Andai Saja Saya Tahu Mengapa Anak-Anak BBLR

9:30 AM


 Day 23 of 30 Day Blog Challenge BPN temanya adalah tentang Hal yang Disesali sampai saat ini.

Ada satu hal yang terus membuat saya bertanya-tanya, ingin tau jawabannya tapi tidak ingin mengulanginya lagi.

Yaitu, HAMIL.



Kenapa?

Dua kali saya hamil dengan tingkat ke-kebo-an yang sama, namun asupan gizi yang berbeda. Di kehamilan yang pertama, saya sangat menjaga makanan, tidak makan mie instant, menghindari sate dan bakar-bakaran, dan lain-lain. Pada saat akhir kehamilan, bayi saya masih cenderung kecil sehingga saya disarankan makan es krim bahkan saya sempat infus fenofer (zat besi agar saya tidak anemia dan bayi tidak kecil). Namun ternyata, tetap saja anak saya kecil. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) karena di bawah 2.5 kg walaupun tidak prematur (cukup umur, 38 minggu). 

BACA JUGA: My First Pregnancy Story

Di kehamilan kedua, (seperti layaknya ibu lain pada kehamilan kedua yang tidak direncanakan) saya cenderung serampangan, makanan tidak begitu dijaga, suplemen terkadang lupa. Namun saya mengambil inisiatif untuk makan coklat dan es krim sebelum disuruh dokter sebagai usaha agar anak saya nanti besar. Saya berhasil menaikkan berat badan saya sebanyak 17 kg (dibandingkan dengan hanya 9 kg di kehamilan pertama). Lalu apa yang terjadi, ternyata semua hanya lemak hanya lari ke paha saya, anak kedua saya BBLR lagi dengan berat 100 gram lebih ringan dari kakaknya. Sakit hati ini tuuu...

Jika pada kehamilan pertama saya melakukan USG 4D sampai 2x. USG 4D yang pertama karena genit, yang kedua karena dirujuk untuk dianalisis lebih detail tentang kondisi janin dan sambungannya. Di kehamilan kedua, kami sudah niat untuk melakukan USG 4D, tapi dokter subspesialis yang jadi rujukan mereschedule jadwal hingga 4x, padahal untuk kontrol, saya harus pergi dari Cirebon ke Depok (saya tidak mau ganti-ganti dokter). Tentu saja ini sangat merepotkan dan berujung akhirnya kami tidak jadi USG 4D.

Hasil analisis USG 4D pada kehamilan pertama saya adala terdapat gangguan pada saluran "makan"  sebelah kiri ke janin sehingga asupan yang diterima bayi kurang maksimal. Sedangkan di kehamilan kedua, misteri ini tidak terpecahkan. Apakah sama seperti dulu? Saya terus bertanya-tanya. I keep having thoughts that I have such a bad womb.

Waktu pertama kali melihat daftar tema blog challenge ini, ketika membaca judul tentang hal yang disesali, jujur saya merasa tidak ada yang saya sesali. Semua kegagalan dan patah hati yang saya alami dulu ternyata mengantarkan saya ke skenario tuhan yang lebih baik.

Nah, terus kenapa saya menyesali tidak mengetahui lebih lanjut alasan anak-anak saya BBLR semua?

Semua berawal dari instastory seorang dokter spesialis anak yang cukup populer di Instagram. Saya sudah tau kalau Indonesia memang darurat stunting, dan anak pertama saya pun sudah oernah divonis FTT (failure to thrive) dengan perawakan pendek. Yang saya baru tahu adalah bayi dengan berat lahir di bawah 2.5 kg dan tinggi di bawah 48 cm, adalah STUNTING. Dan stunting adalah irreversible damage. And its damage also affect brain.

ARTINYA anak saya stunting dari lahir. Memang keduanya memiliki nafsu makan yang rendah dan kemungkinan ada hubungannya dengan ADB (Anemia Defisiensi Besi). Kenyataan bahwa anak saya sudah stunting sejak lahir cukup mematahkan semangat saya bahwa suatu hari mereka akan bisa tumbuh seperti anak lain selama asupan gizinya cukup. Ditambah lagi kemarin saya habis reuni dengan teman kuliah dan saya melihat betapa pendeknya anak saya dibandingkan dengan anak-anak teman saya, tinggi badannya (usia 28 bulan) sama dengan yang berusia 15-18 bulan :(

MASALAHNYA, anak pertama saya adalah picky eater berat yang hampir mustahil untuk diberi makan, sedangkan anak kedua saya, tutup mulut dari pertama kali MPASI sampai sekarang sudah 3 bulan. Bagaimana saya bisa catch-up? 

Saya jadi banyak berandai-andai, andai saja mereka tidak BBLR, mungkin tidak ada kecenderungan anemia, sehingga nafsu makannya lebih baik. Saya penasaran sekali apakah jika saya hamil lagi maka anak saya akan BBLR lagi walaupun saya sudah menjaga asupan gizi saya dan kenaikan berat badan yang cukup? Tapi itu berarti saya punya anak lagi, sedangkan dua saja sudah mengajarkan saya untuk banyak-banyak beristighfar.

BBLR ini bagi saya menjadi mula dari permasalahan saya dan anak-anak saya yang susah makan dan tidak gemuk-gemuk. Ga, jangan gemuk deh, saya hanya ingin mereka tidak kurus dan lebih berisi. Belum lagi bayi BBLR memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk kolik, seperti yang saya alami dengan anak kedua saya. (Yup, kolik itu jadi mimpi buruk dan membuat saya baby blues).

BACA JUGA: Kolik dan Alergi Bikin Stres

Bagaimanapun saya harus mensyukuri bahwa mereka sekarang dalam keadaan sehat dan perkembangannya sesuai. Tapi saya belum siap jika nanti anak kedua saya divonis FTT lagi. Ga siappp... Bisa stres lagi saya. Ahh, jadi ibu itu memang rentan overthinking.

Ah, post ini rasanya sangar curcol dan penuh emosi. Adakah yang bisa memberi saran untuk saya? Mungkin saya perlu jalan-jalan ke NICU agar lebih bersyukur.




You Might Also Like

2 comments

  1. Subhanallah, sabar ya mbak..
    Si Bungsu juga stunting padahal cukup bulan. Tapi alhamdulillah secara pertumbuhan bisa mengejar. Nafsu makannya pun masih bagus hingga sekarang. Hanya saja soal perkembangan memang ada keterlambatan karena dia ada dugaan down syndrome.
    Artinya apa? Tiap anak itu unik. Bahkan yg lahir normal pun bisa malas makan dan bertubuh mungil kan ya.
    Jadi kalau misal diberi rezeki yg ketiga, tetap ada kemungkinan kok akan menjadi anak yg tumbuh kembangnya bisa mengikuti milestone.
    Tetap semangat ya. Sambil dicari solusinya sambil disyukuri banyaknya kelebihan yg dimiliki tiap anak. Titip peluk cium buat si kecil 😍

    ReplyDelete
  2. Tetap semangaaat mbaak.. tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki. Barangkali saat ini si Dedek sedang perlu perhatian khusus.. Siapa tahu kelak jafi orang yang sukses.. Yang terpenting semoga sehat selalu jasmani dan rohani.. jadi bisa tumbuh kembang hingga dewasa nanti..

    ReplyDelete

Subscribe