih happy. After all, mereka bertiga adalah orang-orang yang membuat saya lebih berarti di dunia ini.


5. Bisa Pergi Kajian Seorang Diri dan Pakai Tas Kecil


Kewarasan seorang ibu sering kali diuji, oleh karena itu me time sangatlah diperlukan. Saya yang dulunya sangat rebel, semakin tua jadi merasa semakin perlu siraman rohani agar tetap eling. Membawa anak-anak saat kajian itu fokusnya cuma 10%, sisa 90%nya waspada lihat anak kesana kemari atau bagaimana agar menjaga mereka tetap tenang dan tidak berisik. Oleh karena itu, kalau di rumah lagi banyak orang dan lagi pada berbaik hati untuk menjaga anak saya, langsung saya manfaatkan 2-3 jam untuk "kabur" ke pengajian mingguan sebentar. Waktu yang sangat singkat ini harus berfaedah dan dimanfaatkan semaksimal mungkin bukan?

Lalu apa hubungannya dengan tas kecil? Kalau pergi tidak ada anak, tentu saja barang bawaan lebih sedikit bukan. Ini lah parameter "kesuksesan" saya, hahaha... pokoknya goals banget lah kalo kemana-mana udah bisa bawa sling bag kecil doang (artinya: ga ada buntut lagi).

BACA JUGA: 5 Barang di Tas Emak Nekat

Semenjak menjadi ibu, prioritas berubah, cita-cita menyempit, dan bahagia itu sederhana. Tapi kewarasan tetap yang utama.

5 Make Up Essentials versi Sumayyah


Awal Desember lalu setelah sekian lama akhirnya saya jalan-jalan lagi. Kemana? Simpel aja, ke Bandung. Sungguh berbeda dengan tahun 2017, tahun ini saya tidak kemana-mana sehingga ke Bandung saja rasanya spesial. Ini kali pertamanya kami pergi berempat ke luar kota (sebelumnya hanya Cirebon-Depok saja). Karena saya penganut tidak mau rempong dengan banyak bawaan, eh malah akhirnya banyak hal penting yang ketinggalan, di antaranya adalah: POUCH MAKEUP!

Untung saja sebelum pergi ke Bandung, kami mampir ke Depok dulu beberapa hari, sehingga saya bisa meminjam "essential make up" ke adik saya. Apa saja make up yang harus banget ikut bersama saya? Istilahnya my bare minimum make up.

1. Lipstick

Ini sih wajib bagi para wanita. Walau sedang di rumah saja dan hanya main sama anak-anak, kadang saya pakai lipstik loh. Mengoleskan lipstik dengan warna yang saya sukai meningkatkan mood dan semangat saya hari itu. Hehehehe.

Current Favorite: Maybelline Color Sensational Powder Matte Shade: Touch of Nude, Almond Pink

2. Maskara

Produk kecintaannku setahun terakhir ini adalah maskara. Iyaaa, saya selama ini tidak menyadari the power of mascara. Mata terlihat lebih segar dan terbuka, di saat perlu persiapan super kilat biasanya saya hanya memakai lipstik dan maskara.

Current Favorite: Maybelline Push Up Drana

3. Eyeliner

Produk mata yang satu ini sudah tidak terpisahkan sedari dulu walaupun sampai saat ini kalau pakai yang liquid masih mencong-mencong jadinya, tangan tremor. Hehhehee... Paling aman memang yang bentuknya pensil ataupun spidol. Semenjak saya suka maskara, eyeliner terkadang terlupakan, lagipula kadang pemakaian eyeliner membuat riasan terlihat lebih berat. Kadang jika rajin, saya lebih suka memakai nude liner di water lash line agar mata terlihat lebih terbuka namun natural.

Current Favorite: Maybelline Hypersharp Liner yang Kuning

4. Lip Balm

Bibir saya sebenarnya jarang pecah-pecah, saya terbiasa memakan lipbalm sebelum tidur sehingga pagi hari bibir terasa lebih lembut dan lipstick ready. Pernah suatu waktu, saya tidak memakai lipbalm berhari-hari, padahal sebagian besar hari saya di ruangan berAC, jadi pecah-pecah dan tidak bagus kalau dipakaikan lipstik.

Current Favorite: Vaseline Petroleum Jelly yang multifungsi atau Nivea Lip Balm yang Biru

5. Complexion product

Yah ada yang bilang kalau cantik umur 20 kebawah itu keturunan, 20 ke atas itu skin care. Memang sih kalau sedang rajin skin care-an dengan benar terasa bagusnya di kulit muka. Tapi saya lebih sering ga teraturnya, alhasil masih sering kurang PD kalau tidak pakai produk complexion. Eh sebenarnya sih cuek aja asalkan memang pergi ke tempat non formal dan ga bakalan ketemu orang yang dikenal. Hehehhe.

