Kota-Kota yang Pernah Saya Tinggali

2:17 PM


Topik hari ke 11 dari BPN 30 Day Challenge 2018 sebenarnya adalah barang yang dikoleksi di rumah. Tapi saya merasa tidak ada barang spesial yang dikoleksi. Mau bilang koleksi lipstik, sebenarnya lebih cocok dibilang numpuk lipstik yang kuyakin banyak juga perempuan yang seperti saya. Barang lainnya yang menumpuk dan banyak banget, ya kerudung. Tapi lagi-lagi pasti banyak yang kaya gitu. Lagipula, semenjak youtube suggestion saya isinya tentang gaya hidup "minimalist" ditambah akhir-akhir ini saya mulai lebih aware dalam mengelola keuangan membuat minat saya mau beli (numpuk) barang jadi agak berkurang.

BACA JUGA: Review buku Make It Happen by Prita Ghozie

Akhirnya saya memilih topik tentang kota-kota yang pernah saya tinggali. Yang ternyata lumayan banyak juga.

1. Strasbourg

Strasbourg merupakan kota tempat saya dilahirkan. Kebetulan saat itu ayah saya sedang menempuh pendidikan S3 di Universite Louis Pasteur yang sekarang sudah berubah nama menjadi University of Strasbourg.

Strasbourg terletak 500 km di utara Paris dan dapat ditempuh selama kurang lebih 7 jam jika menggunakan jalan darat dengan bus. Karena letaknya yang ada di perbatasan antara Perancis dan Jerman, arsitektur dan budaya di kota ini merupakan campuran dari kedua negara tersebut. 

Tempatnya yang jauh namun memorable bagi kami sekeluarga, membuatnya tidak dapat dikunjungi jika menggunakan paket travel. Karena biasanya paket travel kan hanya mengunjungi kota-kota yang sering menjadi sorotan di Eropa dan untuk Perancis ya apalagi kalau bukan Paris.

Kami pulang ke Indonesia setelah masa pendidikan ayah saya selesai, saat itu saya berumur 2 tahun kurang dan ibu saya sedang hamil besar mengandung adik saya, Ilina. Sampai sekarang Ilina suka ngaku-ngaku walaupun nyaris dilahirkan di Perancis tapi dia Made in France. 

Alhamdulillah, pada tahun 2016 yang lalu saya berkunjung kembali ke Strasbourg setelah 24 tahun. Kali ini saya bersama suami saya dan juga orang tua saya untuk melengkapi nostalgia masa lalu. Pada tahun 2018 yang lalu pun, Ammar juga kesana bareng kakek neneknya, saya tidak ikut karena Salsa masih terlalu kecil. Catatan Perjalanannya? Masih di draft dari tahun 2016 hahahaha... Dohh

Saat babymoon/double date tahun 2016 yang lalu

 2. Jakarta

Sepulangnya dari perancis, kami tinggal di daerah Kalibata. Saya mulai masuk TK B dari umur 4 tahun sampai 5 tahun. Skip, ga pakai TK A. Letak TK ini lumayan jauh dari rumah, adanya di Depok. Hal ini menyebabkan dalam 1 periode (lupa kayanya dulu mah bukan semester pastinya, ya pokoknya pas terima rapot lah) jumlah bolos saya bisa sampai 43 hari. Hehehehe... Kurang lebih selama 3 tahun kami tinggal di Kalibata. Yang penting judulnya, saya pernah tinggal di Jakarta, Ibu Kota Indonesia! 

3. Depok

Agar lebih dekat dengan sekolah anak-anaknya, akhirnya kami sekeluarga pindah ke Depok. Lagipula ayah saya pun berprofesi sebagai dosen di Universitas Indonesia. 

Dulu depok masih menyandang status kota administratif dan belum seterkenal sekarang (naon sihh). Beneran dulu kalo liat TV ada berita tentang Depok kayanya heboh. Semenjak berubah menjadi Kota Madya, Depok semakin berkembang dan menjadi salah satu kota satelit dengan kemajuan terpesat (read: kenaikan harga tanahnya paling melonjak). Kota Depok bahkan nyelip ke dalam singkatan yang dulu biasanya "Jabotabek" menjadi "Jadebotabek". Keren kan depokkk (depokian by heart, obsesi duta depok yang terpendam). 

Walaupun kadang kalau lagi jalan-jalan ke Sumatera atau provinsi lainnya, paling gampang ngakunya "dari Jakarta". Apalagi kalau yang nanya orang luar negeri saat sedang traveling, hihihi. Saya menghabiskan sebagian besar hidup saya di Depok sampai lulus SMA. Orang tua saya sampai kini pun masih menetap di Depok. Dan saya masih memanggil Depok sebagai Rumah. Kedua anak saya pun lahir di Depok.

Home

 4. Bandung (Kota)

Dulu saya cukup obsesi untuk masuk UI. Memiliki ayah seorang dosen UI, tiga tahun berturut-turut selalu datang ke Bedah Kampus UI, setiap try out di bimbingan belajar pun saya selalu memilih UI. Namun ternyata takdir berkata lain dan membawaku untuk melanjutkan kuliah di ITB. 

Dulu setiap ke Bandung, saya pasti ke factory outlet. Makanya pas ternyata saya harus kuliah di Bandung, saya pikir saya akan tiap hari ke factory outlet. Hahahaha... Salah saudara-saudara, tinggal di Bandung membuat saya belanjanya di Pasar Baru, Gasibu, bahkan beberapa kali hunting baju di Gedebage tempat baju-baju bekas. Hehehe.

Ohhh Bandung yang sangat ngangenin. Saat tinggal di Bandung ini lah banyak fase penting kehidupan saya terjadi. Tapi nanti kepanjangan ah postnya. 

Balik lagi ke Almamater, Circa Desember 2016

 5. Desa Tronoh

Tronoh adalah suatu desa yang terletak di negara bagian Perak, Malaysia. Letaknya kurang lebih 300 km dari Kuala Lumpur. Perjalanan menuju ke sana biasanya ditempuh selama 3 jam lebih. Naik kereta dari KL selama 3 jam sampai Batu Gajah, disambung lagi dengan naik taksi selama 30 menit. Kota terbesar di dekat Tronoh adalah Ipoh yang merupakan ibu kota dari Perak.

Di kota ini lah saya melanjutkan pendidikan S2 tepatnya di Universiti Teknologi Petronas. Kenapa disini? Karena kebetulan adik saya bersekolah disini dan orang tua saya saat itu hanya mengizinkan saya bersekolah di tempat yang ada muhrimnya. Hmmm, begitulah.

Waktu pertama kali datang, hiburan yang ada hanyalah Tesco (Supermarket) dan pasar malam setiap Rabu. Namun dalam dua tahun saya disana, perkembangan Tronoh cukup cepat. Ada KFC, McD, dan Mall kecil yang disertai Bioskop. Tidak buruk bukan untuk sebuah desa.

Cara menghabiskan akhir pekan di Tronoh: Piknik di Taman
Suasana di kawasan kampus saya sangatlah Indah. Masih banyak pohon (iyaaa, soalnya hutan) sampai-sampai monyet dan babi hutannya pun masih ada. Danau yang dulunya bekas galian tambang juga menambah kecantikan kawasan kampus ini.


 6. Bekasi (Kota)

Setelah menikah di akhir 2014, saya dan suami tinggal di Bekasi. Alasannya, ya karena saat itu suami ditempatkan di situ. Masih ingatkan dulu Bekasi sering dibully karena jauhnya. Iyaaa saya malah tinggal disana padahal kerja di pinggiran Jakarta yang mepet Depok. 

Source: yukepo.com
Biarpun begitu, sebenarnya akses tempat tinggal saya di Bekasi sangat bagus. Mau belanja atau nonton bioskop tinggal jalan. Segala urusan mengenai bank, kantor urusan penduduk, dan lain-lain, semuanya ada di jalan yang sama dengan tempat tinggal saya. Di Bekasi ini pula lah, rumah kami yang pertama dicicil. Bukan rumah deng, tapi apartemen. Namun takdir berkata lain, suami saya dipindahkan lagi. Akhirnya kami tidak tinggal lagi disitu, yang tertinggal hanyalah cicilan yang masih dibayar sampai sekarang. *Trus curcol lagi


7. Cirebon (Kota)

Kota terakhir adalah Cirebon. Setelah akhirnya saya resign dari pekerjaan, saya pindah ke Cirebon untuk menemani suami saya yang ditugaskan di kota itu. Sebelumnya saya masih ragu untuk ikut ke Cirebon karena tidak ada saudara apalagi teman dan saya harus mengurus kedua anak saya sendiri. Namun setelah dijalani, ternyata tidak seburuk itu. Walau ada kalanya kesabaran saya diuji, namun ternyata tidak seburuk itu. Bisa juga ternyata saya menghadapi anak-anak sendirian.

Full Team di Kasepuhan Cirebon
Ditambah, hidup di Cirebon terasa lebih nyaman daripada di Jakarta. Waktu tidak habis di jalan karena kemacetan. Fasilitas termasuk lengkap, walaupun kalau mau cari yang branded-branded  gitu tidak ada (ya lagian, kaya mau beli aja sihh). Biaya hidup di Cirebon juga relatif lebih murah.

Adakah yang tinggal di Cirebon juga? *nyari temen

You Might Also Like

4 comments

  1. Waaah... Dari kecil hidup mbaknya udah travelling ya.. ? Seru banget punya nostalgia dimana-mana... ❤️❤️❤️❤️

    ReplyDelete
  2. Senang ya bisa mencicipi tinggal di berbagai kota. Bahkan waktu di Prancis itu yang bikin saya mupeng banget.. wkwkwk.. Waktu itu umur berapa Mbak?

    ReplyDelete
  3. wah mbake sudah kemana-mana..
    saya pengin ke Prancis juga kapan-kapan, terus ke Bandung terus ke Depok..
    Aamiiin

    ReplyDelete

Subscribe