So far saya belum pernah coba produk high end jadi masih puas-puas saja dengan foundation yang saya punya. Saya lebih suka yang sheer to medium coverage biar ga kaya dempul. Belum lama ini saya mencoba CC Cream nya Lakme, lumayan juga hasilnya MSBB (ada ga sih istilah ini, kan MLBB ada tuh) - My Skin But Better. Tapi sepertinya saya salah beli shade, jadi terlalu gelap dan jadi agak kusam, hehehehe.

Current Favorite: Bourjois Healthy Mix Serum Foundation, L'oreal True Match Cushion


Hasil pinjaman dan persediaan make up darurat di rumah Depok 😝
Ki-Ka: Lakme 9to5 CC Cream, Catrice Contour and Eyeliner Pencil, Dear Me Liquid Lipstick Shade Dear Leya, L'oreal Lash Paradise, Nivea Lip Balm Vitamin Shake


Muka Inem tetap terlihat tidak berbeda yaa.. Hahahaha

Ada rekomendasi produk make up essential lainnya yang ahrus ditambahkan?

Hari Minggu Ceria Generasi 90an!


I'm a proud generasi 90an! Menurut saya generasi 90an itu di tengah-tengah, masih dapat dan dekat dengan alam tapi teknologi sudah lumayan maju juga. Sampai-sampai ada loh akun instagram terkenal tentang generasi 90an


Nah salah satu hal yang menjadi ritual dan kenangan indah generasi 90an adalah hari minggu! Hari ini adalah hari favorit saya sewaktu kecil. Hari dimana saya bangun pagi secara sukarela karena saya mau nonton kartun. Mulai dari jam 05.30 sampai jam 12.00. Pada hari ini juga saya dan adik-adik diperbolehkan menonton TV lebih lama.


Hari minggu yang biasanya saya jalani:

Jam 05.30 - biasanya dimulai dengan club disney di Indosiar. 
Jam 06.00 - bergegas antri untuk beli bubur ayam di komplek yang sangat laku dan antri. 
Jam 07.00 - Nonton Chibi Maruko Chan di RCTI *sekarang chibi maruko chan tayang lagi loh di RTV*
Jam 07.30 - Sailormoon di Indosiar
Jam 08.00 - Doraemon di RCTI 
Jam 08.30 - Detective Conan di Indosiar 
Jam 09.00 - Ninja Hattori di RCTI
Jam 09.30 - Pokemon di Indosiar
Jam 10.00 - Powerpuff Girl di RCTI
Jam 10.30 - Crayon Shinchan di RCTI
Jam 11.00 - One Piece di RCTI

Jadwal di atas sebenarnya berdasarkan ingatan saja, lupa-lupa ingat. Tapi yang pasti jam 08.00 itu doraemon dan karena TV di rumah hanya satu, terkadang saya mesti rebutan dengan adik saya yang laki-laki untuk menonton karena hampir semua stasiun TV menayangkan kartun di minggu pagi. Biasanya kalau sudah begini, mandi hanya sekali saat minggu sore *yang bagian ini ga beda jauh sama keadaan sekarang hahahhaa 🤣*

Entah apa penyebabnya, namun sekarang hari minggu sudah punah, tidak ada lagi marathon berbagai jenis kartun. Yang ada malah acara gossip 😣 Sekarang kartun banyak tayang di pagi, siang, dan malam hari kerja. Spongebob Squarepants dan Upin Ipin bisa tayang total 4-5 jam sehari. Isi tayangannya diulang-ulang dan cerita bisa dipotong begitu saja menggantung jika waktu sudah habis dan saatnya berganti acara. Gengges banget lah cara motongnya, tiba-tiba dan tanpa basa-basi, hihihi. Ya tapi karena sudah diulang-ulang terus jadinya ga penasaran banget sih.


Generasi millenial mungkin ga akan mengerti betapa ditunggu-tunggunya hari Minggu dulu. Memang sih sekarang sudah bisa nonton kartun kapan saja karena ada youtube, tv online, dan penyedia content lainnya, namun kenikmatannya terasa berbeda kalau kamu tidak gampang mendapatkannya, ya gak? Sama seperti jika kamu mendengarkan lagu kesukaan di radio, karena yang menentukan bukan dirimu sendiri, hehehe.